
Shelbi memeluk Theresia begitu erat, wanita itu merasakan rasa sakit yang begitu luar biasa. Dia tak menyangka, Thersia sampai menunggunya.
“Mommy, aku lapar,” ucap Theresia, hingga Shelbi langsung melepaskan pelukannya
“Kau lapar, hmm?” tanya Shelbi, hatinya semakin pedih ketika mendengar ucapan Theresia. Wajah polos Theresia yang seperti ini benar-benar membuat Shelbi terasa nyeri dan merasa bahwa ia sudah gagal menjadi seorang ibu.
Theresia mengangguk. “Mommy punya uang, kan?’ tanya Theresia dengan wajah polosnya. Padahal selama ini ketika mereka tinggal di apartemen Dareen, Theresia tidak pernah kekurangan makanan dan cemilan, dan selama beberapa hari ini, hidup anak kecil itu berubah drastis dan hebatnya anak itu tidak mengeluh sedikitpun.
“Kau ingin memakan mie, hmmm?” tanya Shelbi. Theresia mengangguk. Shelbi mengulurkan tangannya, hingga Theresia menerima uluran tangan Shelbi. “Ya sudah, kita beli mie yang ada di supermarket depan dan kita makan di sana,” kata Shelhi dan mereka pun pergi ke supermarket yang dimaksud oleh putrinya.
Setelah sampai di supermarket, Shelbi langsung menuntun sang putri untuk duduk di tempat yang sudah disediakan, dan setelah itu, dia langsung pergi ke rak yang terisi mie instan. Shelbi mengambil mi untuknya dan juga untuk Theresia lalu dia menyeduhnya dan membawanya ke kasir setelah itu dia langsung membawa mie yang sudah dia seduh ke hadapan Theresia.
“Ini There.” Shelbi menyimpan makanan berisi cup di meja, kemudian dengan semangat Three langsung menarik cup yang sudah ada di depannya.
“Pelan-pelan, There," kata Shelbi, ketika Theresia langsung memakannya mie tersebut. Padahal itu sangat panas. Tadi, Shelbi memang merasa lapar tapi masalah rasa lapar itu berganti saat melihat Theresia yang sangat lahap memakan mie tersebut. Tidak bisa dibayangkan, betapa tersiksanya Theresia menahan lapar.
“Maafkan Mommy, Theresia.” Shelbi membatin, Theresia yang sedang menyeruput mie di dalam cup langsung menoleh ketika merasa diperhatikan.
“Mommy, tapi kenapa tidak makan?" tanya Theresia hingga Shelbi tersadar.
“Hmm, Mommy akan makan,” wanita itu pun langsung menarik cup yang berisi mi yang sudah diseduh kemudian menuangkan bumbu Lalu setelah itu menyeruputnya.
Darren menyandarkan tubuhnya ke belakang, lelaki tampan itu terus menetap Shelbi dan Thresia yang sedang asyik dengan acara makannya. Ya, saat ini Dareen sedang berada di depan supermarket tempat Shelbi dan Theresia berada, dia bisa melihat anak istrinya karena Shelbi dan Thresia makan di dekat jendela.
Sebenarnya tadi setelah pulang dari toilet, Dareen merasa perasaannya tidak menentu, hingga tanpa sadar dia pamit pada teman-temannya, lalu dia pulang dan sedari tadi pula, dia melihat putrinya menunggu di luar.
Sebenarnya, hatinya merata-ronta untuk turun dari mobil kemudian mengajak Teresia untuk masuk ke dalam apartemennya, tapi egonya menahannya dan detik sebelum Shelbi datang, sebenarnya Dareen sudah tidak tahan ingin menghampiri putrinya. Tapi karena Shelbi datang, Dareen menghentikan niatnya dan dia mengikuti Shelbi dan Theresia ke super market.
“Kau ingin sesuatu yang lain lagi?” tanya Shelbi ketika There sudah menghabiskan mie.
Theresia menggeleng. “Tidak Mommy, ayo kita pulang saja," jawabnya. “Besok aku harus sekolah," ucapnya lagi. Shelbi mengangguk, kemudian wanita itu turun dari kursi kemudian wanita cantik itu membantu Theresia untuk turun.
Satu bulan kemudian
Mia masuk ke dalam ruangan, kemudian wanita cantik itu langsung berjalan ke arah meja kekasihnya, sedangkan Dareen yang sedang fokus pada pekerjaannya menoleh kemudian tersenyum, ketika melihat Mia masuk.
Dareen mengulurkan tangannya pada Mia, hingga Mia duduk di pangkuan lelaki itu. “Dareen!” panggil Mia.
“Kenapa sayangku?” tanya Dareen, dia langsung memeluk pinggang kekasihnya.
“Darren sampai kapan kau akan menggantungkan status kita begini?” tanya Mia.
Dareen menghela nafas gusar, rasanya dia begitu malas membahas soal ini, sebenarnya Dareen tidak terlalu mencintai Mia, atau mungkin dia sama sekali tidak mencintai kekasihnya, dia hanya nyaman dengan wanita ini karena Mia selalu memanjakannya, tapi dia sama sekali tidak berniat untuk menikahi Mia tentu saja karena dia merasa tidak mau di bebani dengan pernikahan lagi.
“Dareen!” panggil Mia lagi menyadarkan Dareen dari lamunannya.
“Segera Sayangku. Aku akan mengurus perceraianku dengan Shelbi. Setelah semuanya aman. Kau tidak mau bukan setelah kita menikah semua fasilitasku dicabut dan kita akan kehilangan semuanya," jawab Dareen. Seperti biasa, mulutnya begitu manis meyakinkan Mia hingga kali ini, Mia yang menghela nafas. Selalu saja seperti itu, Darren selalu mengatakan hal yang sama.
Darren terkekeh. Mia menarik Darren untuk mencium bibir kekasihnya, tapi baru saja dia akan melakukan itu, pintu diketuk dari luar hingga Mia langsung bangkit dari duduknya karena dia takut itu adalah orang tua kekasihnya. Dia pun langsung berjalan ke arah pintu kemudian dia membuka pintu, dan ternyata yang mengetuk pintu adalah seorang lelaki yang sangat tampan yang tak lain adalah teman Daren, yang ternyata adalah Rush.
"Apa Darren ada?" tanya Rush.
Mia mengangguk. "Silakan masuk," kata Mia. Dia memberikan jalan untuk Rush, lalu setelah itu wanita cantik itu pun langsung keluar dari ruangan kekasihnya, membiarkan Rush masuk ke dalam ruangan.
"Kau tidak pulang ke Amerika?" tanya Darren ketika Rush masuk, sebab beberapa hari lalu Rush mengatakan akan kembali ke Amerika, tapi sekarang temannya malah ada di sini.
Darren bangkit dari duduknya, menghampiri Rush yang sedang berada dia yang sudah duduk di sofa. Bukannya menjawab, tatapan Rush malah teralih pada sebuah bingkai foto yang sangat besar, di mana foto itu terisi Darren dan Tristan.
"Bukannya kau punya anak kembar? Kenapa hanya foto anak lelakimu saja yang kau dipajang?" tanya Rush.
__ADS_1
Dareen berdecak. "Kau jauh-jauh ke sini hanya untuk menanyakan itu?" tanya Darren lagi hingga Rush menggeleng.
"Aku hanya penasaran saja, bukankah kau juga punya anak perempuan?" tanya Rush lagi.
"Sudah, jangan dibahas," ucap Darren hingga Rush mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Kenapa kau kemari? Apa ada yang harus kau sampaikan?" tanya Darren.
"Tidak, aku hanya mampir saja. Aku baru makan di restoran yang ada di sekitar kantormu," kata Rush hingga Darren menganggukkan kepalanya.
"Kau tahu tadi aku makan dengan siapa?" tanyanya lagi.
"Mana aku tahu, memangnya apa urusanku?" jawab Darren.
"Aku makan dengan mantan istrimu.”
Mata Darren membulat saat mendengar ucapan Rush. Barusan, rupanya tanpa sengaja mereka bertemu di restoran. Rush langsung menghampiri Shelbi yang duduk seorang diri, dan tentu saja Shelbi mengijinkan Rush untuk bergabung. Dulu di antara teman-teman Darren yang membullynya, hanya Rush yang selalu membelanya. Itu sebabnya Shelby begitu welcome dengan Rush walaupun mereka sudah tidak bertemu selama beberapa tahun.
"Maksudmu Shelby?" tanya Darren. Dia berusaha menormalkan ekspresinya.
"Memangnya siapa lagi?" tanya Rush.
Darren tidak bertanya lagi. Dia begitu enggan membahas soal Shelby.
"Sebenarnya kenapa kalian bercerai?" tanya Rush.
"Entahlah mungkin tidak cocok," katanya.
"Padahal Dulu dia sangat baik padamu," balas Rush.
"Berhenti memujinya," kata Darren lagi yang gerah dengan ucapan Rush, membuat Rush tertawa. Sebab sebelum Rush pergi ke Amerika, dia juga selalu memuji Shelbi.
"Maksudmu?" tanya Darren.
"Tidak, lupakan saja," jawab Rush lagi.
Darren mendadak dilanda rasa penasaran yang luar biasa. "Aku lihat-lihat kau begitu tertarik pada mantan istriku? Apa kau menyukainya?" tanya Darren.
"Tentu saja siapa yang tidak menyukai wanita sebaik dan secantik dia," jawab Rush lagi.
Entah kenapa, Darren merasa kepanasan. Namun, dia berusaha menormalkan ekspresinya.
"Memangnya dia baik dari segi apa, perasaan dia biasa saja?" tanya Darren lagi.
"Kau ingat dulu saat kau dulu di penjara karena menghajar Asher?" tanya Rush.
"Tentu saja," katanya. Darren ingat betul tentang kasus lamanya, di mana saat itu dia menghajar Asher habis-habisan sebab Asher tidak mau menurut padanya dan berujung dia di penjara.
U7 BB
"Aku ingat, memangnya kenapa."
“ kau tahu saat kau di penjara dan saat kedua orang tuamu tidak mau membebaskanmu? Shelby datang ke rumah Asher, dia bahkan rela berlutut di depan orang tua Asher agar mereka mau membebaskanmu."
"Tunggu, maksudmu?" Dareen menatap Rush dengan tatapan bingung.
"Saat itu kau masuk penjara ketika Shelby akan melahirkan dan dengan keadaan perut yang hamil besar. Dia bahkan rela menunggu semalaman dan berlutur di harapan orang tua Asher agar mereka a mencabut laporannya," kata Rush.
"Aku sudah mencegahnya dan melarangnya untuk melakukan itu, tapi kau tahu dia menjawab apa? Walaupun Darren buruk, dan jahat tapi dia ayah dari anak-anakku. Aku ingin Dareen melihat saat aku melahirkan, aku ingin Darren yang pertama melihat kedua anakku." Rush menirukan ucapan Shelby saat itu.
__ADS_1
Daren tidak menjawab, tiba-Tiba, dia bernostalgia dengan kenangannya saat dulu dia dipenjara Tommy dan Mayra enggan membebaskan, karena mereka merasa sang putra harus diberi pelajaran tapi ternyata saat itu, diam-diam dan tanpa ada yang tahu, Shelby yang sedang hamil besar dan akan menghadapi persalinan datang pada keluarga Asher meminta agar keluarga Asher mencabut laporan, hingga seminggu kemudian laporan dicabut.
Namun, sayang saat Darren keluar dari penjara karena Shelbi, Dareen bukannya menemani Shelby melahirkan, Darren malah berlibur ke luar negeri.
"Sebenarnya jika aku ingin menjabarkan kebaikan Shelby padamu, tapi sudahlah itu tidak penting untuk dibahas," kata Rush.
"Memangnya, apa peduliku," jawabnya. Seperti biasa egonya meninggi jika tentang Shelbi.
"Jadi kau tidak peduli lagi pada mantan istrimu?" Tanya Rush lagi.
"kenapa juga aku harus perduli lagi. Jika kau ingin dia kejar saja.”
“Dareen dari penglihatanku, kau seperti tidak suka aku mendekati mantan istrimu. Kalian sudah bercerai bukan?" tanya Rush lagi.
"Aku sibuk, aku akan melanjutkan pekerjaanku." Rasanya dia begitu muak mendengar pujian Dareen pada Shelbi kata Darren hingga Rush mengangguk, setelah itu dia harus bangkit dari duduknya kemudian lelaki itu berjalan ke arah kursi kerjanya dan mendudukkan dirinya lalu kembali fokus pada laptopnya.
***
Shelbi tersenyum ketika melihat lukisan yang berada di depannya, lukisan yang sangat indah dan mahal dia melihat ke sekelilingnya di mana orang-orang sedang lihat lukisan yang juga sama indahnya.
Saat ini, Shelbi sedang berada di pameran lukisan dia menjadi promotor di sana, selain menjadi tour guide, Shelbi juga mendapatkan kerja sampingan yaitu menjadi promotor, tugas yang sangat melelahkan tapi juga menyenangkan. Hari ini dia bisa bekerja dengan tenang, sebab Tristan dan juga Theresia sedang berada di rumah kedua mertuanya.
Saat Shelbi akan berbalik dan mengecek beberapa pekerjaan, tiba-tiba langkah Shelbi terhenti ketika melihat Dareen masuk ke dalam pameran, suaminya datang bersama beberapa orang berjas dan mungkin itu adalah rekan bisnis Dareen dan jangan lupakan ada Mia di belakang tubuh suaminya.
Saat Shelbi akan berbalik, tiba-tiba Dareen melihat Shelby, lelaki itu mengerutkan keningnya ketika melihat istrinya yang memakai name tag pertanda Shelbi bekerja di pameran ini. Daren datang ke pameran ini karena memang dia sponsor utama di sini dan tentu saja dengan adanya pameran ini, memperluas jaringan Dareen dalam bisnis dan dia tidak menyangka Shelbi menjadi berkerja di sini.
“Tuan Dareen Bukankah itu istri anda?" tiba-tiba seseorang yang berada di samping Darren yang tak lain rekan bisnis Dareen bertanya, karena dia ingat betul siapa Shelbi.
Dareen memejamkan matanya, dia sungguh malu ketika mendengar hal seperti itu. Harga dirinya sebagai suami seakan tercabik, orang lain mungkin menganggap Dareen tidak mampu membiayai istrinya.
“Karena saya sponsor utama, jadi istri saya yang mengawasi," ucap Dareen lagi, sambil tersenyum meyakinkan.
Setelah itu, Dareen melihat Shelby dengan tatapan kesal, sedangkan Shelby sama sekali tidak perduli dengan tatapan Daren, bagi Shelby tatapan Dareen padanya sudah biasa hingga dia tidak merasa sakit ataupun merasakan apapun lagi.
Setelah itu, Shelbi pun berbalik memutus pandangannya dengan Dareen dan kemudian berjalan untuk mengecek pekerjaannya
Satu jam kemudian.
“Aaa!” tiba-tiba Shelbie menarik tangannya, dia yang baru saja akan pergi ke ruang loker langsung terkejut.
”Ikut aku," kata Dareen, dia menarik tangan Shelby lalu setelah itu dia membawanya ke gudang.
“Dareen, apa-apaan kau!” hardik Shelby.
“Kau yang apa-apaan!” Daren yang masih dikuasai emosi berteriak, karena dia merasakan malu akibat Shelbi bekerja, dia menatap galak pada istrinya, tentu saja sebagai seorang lelaki harga dirinya begitu tercoreng.
“Kenapa kau selalu membuat ulah di hidupku!" geram Dareen.
“Apa maksudmu?" Shelbi menatap bingung pada suaminya.
“Apa kau tau bahwa aku sponsor utama di sini, kau membuat harga diriku jatuh dengan Kau bekerja di sini, karena orang lain akan mengira bahwa aku tidak mampu membiayaimu.”
mendengar itu, seketika Shelbi tertawa. “Lalu apa kau membiayai kami? Kau memang tidak membiayai kami bukan, lalu sekarang kenapa kau menjadi so pahlawan.”
“Apa dari orang tuaku belum cukup, Apa kau sudah menghabiskan limit itu dalam sekali pakai!” Dareen menatap Shelbi dengan tatapan menghina, membuat Shelbi merasa tertantang.
Dangan cepat, Shelbi merogoh tas kecil yang dia pakai kemudian mengambil dompet, lalu melemparkan black card yang di berikan Tommy dan Mayra saat itu.
“Periksa saja! selama 10 tahun Aku menikah denganmu aku tidak pernah memakai sepeserpun yang ada di sana Aku tidak pernah menggesek sekalipun kartu kredit itu.” Setelah melemparkan kartu kredit itu ke tubuh Daren, dia langsung menghempaskan tubuh Daren yang menghalangi pintu dan setelah itu dia keluar dari gudang.
__ADS_1