
Setelah Theresia turun dari kursi dan membawa sarapannya ke kamar, Tristan menoleh ke arah Dareen. “Kenapa kau menatap Daddy seperti itu?" tanya Dareen. Tristan menggeleng, kemudian dia menyelesaikan sarapannya.
***
“Theresia!” panggil Shelby ketika Theresia masuk ke dalam kamar, Shelbi mengerutkan keningnya ketika Theresia membawa piring berisi roti yang tinggal setengah. “Apa Daddy ada di meja makan?” tanya Shelbi.
Theresia mengangguk. “Aku tidak mau sarapan bersamanya," balas Theresia, Selbie tidak bertanya lagi wanita itu pun langsung berjalan ke arah Theresia, kemudian dia merangkul bahu putrinya menuntunnya untuk duduk di sofa.
“Mommy belum siap-siap, kau tunggu dulu di sini oke," kata Shelby hingga Theresia mengangguk. Setelah Shelbi pergi ke walk in closet. Bulir bening langsung terjatuh dari pelupuk mata Theresia, hati anak kecil itu tidak bisa dibohongi bahwa dia begitu nyeri dan rasanya dia tidak ingin lagi tinggal bersama Dareen.
Kemarin-kemarin mungkin Theresia masih masih berharap sang ayah akan menyayanginya sama seperti sang Ayah menyayangi kakaknya, itu sebabnya dia tetap bertahan tinggal di apartemen ini. Tapi sekarang, dia mulia berpikir bahwa dia tidak sanggup lagi untuk melihat Dareen dan perlakuan Dareen pada sang kaka.
10 menit kemudian, Shelby keluar dari walk in closet, ia sudah siap untuk pergi bersama Theresia. “Mommy!” panggil Theresia hingga Selbie yang baru saja memakai jam tangannya langsung menoleh.
“Hmm, sayangku. Kau butuh sesuatu?” tanya Shelbi.
“Mommy bolehkah aku bicara?” tanya Theresia lagi.
“Bicara apa hmm."
“Mommy, bukankah saat itu Mommy menawarkan agar kita tinggal di tempat lain?” tanya Teresia. Tiba-tiba tubuh Selbie terdiam saat mendengar ucapan Theresia, hal yang selalu dia takutkan akhirnya dia dengar dari mulut putrinya.
Dia bukan takut atau berat meninggalkan apartemen ini, tapi dia memikirkan Tristan. Bagaimana jika Tristan tidak setuju ketika dia dan Theresia ingin pergi dari apartemen ini.
“Mommy, apakah tawaran itu masih berlaku?” tanya Theresia, ketika Shelbi melamun.
Shelbi menatap lekat wajah Theresia dan dia tahu Theresia baru saja menangis, sebab wajah Theresia memerah. “Kita harus berbicara dulu pada Tristan.” Theresia mengangguk dia juga sama seperti sang Ibu harus meminta izin pada Tristan.
“Ya sudah alau begitu ayo kita pergi, sarapanmu sudah habis?” tanya Shelbi lagi hingga Theresia menggangguk.
Shelbi berjalan ke arah sofa, kemudian dia mengambil tas yang sebelumnya sudah disiapkan, setelah itu dia membawanya ke ke arah putrinya hingga Theresia langsung menerima tas itu dan mereka pun keluar dari kamar, dan ketika keluar dari kamar kebetulan Tristan juga keluar dari kamar Darren sambil membawa tas.
“Tristan!” panggil Theresia, Shelbi memejamkan matanya. Padahal ini bukan waktu yang tepat untuk berbicara tentang keinginan Theresia. Tapi sepertinya, Theresia sudah tidak sabar untuk berbicara pada Tristan hingga Theresia langsung memanggil Tristan.
“Kenapa?” tanya Tristan. Theresia melihat ke arah Shelbi, meminta izin untuk berbicara. Namun, Shelbi menggeleng pelan.
“Nanti saja," kata Shelbi hingga Theresia menggangguk.
“Tiidak nanti saja," jawabnya.
“Kau ingin berangkat bersama Mommy atau Daddy?" Tanya Shelbi dan setelah bertanya itu, Dareen keluar dari kamar lelaki itu sudah siap dengan pakaian kantornya.
“Dad, bolehkah aku pergi bersama Mommy dan Theresia?” kata Tristan yang menolehkan kepalanya ke arah Dareen.
Dareen tidak menjawab, lelaki itu langsung berlalu begitu saja dan Tristan tahu sang ayah mengizinkannya dan ketika Dareen sudah pergi Tristan dan Theresia serta Shelbi pun juga keluar dari apartemen.
Tristan dan Theresia berjalan ke basement sambil bergandengan tangan, membuat hati Shelbi menghangat, dia benar-benar bersyukur mempunyai anak yang sangat manis di tengah kondisi pernikahannya dengan Dareen dan setelah sampai basement, mereka pun langsung berjalan ke arah mobil.
__ADS_1
Dan tepat ketika mobil Shelbi pergi, Dareen menyadarkan tubuhnya ke belakang, sebenarnya lelaki itu belum pergi. Selama 2 bulan ini, pikiran lelaki itu begitu campur aduk, ada rasa yang bersemayam yang dia sama sekali tidak mengerti.
Setelah hari di mana dia melihat There terbaring di brangkar, hari itu pula semuanya menjadi kacau, dia tidak pernah fokus pada apapun, lelaki itu selalu merasa gelisah.
Tak lama ponsel Dareen berdering, satu panggilan masuk dari Mia membuat Dareen langsung mengangkatnya.
“Halo Mia!" panggil Dareen.
“Oh, baiklah aku akan pergi kesana sekarang," ucapnya lagi, ternyata Mia menyuruhnya untuk datang segera ke kantor karena ada klien yang menunggu. Dareen pun menyalakan dan menjalankan mobilnya untuk pergi ke kantor.
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Dareen sampai di perusahaannya, lelaki itu langsung turun dari mobil kemudian berjalan ke arah lift untuk naik ke ruangannya.
“Mia!” panggil Dareen ketika dia melihat Mia sedang fokus pada laptopnya. Mia bangkit dari duduknya.
“Aku menyuruh klien untuk menunggu di dalam," kata Mia hingga Dareen menggangguk, saat Dareen akan pergi, Mia menarik tangan Dareen lalu menyimpan jarinya di pipi, menyuruh Dareen untuk menciumnya, hingga Dareen pun langsung mendekat kemudian mencium pipi Mia, membuat pipi wanita itu merah merona Lalu setelah itu, Dareen pun langsung masuk ke dalam ruangan.
“Tuhan Anderson," ucap Dareen, hingga Anderson menoleh. Saat melihat lelaki paruh baya di depannya, Daren terdiam karena Anderson mengingatkan Dareen pada seseorang. Selama beberapa detik, dia merasa familiar dengan wajah Anderson dan sedetik kemudian Daren mengingat bahwa wajah rekan bisnisnya begitu mirip dengan Shelby.
Namun tak lama, Dareen menggeleng. Kenapa juga dia harus memikirkan kemiripan mereka toh bisa saja mereka mirip tanpa sengaja, begitulah pikir Dareen. Tanpa sadar, yang di depan Dareen adalah Ayah kandungan Shelbi, karena Anwar bukan ayah kandung Shelbi melainkan ayah tirinya.
Dulu ketika selbi berusia 12 tahun, ayahnya meninggalkan dia dan sang ibu dan pergi dengan wanita lain, dan sama sekali tidak meninggalkan harta untuk anak dan istrinya, padahal Anderson adalah seorang milyarder
Dan ketika ibunya berada di bawah, datanglah Anwar lelaki yang sangat sederhana. mampu membuat Selby dan ibunya nyaman, dan walaupun ayah tiri, tapi Anwar begitu menyayangi dan menganggap selfie seperti putrinya sendiri, itu sebabnya Shelbi sangat menyayangi Anwar.
Hidup Shelby sebenarnya sama seperti Theresia. Dulu pun ketika ibu dan ayahnya belum bercerai ayahnya juga tidak terlalu memperhatikannya hanya sibuk bekerja bekerja dan bekerja. Saat itu, Shelbi mempunyai segalanya, harta dan lain-lain tapi dia tidak pernah mendapatkan kasih sayang ayahnya, tentu saja karena ayahnya sibuk bekerja belum lagi Ayah dan ibunya menikah karena perjodohan itu sebabnya Shelby tidak terlalu diperhatikan oleh sang ayah.
***
“Baik, Tuan Anderson. Saya akan mengirimkan kontraknya ke kantor anda," kata Daren ketika meeting sudah selesa,i hingga Anderson pun mengangguk. Saat Anderson akan bangkit tiba-tiba tatapan mata Anderson langsung teralih pada foto Daren dan juga foto Tristan..
ketika melihat Tristan. Entah kenapa Anderson merasa aneh, karena tentu saja itu adalah cucunya. “Tuan Anderson!” panggil Dareen ketika melihat Anderson menatap fotonya yang terpajang di dinding.
“Itu putra Anda?" tanyanya.
“Hmm, itu putra Saya," jawab Darren Anderson pun mengangguk-anggukkan kepalanya, kemudian lelaki paruh baya itu pun langsung keluar dari ruangan Dareen.
Waktu menunjukkan Pukul 8 malam, Shelbi keluar dari kamar, wanita itu berencana untuk berbicara dengan Tristan tentang kepindahan. Jika Tristan mengizinkannya dan Theresia untuk pindah, maka mereka aakan pindah besok.
Shelbi dan Thresia tidak akan pindah jauh, mereka hanya berbeda lantai saja, dan tetap berada di tower apartemen yang sama, hanya saja Shelbi menyewa unit apartemen yang ada di lantai paling atas, karena apartemen di lantai atas adalah unit apartemen yang paling murah.
Mungkin orang pikir Shelbi bergelimang harta karena dia menjadi menantu konglomerat dan Dareen juga adalah pemimpin perusahaan, tapi nyatanya tidak, selama ini Shelby mengurus semuanya dari uang pribadinya yang ia dapat dari pekerjaannya sebagai guru.
Tommy dan Mayra memberikan black card untuk Shelbi, tapi Shelbi tidak pernah memakainya sedangkan Dareen tentu saja dia tidak peduli pada istri dan anak perempuannya, tidak ada sedikitpun uang bulanan untuk Shelbi dan untuk Theresia yang Dareen berikan.
Ada alasan kenapa Shelbi tidak pernah menggunakan kartu tersebut, pertama dia takut akan ada hal yang jadi di kemudian hari, entah itu berpisah dari Dareen ataupun dia takut mendengar kata-kata yang menyakitkan dari Dareen, karena dulu deren pernah menuduhnya hanya ingin harta keluarganya saja dan itu sangat menyakitkan untuk Shelbi, itu sebabnya sampai saat ini Shelbi tidak pernah menggunakan kartu itu.
Jujur gajih Shelbi menjadi seorang guru tidak cukup mengcover semuanya, itu sebabnya dia membuka kelas pribadi sendiri, dan mengajar lewat online, dia juga terkadang menerima permintaan menjadi tourguid turis yang akan berkeliling Rusia. Teentu saja itu demi menambah penghasilan untuk dia dan Theresia menyambung hidup.
__ADS_1
Dan kemarin dia mendapatkan info ada satu unit apartemen yang disewakan di lantai paling atas yang harganya cukup murah dan karena waktunya sangat mepet apalagi Theresia ingin segera pindah Shelbi pun langsung mengambil apartemen itu.
Saat keluar dari kamar, ternyata Dareen sedang menonton televisi di ruang tengah, itu berarti Tristan sedang berada di kamar hingga dia langsung berjalan ke arah kamar Dareen.
”Tristan!” panggil Selby. Dia mengetuk pintu kamar Dareen, hingga Dareen menoleh dan tak lama, Tristan pun keluar dari kamar.
“Boleh Mommy bicara?” tanya Shelbi, Tristan mengangguk. “Ayo kita berbicara di kamar Mommy bersama Thresia.” Setelah mengatakan itu, Shelbi mengulurkan tangannya pada Tristan hingga Tristan menerima uluran tangan sang Ibu dan mereka pun berjalan ke arah kamar Shelbi.
Setelah Tristan pergi bersama Shelbi dan masuk ke dalam kamar, Dareen mendadak penasaran, tidak biasanya Shelbi seperti ini. pada akhirnya, rasa penasaran mengalahkan segalanya, hingga sekarang Dareen pun bangkit dari duduknya berjalan dengan pelan ke arah kamar Shelbi, berniat untuk menguping.
Shelbi dan Tristan masuk ke dalam kamar, mereka langsung menghampiri Theresia yang sedang duduk di sofa. “Ayo duduk Tristan, Mommy ingin bicara," kata Shelby, hingga trisan pun menggangguk, kemudian duduk di sebelah Theresia.
“Tristan, entah kau mengertii atau tidak dengan Apa yang terjadi. Tapi Mommy hanya ingin berbicara dan meminta izinmu, bolehkah kami pindah dari sini?” tanya Selby dia menatap wajah Tristan yang langsung meredup, hati Shelbi terasa nyeri ketika melihat Tristan seperti ini, karena dia tahu ini juga berat untuk Tristan.
Theresia menatap ke arah Tristan. “Tristan kau tahu bukan, kenapa kami ingin pergi?" tanya Theresia, hingga Tristan mengangguk dia malah langsung memeluk Theresia.
“Maafkan aku Theresia, harusnya aku bisa protes pada Daddy," kata Tristan dia pun langsung melepaskan pelukannya dari sang adik.
“Jika kau ingin pergi bersa9ma Mommy, pergilah aku tidak apa-apa," kata Tristan.
“Kau tidak ingin ikut bersama kami?” tanya Theresia lagi.
“Jika aku ikut maka Daddy akan semakin membencimu," kata Tristan membuat Shelbi mengerutkan keningnya
“Maksudmu?” tanya Shelbi lagi. Namun, Tristan menggeleng.
“Maksudku bukan begitu," kilah Tristan.
“Maafkan aku yang tidak mengijinkan Mommy dan Thersia, sekarang aku mengizinkan kalian pergi.” Dulu, mungkin Tristan sama seperti Theresia, masih ingin berharap Dareen berubah pada sang adik tapi Tristan juga ikut lelah ketika sikap Dareen terus seperti ini, setidaknya lelaki bocah kecil itu benar-benar mengerti apa yang dirasakan oleh Theresia.
Shelbi mengembangkan senyumnya ketika mendengar jawaban Tristan yang begitu dewasa. Awalnya dulu Tristan menolak keputusan sang ibu yang ingin pindah begitupun dengan Theresia yang juga menolak. Tapi sekarang Theresia sudah ingin pindah dan Tristan pun juga menyetujuinya, setidaknya Shelbi tidak akan melihat kekecewaan di mata Theresia.
“ Tristan kami tidak pindah jauh, kami hanya pindah di lantai paling atas.”
“Benarkah?” tanya Tristan dengan bahagia seketika raut wajah bocah kecil itu berubah menjadi gembira, tentu saja walaupun ibu dan adiknya sudah pindah. Dia masih tetap bertemu dengan Theresia dan sang ibu.
Dareen menegakkan tubuhnya ketika percakapan Shelbi, Theresia Tristan selesai. Lelaki itu pun langsung berbalik, kemudian kembali berjalan ke arah sofa dan menundukkan dirinya di sofa.
Lagi-lagi dia merasa aneh ketika mendengar Shelbi ke akan pergi dari apartemennya membawa Theresia. Namun, tak lama dia menggelengkan kepalanya. “Mana mungkin aku perduli, mereka pergi atau tidak itu kan bukan urusanku.” Lirih Daren. Padahal jelas-jelas sebenarnya rasa rasa Dareen sebagai seorang ayah untuk Theresia sudah tumbuh, semenjak Theresia terbaring diberangkar, hanya saja itu tertutup oleh gengsi.
Waktu menunjukkan pukul 12.00 malam, Theresia terbangun dari tidurnya. Dia merasakan rasa haus, gadis kecil itu melihat ke arah sang ibu, tapi ibunya terlihat sangat pulas dan Theresia tidak tega membangunkan ibunya.
Tidak ada minuman di kamarnya, hingga dia terpaksa harus keluar dari kamar. Saat keluar dari kamar, Theresia menghentikan langkahnya ketika melihat sang ayah masih menonton.
Jika saja dia tidak haus, dia sungguh malas untuk melintas di hadapan ayahnya hingga pada akhirnya Teresia pun berjalan ke arah dapur mengabaikan kehadiran Dareen. Sedangkan Dareen yang sedang melamun langsung menoleh ketika Theresia melewati tubuhnya.
“Bagaiman cara aku mengambilnya," ucap Theresia ketika dia melihat gelas yang menggantung, dan tak lama Teresia pun melihat kursi. Baru saja, dia akan mengambil kursi itu tiba-tiba gerakan Theresia terhenti ketika mendengar suara derap langkah, hingga Teresia menoleh dan ternyata Dareen yang masuk ke dalam area dapur dan tanpa berbicara sepatah kata pun Dareen mengambil gelas untuk putrinya lalu menyimpannya di meja dan setelah itu dia keluar dari area dapur.
__ADS_1