
Begitupun dengan Selo. Mata Selo berkaca-kaca saat melihat Bianca. Puji syukur dia panjatkan kepada Tuhan ketika Bianca baik-baik saja. Lelaki itu sepertinya benar-benar mencintai Bianca di titik tertingginya, di mana dia sudah tidak memikirkan dirinya sendiri yang terpenting dia melihat Bianca baik-baik saja itu sudah cukup.
"Selo," panggil Bianca.
Selo tersenyum samar. Bulir bening langsung terjatuh dari pelupuk mata wanita itu dan pada akhirnya, Bianca tidak bisa menahan dirinya. Dia pun langsung membungkuk kemudian memeluk tubuh Selo lalu menangis sejadi-jadinya di pelukan lelaki itu, begitupun dengan Selo. Dia berusaha menggerakkan tangannya untuk membalas pelukan Bianca, tapi tidak bisa hingga pada akhirnya dia hanya membiarkan Bianca memeluknya.
Sepuluh menit kemudian, Bianca berusaha menguasai diri karena dia memeluk Selo yang sedang ditempeli oleh alat-alat. Wanita itu menegakkan tubuhnya kemudian dia menghapus air matanya lalu setelah itu dia menghapus air mata Selo.
"Selo," panggil Bianca.
"Kau bisa mendengarku?" tanya Bianca..
Selo mengedipkan matanya, pertanda dia mendengar suara Bianca. "Apa ada yang sakit?" tanya Bianca lagi.
Selo menggeleng pelan, padahal dia merasakan tubuhnya terasa nyeri. Mungkin sakit akibat Roland sudah hilang, tapi dia merasakan tubuhnya kaku. Apalagi dia disiksa selama berbulan-bulan.
Bianca kembali membungkuk kemudian dia kembali menghapus air mata Selo, lalu setelah itu dia mencium seluruh wajah mantan suaminya. Beribu-ribu terima kasih dia panjatkan pada Tuhan karena telah membuat Selo terbangun dari komanya.
Setengah jam kemudian, terdengar suara orang berlari hingga Bianca menoleh ke arah pintu, dan sedetik kemudian pintu terbuka. Ternyata, Amelia Gabriel serta adik-adik Selo datang ke rumah sakit. Mereka langsung pergi ketika mendapatkan kabar bahwa Selo sudah sadarkan diri.
Bianca menggeser posisinya ke samping, memberi ruang untuk mantan ibu mertuanya.
"Selo," panggil Amelia.
Selo tersenyum samar, dan sekarang dia juga bersyukur ketika dia bisa selamat, padahal saat itu dia sudah hampir menyerah.
Seketika, semua ruangan itu dilanda dengan rasa haru yang luar biasa ketika Selo sudah membuka mata. Bianca mendudukan diri di sofa, sebab Dia tidak ingin mengganggu Gabriel dan Amelia yang sedang memperhatikan Selo, hingga pada akhirnya kantuk menyerang Bianca dan sekarang Bianca bisa terlelap tanpa memikirkan beban lagi, sebab Selo sudah sadar.
***
__ADS_1
Malam berganti pagi alat-alat di tubuh Selo sudah dicabut karena Selo sudah selamat dari komanya. Amelia dan Gabriel baru saja pulang, sedangkan Bianca sengaja menunggu di rumah sakit. Dia ingin menikmati waktunya bersama Selo.
Sekarang, Bianca terus menggenggam tangan Selo. Dka menatap ke arah Selo yang sedang memejamkan matanya karena Selo baru saja tertidur. Sebenarnya Selo tidak tertidu, dia hanya sedikit malu ditatap oleh Bianca karena dia merasa minder, apalagi dia yakin wajahnya sudah sangat berubah akibat dihajar oleh Roland.
Tak lama, Selo membuka mata ketika mendengar suara isakan dari Bianca. Rupanya, Bianca masih merasa tidak percaya bahwa Selo sudah membuka matanya hingga langsung menangis haru.
"Kenapa kau menangis?" tanya Selo dengan suara yang super pelan. Dia berusaha menggerakkan bibirnya untuk bertanya.
Mendengar suara Selo, Bianca menghapus air matanya. "Setelah kau sembuh, ayo kita menikah."
Mata Selo membulat saat mendengar ucapan Bianca. Wajahnya langsung memerah. Ah sungguh jika dia sedang tidak dalam kondisi seperti ini, dia akan langsung membawa Bianca ke pelukan.
Selo melamun di tengah rasa sakit yang menderanya. Mungkin, inilah jalan Tuhan untuk menyatukan dia dan Bianca. Tidwk peduli Bianca ingin menikah dengannya hanya karena rasa bersalah, yang pasti mendapatkan Bianca itu sudah lebih dari cukup.
Tak lama, pintu terbuka. Muncul sosok Lyodra. Dia sengaja menjenguk mantan menantunya. Dia tadi mengajak Maria, tapi Maria enggan menemui Selo. Alasannya tentu saja karena dia masih malu pada mantan menantunya hingga Lyodra datang sendiri.
"Akhirnya kau sadar, Selo," ucap Lyodra dengan mata yang berkaca-kaca.
***
Lyodta turun dari mobil. Lelaki tampan itu langsung berjalan masuk ke arah dalam dan ternyata di luar sedang ada Maria yang sepertinya sedang menunggunya
"Sayang, kau sedang apa?" tanya Lyodra.
Lyodra menahan tawa saat melihat wajah gugup Maria. Sebenarnya dia tahu Maria menunggunya karena ingin mendengar kabar Selo. "Bagaimana kabarnya?" tanya Maria. Dia berbicara dengan nada yang pelan karena dia benar-benar malu menanyakan keadaan mantan menantunya pada suaminya.
Pada akhirnya, tawa Lyodra pecah saat melihat lucunya wajah Maria, kemudian dia memegang bahu istrinya. "Sayang, temui Selo. Berterima kasih padanya karena jika bukan dia, putri kita bisa selamat," ucap Lyodra.
"Bagaimana mungkin aku akan menemuinya setelah saat itu aku menyuruhnya menjauh dari Bianca?" jawab Maria.
__ADS_1
Lyodra memeluk sang istri. "Kau tahu jika kau terus seperti ini kau tidak akan tenang. Hanya tinggal datang dan meminta maaf padanya, dan itu selesai. Kau tidak akan merasa terbebani lagi dengan apapun," ucap Lyodra.
Maria tampak berpikir. Memang benar apa yang diucapkan suaminya, tapi tetap saja dia merasa malu.
"Tapi aku malu," kata Maria.
Lyodra menghela napas. "Aku temani, yang terpenting kau datang meminta maaf dan juga berterima kasih," ucap Lyodra lagi hingga Maria mengangguk.
"Ya sudah ayo kita masuk."
"Kenapa kita masuk, bukankah kau mau mengantarkanku untuk pergi ke rumah sakit?" protes Maria.
"Hah?'
Padahal, dia mengusulkan itu bukan sekarang melainkan nanti, sebab dia pun ingin istirahat. "Kita, 'kan, bisa pergi nanti, Sauang," ucap Lyodra.
"Tidak mau. Aku ingin pergi sekarang. Ayo kita ke rumah sakit."
Lyodra menggeleng saat melihat tingkah Maria, hingga mau tak mau dia pun langsung menyetujui ucapan istrinya, dan kemudian mereka pun langsung berjalan ke arah mobil.
Lyodra mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, lelaki itu sesekali melihat ke arah istrinya yang tampak gugup membuat dia ingin sekali tertawa. Namun, tentu saja dia tidak berani tertawa di hadapan istrinya, bisa-bisa Maria mengamuk.
Sementara Maria sedari tadi terus meremas kedua jarinya. Jujur saja dia takut melihat Gabriel dan Amelia ada di sana. Apa yang akan dia katakan pada kedua mantan besaannya yang juga saudaranya? Sungguh dia benar-benar merasa malu, tapi dia tidak ingin menundanya lagi. Dia ingin segera meminta maaf agar perasaannya plong.
"Kau baik-baik saja?" yanya Lyodra yang memberanikan diri bertanya saat melihat wajah Maria.
"Kau jangan meledekku," ucap Maria hingga Lyodra tertawa dan pada akhirnya mobil yang dikendarai Lyodra smpai di rumah sakit.
"Ayo turun," ucap Lyodta.
__ADS_1
Tiba-Tiba Maryam menoleh. "Dad, kita tunda saja. Aku belum siap," jawab Maria dengan entengnya membuat mata Lyodra membulat.