Tatap Aku, Lelakiku!

Tatap Aku, Lelakiku!
Rahasia Aghnia


__ADS_3

Sello mengerjap, Ia membuka matanya kepalanya terasa berat. Setelah membuka matanya, tak lama Sello kembali menutup matanya, karena pandangannya begitu berkunang-kunang. Hingga rasa pusingnya bertambah


Tak lama terdengar suara pintu terbuka, jantung Sello berdebar saat mengenal aroma ini, aroma yang sangat Sello kenal, ini adalah aroma Bianca mantan istrinya, ia sangat mengenal parfum yang selalu digunakan oleh Bianca.


“Tunggu, apakah aku sakit parah.” Sello membatin, karena Bianca dokter bedah, dan jika Bianca yang memeriksanya ada kemungkinan Sello menderita penyakit yang cukup parah.


Bianca bersidekap kemudian ia melihat Sello, lalu ia menggeleng. Sello terlihat sangat berbeda dengan dulu. Dulu, Sello tampak gagah, maskulin dan sangat berkarisma, walaupun karisma Sello sampai sekarang tidak luntur. Tapi tetap saja ada bedanya. Sello tidak seperti dulu lagi, mungkin ini semua pengaruh dari kemewahan yang dicabut oleh keluarganya.


Sebenarnya Bianca tidak mempunyai perasaan apapun lagi pada Sello, semuanya sudah berlalu ia sudah berhasil menyingkirkan rasa sakitnya. Hingga sekarang, tidak ada lagi rasa sakit ketika ia melihat Sello ia benar-benar menganggap Sello sebagai saudaranya, apalagi memang mereka mempunyai hubungan persaudaraan bukan hanya sekedar mantan pasangan suami istri.


“Sello, aku tahu kau bangun. Buka matamu!” kata Bianca. Dari cara Sello menutup matanya saja, Bianca tahu bahwa Sello tidak tertidur hingga pada akhirnya Sello membuka matanya lalu berdehem.


Melihat wajah Bianca yang serius, Sello tidak berani tersenyum. Selama 2 tahun ini, selama mereka berpisah, beberapa kali Sello memang bertemu Bianca dalam acara khusus ataupun secara tidak sengaja. Tapi, Bianca sama sekali tidak menegurnya, begitupun Ia juga tidak menegur Bianca, mereka seperti orang tidak saling mengenal.


Namun satu yang Sello sadari , setiap ia melihat Bianca, setiap itu pula ia merasa Bianca begitu berbeda. Sekarang, Bianca tampak begitu istimewa dalam artian, mungkin Bianca lebih bahagia saat berpisah dengannya.


“Ba-bagaimana kondisiku, Bi?" Tanya Sello yang memberanikan bertanya.


“Aku akan mengatakan kondisimu pada istrimu.” Bianca membungkuk, kemudian mengambil senter lalu memeriksa mata Sello. Saat Bianca mendekat, jantung Sello berdetak dua kali lebih cepat, aroma wangi Bianca langsung mengeluar di hidung Sello, membuat Sello bertambah gugup.


“Sello, saat ini jangan minum obat apapun selain obat yang aku resepkan, kau mengerti?” ucap Bianca. “Sebelum kau meminum obat, seharusnya kau memperhatikan obat yang aku berikan, jika obat itu berbeda jangan memakannya.” Sello mengerutkan keningnya saat mendengar penjelasan Bianca yang begitu berbelit-belit. Kenapa ia harus melakukan hal tersebut itu begitulah pikirnya.


“Ke-kenapa?” jawab Sello.


“Kau tidak mau sembuh?” tanya Bianca.

__ADS_1


“Tidak usah mengikuti kata-kataku jika kau tidak ingin sembuh,” ucap Bianca lagi. Namun, secepat kilat Sello mengangguk.


“Ba-baik,” jawab Sello setelah mengatakan itu Bianca pun berbalik, kemudian ia keluar dari ruang rawat Sello. Saat Bianca keluar, ia tersenyum saat melihat Roland yang baru masuk rumah sakit, ia pun langsung berjalan menghampiri Roland.


“Kau tidak mengatakan kau akan kemari?” tanya Bianca saat roland menghampirinya..


“Ini.” Roland meyodorkan paperbag yang ia bawa, paper bag yang berisi makanan.


“Ini makan siang untukmu. Kau selalu melewatkan jam makan siangmu,” ucap Roland, membuat Bianca terkekeh.


Bianca melihat jam di pergelangan tangannya, kemudian ia langsung melihat ke arah Roland “Roland, kau tidak apa-apa kan menungguku dulu. Aku masih harus berbicara dengan keluarga pasien,” jawab Bianca, ia harus berbicara dengan Aghnia, tentang kondisi Sello, walau bagaimanapun Agnia sekarang adalah istri Selo, otomatis semua yang dialami Sello, harus ia sampaikan pada istrinya.


“Pergilah, aku akan menunggu di sini,” ucap Roland, ia berbalik kemudian ia langsung masuk pergi ke ruangannya.


•••


Semenjak ia terpergok dengan Sello dua tahun lalu, Bianca tidak pernah bertemu Aghnia lagi, ia dan sekarang rasanya begitu aneh ketika Agnia harus bertemu dengan mantan istri dari suaminya.


Setelah sekian lama terdiam, Agnia mengetuk pintu, kemudian ia langsung membuka pintu setelah mendapat sahutan dari dalam.


Saat pintu terbuka, Bianca menoleh ke arah pintu, ia tampak santai saat melihat Agnia.


Sama seperti pada Sello. Saat ini sudah tidak ada dendam lagi di Bianca, Ia benar-benar sudah mengiklaskan semuanya, Itu sebabnya saat melihat Aghnia, ia pun biasa.


“Silahkan duduk,” ucap Bianca. Agnia mengangguk.

__ADS_1


“Beberapa syaraf di otak suami anda mungkin mengalami gangguan atau kerusakan ringan. Jangan berikan dia obat keras selain obat yang saya resepkan,. jika suami Anda mengeluh, Tolong bawa dia ke rumah sakit jangan didiamkan.” Bianca menekankan ucapan demi ucapan yang ia katakan pada Aghnia, sedangkan Aghnia mendengarkannya dengan seksama seolah Dia peduli dengan apa yang terjadi pada suaminya. Namun, jari-jarinya bersalin bertautan saat mendengar untaian kata unta yang diucapkan Bianca.


“Silakan tebus obatnya, dan tolong berikan obat pada suami Anda dengan tepat waktu,” ucap Bianca.


“Ba-baik, terima kasih Dokter!” kata Agnia setelah Agnia pergi, Bianca langsung menyadarkan tubuhnya ke belakang.


“Aku ingin beritahu salah, tidak aku beritahu juga salah. Ah sudahlah,” ucap Bianca. Sepertinya Bianca mengetahui penyebab Sello seperti ini.


Namun, sebagai seorang dokter, ia tidak bisa sembarangan menuduh pada Agnia atas apa yang terjadi pada Sello


•••


Aghnia masuk ke dalam ruang rawat suaminya, kemudian ia tersenyum saat melihat Sello yang menatap ke arahnya. Sello tampak melihat Agnia lekat-lekat. Entah kenapa ucapan Bianca tentang Ia yang harus memastikan obat sebelum di minum terngiang-ngiang di otaknya.


Selama ini, Selo selalu diberi obat oleh Aghnia dan Aghnia selalu mengatakan itu adalah vitamin untuk kebugaran. Namun saat mendengar ucapan Bianca yang mengatakan Sello harus lebih waspada tentang obat yang ia diminum. Entah kenapa pikirannya jadi melanglang buana mencurigai Agnia.


Namun tak lama, Sello menggeleng-gelengkan kepalanya. Mana mungkin istrinya tega mencuranginya, begitulah pikir Sello.


” Bagaimana, Apakah kau sudah mendingan tanya Aghnia.” Seperti biasa, ucapan Agnia begitu lembut.


Sello menggangguk. “Apa kata dokter, kapan aku bisa pulang dari sini?” tanya Sello.


”kau sudah boleh pulang sekarang. Dokter juga sudah meresepakan obat,” jawab Agnia. Padahal Sello belum boleh pulang oleh Bianca.


Sello mengangukan kepalanya. “Nanti biar aku saja yang meyiapkann obat. Aku tidak ingin merepotkanmu.” Tiba-tiba Aghnia terdiam saat mendengar ucapan Sello. Tunggu, Apakah Sello sudah curiga padanya.

__ADS_1


Faktanya, selama ini Aghnia selalu memberikan obat pelumpuh saraf untuk suaminya,.hanya saja Agnia memberi obat itu dengan dosis yang sangat sedikit, agar Sello tidak curiga.


Setelah Sello tidak lagi seperti dulu, Agnia begitu enggan hidup dengan Selo. Tapi karena seseorang yang membayarnya, mau tak mau Ia pun hidup dengan lelaki yang kini menjadi suaminya. Itu sebabnya, Aghnia selalu berpura-pura Sello memberikan vitamin padahal itu adalah obat pelumpuh saraf.


__ADS_2