Tatap Aku, Lelakiku!

Tatap Aku, Lelakiku!
Sebuah Restu


__ADS_3

Lyodra Mengusap wajah kasar saat mendengar ucapan istrinya, tadi Maria yang memaksanya datang kemari. Tapi lihatlah, setelah sampai Maria malah tidak ingin turun.


“Sayang kau ini apa-apaan, kita sudah sampai di sini, kenapa tidak jadi,” ucap Lyodra dengan sedikit kesal, karena Maria benar-benar tidak masuk akal.


“Kenapa kau memarahiku," jawab Maria, dia tau suaminya sedang kesal padanya. Lyodra menghela nafas sebanyak-banyaknya.


“Sayang, kita sudah di sini tidak mungkin kita kembali tanpa masuk. Jadi sekarang, ayo kita masuk," ajak Lyodra.


“Tidak mau, aku malu, Dad," jawab Maria yang kekeh dengan jawabnya yang tidak mau turun dari mobil.


“Jika kau tidak menemui Selo sekarang, aku tidak mau menemanimu nanti," ancam Lyodra.


“Kau ini jahat sekali." Maria mencebik.


“Ini bukan soal jahat, tapi tidak ada gunanya untuk menunda, cepat atau lambat kau juga akan bertemu dengan Sello," kata Lyodra.


Maria menatap ke depan. “Tapi, bagaimana jika nanti Sello mengusirku?” Maria malah mengkhawatirkan yang tak mungkin.


“Apa masuk akal orang koma mengusirmu?” tanya Lyodra lagi karena gemas dengan tingkat istrinya. Lyodra pun melepaskan sabuk pengamannya, kemudian lelaki itu pun turun lalu memutari mobil dan setelah itu dia langsung membukakan pintu untuk Maria, hingga mau tak mau Maria pun turun dari mobil.


Saat akan berjalan masuk ke dalam, Maria menggenggam tangan Lyodra begitu erat, sungguh dia bingung dengan apa yang harus dia katakan ketika pertama kali melihat mantan menantunya.


Dan sekarang di sinilah mereka berdiri, di depan ruang rawat Sello. “Ayo masuk," kata Lyodra. Maria menarik lengan Lyodra yang akan membuka pintu, hingga Lyodra menghentikan gerakannya.


“Nanti saja, tunggu dulu 10 menit lagi-lagi." lagi-lagi Lyodra hanya bisa menggeleng melihat tingkah istrinya. hingga dia pun menuruti kemauan Maria, dan setelah itu 10 menit berlalu Liyodra pun langsung membuka pintu hingga Bianca yang sedang melamun langsung menoleh, begitupun Sello, lelaki itu juga sedang melamun dan ketika mendengar pintu terbuka Sello berusaha menggerakkan kepalanya.


Saat masuk ke dalam, Maria yang sedang menggenggam tangan Lyodra menunduk, dia tidak berani menatap mantan menantunya, satu karena merasa bersalah dan kedua dia tidak sanggup melihat wajah Sello yang walaupun sudah tiga bulan berlalu wajahnya masih sedikit membengkak, tentu saja Maria sudah mendengar detail kejadian yang terjadi pada mantan menantunya.


Dan inilah titik balik Maria, di mana saat itu dia mati-matian tidak ingin Sello kembali pada Bianca. Namun setelah mendengar apa yang dialami Sello ,dia berbalik dan dia akan menyetujui jika memang Bianca ingin kembali pada Sello, karena walau bagaimanapun jika tidak ada Selo maka Bianca lah yang ada di posisi Selo saat ini.


Saat berada di dekat berangkar, Lyodra dan Bianca saling tatap, kedua ayah dan anak itu sama-sama menahan tawa saat melihat wajah Maria, begitupun dengan Sello yang begitu bingung dengan kehadiran mantan ibu mertuanya.


Apakah mantan ikbu mertuanya akan melarang lagi Bianca menemaninya di rumah sakit, begitulah pikir Selo karena tentu saja sebelum dia pergi ke luar negeri, Maria menemuinya dan melarangnya untuk bertemu dengan mantan istrinya.


“Sayang!" panggil Lyodra, hingga Maria langsung mengangkat kepalanya, lalu tatapannya bersibiborok dengan Sello.


Maria meringis saat melihat wajah Sello dari dekat, yang tampak membengkak dan tak bisa dibayangkan, seberapa sakit yang Sello salami hingga setelah 3 bulan berlalu wajahnya masih belum pulih.


“Se-sello!" panggil Maria dengan terbata, dia menatap Sello, kemudian kembali menunduk.


Sello benar-benar bingung dengan ibu mertuanya, hingga dia menoleh ke arah Bianca yang juga sedang melihat ke arahnya. Namun, Bianca mengangkat bahunya acuh.


Lyodra menoleh ke arah sang istri, kemudian dia memegang tangan Maria hingga Maria tersadar lalu melihat ke arah Lyodra dan Lyodra pun mengangguk, pertanda Maria harus segera meminta maaf pada Sello.


“Bi-bi, kemari hanya ingin melihat keadaanmu," ucap Maria. Pada akhirnya, dia memberanikan berbicara dan itu membuat Sello semakin bingung. Mantan mertuanya ingin menertawakannya atau malah simpati padanya.


“Bibi juga ingin meminta maaf padamu atas apa yang telah ucapkan dan tingkah bibi yang selalu bersikap ketus padamu.” Akhirnya, kata-kata mutiara itu keluar dari mulut Maria yang mempunyai segudang gengsi, hingga mata Selo membulat, dia tidak percaya mantan mertuanya mengatakan itu padanya.

__ADS_1


Namun ada yang aneh dengan Bianca, dia tidak terkejut dengan ucapan Maria yang meminta maaf, dia malah terkejut dengan perkataan Maria yang menyebutkan ucapan yang menyakiti Sello, seingatnya Maria dan Selo tidak pernah bertemu secara pribadi, lalu kenapa sang ibu tiba-tiba minta maaf.


Berjuta-berjuta pertanyaan berputar-putar di otak Bianca. Namun Bianca lebih memilih untuk tidak menghiraukannya, Maria mendekat ke arah berangkar. Pada akhirnya, dia kembali melunturkan gengsinya, lalu setelah itu dia menggenggam tangan Sello.


“Sello, mungkin rasa terima kasih saja tidak bisa mengganti Apa yang kau alami, rasa bersalah juga tidak bisa mengulang waktu yang telah berlalu. Bibi minta maaf atas semua yang bibi katakan sebelum kau pergi ke luar negeri, dan bibi juga minta maaf karena telah bersikap egois, jadi sekarang tidak akan melarangmu untuk dekat dengan Bianca, kalian berhak untuk menentukan kehidupan kalian. Dan terima kasih juga karena telah menyelamatkan Bianca."


Maria mengakhiri ucapannya dengan senyuman, hingga mata Sello langsung berkaca-kaca, rasanya dia ingin sekali melompat kegirangan saat mendengar ucapan itu, ternyata sakit yang dia rasakan membawa berkah yang luar biasa, di mana dia bisa mendapatkan lagi Restu Maria dan juga dia bisa mendapatkan hati Bianca, di mana sebelum dia ditahan oleh Roland, Bianca dan Maria mati-matian membencinya, dan sekarang.


Lyodra kemudian merangkul pundak istrinya, hingga Maria tersenyum dan ternyata benar setelah mengatakan itu Maria menjadi plong dia merasa beban yang dipikulnya seolah hilang dengan keluarnya kata maaf dan kata terima kasih.


“Terima kasih bibi," hanya itu yang bisa Sello ucapkan, lelaki itu berbicara dengan pelan namun Maria bisa mendengarnya. Maria maju ke dekat Sello, kemudian dia langsung mengelus kepala Sello, hingga Selo memejamkan matanya dan Maria pun menegakkan tubuhnya kembali lalu menatap ke arah Bianca. “Kau ingin terus di sini?” tanya Maria, Bianca mengangguk.


“Hmm, Aku akan pulang nanti.”


“Ya, sudah kalau begitu Mommy dan Daddy pulang sekarang. Selo paman dan bibi akan pulang mungkin bibi akan sering menjengukmu kemari, jika kau pulih bibi akan membawakan masakan kesukaanmu,” ucap Maria lagi, hingga Sello mengedipkan matanya pertanda mengiyakan ucapan Maria.


Sello tersenyum samar, dan pada akhirnya Maria dan Lyodra pun keluar dari ruang rawat mantan menantu mereka. Setelah Maria dan Lyodra pergi, kecanggungan langsung membentang keduanya, entah kenapa Bianca merasa canggung, begitupun dengan Sello.


Pada akhirnya Bianca memutuskan untuk duduk di sofa, kemudian wanita itu mengutak-atik ponselnya begitupun dengan Sello yang lebih memilih untuk memejamkan matanya.


Sebenarnya kecanggungan sudah melanda mereka sedari tadi, sebelum Maria dan Lyodra datang, kecanggungan itu berasal ketika Bianca mengajaknya menikah dan kecanggungan itu masih terasa sampai sekarang, hingga itu sebabnya Bianca memilih untuk menjauh sebentar.


Lyodra mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, lelaki paruh baya itu sesekali melihat ke arah Maria yang sudah duduk dengan tenang. “Sudah kubilang bukan, rasanya lebih plong,” ucap Lyodra, Maria mengangguk.


“Hmm, ternyata meminta maaf bisa bisa membuat semuanya membaik,” kata Maria lagi, Lyodra menggangguk-ganggukan kepalanya, dan tak lama ponsel Lyodra berdering, satu panggilan masuk dari Gabriel membuat mata Lyodra membulat.


“Siapa?” tanya Maria ketika suaminya tidak menjawab teleponnya. “Siapa yang menelponmu, Dad?” tanya Maria lagi.


“ Gabriel."


Maria menyipitkan matanya sekilas, tidak ada yang aneh ketika Gabriel menelepon suaminya. Namun sekarang ada yang berbeda, wajah suaminya tampak pucat.


“Kenapa kau tidak mengangkatnya?"!tanya Maria.


“Nanti saja aku kan sedang menyetir." Maria mengangguk-nganggukkan kepalanya. Namun, dia tahu ada yang disembunyikan oleh suaminya. Dia tidak membahas lagi dan dia akan mencari tahunya nanti.


Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Lyodra sampai di pekarangan rumahnya, Maria dan Lyodra pun turun dari mobil. Saat berjalan ke arah rumah, langkah Maria serasa enteng wanita itu merasakan rasa lega yang luar biasa dan kini dia tahu apa arti keikhlasan.


“Jadi, kau akan meminta syarat apa agar Sello kembali menjadi menantu kita?” tanya Lyodra menggoda Maria.


“Siapa yang merestui me ....” Maria menghentikan ucapannya kala mengingat dia sendiri tadi yang mengatakan akan merestui Bianca dan Sello..


Satu jam kemudian


Bianca masih duduk di sofa, begitupun dengan Sello yang masih memejamkan matanya. Sebenarnya sedari tadi, Bianca ingin sekali menoleh ke arah Brangkar, dia ingin memastikan sedang apa lelaki itu, tapi tentu saja dia terlalu malu dan terlalu gengsi hingga dia terus mengutak-ngatik ponselnya. padahal tidak ada yang dia lihat, dia hanya menscroll ponselnya ke sana kemari.


Namun, sepertinya rasa penasaran Bianca semakin menjadi-jadi dan tak lama dia memiliki sebuah ide. Bianca menyalakan kamera belakang, kemudian dia mengarahkannya pada Sello, seolah dia sedang memainkan ponselnya. Padahal dia sedang melihat saya lewat kamera.

__ADS_1


Dan tak lama, Sello mengerjap kemudian lelaki itu membuka matanya lalu melihat ke arah Bianca karena dia merasa silau.


Di tengah rasa sakit yang menderanya, Sello ingin sekali tertawa kala melihat tingkah Bianca.


Sayangnya Bianca tidak menyadari bahwa wanita itu menyalahkan flash kamera belakang, hingga Sello tahu bahwa Bianca sedang melihatnya lewat ponsel.


‘Ya Allah, terima kasih janjimu emang nyata di setiap kesusahan pasti ada hal baik yang aku terima.' batin Selo yang benar-benar takjub dengan apa yang terjadi.


Tak lama, pintu terbuka hingga Sello menoleh dan ternyata Mayra yang masuk.


“Bianca kenapa kau memvideokan kakak.” tanya Mayra membuat Bianca kebingungan.


“Hah!” Bianca langsung bingung saat mendengar ucapan Mayra, dengan cepat Bianca langsung menurunkan ponselnya. mata Bianca membulat saat menyadari ternyata Flashnya menyala dan dia yakin selalu mengetahui apa yang dia lakukan, hingga Bianca memejamkan matanya menahan malu.


“Tumben sekali kau kemari, kau tidak bekerja?” tanya Bianca menetralkan kegugupannya, dia langsung menghampiri Mayra agar tidak terlalu malu.


“Oh, aku hanya mampir sebentar dan juga ....” maira menghentikan ucapannya tidak mungkin dia mengatakan bahwa dia datang ke rumah sakit untuk mengantarkan makanan bagi dokter Adrian, dia juga ingin menitipkan coklat untuk Alice


Ya, dia memang sudah bertemu Alice beberapa kali, dan dia rasa dia akan mulai mendekati gadis kecil itu agar bisa mendapatkan Adrian.


“Dan juga apa?” tanya Bianca.


“Ada urusan sebentar, jadi aku keluar dan mampir kemari," dusta Mayra. Bianca menatap Mayra lekat-lekat.


“Kau pasti berbohong," kata Bianca hingga Mayra mengangkat bahunya acuh.


“Kau sudah merasa baikan?” tanya Mayra. Sello mengedipkan matanya, mengiyakan ucapan Mayra.


“Apa setelah ini kalian akan kembali merajut kisah?” tanya maira lagi membuat mata Bianca dan mata Sello membulat.


“Kenapa kau mengatakan seperti itu?” tanya Bianca dengan gugup membuat Mayra berdecak


“Apa kalian tau, apa alasan Mommy dan Daddy tidak kemari?” ucap Mayra karena memang Gabriel dan Amelia ingin memberikan waktu untuk Selo dan Bianca dan sekarang Bianca mengerti kenapa dari kemarin Gabriel dan Amelia tidak datang.


“Ya, sudah kalau begitu, aku pergi." Mayra pun berbalik, kemudian wanita itu langsung keluar dari ruang rawat kakaknya, dan setelah keluar dia berjalan ke arah ruangan Andrian berharap lelaki itu ada di sana.


Ketika dia berbelok, Mayra melihat Adrian sedang berjalan, walaupun hanya melihat dari belakang, tapi dia tahu itu adalah lelaki yang dia cari.


“Dokter Adrian!” panggil Mayra. Adrian yang baru saja keluar dari ruang operasi langsung menoleh. Helaan nafas terlihat dari wajah tampan lelaki itu, jujur dia begitu risih dengan kehadiran Mayra yang menurutnya begitu aneh, karena memaksakan dekat dengannya walaupun putrinya terlihat sangat menyukai Mayra. Tapi tetap saja di matanya itu begitu aneh.


“Hallo, Dok," ucap Mayra, dia tersenyum manis di hadapan Adrian.


“Halo Mayra," balas Adrian. Sekesal-kesalnya Mayra, tentu saja dia harus menjaga sikap.


“Dokter, aku membuatkan makanan siang untukmu, dan juga aku memberikan beberapa coklat kesukaan Alice.” Mayra menyodorkan paper bag di tangannya ke hadapan Adrian, membuat Adrian menghela nafas. Sepersekian detik, wajah Adrian berubah seperti orang yang malas. Namun tak lama dia merubah lagi ekspresinya, lalu tersenyum


“Terima kasih Mayra.” Rasa semangat yang tadi Mayra rasakan berubah menjadi sendu tentu saja karena dia barusan melihat ekspresi Adrian.

__ADS_1


“Ya, sudah kalau begitu aku permisi." Adrian pun berbalik, kemudian dia kembali melanjutkan langkahnya dan ketika sudah berbelok, Adrian menghampiri tempat sampah, langsung membuka tempat sampah tersebut kemudian buang paper bag yang tadi diberikan oleh Mayra.


__ADS_2