Tatap Aku, Lelakiku!

Tatap Aku, Lelakiku!
Perlawanan


__ADS_3

Setelah sampai di pemakaman dan bertanya pada sopir, Mayra pun langsung masuk diikuti Tommy di belakangnya. Mayra mengedarkan pandangannya yang langsung berhenti di satu titik, di mana dia melihat hal yang benar-benar menyakitkan, di mana Alice sedang terbaring di tanah sambil memeluk nisan.


Secepat kilat, Mayra pun langsung berlari. Beberapa kali Mayra hampir terjatuh karena tersandung kakinya sendiri, tapi beruntung dia masih bisa mengendalikan diri.


Saat mendekat Alice, hati Mayra semakin pedih kala mendengar ucapan Alice. Dia pikir ketika dia pergi, Alice baik-baik saja, tidak meneleponnya, tapi ternyata dia keliru. Alice terlihat sangat hancur.


Saat mendekat dengan makam, Mayra berjalan dengan pelan dan dari dekat, hati Mayra semakin ngilu ketika tangisan Alice terdengar sangat pilu. Perlahan, Mayra menekuk kakinya kemudian berjongkok, lalu setelah itu dia mengelus kepala Alice hingga Alice yang sedang memejamkan matanya sambil menangis, langsung membuka mata.


"Mommy," Panggil Alice.


Namun, sepersekian detik Alice kembali memejamkan matanya karena dia pikir dia hanya mimpi. Mana mungkin Mayra ada di sini? Dia berpikir itu hanya halusinasi.


"Alice," panggil Mayra dan setelah mendengar suara Mayra, Alice kembali membuka mata.


"Mommy, kau nyata?" tanya Alice.


"Alice," panggil Mayra lagi.


Seketika, Alice bangkit dari berbaringnya kemudian dia menunduk. Dia tidak tahu harus bagaimana menghadapi Mayra. Jika di masa lalu, Alice tanpa ragu memeluk ibu tirinya atau yang sekarang menjadi mantan ibu tirinya, tapi di masa sekarang Alice tidak seberani itu. Terlebih lagi, Mayra sudah bercerai dengan sang ayah.


Mengerti perasaan Alice, Mayra langsung berpindah posisi di sebelah mantan putri sambungnya, kemudian dia membawa Alice ke dalam pelukannya, dan sedetik kemudian tangis Alice mengencang. Dia membalas pelukan Mayra dengan sangat erat, menyalurkan rasa rindu yang bergebu-gebu yang sudah dia tahan selama berbulan-bulan, begitu pun dengan Mayra. Seandainya dia tahu kondisi Alice seperti ini, mungkin dia akan lebih cepat menghubungi Alice.


Sepuluh menit kemudian.


Alice sudah bisa menenangkan dirinya. Gadis remaja itu langsung tersadar kemudian dia langsung melepaskan pelukannya.

__ADS_1


"Mommy," panggil Alice.


"Kenapa kau tidak pernah menelepon Mommy? Kenapa kau tidak mengatakan bahwa keadaanmu tidak baik-baik saja?" tanya Mayra.


"Aku takut," jawabnya.


"Ayo bangun, kita pulang," jawab Mayra.


Alice menunduk kemudian menggeleng. Dia tidak tahu harus pulang ke mana, pergi ke rumah neneknya, masih ada sang ayah dan dia paling muak melihat Adrian.


"Ikut bersama Mommy. Kau ingin melihat adikmu?" tanya Mayra hingga Alice menoleh.


"Bolehkah aku ikut pulang bersama Mommy?" tanyanya.


"Kau boleh ikut pulang," ucap Mayra.


"Mommy sudah menikah lagi," ucap Mayra ketika mereka berhadapan dengan Tommy.


"Aku tahu," jawab Alice kemudian dia menunduk, tidak berani menatap Tommy yang ada di depannya.


Tommy maju kemudian dia mengelus rambut Alice. "Kau bisa menganggapku paman, Daddymu. ," kata Tommy membuat Alice mengangkat kepalanya lalu mengangguk.


Setelah itu, mereka pun keluar dari area pemakaman. Saat barusan berjalan, Alice menggenggam tangan Mayra begitu erat, bahkan Mayra merasa kuku-kuku Alice menancap di permukaan kulitnya. Gadis remaja itu begitu takut kehilangan Mayra.


Saat mereka akan masuk ke dalam mobil, tiba-tiba ada mobil yang berhenti di depan mobil milik Tommy, dan muncul sosok keluar dari mobil itu. Rupanya, tadi Adrian menelpon Artur dan

__ADS_1


Ketika tahu Alice ada di pemakaman, Adrian pun tanpa pikir panjang langsung menyusul putrinya.


Saat melihat Adrian, Alice langsung bersembunyi di belakang tubuh Mayra. Dia enggan ikut dengan sang ayah dan itu membuat hati Ardian remuk.


Belum selesai rasa sakit yang dia rasakan karena kehilangan Mayra yang sudah bersanding dengan orang lain, dan dia yang tidak bisa menyentuh putri kecilnya, sekarang dia kembali merasakan sakit karena Alice terlihat lebih memilih Maira daripada dia.


"Alice, ayo pulang," jawab Adrian.


"Tidak mau, aku ingin ikut bersama Mommy Mayra," ucap Alice.


"Alice!" Adrian sedikit membentak Alice karena dia merasa emosi. Alice lebih memilih Mayra yang jelas-jelas bukan siapa-siapa.


Ketika mendengar bentakan Adrian, Mayra menoleh. "Aku akan mengantarkan Alice nanti, jangan buat dia ketakutan," ucap Mayra.


Setelah itu, Mayra berjalan ke arah mobil kemudian Mayra mempersilakan Alice untuk masuk.


"Dad, tidak apa-apa, 'kan, aku menemani Alice di belakang?" tanya Mayra pada Tommy.


"Tidak papa, Sayang," jawabnya.


Tommy tidak langsung masuk, dia berjalan ke arah Adrian.


"Bukan seperti ini caranya membujuk putrimu. Kau ingin dia terus menjauh?" tanya Adrian.


"Tahu apa kau soal putriku?" Adrian berseru tidak terima..

__ADS_1


"Aku memang tidak tahu apa-apa, tapi setidaknya aku mengerti perasaan wanita. Mayra saja yang mencintaimu bertahun-tahun bisa langsung berpaling padaku dalam hitungan bulan. Ini bukan soal tahu atau tidak tahu, tapi bagaimana cara kau memahami seseorang." Setelah mengatakan itu, Tommy pun berbalik kemudian dia masuk ke dalam mobilnya, lalu menyalakannya dan menjalankannya untuk pulang.


"Ah!" Adrian berteriak saat mobil Mayra sudah pergi. Dia menendang ban, tapi tak lama dia meringis karena kesakitan sendiri.


__ADS_2