
"Saya Morgan, pengacara yang akan menangani kasus Anda," ucap Morgan.
Roland menatap Morgan tanpa berkedip. Wajahnya tiba-tiba memucat. "Aku butuh pengacaraku. Aku tidak mau memakai jasamu," ucap Roland.
"Maaf Tuan Roland, kejahatan Anda sudah terlalu banyak. Anda tidak diperkenankan untuk memakai pengacara dari firma hukum lain. Anda harus memakai pengacara publik yang disediakan oleh pihak kepolisian," ucap polisi.
Mata Roland membulat saat mendengar ucapan polisi. "Aku punya hak warga negara di sini, dan aku berhak menolak apa yang kalian usulkan!" Roland berteriak pada polisi. Dia sungguh emosi mendengar itu. Kesal, marah dan juga takut bercampur menjadi satu, hingga sekarang Roland tiba-tiba beringas.
"Maaf Tuan Roland, tapi Anda sudah memilih kebangsaan Amerika sebagai negara Anda, dan Anda membuat ulah di Rusia, maka patuhi hukum di sini," ucap polisi.
Roland memejamkan matanya. Entah dari mana polisi ini tahu bahwa sebenarnya Roland telah mengambil kewarganegaraan Amerika agar dia aman, tapi ternyata sekarang di Rusia dia terkena hukum dan dia tidak bisa menolak apapun yang diusulkan kepolisian, termasuk memakai pengacara.
Biasanya, pengacaranya selalu berhasil membebaskannya dengan segala bukti palsu dan lain-lain, tapi sekarang dia memakai tim hukum yang disediakan oleh pihak kepolisian, hingga sepertinya Roland tidak bisa berbuat apa-apa.
"Silakan masuk ke ruang interogasi," kata polisi.
"Tidak, aku tidak mau. Aku ingin pengacaraku. Jika tidak serahkan saja aku ke negaraku," ucap Roland. Dia ingin dihukum di Amerika. Setidaknya jika di Amerika, dia masih memiliki koneksi yang sangat kuat.
"Anda telah di blacklist di sana karena Anda membuat pelanggaran," ucap polisi.
Mata Roland membulat saat mendengar ucapan polisi tersebut, karena faktanya Gabriel tidak mengeluarkan kejahatan Roland di Rusia saja, melainkan di Amerika dan juga di Jerman. Gabriel mengurus semuanya begitu rapi, sehingga tidak ada celah untuk Roland kabur.
Roland diblacklist dari Amerika, begitu pun dengan Jerman. Lalu sekarang, Roland akan tetap dihukum di Rusia walaupun kewarganegaraannya Amerika, dan mau tak mau Roland harus patuh pada perintah hukum yang ada di Rusia, termasuk dia tidak bisa bebas mengganti kuasa hukum.
"Silakan ikut kami untuk diinterogasi," kata polisi lagi yang menyuruh Roland untuk mengikuti salah satu polisi yang akan menginterogasi di ruangan khusus.
"Baik aku akan ikut dan aku akan kooperatif, tapi izinkan aku menelepon seseorang," ucap Roland. Saat ucapan kali ini, dia terpikirkan Kaisar. Biasanya, Kaisar akan selalu menemukan jalan untuknya bebas dan sekarang dia berharap bosnya mau membantunya.
"Apa Anda ingin menelepon Tuan kaisar Morone?" tanya polisi membuat mata Roland kembali membulat.
Roland memejamkan matanya karena dia tahu ini ada hubungannya dengan Gabriel. Di mana Gabriel mungkin sudah membeberkan semuanya pada kepolisian.
"Sayangnya, Anda tidak bisa menghubungi Tuan Kaisar, karena Tuan Kaisar pun dalam pencarian pihak kepolisian," ucap polisi.
"Apa?!" Roland terpekik saat mendengar ucapan polisi. Iya, sepertinya Kaisar lebih pintar daripada Roland.
__ADS_1
Setelah dia mendatangi pihak kepolisian, Kaisar merasa ada yang aneh. Ada beberapa orang yang terus berjaga di sekitar rumahnya, hingga dia sadar bahwa dia salah mengambil langkah. Itu sebabnya Kaisar terlebih dahulu kabur meninggalkan Roland dan juga anak buahnya yang lain.
Lelaki itu memiliki tempat persembunyian tersendiri, tapi tentu saja Gabriel tidak akan tinggal diam. Dia saat ini sedang berusaha untuk mendapatkan Kaisar Morone karena dia yakin, jika Kaisar Morone belum ditangkap, masih ada korban-korban lainnya.
"Kalian pasti berbohong," ucap Roland yang tidak terima dengan apa yang diucapkan polisi.
"Tidak, kami tidak berbohong. Semua anak buah yang berada di bawah naunganmu dan Tuan Kaisar sudah ditangkap dan hanya Tuan Kaisar yang belum. Jadi, silakan ikuti ini secara kooperatif agar hukuman Anda bisa stabil," kata polisi tersebut.
Karena Roland tidak bergerak, polisi langsung mendorong tubuh Roland kemudian lelaki itu pun diseret untuk masuk ke dalam suatu ruangan, di mana interogasi akan dimulai.
Saat masuk ke dalam interogasi, Roland mengeraskan rahangnya ketika melihat siapa yang sedang duduk. Siapa lagi jika bukan Aghnia. Ya, pemeriksaan akan dilakukan Roland dan Aghnia. Mereka akan ditanya satu persatu dan dites keakuratannya, hingga pada akhirnya Roland kembali melanjutkan langkahnya karena didorong oleh polisi yang ada di belakangnya.
Interogasi demi interogasi dimulai. Akhirnya, Aghnia mengatakan hal sejujur-jujurnya tentang Roland dan juga tentang bisnis yang selama ini mereka tekuni, sedangkan Roland sedari tadi tidak berniat menjawab. Lelaki itu hanya mengangguk dan menggeleng membuat polisi kebingungan.
Roland hanya bisa melakukan ini untuk menyelamatkan dirinya. Dia akan menemui sang ayah agar bisa menyelamatkannya, walaupun dia tidak tahu ayahnya mau membantu atau tidak.
***
Akhirnya setelah berjam-jam berlalu, pemeriksaan pun selesai. Roland dan Aghnia digiring untuk ke sel masing-masing. Setelah berada di sel, Roland berjalan ke sana kemari. Lelaki itu benar-benar bingung dia harus melakukan apa. Dia mengutuk Kaisar Morone yang cuci tangan dan melimpahkan semua padanya dan pada anak buah yang lain.
"Roland." Tiba-tiba terdengar suara Freed memanggil dari arah luar, hingga Roland yang sedang mondar-mandir langsung menghentikan langkahnya kemudian dia melihat ke arah Freed.
Hanya Freed yang bisa dimintai pertolongan sampai saat ini, apalagi dia sudah tahu bahwa keuangan sudah membaik.
"Apakah yang aku dengar barusan benar?" tanya Freed. Dia cukup terkejut dengan apa yang dilakukan oleh adiknya. Selama ini dia tahu bahwa adiknya adalah manusia yang bersih, tidak pernah bersentuhan dari hukum, tapi barusan dia benar-benar mendengarkan hal yang sangat mencengangkan.
"Itu tidak penting, tolong bantu aku keluar dari sini," ucap Roland.
"Jadi, itu benar?" tanya Freed, hampir saja berteriak. Seandainya ada di luar sel mungkin dia sudah menghajar adiknya.
"Aku akan jelaskan nanti. Itu hanya salah paham. Pokoknya bebas dari aku dulu dari sini," ucap Roland.
"Dari wajahmu saja aku sudah tahu bahwa itu adalah benar. Aku tidak menyangka Kau melakukan ini. Sekarang urusi semua. Pertanggungjawabkan apa yang kau lakukan. Aku juga sudah tahu yang sebenarnya," ucap Freed.
Roland mengusap wajah kasar saat mendengar ucapan Freed. "Terserah kau saja," ucap Roland.
__ADS_1
Roland berbalik hingga Freed menggeleng. Lelaki itu langsung keluar dari kantor polisi.
***
Kaisar membuka jendela. Lelaki itu tersenyum ketika menatap hamparan laut di depannya. Saat ini Kaisar sedang bersembunyi di salah satu pulau pribadinya yang tidak akan ditemukan oleh siapa pun, karena hanya dia dan beberapa orang yang tahu tentang pulau ini, bahkan anak buah yang lainnya pun tidak tahu tempat persembunyiannya.
Tak lama, ponsel Kaisar berdering. Satu panggilan masuk dari seseorang hingga Kaisar pun langsung berbalik kemudian mengambil ponselnya yang ada di atas ranjang.
"Ada apa?" tanya Kaisar.
"Baiklah, tidak usah kabari apapun padaku. Aku akan mengaktifkan ponselku," ucap Kaisar lagi. Ternyata, anak buahnya yang juga kepercayaannya mengabari bahwa Roland sudah ditangkap dan diinterogasi.
Kaisar melemparkan ponselnya ke ranjang kemudian lelaki itu langsung kembali ke balkon untuk menikmati pemandangan pagi.
***
Gabriel melihat ke bawah. Dia melihat hamparan laut. Saat ini Gabriel sedang berada di saat jet pribadinya. Dia datang bersama beberapa polisi untuk menjemput Kaisar Morone.
Jangan ditanyakan bagaimana cara Gabriel untuk mendapatkan alamat persembunyian Kaisar Morone, yang pasti perencanaan Gabriel benar-benar memang tidak main-main, bahkan mungkin kepolisian saja kalah dengan Gabriel. Itu sebabnya saat polisi akan mencari Kaisar, Gabriel melarangnya dan hanya butuh waktu satu hari untuk Gabriel menyusul Kaisar.
Jet mendarat di pesisir pantai. Gabriel dan beberapa anak buahnya turun. Juga dua polisi yang ikut. Mereka berjalan ke arah dalam karena kebetulan tidak ada penjaga di sana, jadi Gabriel bisa masuk tanpa harus izin pada siapa pun.
"Kalian siapa?" tanya pelayan yang masuk ke dalam villa.
"Diam atau nyawamu tidak akan selamat," ancam Gabriel. Beberapa polisi yang tadi mengikuti, langsung mengeluarkan pistol untuk menakuti pelayan tersebut hingga pelayan tersebut hanya bisa diam dan setelah itu, Kaisar mengerutkan keningnya saat mendengar ada suara ribut-ribut dari bawah. Tidak mungkin anak buahnya, karena anak buahnya di sini hanya ada dua orang.
Kaisar Morone dilanda kepanikan. Lelaki itu langsung berjalan ke arah nakas untuk mengambil pistol, lalu keluar dari kamar dan tepat ketika dia membuka pintu, langkah Kaisar terhenti ketika melihat siapa yang ada di depannya.
Jantung Kaisar serasa berhenti berdetak saat melihat Gabriel. Dia bingung kenapa Gabriel bisa menemukannya. Ah sial, dia lupa siapa Gabriel.
"Tamat Kaisar, kau tidak akan bisa bebas lagi dari jerat hukum," ucap Gabriel.
Kaisar tersenyum kemudian dia mundur, lalu setelah itu dia menodongkan pistol pada Gabriel. Bukannya takut, Gabriel malah menyeringai dan kali ini Kaisar yang ketakutan saat melihat ekspresi lelaki paruh baya itu.
Tiba-Tiba ... dor!
__ADS_1
Satu tembakan melesat dari arah luar dan seketika, Kaisar berteriak. Ternyata, Kaisar ditembak oleh anak buah Gabriel dari helikopter yang sedang mengudara, Tentu saja Gabriel sudah tahu dengan apa yang akan dilakukan oleh Kaisar, dan dugaannya benar. Hingga dia membawa ahli tembak jarak jauh.