
“Apa aku batalkan saja bertemu dengannya?' batin Bianca saat dia akan berjalan ke arah mobil. Sungguh, dia bingung bagaimana caranya mengatakan pada Roland, bahwa dia meminta pria itu menjauh.
Sebab, jika dia tidak mengatakannya dan menjauhi Roland begitu saja, pria itu pasti akan terus mengejar, jadi hanya ini satu-satunya cara, meminta Roland menjauh.
“Bismillah,” ucap Bianca menguatkan hati, memberanikan diri untuk mengatakan yang sejujurnya pada Roland, hingga dia pun melangkahkan kaki berjalan ke arah mobil.
Saat menyetir, Bianca kembali ragu dengan keputusannya, padahal sebelum pergi meninggalkan rumah sakit, dia sudah sangat yakin dengan niatnya. Dia juga sudah merangkai kata-kata yang pas untuk Roland agar tidak menyakiti hati lelaki itu.
Bianca menghentikan mobilnya ketika lampu merah sedang menyala. Wanita itu menyadarkan tubuh ke belakang, tak lama dia mengingat kenangan-kenangan tentang kebersamaannya dengan Roland dari mulai dari mulai dia bercerai dengan Sello sampai dengan kemarin, di mana dia merasa aneh.
Bianca memejamkan matanya, berusaha untuk meyakinkan hati. Pada akhirnya, Bianca tetap pada keputusannya, yaitu meminta Roland untuk menjauh.
Setelah melewati perjalanan cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Bianca sampai di sebuah kafe tempat di mana Roland sudah menunggunya. Dia turun dari mobil, kemudian berjalan masuk.
Detik demi detik yang berlalu, Bianca jalani dengan kebingungan yang luar biasa, dan sekarang dia sudah masuk ke dalam kafe tersebut. Dia melihat ke sekelilingnya, mencari sosok Roland, dan ternyata pria itu sudah berada di meja.
Roland melambaikan tangan ke arah Bianca agar wanita itu melihat dirinya. Setelah menemukan Roland, Bianca berjalan ke arahnya. Ada rasa sesak dan rasa tak tega ketika melihat Roland yang tampak antusias menyapa.
Bianca terus meyakinkan dirinya bahwa inilah yang terbaik. "Maaf membuatmu menunggu," ucap Bianca.
Roland terkekeh. "Tidak papa, Bianca. Duduklah, aku sudah pesan makanan favoritmu, sebentar lagi datang," kata Roland.
Jari-Jari Bianca saling meremas di bawah ketika mendengar ucapan Roland. Dia teringat masa lalu di mana pria itu selalu memesan makanan untuknya sebelum dia datang.
"Kenapa kau begitu tegang?" tanya Roland karena melihat wajah Bianca yang seolah tegang dan tampak memikirkan sesuatu yang berat.
Bianca tersadar kemudian menggeleng. "Tidak, aku tidak apa-apa," jawab Bianca, dia memutuskan untuk menikmati makan siangnya terlebih dahulu sebelum berbicara pada Roland.
__ADS_1
Tak lama, makanan pun datang hingga Roland dan Bianca langsung menarik piring mereka masing-masing.
"Kau tidak ada rencana untuk pergi ke luar negeri?" tanya Bianca, dia sengaja mengatakan ini, jika Roland mengatakan akan pergi ke luar negeri, dia tidak jadi menyuruh Roland menjauh.
Namun naasnya, Roland menyangka bahwa Bianca tidak ingin ditinggalkan, hingga dengan cepat Roland menggeleng membuat Bianca memejamkan mata, pada akhirnya dia harus mengatakan apa yang dia pikirkan.
"Tidak, memangnya kenapa?" tanya Roland, "kau butuh sesuatu, atau kau ingin berlibur bersama ke luar negeri?" tanyanya lagi.
"Sebentar, ayo kita habiskan makan kita dulu," kata Bianca.
Cepat-Cepat Roland menghabiskan makanannya, karena tidak sabar mendengar apa yang akan Bianca ucapkan.
"Katakan, kenapa kau ingin bertemu denganku? Dari wajahmu, sepertinya kau sedang ingin mengatakan hal yang sangat serius?" tanya Roland, dia menunda waktu untuk memberikan bunga pada Bianca.
Bianca mengambil jus yang ada di depannya, kemudian menyeruputnya lalu mengangguk. Dia melihat ke sana ke mari, berharap tidak akan ada yang mendengarnya.
"Bianca, kau membuatku bergidik," ucap Roland. Dia sempat senang karena mengira Bianca membutuhkannya sama seperti dulu, tapi melihat sikap wanita ini, dia mendadak ragu dengan pikirannya.
"Roland, kau boleh menganggap aku wanita jahat, wanita tidak tahu malu," ucap Bianca, Dia terdiam sejenak. .
Bianca menggigit bibirnya. "Aku minta maaf Roland, tapi bisakah berhenti untuk mendatangiku sementara waktu?" tanya Bianca.
Bianca langsung memejamkan matanya setelah mengatakan itu, karena dia takut melihat ekspresi Roland.
Seketika, tawa Roland meledak saat mendengar ucapan Bianca membuat wanita itu membulatkan mata saat melihat ekspresi Roland. Sayangnya Roland menganggap itu adalah lelucon.
"Lelucon macam apa itu?" tanya Roland. Dia kembali tertawa, bahkan hampir tersedak, dan dengan cepat dia minum jus yang ada di depannya hingga habis.
__ADS_1
"Kau ini kenapa, sih, harus bercanda begitu denganku? Apa kita baru kenal sehari dua hari?" tanya Roland lagi.
Bianca menghela napas. Dia semakin tidak tega mengatakan ini Roland. "Tatap aku, apa ada raut bercanda di wajahku?" tanya Bianca kali ini dia begitu serius.
Tiba-Tiba Roland terdiam saat melihat Bianca yang tampak serius. "Bi, ini tidak lucu. Jangan bicara seperti itu," kata Roland dengan wajah yang pasrah. Dia bisa saja mengatakan seperti itu, tapi dia yakin apa yang diucapkan Bianca memang benar, bahwa wanita di depannya ini tidak bercanda.
"Roland, sebentar lagi aku akan sibuk karena aku harus bekerja dan kuliah dan juga ...." Bianca menggantung ucapannya ketika melihat Roland menatap dengan aneh.
"Lalu, kenapa kau menyuruhku menjauh padahal hubungan kita baik-baik saja? Apa aku membuat salah? Apa aku menyakitimu?" tanya Roland dengan tangan mengepal di bawah meja. Jantungnya bergemuruh. Bisa-bisanya wanita ini tidak ingin ditemui lagi olehnya.
"Tidak Roland, sebenarnya aku sangat berterima kasih padamu karena kau telah mendampingiku di masa-masa sulit, tapi aku hanya ingin fokus bekerja dan kuliah. Aku ingin mendapat gelar spesialis kulit secepatnya," kata Bianca.
"Memangnya aku sering mengganggumu ketika kau bekerja atau kuliah?" tanya Roland tiba-tiba membuat Bianca menunduk lalu menggeleng.
"Lalu, kenapa kau ingin aku menjauh? Katakan saja jika aku mempunyai salah, Bi," kata Roland dengan tegas, tapi dia tetap berusaha menampilkan wajah hangat, walaupun di dalam hatinya bergemuruh mengutuk wanita ini, karena berani sekali mengatakan hal itu padanya.
"Katakan, kenapa kau seperti ini padaku?" tany Roland.
Bianca kembali mengangkat kepalanya. "Roland, bolehkah aku jujur?" tanya Bianca. Pada akhirnya, dia memilih jujur.
Sepertinya, tidak ada gunanya lagi menyembunyikan perasaan, daripada menjadi tanda tanya ke depannya untuk Roland.
"Jujur saja Roland, entah kenapa selama beberapa saat ke belakang, aku merasa aneh denganmu," ucap Bianca.
Roland diam mematung, tiba-tiba dia ketakutan Bianca tau sesuatu tentangnya "Aneh denganku?" tanya Roland. Wajahnya seolah santai dengan tuduhan Bianca.
"Maaf jika aku jujur, mungkin kau bisa menganggapku sebagai perempuan yang tidak tahu diri, aku memang merasa nyaman denganmu terlebih lagi kau yang menemaniku di dalam masa sulit setelah bercerai dari Selo, tapi entah beberapa saat ini perasaanku berbeda padamu, semacam tidak ingin didekati kali ini.” Bianca menunduk tidak berani lagi menatap wajah Roland.
__ADS_1