Tatap Aku, Lelakiku!

Tatap Aku, Lelakiku!
Berbohong


__ADS_3

Selo mengintip memastikan ibu mertuanya sudah lewat atau belum. Rasanya dia ingin pergi dari masjid dan membatalkan niat untuk masuk, sebab dia masih belum siap menerima tatapan sinis dari Maria.


Setelah lima belas menit bersembunyi, akhirnya Selo menegakkan tubuh. Dia yakin Maria sudah tidak ada, sebab dia sudah bersembunyi cukup lama. Lelaki itu melangkahkan kakinya, tapi tak lama dia terdiam saat melihat siapa yang berdiri di depannya.


Rupanya, saat Selo keluar dari tempat persembunyian, Maria berjalan ke arah masjid dan nyaris saja melewatinya. Ternyata, dari tadi Maria mengobrol terlebih dahulu dengan jamaah yang lain.


"Halo Bibi," sapa Selo dengan kikuk, membuat Lyodra yang berada di samping Maria menahan tawa.


Maria berdecak kesal, dia menatap Selo dengan sinis. Tanpa membalas ucapan lelaki itu, dia berlalu begitu saja meninggalkannya membuat Selo menggaruk tengkuk yang tidak gatal.


Selo melihat ke arah Maria yang ternyata sudah masuk ke dalam. Dia pun memutuskan untuk diam sejenak di luar, siapa tahu Bianca sebentar lagi akan tiba.


Benar saja, beberapa saat setelah Maria masuk, mobil Bianca terparkir hingga Selo dengan sumringah menghampiri mantan istrinya.


Bianca terperanjat kaget kala tiba-tiba Selo mengetuk kaca jendelanya. Wanita itu memegang dadanya yang berdegup kencang. Pria itu benar-benar membuatnya terkejut.


"Ya Allah, ada apa dengan lelaki ini?" tanya Bianca. Dia pun langsung membuka kaca jendela.


"Kau ini tidak ada kerjaan sekali. Kau mengagetkan aku tahu!" umpat Bianca, sedangkan Selo hanya tersenyum. Dia sama sekali tidak merasa bersalah.


"Halo Bianca," sapa Selo dengan ramah, membuat Bianca ingin sekali menabok pria di depannya. Dia kini melepaskan seat belt kemudian langsung membukakan pintu.


"Selo apa-apaan kau?" tanya Bianca.


"Memangnya aku kenapa?" tanya Selo yang malah balik bertanya, membuat Bianca benar-benar ingin sekali meninju wajah mantan suaminya.


"Apa setelah ini kau ada acara?" tanya Selo ketika Bianca sudah berjalan dan masuk, sedangkan dia mengekor di belakang tubuh mantan istrinya.

__ADS_1


"Bianca, kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku? Apakah ada acara nanti setelah pulang dari sini? Jika tidak, ayo kita nongkrong," kata Selo.


Bianca yang sudah kesal, langsung menghentakkan kakinya kemudian berbalik. "Selo, bisakah kau diam?" tanya Bianca.


"Tidak bisa, bisa aku tidak bisa diam," jawab Selo.


Bianca menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Tampaknya, menghadapi pria ini harus menggunakan cara yang santai. "Aku tidak akan ke mana-mana, memangnya kau ingin mengajakku ke mana?" tanya Bianca yang tiba-tiba terpikirkan sesuatu.


"Bagaimana jika kita nongkrong di kafe kesukaanmu saja? bukankah kau suka dessert di sana?" tanya Selo. Bianca mengangguk.


Wajah Selo tampak berbinar melihat anggukkan Bianca. "Benarkah kau mau?" tanya Selo sedikit ragu, sebab tadi Bianca bersikap ketus, tapi sekarang dia malah menyetujui ajakannya.


"Ayo. Aku juga tidak akan pergi lagi ke rumah sakit," ucap Bianca, "tapi kita pergi masing-masing."


"Tidak mau, kau ikut mobilku saja. Biar nanti supirku yang mengantarkan mobilmu," ucap Selo yang mulai curiga.


"Kau mau Mommy memarahimu?" tanya Bianca.


Bianca berbalik kemudian menyeringai. 'Tunggu saja sampai kafe itu tutup. Memangnya, siapa juga yang mau nongkrong denganmu,' batin Bianca, karena Selo tidak bisa ingatkan secara kasar, itu sebabnya Bianca menggunakan cara halus.


Akhirnya, mereka masuk ke dalam masjid. Selama beberapa jam, semua jamaah mendengarkan ceramah dengan khidmat, kecuali Selo. Dia memang menyimak, tapi dia lebih banyak melihat ke arah Bianca yang ada di seberangnya.


Bianca yang merasa diperhatikan, langsung menoleh dan ketika itu Selo malah tersenyum seorang diri, layaknya orang yang kasmaran, hingga Bianca menukar posisi dengan Maria.


Lalu ketika Selo menoleh lagi ke arah Bianca, dia membulatkan mata saat yang ada di sana adalah Maria yang juga sedang melihat ke arahnya. Pada akhirnya, Selo langsung tertunduk. Dia begitu malu kepada mantan ibu mertuanya.


***

__ADS_1


Setelah acara selesai, satu persatu jamaah mulai meninggalkan masjid. Ada yang berbincang dan ada yang pulang.


Sementara Selo, dia lebih memilih pulang karena dia ada janji dengan Bianca. Dia kini mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedikit kencang. Rasanya, Selo tidak sabar untuk segera di kafe tempat favorit Bianca.


Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai Selo sampai di kafe tujuan. Lelaki itu langsung menoleh ke belakang, kemudian meraih pakaian yang tergantung lalu mengganti celana dan memakai jaket.


Selo menegakkan cermin, kemudian merapikan tampilannya. Setelah yakin rapi, dia langsung turun. Lelaki itu memutuskan untuk menunggu Bianca di dalam.


Saat masuk, Selo langsung mencari meja yang sedikit jauh dari meja lain agar dia bisa santai dengan Bianca. Setelah menemukannya, dia langsung berjalan ke arah meja tersebut.


***


Bianca tertawa dengan keras saat menyetir membayangkan Selo yang menunggunya. Ya, dia sengaja membohongi lelaki itu agar dia kapok dan berharap setelah ini, mantan suaminya tidak berani lagi mengganggu.


Mungkin Bianca terkesan jahat, tapi ini yang paling ampuh untuk membuat Selo tidak lagi mendatanginya, sebab dia sudah memakai cara halus sekalipun, pria itu keras kepala.


Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya Bianca sampai di rumah. Orang tuanya masih ada di masjid, karena tadi dia memutuskan untuk pulang terlebih dahulu guna meyakinkan Selo.


Bianca masuk ke dalam kamar. Wanita itu langsung menyimpan tas kemudian mendudukkan diri di sofa lalu mengotak-atik ponsel, dan tidak ada pesan dan telepon dari Roland, Pertanda Roland mengikuti keinginannya, tapi entah kenapa firasat Bianca menjadi tidak baik.


Tak lama, Bianca menggeleng. Saat dia akan mengganti pakaian, tiba-tiba ponsel berdering karena panggilan masuk dari Selo, membuatnya Bianca tertawa.


Bianca langsung mengangkat panggilannya.


"Bianca, kau di mana?" tanya Selo di sebrang sana


"Aku masih di jalan, Selo. Kebetulan aku terjebak macet," jawab Bianca. Tentu saja dia berbohong.

__ADS_1


"Tapi kenapa tidak ada suara mobil?" tanya Selo.


"Iya, aku sedang menepikan mobil untuk mengangkat panggilan. Ya sudah tunggu sebentar, aku akan segera sampai," kata Bianca. Setelah mengatakan itu, dia pun langsung menutup panggilan.


__ADS_2