
Bianca mematut diri di cerminan. Rasanya, wanita itu begitu malas menghadapi Selo. Sungguh, ternyata menyiapkan pernikahan membuat dia membuka luka lama yang dialami oleh Bianca, di mana dulu dia begitu sibuk menyiapkan semuanya sendiri. Namun, Selo sama sekali tidak peduli, dan sekarang dia akan mengulangi semuanya dengan orang yang sama. Entah bagaimana nasib pernikahannya, sama seperti dulu atau justru berbeda.
Ponsel di tas Bianca berdering. Satu panggilan masuk dari sang ibu, hingga Bianca langsung berbalik kemudian dia menyimpan ponselnya tanpa menggubris panggilan ibunya.
Tak lama, Bianca menggeleng saat melihat Selo dan ibunya berbicara dengan akrab, bahkan terdengar suara gelak tawa. Padahal kemarin, ibunya yang melarang mati-matian dia untuk kembali pada Selo.
"Ekhem." Bianca berdeham menyadarkan Maria dan Selo, hingga Selo langsung bangkit dari duduknya.
"Kau sudah siap?" tanya Selo.
Bianca hanya berdeham membuat Maria menggeleng.
"Bianca, Selo sedang bertanya padamu," ucap Maria.
"Iya, aku sudah siap," jawab Bianca lagi dengan kesal, membuat Selo menahan tawa.
"Ya sudah Bibi, kalau begitu kami pergi," ucap Selo, langsung mengulurkan tangannya pada calon ibu mertuanya, kemudian mereka pun langsung keluar dari rumah.
"Bi," panggil Selo ketika mereka sudah berada di dalam mobil.
Selo mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Sesekali dia menoleh ke arah Bianca. Sebenarnya, dari tadi dia ingin bertanya, tapi dia melihat mood Bianca yang sepertinya memburuk, hingga dia mengurungkan niatnya untuk bertanya, tapi barusan dia sudah tidak bisa menahan dirinya lagi.
"Kau ingin memilih yang mana dulu, fitting gaun pengantin ataupun membeli cincin?" tanya Selo, terdengar nada malu-malu dari suaranya. Tentu saja karena dia pun mengingat masa lalu.
"Terserah saja," jawab Bianca yang seperti tidak ada semangat dalam dirinya, karena memang dia sama sekali tidak bersemangat.
Kala mendengar ucapan Bianca yang begitu lesu, Selo mengangguk-nganggukkan kepalanya. Dia sama sekali tidak berniat protes untuk sikap Bianca.
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Selo sampai di sebuah brand yang menjual perhiasan, yang biasa didatangi oleh kalangan papan atas.
"Bianca," panggil Selo saat Bianca melamun. Bianca menoleh.
"Ayo turun," jawab Selo.
__ADS_1
Bianca tidak berbicara lagi. Wanita cantik itu langsung turun dari mobil, kemudian berjalan masuk. Lalu setelah itu diikuti Selo di belakangnya. Saat berada di depan pintu, Selo sudah disambut oleh pelayan tersebut.
"Oh, Nona Bianca," ucap pelayan toko tersebut saat melihat Bianca.
Bianca tersenyum. Dia mengingat betul bahwa pelayan yang menyambutnya saat ini, adalah pelayan yang dulu melayaninya saat dia mencari cincin pernikahan bersama Selo.
"Halo," kata Bianca.
"Kalian saling mengenal?" tanya Selo.
"Ya, kami saling mengenal," jawab Bianca. Tidak ingin memperpanjang pembicaraan, Bianca langsung masuk diikuti Selo di belakangnya.
"Ada yang cocok, Bi?" tanya Selo ketika Bianca sudah satu jam berlalu mencari cincin. Sebenarnya Bianca tidak mencari cincin untuknya, wanita itu hanya berpura-pura mencari agar Selo tidak terus bertanya. Entah kenapa, dia sama sekali tidak tergerak untuk memilih satu pun cincin yang ada di sana.
"Aku tidak menemukan yang cocok," ucap Bianca.
Selo menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Padahal, banyak sekali cincin yang bermacam-macam di sini, tapi sepersekian detik Selo menyadari sesuatu bahwa Bianca bukan tidak ada yang cocok, melainkan wanita itu enggan memilih.
"Kau pilihkan saja. Aku menunggu di sana," ucap Bianca hingga Selo mengangguk.
"Maafkan aku," lirihnya. Dia pun langsung bergegas mencari cincin untuknya juga untuk Bianca.
Acara membeli cincin selesai. Sedari tadi membayar di kasir, Bianca tidak mau memegang cincin tersebut dan malah Selo yang membawa paper bag itu, hingga kini sekarang mereka sudah berada di mobil dan menuju tempat kedua, yaitu sebuah butik.
"Selamat pagi," ucap pelayan butik yang membukakan pintu untuk Selo dan Bianca, hingga Bianca dan Selo mengangguk.
"Ayo Bi, kita pilih lagi-lagi," ucap Selo. Bianca terdiam saat melihat gaun pengantin di depannya. Tidak ada rasa semangat di dalam diri wanita itu. Sama seperti tadi di mana dia tidak semangat memilih cincin, begitu pun sekarang. Dia tidak semangat untuk memilih gaun pengantin yang akan dia kenakan, dan lagi-lagi Selo mengerti. Selo merangkul pinggang Bianca, kemudian membawa wanita itu ke ruangan VIP dan meminta pelayan untuk mengantarkan koleksi terbaik yang ada di butik tersebut.
Satu demi satu gaun ditunjukkan pada Bianca dan Selo. Bianca terlihat meneliti gaun tersebut, padahal sebenarnya tidak. Dia sama sekali tidak memperhatikan apa yang dijelaskan oleh pelayan tersebut.
"Bagaimana, apa ada yang kau pilih?" tanya Selo, menyadarkan Bianca dari lamunannya.
"Yang pertama saja," jawab Bianca hingga Selo mengangguk, dan setelah itu gaun yang dipesan Bianca pun segera diproses, begitu pun yang akan dikenakan oleh Selo.
__ADS_1
Akhirnya, acara pemilihan gaun dan juga membeli cincin selesai. Saat ini mereka sudah kembali berada di mobil.
"Bi, kau ingin pergi ke suatu tempat?" tanya Selo ketika mobil sudah melaju.
Bianca yang sedang tidak bersemangat, menggeleng. "Tidak, ayo kita pulang saja. Aku tidak enak badan," kata Bianca hingga Selo mengangguk. Sepertinya dia tidak bisa memaksa Bianca lagi, hingga pada akhirnya Selo menjalankan mobilnya untuk pergi ke rumah calon mertuanya.
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Selo sampai di kediaman Lyodra dan Maria.
"Bianca," panggil Selo ketika Bianca akan turun.
"Oh, kau simpan saja itu. Nanti berikan ketika waktunya sudah tepat," kata Bianca lagi yang tahu bahwa Selo ingin memberikan gaun pengantin dan juga cincin. Bianca menolak mentah-mentah. Entahlah, dia merasa bimbang dengan hatinya sendiri, sehingga Selo mengangguk.
"Ya sudah kalau begitu. Salamkan pada Bibi," kata Selo hingga Bianca mengangguk, lalu setelah itu wanita itu pun turun dari mobil kemudian berjalan ke arah dalam.
Saat Bianca sudah turun, Selo hanya mampu menatap punggung Bianca tanpa berkedip. Lelaki itu menyimpan kepalanya, dan tatapannya pun terus menatap pada mantan istri, atau sebentar lagi menjadi calon istrinya.
"Ternyata semenyakitkan ini ya, Bi, menjadi dirimu dulu," kata Selo. Sekarang, semuanya hampir terbalik. Di mana dulu dia yang malas mengatur pernikahan dan Bianca yang berjuang seorang diri, dan sekarang dia yang ada di posisi Bianca saat itu.
***
Beberapa hari kemudian.
"Alice, kenapa kau ingin menemui Bibi Maira?" tanya Adrian saat Alice merengek ingin menemui Maira.
Sepertinya, Alice melihat Instagram Maira, di mana Maira memposting dirinya sedang berada di sebuah rumah sakit, hingga Alice pun mengomentari foto tersebut dan ternyata Maira membalasnya dan mengatakan sedang di rumah sakit.
Maira membalas pesan Alice murni karena Alice, bukan karena ingin mencari perhatian Adrian. Ketika mendengar Maira di rumah sakit, Alice langsung merengek pada sang ayah, ingin menemui Maira. Tentu saja Adrian yang keberatan. Mati-matian dia menjauhi Maira, tapi putrinya malah ingin bertemu dengan wanita itu.
"Alice, Daddy sedang sibuk. Kita bertemu Maira nanti, oke?" Adrian masih berusaha untuk membujuk putrinya, tapi dengan cepat Alice berdiri.
"Daddy tidak bisa menemaniku? Aku, 'kan, bisa pergi dengan supir," kata Alice lagi hingga Adrian menghela napas, kemudian mengiyakan keinginan sang putri hingga kini Alice bersorak girang.
Melihat Alice bersorak, Adrian pun ikut mengembangkan senyumnya. Semenjak dia tidak dekat dengan Bianca lagi, Alice menjadi pendiam dan sekarang ketika dia dekat Maira, Alice selalu tampak berseri-seri dan entah, Adrian harus kesal ataupun harus berterima kasih pada Maira telah membuat Alice seperti ini.
__ADS_1
"Ya sudah kalau begitu, Daddy pergi. Nanti Daddy akan menjemputmu," kata Adrian karena memang hari ini dia akan praktek, hingga Alice mengangguk.
"Aku akan minta Bibi untuk membuatkan cake untuk Bibi Maira," ucap Alice dengan semangat. Gadis hampir menginjak remaja itu, langsung berbalik kemudian berjalan dengan riang ke arah dapur, meminta pelayan untuk membuatkan kue untuk Maira hingga Adrian menggeleng.