Tatap Aku, Lelakiku!

Tatap Aku, Lelakiku!
Bergidik Malas


__ADS_3

"Aku yang seharusnya bertanya pada Daddy, kenapa Daddy ada di sini? Urusan pekerjaan? Tidak mungkin. Daddy Sudah pensiun dari kantor, lalu urusan apa yang Daddy kerjakan?" Selo malah memberondong Gabriel dengan pertanyaan.


"Kau ini benar-benar ya," kata Gabriel lagi yang menghentikan langkahnya, lalu melihat ke arah Selo.


Ketika Gabriel menoleh, Selo mengerti dengan apa yang diucapkan sang ayah. "Apa Daddy sedang menanganinya?" tanya Sello yang membahas tentang Roland dan Aghnia.


"Memangnya, apa lagi?" tanya Gabriel, dia berbalik kemudian melanjutkan langkahnya disusul oleh Selo.


Tepat ketika Selo berbelok, tanpa sengaja megang dinding, dia terperanjat kaget saat dinding itu berubah menjadi kaca, dan sedetik kemudian kaca itu berubah jadi monitor.


"Apa ini?" tanya Selo, dia menatap kaca yang ada di depannya dengan sorot kagum.


"Apa ini, Daddy?" tanya Selo lagi, dan tiba-tiba suara kaca itu mengikuti suaranya membuat mata Sello semakin membulat.


"Wah, ini hebat sekali," kata Selo dan lagi-lagi kaca itu menirukan ucapannya, hingga Gabriel menggeleng dengan tingkah anaknya.


Gabriel mengetuk tembok dua kali, hingga kaca itu berubah menjadi tembok. Lalu setelah itu, dia melanjutkan langkahnya.


"Wariskan rumah ini untukku. Aku ingin rumah ini," kata Selo yang menyusul sang ayah.


"Kau tidak tidak akan sanggup. Banyak sekali rahasia di sini, bahkan di sini juga tersimpan sesuatu yang kau tidak duga sebelumnya," ucap Gabriel.


"Memangnya apa yang aku tidak tau," cebik Sello. Hingga tunggu apa Aghnia ada di sini?" tanya Selo ketika mereka sudah berada di area dalam.


"Dia ada di ruangan atas," ucap Gabriel, "Fabio, antarkan Selo ke sana," titah pria itu pada anak buahnya. Dia terlalu malas meladeni ocehan Selo, hingga dia menyuruh anak buahnya untuk mengantarkan Selo ke ruangan Aghnia.


Lalu sekarang, di sinilah Selo berada, di depan sebuah ruangan di mana ada Aghnia di dalamnya. Mungkin saja sekarang dia sedang diobati oleh dokter.

__ADS_1


"Silakan, Tuan," ucap Fabio, dia langsung membuka pintu hingga Selo melewati tubuhnya, dan masuk ke dalam ruangan.


Benar saja, Aghnia memang sedang terbaring di brankar, dan sedang diobati oleh dokter. Selo meringis saat melihat wanita itu. Dia seperti tidak mengenali mantan istrinya.


Tubuh Aghnia sangat kurus. Beberapa bagian tubuhnya menghitam termasuk wajah. Dia menatap wanita itu dengan sorot jijik. 'Kenapa juga dulu aku terperangkap dengan wanita seperti ini,' batin Selo saat melihat istrinya yang tampak mengenaskan.


Selo pergi membuat semua yang ada di sana langsung menoleh, karena terdengar decakan dari laki itu. "Silahkan lanjutkan," ucap Selo. Dia tidak ingin melihat lebih lama, hingga dia memutuskan untuk keluar.


"Selo," panggil Aghnia secara tiba-tiba membuat Selo menghentikan langkah, kemudian menoleh pada Aghnia yang mangg.


Sebenarnya, Aghnia sadar. Dia juga tahu dia sedang diobati, hanya saja dia tidak bisa menggerakkan mulut. Dia masih trauma dengan apa yang di lakukan oleh Roland kemarin.


Lalu ketika Selo berbalik, dia berusaha untuk memanggil mantan suaminya. Dia akan memohon pada Selo untuk membebaskannya, dan dia akan melakukan apapun untuk pria itu agar dia bisa terbebas dari Gabriel maupun Roland.


Selo menoleh kemudian dia membatalkan niat untuk keluar. Lelaki itu menghampiri brankar lalu bersidekap dan menatap Aghnia yang juga sedang menatapnya dengan sorot sayu, lalu mengubah pandangan tampak jijik membuat wanita itu menggigit bibir.


"Selo," panggil Aghnia lagi.


"Kau pantas mendapatkan ini, Aghnia," jawab Selo, "kau beruntung masih ditangani oleh Daddy. Jika aku yang menanganimu mungkin akan lain lagi ceritanya."


Aghnia pikir dia bisa meminta Selo untuk membebaskannya, tapi mendengar kata-kata lelaki itu dia merasa mustahil untuk bebas, hingga dia hanya bisa memejamkan mata. "Kau persiapkan dirimu, karena aku yakin Daddy menyembuhkanmu bukan untuk menolongmu, melainkan untuk kembali membuatmu merasakan sakit," kata Selo, setelah itu dia keluar dari ruangan.


Ketika itu, Selo kembali bergidik saat membayangkan kondisi Aghnia saat ini. "Benar-Benar idiot," kata Selo. Dia tidak percaya dirinya memilih wanita yang seperti Aghnia.


***


Waktu yang ditunggu-tunggu Selo pun akhirnya tiba. Hari ini, adalah hari Jumat di mana setiap Jumat sore akan ada perkumpulan umat muslim di Rusia, di mana mereka selalu bersilaturahmi, sekadar mengaji dan mendengarkan dakwah.

__ADS_1


Lalu hari ini, Selo berpenampilan rapi karena dia yakin dia akan melihat Bianca.


Selo keluar dari kamar. Lelaki itu langsung berjalan ke arah luar, di mana di sana sedang ada Maira yang membaca majalah. "Maira, mana Mommy?" tanya Selo.


"Mungkin di belakang," jawab Maira, "Kau mau ke mana?"


"Ini, 'kan, hari Jumat waktunya aku mendengarkan ceramah," jawab Selo membuat Maira berdecak.


"Kau mendengarkan ceramah atau melihat Bianca?" tanya Mahira.


"Itulah gunanya jadi orang pintar, kita bisa menyelam sambil minum air," ucap Selo.


"Jadi kau menganggap dirimu orang pintar?" tanya Maira.


"Maira, kakakmu ini orang pintar," ucap Selo.


"Jika kau pintar kau tidak akan kehilangan Bianca," ucap Maira.


Uhuk!


Selo tiba-tiba tersedak saat mendengar ucapan Maira. "Tutup mulutmu, Maira," kata Selo.


Tak ingin berdebat dengan sang adik, akhirnya Selo pun langsung keluar dari mansion. Dia berjalan ke arah mobil dengan senyum yang sumringah. Bayang-Bayang dia akan melihat Bianca kembali mengelilingi otak lelaki itu.


***


Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Selo sampai di masjid. Lelaki itu bercermin memastikan tampilannya sudah rapi, hingga dia pun turun dari mobil.

__ADS_1


Saat akan masuk ke dalam area masjid, Selo melihat ke sana kemari, mencari mobil Bianca. Namun, dia tidak ada di manapun. "Sebenarnya ke mana dia? Apa dia tidak datang?" tanya Selo.


Tak lama, sebuah mobil berhenti dan turunlah mantan mertuanya membuat dia membulatkan mata. Secepat kilat, Selo bersembunyi di balik mobil lain. Bisa bahaya jika dia bertemu dengan mantan ibu mertuanya.


__ADS_2