Tatap Aku, Lelakiku!

Tatap Aku, Lelakiku!
Ketakutan


__ADS_3

"Selo!" panggil Bianca, dia langsung memanggilnya ketika yakin bahwa yang memakai baju koko itu adalah Selo.


Awalnya Bianca ragu karena dia hanya melihat sosoknya dari belakang, tapi ketika Selo sedikit menoleh ke samping, dia pun yakin bahwa dia itu adalah mantan suaminya.


Semetara Selo yang merasa dipanggil, langsung menoleh. Dia mengembangkan senyum saat melihat Bianca lalu langsung berjalan menghampirinya


"Halo Bianca."


Bianca menatap Selo dari bawah ke atas tanpa berkedip. Dia benar-benar tidak percaya bahwa yang dilihatnya adalah Selo yang mengenakan busana muslim dan juga berada di masjid.


"Ah, kau heran ya, aku ada di sini?" tebak Selo.


Bianca mengangguk. "Ceritanya panjang, tapi garis besarnya aku memutuskan untuk menjadi mualaf karena aku tidak ingin mempermainkan agama."


"Karena apa?"


"Karena aku yakin dengan jalanku," kata Selo. Lagi-Lagi, Bianca mengembangkan senyumnya membuat jantung Sello berdetak dua kali lebih kencang. Sial! Dia benar-benar terpikat pada Bianca.


"Ya, sudah kalau begitu. Aku pulang duluan," kata Bianca. Selo mengangguk kemudian melambaikan tangannya pada Bianca yang kini berbalik pergi.


'Bianca, entah Tuhan merestui kita atau tidak, tapi aku akan tetap mencoba untuk mendekatimu secara perlahan. Aku akan ikhlas jika kau bukan menjadi milikku lagi,' batin Selo seraya menatap punggung Bianca yang terus berjalan.


***


Maria menatap heran pada Ferhad. Kenapa juga dia mengatakan seperti itu?


"Apa maksudmu?" tanya Maria.


"Maksudku itu ...."


"Apa?" tanya Maria.


"Pokoknya, kau harus siapkan dirimu," kata Ferhad lagi.


"Persiapan untuk apa?"


"Kau tahu? Tadi melihat menantumu di masjid."


"Apa?!" Maria menatap bingung pada Ferhad. "Mantan menantuku? Maksudmu Selo?"


"Aku rasa, kau harus menyiapkan hatimu untuk lupakan kesalahannya, arena aku yakin dia pasti akan kembali pada Bianca."

__ADS_1


"Mulutmu! Siapa juga yang akan mengizinkan dia kembali pada putriku, memangnya aku mertuamu yang dengan mudah memaafkanmu?" Maria berucap dengan kesal karena sang kakak mengatakan seperti itu.


"Kau tahu, bukan, tobatku saja membuatku kembali pada Stevia, lalu bagaimana jika dia pun kembali pada Bianca?"


"Ah sudahlah, kau membuatku gila," kata Maria yang enggan untuk meneladani kakaknya.


"Ada apa?" Tiba-Tiba suara Lyodra datang dari arah belakang.


"Kau tahu? Mantan menantumu sekarang menjadi lelaki yang patuh, dia bahkan mengikuti agama kita," kata Ferhad lagi.


"Aku tahu."


Kali ini, Ferhad yang tampak terkejut dengan perkataan adik iparnya.


"Tadi aku melihatnya di masjid," kata Lyodra. Dia pun berlaku pergi meninggalkan Kaka iparnya.


***


"Argh!" Roland berteriak, pria itu begitu depresi memikirkan Agnia yang pergi tanpa kabar.


Padahal, Roland sudah membayar mahal Agnia agar bersama Sello agar Sello tidak kembali pada keluarganya, apalagi pada Bianca. Namun sekarang, lihatlah wanita itu malah pergi sebelum menyelesaikan tugasnya.


Tiga bulan sudah berlalu sejak Agnia pergi, dan selama itu pula Roland dihantui ketakutan jika orang tua Selo mengetahui semuanya.


Freed membuka pintu ruangan, dia menatap terkejut pada ruangan Roland yang tampak berantakan. Dia juga melihat wajah pria itu yang memerah membuat Freed langsung berjalan mendekatinya.


"Kau kenapa?" tanya Freed, Roland menoleh. Dia memejamkan matanya berusaha tenang.


"Tidak, aku hanya sedang lelah. Proyekku pun gagal," kata Roland berbohong, dia tidak mungkin mengatakan yang sejujurnya.


"Aku pergi." Pada akhirnya, Roland pun bangkit kemudian berbalik pergi meninggalkan Freed di ruangannya yang kini menggeleng.


***


Roland masuk ke dalam mobil, dia langsung mengutak-atik ponsel lalu menelepon seseorang yang sayangnya tidak diangkat.


"Argh!" Rolan lagi-lagi berteriak.


Selama sebulan ini, entah kenapa dia merasa Bianca menjauhinya. Jangankan untuk diajak bertemu, sekadar mengangkat teleponnya pun sangat jarang.


Padahal sebenarnya, Bianca tidak menjauh. Dia hanya sibuk dengan aktifitasnya. Ditambah lagi saat ini dia melanjutkan pendidikan untuk mengambil gelar spesialis, hingga dia tidak sempat untuk menerima telepon ataupun bertemu dengan Roland.

__ADS_1


Namun sayangnya, karena Roland melihatnya merasa Bianca menjauh, dan dia juga merasa takut hingga mau tak mau dia bergerak lebih cepat sebelum semuanya terbongkar.


Pada akhirnya, Roland menjalankan mobil menuju rumah Bianca dan berniat untuk menemui wanita itu di sana.


***


Selo keluar dari mobil, lelaki itu langsung masuk ke dalam rumah dan pergi ke ruang kerja ayahnya, untuk berbicara mengenai perkembangan kasus Agnia.


Apalagi, sudah tiga bulan lamanya Gabriel mencari wanita itu tapi belum ditemukan sampai sekarang. Entah di mana dia bersembunyi, yang pasti Agnia sudah menduga bahwa dia akan dicari oleh mantan ayah mertuanya, karena mengerti bahwa pria itu bukan orang sembarangan.


Tanpa sepengetahuan siapapun, Agnia sendiri sudah bersembunyi di tempat yang aman.


"Dad," panggil Selo.


Setelah mendapat sahutan dari dalam, akhirnya Selo masuk ke dalam ruangan sang ayah.


"Kau baru pulang?" tanya Gabriel karena melihat sang anak masih memakai baju koko dan sarung.


Selo kini membuka kopiahnya kemudian mendudukkan diri di sofa, begitu pula dengan Gabriel yang berpindah tempat dari kursi kerja menuju sofa yang berhadapan dengan putranya.


"Kau bertemu Bianca di sana?" tanya Gabriel ketika melihat wajah sang anak yang berseri-seri.


"Iya, aku bertemu dengannya, dia juga bahkan menyapaku tadi," kata Selo dengan wajah yang terlihat bahagia ketika membahas Bianca, membuat Gabriel merasa bersyukur. Setidaknya, pria itu sudah pulih dan kembali seperti sedia kala.


"Apa kau sudah siap memimpin perusahaan? Daddy ingin mulai beristirahat."


"Apa Daddy percaya padaku?"


"Daddy percaya padamu," kata Gabriel.


"Oh iya, apa kau tahu di mana mantan istrimu bersembunyi? Apa kau tahu tempat yang biasa dia datangi?" tanya Gabriel.


"Aku lupa, dan akan aku ingat-ingat lagi nanti," kata Selo, "ya sudah kalau begitu, aku pamit.”


"Selo tetaplah di rumah, sebentar lagi gurumu datang," ucap Gabriel karena memang dia memanggil guru yang bisa menuntun Selo.


***


Mobil yang dikendarai Roland kini masuk ke pekarangan rumah Bianca dan Maria, dan ternyata mobilnya masuk kedalam, beriringan dengan Bianca yang baru saja datang dan Bianca memarkirkan mobilnya di samping Roland.


Bianca mengerutkan keningnya saat melihat sebuah mobil yang terasa tidak asing, dan ternyata merupakan milik Roland.

__ADS_1


Saat menyadari itu, anehnya Bianca mendadak enggan bertemu Roland, padahal sebelumnya dia selalu menyambut kedatangan pria itu dengan hangat dan penuh semangat.


__ADS_2