Tatap Aku, Lelakiku!

Tatap Aku, Lelakiku!
Mendatangi Celine lagi


__ADS_3

Sello menjalankan mobilnya dengan kecepatan pelan, walaupun tadi ia sudah merobek kertas formulir gugatan perceraian milik Bianca. Tapi hati Sello tidak tenang, ia merasakan rasa cemas tanpa sebab. Padahal, seharusnya ia sudah tenang karena sudah merobek kertas itu. Tapi entahlah, hatinya tetap merasa tak tenang.


Sejenak, Sello meminggirkan mobilnya, kemudian ia memarkirkannya di sisi. Lalu setelah itu, ia menyandarkan tubuhnya ke belakang, mencoba untuk menenangkan hatinya.


Sungguh, ia takut jika Bianca menggugatnya, karena sudah dipastikan. Jika semuanya terbongkar, ia tidak akan bisa menikmati semua ini.


Saat Sello akan kembali memajukan mobilnya, ponsel Sello berdering. Satu panggilan masuk kedalam ponselnya, membuat Sello tersenyum, ternyata Agnia yang meneleponnya


“Hallo, Baby. Maaf aku belum sempat meneleponmu. Aku sedang sibuk kemarin,” ucap Sello saat mengangkat panggilannya


Agnia terkekeh dari seberang sana, membuat hati Sello terasa damai. Rasanya, menyenangkan ketika mendengar tawa Agnia. “Sepertinya kau senang sekali tidak ada aku di sana?” tanya Sello.


“Mana mungkin aku senang. Aku sangat merindukanmu Sello. Bisakah kau pulang saja sebentar?” tanyanya.


Sello melihat jam di pergelangan tangannya. Rasa cemas karena soal Bianca seketika menghilang, saat mendengar suara Agnia yang begitu mendayu-dayu.

__ADS_1


“Oke, aku akan pulang sekarang. Tunggu aku!” Sello mematikan kembali ponselnya, kemudian ia menyimpan ponselnya di dashboard. Lalu setelah itu, ia menyalakan mobilnya dan menjalankannya.


Dia pikir, tidak ada salahnya untuk mengunjungi Agnia di luar kota. Toh, Ia juga sudah tidak bertemu dengan Agnia selama beberapa waktu ke belakang.


•••


Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, akhirnya mobil yang dikendarai Sello sampai di basemen apartemen. Ia pun langsung turun, kemudian berjalan dengan semangat untuk ke unit apartemen Agnia.


Sello. membuka pintu, kemudian mengedarkan pandangannya. Lalu setelah itu muncul sosok Agnia, membuat Sello mengembangkan senyumnya.


“Aku merindukanmu Sello!” kata Agnia dengan suara yang lemah lembut, membuat Sello terbuai.


Sello melepaskan pelukannya, kemudian mencium kening Agnia bertubi-tubi. “Aku juga merindukanmu. Ayo masuk! Aku sudah memaksakan makanan kesukaanmu,” ucap Sello.


“Kau tahu saja aku belum makan!” balas Sello, Agnia mereka pun masuk ke dalam.

__ADS_1


•••


Bianca menyandarkan tubuhnya ke belakang, kemudian ia mengambil sebuah kertas dari lacinya. Ia mengelus kertas itu, kemudian menciumnya. Tak terasa, bulir bening langsung terjatuh dari pelupuk mata Bianca, saat melihat kertas yang ada di tangannya


Bianca memegang dadanya yang terasa sesak saat memggenggam kertas di tangannya, ia terus menghela nafas kemudian menghembuskannya. Tak lama rasa sesak yang Bianca rasakan semakin menjadi-jadi.


Padahal, tadi pagi ia baik-baik saja. Tapi ketika ia datang ke rumah sakit, rasanya berbeda. Mungkin tanpa sadar, Bianca sedang berperang dengan batinnya sendiri. Karena sekarang, Sello bersenang-senang dengan Aghnia, hingga Bianca merasakan rasa sakit yang luar biasa.


Saat berperang dengan batinnya sendiri. Tiba-tiba, Bianca kesulitan untuk bernafas. Ia mengambil obat dari laci, kemudian meminumnya.


Sepuluh menit kemudian, Nafas Bianca sudah teratur. Ia mengambil ponselnya, kemudian ia menelpon Celine. “Celine, tolong siapkan dosis untukku. Aku akan pergi ke sana sekarang juga!” kata Bianca setelah Celine mengangkat panggilannya.


“Tidak Bianca, kau sudah tidak boleh mengkonsumsi obat itu lagi,” jawab Celine di seberang sana


“Celina aku mohon,” ucap Bianca dengan nada memohon, hingga pada akhirnya Celine membiarkan Bianca datang.

__ADS_1


Scroll gengs


__ADS_2