Tatap Aku, Lelakiku!

Tatap Aku, Lelakiku!
Menikah


__ADS_3

"Shelby, kau yakin ingin mengambil keputusan ini?" tanya Anwar, dia menatap putrinya dengan tatapan tanya. Walau bagaimanapun, dia sangat anti dengan orang kaya karena dia takut Shelby diinjak-injak oleh Darren dan keluarganya. Namun, ketika melihat kebijaksanaan Tommy dan Mayra, Anwar sedikit bisa tenang tapi dia tidak akan tenang jika Shelby bersama dengan Darren.


Shelby terkekeh, dia melepaskan tasnya kemudian menatap ke arah sang ayah, lalu setelah itu dia maju kemudian memeluk ayahnya.


"Maafkan aku karena telah membuatmu kebingungan, tapi aku berjanji aku akan baik-baik saja," kata Shelby. Tadi, dia berusaha berpikir rasional. Dia sempat yakin ingin pindah ke luar kota karena di sini menyisipkan banyak luka untuknya, tapi jika dipikir, dia tidak akan tega melihat sang ayah yang terus mencari pekerjaan ke sana kemari, hingga dia mengubah keputusan di detik-detik terakhir.


Shelby tidak matre, dia sengaja mengambil dompet Darren agar Darren tidak semena-mena padanya. Uang yang membuat Darren semena-mena padanya, dan sekarang Darren tidak ada apa-apanya, karena semua keuangan Darren sudah ada di tangannya.


Anwar melepaskan pelukannya, kemudian dia memegang kedua bahu putrinya. "Jika setelah menikah kau merasa tidak sanggup dan merasa berat karena tekanan Darren, pulanglah ke ayah. Ayah akan selalu ada untukmu," kata Anwar hingga Shelby pun mengangguk.


"Ya sudah, Yah, aku ingin istirahat," ucap Shelby. Wanita cantik itu pun berbalik, kemudian dia mengambil tasnya lalu setelah itu berjalan ke kamar dan membaringkan tubuhnya di ranjang.


Saat berbaring, Shelby menatap ke depan dengan tatapan kosong. Dada wanita itu seperti tersayat ketika mengingat semuanya, mengingat detik-detik hal itu terjadi, di mana saat itu Darren mencekokinya dengan obat, hingga terjadilah hal seperti ini. Tiba-Tiba, bulir bening langsung terjatuh dari pelupuk mata Shelby. Wanita cantik itu mengelus perutnya.


"Mommy akan berusaha kuat untuk kalian," ucap Shelby, karena memang Shelby mengandung anak kembar, tapi Darren tidak mengetahuinya. Hal yang Darren tahu dia hanya mengandung.


**"


"Dasar sialan!" teriak Darren ketika Shelby tidak mengangkat panggilannya. Dia mendapatkan nomor Shelby dari temannya dan setelah mendapatkan nomor calon istrinya, dia langsung menelepon. Namun, tentu saja Shelby tidak mengangkatnya.


Darren membanting tubuhnya di ranjang, lelaki itu kemudian meringis karena hajaran Tommy masih benar-benar terasa. Beberapa kali dia mencoba membujuk ibunya agar ibunya membujuk sang ayah untuk mengembalikan fasilitasnya, tapi Mayra angkat tangan. Maura bahkan tidak mau menatap ke arah putranya karena benar-benar kecewa.


Tiba-Tiba, pintu terbuka. Muncul sosok Alice masuk ke dalam kamar sang adik.


"Aku tidak ingin berbicara apapun," kata Darren ketika Alice terlihat akan bertanya. Wanita itu langsung menoyor kepala Darren.


"Darren, apa kau bodoh? Kenapa kau bisa melakukan hal sekeji itu?" tanya Alice.


"Itu, 'kan, tidak sengaja. Lagian dia juga yang menggodaku," kata Darren.


"Kau mencekokinya obat, lalu kau masih mau mengelak?" tanya Alice. Rasanya, dia ingin sekali menjambak rambut adiknya.


Mata Darren membulat saat mendengar ucapan sang kakak. "Maksud Kakak apa?" tanya Darren ketika Alice berkata seperti itu, karena seingatnya tidak ada yang mengetahui perbuatannya kecuali keluarganya, lalu bagaimana mungkin kakaknya tahu bahwa dia mencekoki obat pada Shelby?


Alice menghela napas kemudian mengembuskannya. "Ayahmu baru saja mendapatkan CCTV dari apartemenmu," jawab Alice membuat mata Dareen membulat.


"Apa?!" Darren terpekik saat mendengar ucapan Alice. Dia.pun dengan cepat langsung mendorong tubuh kakaknya.


"Darren!" teriak Alice, tapi Darren tidak mempedulikan teriakan sang kakak. Dia langsung menutup pintu dan menguncinya setelah Alice keluar dari kamar, sebab sudah dipastikan sang ayah kembali mengamuk dan dia tidak mau dihajar lagi oleh ayahnya.


***


Tommy menyandarkan tubuhnya ke belakang. Tubuh Tommy rasanya tidak berdaya, rasanya hari di mana Shelby mengatakan tentang kelakuan Darren, hari itu pula Tommy merasa gagal menjadi seorang ayah. Entah bagaimana cara dia menghadapi Darren. Dia berpikir bahwa dia sudah memberikan didikan yang keras untuk putranya, tapi entah kenapa Darren bersikap berbeda dengan didikannya.


Tak lama, Mayra masuk ke dalam ruang kerja suaminya. Wanita paruh baya itu berjalan ke arah Tommy, kemudian dia mendudukkan dirinya di sebelah suaminya, lalu mengelus punggung Tommy karena dia mengerti dengan apa yang dirasakan oleh Tommy.


"Aku gagal menjadi seorang ayah," lirih Tommy hingga Mayra memeluk suaminya. Dia tidak berbicara dan hanya fokus mengelus punggung Tommy, memberikan ketenangan pada lelaki itu. Kesakitan Tommy dan Mayra semakin bertambah ketika mereka menyaksikan CCTV apartemen Darren, di mana mereka melihat dengan jelas apa yang dilakukan Darren pada Shelby, padahal saat itu Shelby sudah memohon ampun, berteriak dengan pilu tapi Darren tetap nekat melakukan itu, bahkan Mayra dan Tommy seakan tidak mengenal putra mereka.


***


Darren keluar dari kamar. Dia memakai topi untuk menyamarkan luka di wajahnya. Sebenarnya, dia tidak terlalu semangat untuk pergi kuliah. Selama di kampus pun dia hanya diam di kantin, tidak pernah masuk ke dalam kelas. Namun hari ini, dia ingin menemui Shelby, meminta kembali dompetnya hingga terpaksa dia pergi ke kampus.

__ADS_1


Turun dari lift, Darren mengintip, ternyata keluarganya sedang berada di ruang tamu tapi kakaknya masih belum bergabung. Darren kembali naik ke lift, kemudian dia pergi ke arah kamar Salsa.


"Salsa," panggil Darren.


"Panggil aku Kaka, kau tidak sopan sekali," kata Salsa yang sedang bercermin, dia menoleh kemudian menetap galak pada Darren.


"Terserahlah, pinjamkan aku kunci mobilmu," kata Darren lagi.


"Tidak ada, lagipula, kau tidak boleh memakai mobil," kata Salsa.


"Mobilmu banyak sekali di garasi, pinjamkan aku satu," bujuk Darren.


"Sudah kubilang tidak mau ya tidak mau. Pergilah," kata Salsa.


Darren tidak menurut begitu saja, dia berjalan mengendap-ngendap kemudian ke arah laci berencana untuk mengambil kunci. Namun, sepertinya gerakan Darren terbaca oleh Salsa yang sedang bercermin.


"Daddy!" Salsa berteriak dengan kencang ketika Darren akan mengambil kunci mobilnya.


Pada akhirnya, Darren pun keluar dari kamar Salsa. Dia pun langsung turun ke bawah, berniat untuk sarapan bersama keluarganya. Lelaki itu harus tetap bersikap manis di depan ayah dan ibunya agar semua fasilitasnya dikembalikan. Karena bukan hanya dompetnya saja yang ditahan, di mana di dompetnya ada banyak kartu dan lain-lain, tapi mobil dan motornya pun disita oleh sang ayah. Dia mungkin bisa menekan Shelby untuk mengembalikan dompetnya, tapi dia tidak akan bisa melawan Tommy, itu sebabnya dia harus bersikap manis di hadapan kedua orang tuanya.


"Morning," sapa Darren pada keluarganya.


"Aku kenyang." Tiba-Tiba, Mayra menghentikan suapannya. Dia meninggalkan makanan yang baru sedikit dia makan. Wanita paruh baya itu langsung bangkit dari duduknya, begitu pun dengan Tommy yang ikut bangkit.


"Salsa, habiskan sarapanmu. Ingat, kau ada janji bersama Anton," ucap Tommy hingga Alice mengangguk. Dia memang sengaja menginap di rumah Mayra dan Tommy.


"Duduk," titah Alice hingga Darren pun menarik kursi, kemudian mendudukkan diri di sebelah Alice.


"Tidak ada, Kakak tidak punya uang. Kakak akan pergi ke kantor," kata Alice membuat Darren menghela napas.


"Ya sudah, antarkan aku saja ke kampus," kata Darren. Setidaknya, dia tidak harus menaiki taksi ataupun bus untuk ke kampusnya. Bisa jatuh harga dirinya jika dia ketahuan menaiki angkutan umum.


Akhirnya, acara makan pun selesai.


Alice dan Darren pun keluar dari rumah. Alice tidak kuasa menahan tawa ketika melihat wajah Darren yang membengkak, sedangkan Darren yang menyadari tatapan kakaknya, terus berjalan dengan cepat mendahului Alice.


"Kau tahu betapa kecewanya mommy dan daddymu?" tanya Alice ketika dia mengendarai mobil.


"Sudahlah jangan dibahas, aku malas," jawab Daren singkat padat dan jelas.


"Kenapa tidak bisa dewasa? Bagaimana jika paman semakin murka, dan mengirimmu ke luar negeri tanpa fasilitas? Kau mau?" tanya Alice.


"Apa Paman Adrian bekerja hari ini?" Tiba-Tiba Darren malah menanyakan Adrian, tentu saja untuk membujuk lelaki itu karena hubungan Darren dan Adrian pun cukup dekat, sedangkan Salsa dan Adrian hubungannya masih sama, mungkin hanya sedikit perubahan di mana Salsa sudah tidak bersikap dingin lagi pada lelaki itu.


“Ayahku sedang sibuk, jangan mengganggunya," balas Alice.


Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai Alice sampai di kampus.


"Darren, turun. Aku ingin ke kantor," kata Alice ketika Darren tidak kunjung turun dari mobilnya.


"Kau naik taksi saja, aku ingin bawa mobilmu untuk pulang nanti," ucap Darren yang masih membujuk Alice.

__ADS_1


"Tidak mau. Kau mau aku laporkan pada ayahmu?" tanya Alice.


Helaan napas terlihat dari wajah Darren, kemudian lelaki itu pun langsung turun. Saat turun, beberapa pasang mata melihat pada wajah Darren yang tampak membengkak. Walaupun Darren sudah memakai topi, tapi wajah yang membiru masih terlihat hingga dia menjadi pusat perhatian. Sungguh, Darren merasakan rasa malu yang luar biasa, tapi dia tetap berjalan seolah tidak ada yang terjadi.


Darren melihat ke sana kemari, mencari keberadaan calon istrinya hingga tak lama, tatapannya berhenti di sudut perpustakaan di mana Shelby sedang ada di sana. Rupanya, Shelby sedang merasakan mual yang luar biasa hingga dia ke perpustakaan sejenak.


Brag!


Shelby terperanjat kaget ketika Darren menggebrak mejanya, hingga beberapa orang di perpustakaan itu menoleh. Tidak ada yang berani mengatur Darren, tentu saja karena dia adalah keluarga pemilik yayasan tempat mereka kuliah.


"Kemarikan dompetku," ucap Darren, matanya menatap Selbi dengan amarah yang membara.


Shelby yang sedang merasakan pusing, kembali merebahkan tubuhnya ke belakang. Sungguh, rasanya dia begitu muak melihat Darren.


"Sudah kubilang kembalikan dompetku!" teriak Darren hingga semua orang di sana saling tatap. Mereka bingung kenapa Shelby bisa memegang dompet Darren.


Shelby mengutak-atik ponselnya kemudian dia mencari nomor seseorang.


"Halo, Paman Tommy."


Mata Darren membulat saat melihat Selby menelepon ayahnya, hingga dengan cepat Darren langsung merebut ponsel Shelby dan mematikan panggilannya.


"Apa kau gila? Kenapa kau menelpon ayahku?" tanya Darren dengan mengeraskan suaranya.


"Tuan Darren." Tiba-Tiba, terdengar suara dari arah belakang, membuat Darren memejamkan matanya karena ternyata Keenan yang memanggilnya. Dia tahu persisnya siapa lelaki yang memanggilnya yaitu tangan kanan sang ayah dan juga kekasih Salsa dan sepertinya dia sudah tidak bisa bebas bergerak lagi, karena dia sudah diawasi.


"Apa?" tanya Darren.


"Tolong masuk ke kelas Anda dan jangan mengganggu Nona Shelby," kata Keenan lagi hingga rasanya Darren ingin mencekik lelaki di depannya.


"kuadukan kau pada ayahku karena berpacaran dengan Salsa," ucap Darren. Setelah mengatakan itu, dia pun langsung pergi meninggalkan perpustakaan, bahkan dia juga lupa memberikan ponsel Shelby. Namun, Shelby tidak memikirkan itu, toh di ponselnya juga tidak ada apapun. Dia hanya memikirkan rasa mual dan rasa pusingnya.


Beberapa hari kemudian.


Akhirnya, hari yang menyebalkan bagi Darren dan Shelby pun tiba, di mana saat ini mereka sudah resmi menjadi suami istri. Pernikahan mereka hanya dihadiri oleh keluarga, tidak ada teman, tidak ada siapa pun. Mereka juga menikah di gereja belakang rumah Tommy, karena Shelby tidak ingin menikah di gereja lain.


Acara pernikahan ditutup dengan makan siang bersama, hingga pada akhirnya acara makan siang pun selesai dan kini Shelby dan Darren sudah berada di kamar Darren. Karena memang setelah mereka menikah, Tommy tidak mengizinkan keduanya untuk tinggal di luar, sebab jika mereka tinggal di luar, tentu saja Darren akan berulah pada Shelby dan Tommy tidak akan membiarkan itu terjadi.


"Heh, kau," ucap Darren ketika Shelby duduk di ranjang.


"Apa?" tanya Shelby dengan ketus.


"Jangan pernah menyentuh ranjangku. Tidur di sofa atau tidak, tidur di bawah," kata Darren lagi.


"Tidak mau, kau saja yang tidur di bawah atau di sofa," kata Darren.


"Aku ingin tidur di ranjang ini. Aku sedang mengandung, ingat itu," kata Shelby.


Darren berdecak kesal. "Ini kamarku," kata Darren.


"Ya sudah, aku tidak akan mengganggumu. Aku akan tidur di kamar tamu," kata Shelby lagi membuat Darren mengusap wajah kasar. Jika Shelby keluar dari kamar ini, sudah dipastikan Shelby akan mengadu pada ayahnya.

__ADS_1


"Ya sudah kita tidur satu ranjang, tapi awas jika kau menyentuhku," kata Darren.


__ADS_2