
Setelah mendengar percakapan Selo dan juga Celine, Sello langsung mematikan panggilan dari Celine kemudian menyimpan ponselnya lalu menyadarkan tubuhnya ke belakang.
Sedari sesi konsultasi antara Celine dan Bianca Celine sengaja menelepon Sello, agar Sello mendengar keluh kesah Bianca dan selama 2 jam Sello tetap setia mendengarkan curahan hati istribya.
Sello menyandarkan tubuhnya ke belakang, dia memegang dadanya yang terasa nyeri ternyata apa yang Bianca rasakan lebih parah dari yang dia duga, dia hanya hanya mengingat sebagian kesalahannya saja. Tapi Bianca mengingat semua kesalahan yang dia lakukan selama 5 tahun pernikahan mereka di masa lalu.
Saat Sello melamum, pintu ruangan diketuk hingga Sello mempersilahkan sekretarisnya untuk masuk.
“Tuan, ada meeting 5 menit lagi,” kata Bary yang merupakan sekretaris Sello, hingga Sello mengangguk. Selo mengutak-atik kembali ponselnya kemudian dia menelpon Bianca karena dia tahu sesi jawab Celien dengan Bianca sudah seleai.
“Hmm, Sello.” jawab Bianca ketika dia sudah mengangkat panggilannya.
“Bianca, aku pulang terlambat ada pekerjaan tidak apa-apa kan,” kata Sello. Bianca terdiam di seberang sana kemudian wanita itu pun mengangguk, walaupun anggukannya tidak terlihat.
“Hmm, tidak apa-apa, ya sudah kalau begitu sampai jumpa.” Sello penutup panggilannya. sebenarnya dia tidak ada pekerjaan tambahan apapun, hanya saja dia harus menenangkan dirinya guna mengingat semua kesalahannya.
Setelah itu Sello bangkit dari duduknya, lelaki tampan itu langsung berjalan ke arah ruangan untuk pergi ke ruang meeting.
Setelah sampai di ruangan meeting, pintu terbuka hingga Sello masuk ke dalam ruangan di mana semua staf sudah ada di sana, dan lelaki itu berjalan dengan penuh kharisma ke kursi utama.
Saat selalu akan berbicara, tiba-tiba tatapannya teralih pada dinding di mana di dinding itu tertempel di sebuah jam. Selo langsung memegang pinggiran meja, tubuhnya mendadak kaku dia merasa kakinya tidak bisa digerakkan dan pada akhirnya tubuh Selo ambruk, beruntung dia ambruk ke kursi.
“Tuan, anda tidak apa-apa?” tanya Barry.
“Singkirkan jam itu," ucap Selo dengan suara pelan bahkan keringat dingin langsung menyergap lelaki itu. Jam yang ada di dinding adalah jam yang sama dengan jam yang ada di tempat Roland.
__ADS_1
Sejujurnya apapun yang mengingatkan Sello tentang Rolan selalu membuat Selo traumatik, tubuhnya selalu tiba-tiba tidak berdaya tentu saja karena penyiksaan yang diberikan oleh Roland luar biasa hebatnya hingga Sello terus terperangkap dalam traumanya, bahkan terkadang jika sedetik saja dia teringat penyiksaan itu dia merasa tubuhnya remuk padahal tidak terjadi apa-apa dengan tubuhnya.
“Tuan!” panggil Barry yang tidak mengerti dengan maksud Sello.
“Cepat singkirkan jam itu.” Sello tidak ada tenaga untuk berbicara hingga pada akhirnya Barry mengerti, dia menyuruh beberapa staf untuk mencabut jam tersebut.
“Tuan, jamnya sudah di cabut," kata Barry.
“Meeting ditunda, tolong keluar semua dari sini," ucap Selo nafasnya sudah mulai tersendat, keringat dingin membanjiri seluruh tubuh lelaki itu dia memegang kepalanya yang terasa berkunang-kunang. Sebab saat dulu Roland memukul kepalanya, terakhir yang dia lihat adalah jam tersebut hingga sekarang dia seperti Dejavu dengan rasa sakitnya.
Setelah semua staf keluar, Barry llangsung membungkuk lelaki itu langsung bertanya pada Sello. ”Tuan, Anda tidak apa-apa apa perlu ke rumah sakit?” tanya Selo.
“Tidak perlu, ambilkan aku air putih saja," jawab Sello dia masih tidak bisa untuk mengangkat kepalanya, hingga akhirnya Barry menggangguk dia membantu Sello untuk duduk di sofa, lalu setelah itu dia langsung memberikan air pada Tuannya, memegang gelas saja Sello tidak bisa, hingga gelas itu terjatuh di lantai dan sedetik kemudian Sello tidak sadarkan diri.
Waktu menunjukkan pukul delapan malam, Bianca terus berjalan ke sana kemari untuk pertama kalinya Bianca di dera rasa tidak tenang. Padahal, tadi saat dia sedang berkonsultasi dengan Celeni Sello menelpon dan mengatakan akan pulang terlambat tapi entah kenapa kali ini rasanya berbeda.
Bianca mengambil mengambil ponsel kemudian mengutak-atiknyanya, lalu menelepon nomor Sello. Namun Sello tidak mengangkat panggilannya hingga Bianca kembali menyimpan ponselnya dan berusaha untuk memejamkan mata.
Satu jam kemudian, Bianca kembali bangun dari berbaringnya. Entah kenapa dia merasakan perasaan tidak tenang, dia pun langsung kembali mengutak-atik ponselnya, lalu memanggil nomor Barry. “Hallo nyonya," kata bari di seberang sana.
“Barrry apa kamu sedang bersama Sello?” tanya Bianca
“Tuan Sello?” ulang Barry, hingga Bianca pun menggangguk, walaupun anggukannya tidak terlihat.
“Nyonya belum tahu bahwa Tuan Sello berada di rumah sakit," jawab Barry, tadi Sello menyuruhnya pulang dan dia pikir Bianca sudah tau.
__ADS_1
“Apa!” Bianca berteriak saat mendengar apa yang dari ucapkan Barry.
“Kenapa Sello di rumah sakit?” tanya Bianca dengan terkejut.
“Nona, bisa tanyakan saja nanti di sana," kata bari
karena dia pun bingung bagaimana harus menjelaskannya.
“Di mana Sello dirawat?” tanya Bianca.
Akhirnya Barry pun memberitahukan dimana Selo dirawat hingga secepat kilat Bianca langsung menyetir menyambar cuci mobil lalu berlari keluar dari apartemennya.
Bianca menjalankan mobilnya dengan kecepatan penuh, rasanya dia tidak sabar untuk sampai di sana, untuk pertama kalinya setelah 2 tahun berlalu dia kembali takut akan ada yang terjadi dengan Sello.
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang akhirnya mobil yang dikendarai oleh Bianca sampai di rumah sakit. Bianca pun bergegas turun dari mobil, wanita itu langsung masuk ke dalam dan itu dia menanyakan pada bagian informasi di mana ruangan Sello.
Dan setelah tahu di mana ruangan suaminya Bianca langsung berlari ke arah lift saat berada di depan ruang rawat Sello Bianca langsung memutar gagang pintu, kemudian membuka pintu
“Sello!” Bianca berteriak saat melihat Sello sedang berada di lantai, rupanya barusan Sello berusaha untuk menggerakkan kakinya karena dia harus segera pulang, sebab dia takut Bianca curiga padanya dan itu akan mempersulit Sello mendapat kepercayaan dari istrinya. Tapi ternyata baru satu kali melangkah Sello sudah terjatuh di lantai, dia bahkan sempat memukul-mukul agar bisa bergerak yang dia pikirkan secepatnya pulang agar tidak membuat Bianca curiga.
.“Bianca!” panggil Selo, sungguh dia begitu malu ketika melihat Bianca ada di depannya dan melihat kondisinya.
Bianca yang bingung dengan apa yang terjadi pada Sello menekuk kakinya kemudian menyetarakan diri dengan suaminya.
“Bianca. Pergilah sebentar keluar," kata Sello dia tidak ingin Banca mengetahui bahwa dia sulit berjalan, untuk pertama kalinya hati Bianca tergugah saat melihat wajah Sello yang seperti menahan sesuatu hingga Bianca pun menganguk dan dia pun langsung keluar dari ruang rawat Selo.
__ADS_1