Tatap Aku, Lelakiku!

Tatap Aku, Lelakiku!
Tak tau Malu


__ADS_3

Adrian melihat jam di pergelangan tangannya. Dia terus melihat ke arah kantor. Dia berharap Sayra segera keluar. Saat ini, Adrian sedang berada di kantor Sayra.


Dia mencoba untuk kembali memohon pada mantan adik iparnya. Ini sudah berbulan-bulan berlalu semenjak dia berpisah dari Mayra. Jangan ditanyakan betapa kacaunya Adrian setelah berbulan-bulan berlalu, Alice masih belum memaafkannya bahkan Alice menolak untuk bertemu dengannya. Dia juga semakin tersiksa ketika melihat postingan Mayra yang selalu memposting foto dengan Tommy, dan terakhir dia melihat postingan Mayra bahwa Mayra sudah melahirkan.


Sekarang, Adrian menemui Sayra dan ingin menanyakan di mana keberadaan Mayra. Adrian sudah pasrah. Dia sudah menerima takdirnya bercerai dari Mayra, walaupun cinta untuk Mayra masih menggebu-gebu. Dia hanya ingin melihat anaknya.


Dia sudah bertanya pada mantan mertuanya, tapi Gabriel dan Selo tidak mau mengatakan di mana Mayra, bahkan Adrian rela menunggu di luar mansion dalam keadaan hujan demi mendapatkan jawaban dari mantan mertuanya. Namun, Gabriel tetap teguh dengan pendiriannya, yaitu tidak memberitahukan keberadaan Mayra, karena dia tidak ingin Adrian datang menemui putrinya lagi karena dia tahu Mayra sudah sangat bahagia dengan Tommy.


Setelah lelah mencari tahu lewat Gabriel, dia tidak menyerah, dia berharap Sayra mau memberitahukan keberadaan dan di mana Mayra tinggal saat ini. Adrian tahu Sayra tidak akan mudah memberitahukan alamat mantan istrinya, tapi setidaknya dia mencoba sebelum dia benar-benar menyerah


. Dia hanya ingin melihat anaknya. Itu saja sudah lebih dari cukup, dan sudah seminggu ini dia terus menghampiri Sayra di kantornya, mengekor pada wanita itu dan terus menanyakan keberadaan Mayra. Namun, Sayra menolak untuk menjawab, bahkan terkadang Sayra tidak menggubris kehadirannya.


Adrian langsung menegakkan tubuhnya ketika Sayra keluar dari kantor. Lelaki itu langsung berjalan ke arah mantan adik iparnya.


"Kau lagi," ucap Sayra dengan kesal. Dia menatap Adrian dengan malas.


"Sayra, aku mohon, beritahu aku di mana Mayra," pinta dengan nada memohon.


"Tidak tahu, jangan tanyakan aku." Sayra dengan cepat melewati tubuh Adrian, kemudian wanita cantik itu berjalan ke arah mobilnya. Namun, belum Sayra membuka pintu mobil, Adrian sudah terlebih dahulu menarik kunci mobil Sayra dan tangan wanita itu.


"Adrian!" Sayra berteriak. Dia menatap Adrian dengan tatapan marah semarah-marahnya karena dia rasa Adrian sudah keterlaluan.


"Kemarikan kunci mobilku," ucap Sayra. Dia masih berusaha meredam suaranya, apalagi dia sedang berada di parkiran, banyak orang yang berlalu lalang.


"Tidak, aku tidak akan mengembalikannya sebelum kau beritahu aku di mana Mayra," ucap Adrian hanya ini cara agar Sayra mau memberikan kunci padanya.


Sayra menghela napas kemudian mengembuskannya. "Mayra di Jepang," kata Sayra. Tentu saja dia berbohong, karena jelas-jelas Mayra ada di Polandia.


"Kumohon Sayra, jangan bohong," pinta Adrian. Di mata Sayra, Adrian begitu menyedihkan, bahkan tubuh Adrian begitu kurus, tapi Sayra tidak peduli.


"Katakan kepadaku, kenapa kau ingin bertemu dengan Mayra, padahal jelas-jelas Mayra sudah bahagia bersama Tommy dan anak mereka, lalu kenapa kau ingin mengganggu mereka lagi. Apakah belum cukup melukai Mayra?" tanya Sayra.


"Aku tidak akan mengganggu mereka. Aku hanya ingin melihat anakku," ucap Adrian.


Seketika Sayra tertawa. "Anakmu? Jelas-Jelas Tommy sudah mengklaim bahwa anak yang dikandung Mayra adalah anaknya, lalu kenapa kau repot-repot ingin menemui anak orang lain?" tanya Sayra, berucap dengan sarkas membuat Adrian menghela napas.


"Kumohon Sayra, jawab aku," ucap Adrian. Tatapan matanya menatap Sayra dengan sendu, membuat Sayra sedikit iba. Haruskah dia memberitahukan keberadaan Mayra? Lalu, bagaimana jika Mayra murka padanya?


"Aku mohon, Sayra. Aku hanya ingin menemui anakku dan mungkin ini yang terakhir kalinya. Aku tidak akan mengganggu lagi mereka," ucap Adrian membuat Sayra menghela napas.

__ADS_1


"Baiklah, mereka ada di Polandia," ucap Sayra.


Helaan napas terlihat dari wajah Adrian ketika Sayra memberitahukan keberadaan Mayra dan anak mereka.


"Bisa kau kirim alamat lengkapnya?" tanya Adrian lagi.


Sayra merogoh tas kemudian dia mengambil ponsel, lalu mengutak-atik ponselnya. Dia pun langsung mengirimkan alamat lengkap Mayra pada ponsel Adrian.


"Sayra, terima kasih." Adrian langsung maju memeluk Sayra. Dia bahagia karena mendapat alamat Mayra. Mata Sayra membulat saat Adrian memeluknya. Dia pun dengan cepat langsung mendorong tubuh lelaki itu. Dia merasa geli ketika Adrian memeluknya.


"Maafkan aku, Sayra. Maafkan aku." Adrian langsung memberikan kunci mobil Sayra, kemudian dia pun berlari ke arah mobilnya.


Adrian mengendarai mobilnya dengan kecepatan kencang. Dia mengendarai mobilnya menuju rumah ibunya. Rasanya, dia tidak sabar untuk bertemu dengan Alice. Dia yakin jika Alice tahu dia sudah mendapatkan alamat lengkap Mayra, Alice akan memaafkannya. Dia ingin mengajak Alice pergi ke Polandia, tapi dia tidak ingin Hera salah paham. Dia hanya akan memberitahukan pada Alice bahwa sebentar lagi dia akan bertemu dengan Mayra.


Sebelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Adrian sampai di rumah orang tuanya. Dia pun turun dari mobil kemudian bergegas masuk.


"Alice," panggil Adrian.


"Ada apa, Ad?" tanya Hera yang tak lain ibu Adrian.


"Di mana Alice mom?" tanyanya.


"Alice sedang di kamar. Jangan memaksa menemuinya. Bisa-Bisa dia mengamuk lagi," jawab Hera.


Rasanya, dia ingin pergi ke mansion kedua ibu sambungnya dan bertanya ke mana Mayra, tapi dia terlalu takut jika dia datang ke orang tua ibu sambungnya.


Jika Alice rindu, dia selalu melihat foto-foto yang diunggah di Instagram mantan ibu sambungnya. Tapi Alice tidak berani menghubungi Mayra terlahir dahulu, karena takut ibu sambungnya mengabaikannya. Dia juga tahu bahwa Mayra sudah menemukan pengganti ayahnya, dan itu membuat Alice hancur, hingga sehari-hari dia hanya mengurung dirinya di kamar berusaha untuk mengikhlaskan semuanya


. Namun, tetap dia tidak bisa menghilangkan rasa bencinya pada Adrian begitu saja. Adrian sudah menghancurkan kebahagiaannya. Kehilangan Mayra sama seperti kehilangan separuh jiwa Alice, hingga rasanya gadis remaja itu tidak ingin melakukan apapun. Bahkan setelah dulu keluar dari rumah sakit dan setelah mengetahui bahwa ayah dan ibunya berpisah, Alice tidak pernah lagi pergi ke sekolah. Dia sehari-hari hanya mengurung diri di kamar.


"Tapi, Mom—"


"Sudah Adrian, jangan ingatkan Alice pada sosok Mayra. Jika kau ingin pergi, pergilah," titah Hera.


Adrian menghela napas. Benar apa yang dikatakan ibunya. Jika dia terus membahas Mayra di depan Alice, mungkin saja itu akan menyulitkan sang putri ke depannya.


"Ya sudah, aku akan pergi." Adrian pun berbalik kemudian keluar dari rumah kedua orang tuanya.


Adrian menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sedari keluar dari rumah orang tuanya, Adrian benar-benar merasakan rasa nyeri yang luar biasa, terbayang bagaimana jika dia melihat anaknya tapi Mayra tidak mengizinkannya.

__ADS_1


Adrian menepikan mobilnya di sisi karena rasa sesak semakin menjadi-jadi. Sepuluh menit kemudian, akhirnya rasa sesak yang dirasakan Adrian sudah mereda, hingga lelaki itu langsung menyalakan dan menjalankan mobilnya kembali.


Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Adrian sampai di basement apartemen. Adrian pun langsung turun, kemudian lelaki itu berjalan ke unit apartemen miliknya.


Adrian membuka pintu kamar. Baru saja sesaknya mereda, kini dia harus merasa sesak lagi ketika masuk ke dalam kamar yang selalu ditempati oleh Mayra. Dulu, dia sangat malas masuk ke dalam kamar ini, karena malas melayani celotehan Mayra. Namun sekarang, dia merindukan celotehan itu.


Adrian berjalan dengan pelan ke arah ranjang, kemudian lelaki itu membaringkan tubuhnya di sana. Tangannya menelusup ke bawah bantal, kemudian dia menatap foto Mayra. Adrian adalah tipe orang yang sulit jatuh cinta dan mungkin butuh waktu yang lama untuk dia melupakan Mayra.


Setelah cukup melamun, akhirnya Adrian pun memejamkan matanya, berusaha terlelap agar rasa sesak tidak terasa lagi.


Keesokan harinya.


Adrian turun dari pesawat. Dia menghirup dalam-dalam udara Polandia. Lelaki tampan itu langsung berjalan menuju pintu kedatangan dan mengurus semuanya. Setelah urusan dengan bandara selesai, Adrian langsung menaiki taksi kemudian meminta taksi mengantarkannya ke alamat tujuan.


Sekarang, di sinilah Adrian berada, di depan rumah mewah yang ditempati oleh Mayra dan Tommy. Setelah membayar taksi, Adrian pun langsung masuk ke dalam. Dia berjalan ke arah pos penjaga dan mengatakan bahwa dia adalah saudara Mayra, dengan menunjukkan fotonya dan Mayra yang masih dia simpan, hingga penjaga pun membiarkan Adrian masuk.


Adrian terus melihat ke arah gerbang, menunggu kedatangan Mayra. Ini sudah dua jam berlalu dia menunggu, tapi Mayra tidak kunjung datang. Barusan, dia bertanya pada pelayan yang ada di sana dan pelayan mengatakan bahwa Mayra di rumah sakit. Pelayan juga memberitahukan bahwa Mayra akan pulang hari ini, hingga Adrian terus menunggu.


Setengah jam berlalu, terlihat pintu gerbang terbuka hingga Adrian langsung menegakkan tubuhnya dan benar saja, Mayra dan Tommy keluar dari mobil.


Seluruh sendi-sendi Adrian terasa keluar dari tubuhnya. Jantungnya benar-benar seperti ditusuk ribuan belati, bahkan tidak ada yang bisa menggambarkan rasa sakit Adrian saat melihat Mayra tampak bahagia bersama Tommy. Lalu yang paling membuat Adrian hancur, Tommy menggandeng putrinya. Wajah Mayra bahkan terlihat sangat berbinar ketika di sisi Tommy.


Tommy dan Mayra menghentikan langkahnya ketika melihat Adrian ada di depan mereka.


"Siapa yang memberitahu alamat ini pada dia?" tanya Tommy. Dia menoleh pada Mayra.


"Mana mungkin aku memberitahunya. Aku saja sudah memblokir aksesnya," kata Mayra, dan tak lama keduanya kembali melihat ke depan.


Ketika Adrian berjalan menghampiri mereka, tangan Mayra mengepal. Dia menatap Adrian dengan rasa benci yang luar biasa, hingga Tommy langsung menoleh karena dia merasakan tangan Mayra mengepal.


"Untuk apa kau kemari?" tanya Mayra dengan emosi.


"Sayang, aku mohon, kendalikan emosimu," ucap Tommy. “Bagaimana jika kau menunggu di dalam, biar aku yang berbicara dengannya.


Belum cukup rasa sakit hati Adrian karena melihat pemandangan ini, dia kembali merasakan hatinya nyeri ketika melihat perlakuan manis Tommy pada Mayra.


"Usir saja dia, jangan biarkan dia masuk," ucap Mayra.


Mayra mengambil alih putrinya kemudian dia pun masuk ke dalam, sedangkan Adrian ingin sekali melihat putrinya, tapi putrinya sudah terlebih dahulu dibawa oleh Mayra.

__ADS_1


"Ayo kita bicara, selesaikan semua dengan kepala dingin," kata Tommy. Walaupun sempat emosi karena kedatangan Adrian, tapi dia tidak ingin untuk ke depannya ada hal seperti ini lagi, jadi Tommy memilih untuk menyelesaikan sekarang dan menegaskan pada Adrian.


Kini, mereka sudah duduk di kursi yang ada di depan. Tommy memutar otak, mencoba untuk berbicara dan mengolah kata yang tepat agar Adrian mengerti. Sementara Adrian, menunggu Tommy untuk berbicara. Hingga


__ADS_2