Tatap Aku, Lelakiku!

Tatap Aku, Lelakiku!
Sadar


__ADS_3

Mayra Terus mengajak Adrian untuk berbicara kesana kemari, sedangkan Bianca lebih banyak terdiam. Dia malah mengaduk-ngaduk minuman yang ada di gelasnya. Pikiran wanita itu melayang. Dia malah memikirkan Selo, begitupun dengan Adrian. Dia sama sekali tidak fokus mendengarkan. Dia hanya fokus melihat ke arah Bianca yang tampak melamun.


Sebenarnya, tidak perlu dijelaskan lagi dari cara Bianca menjauhinya, dan dari cara Bianca yang datang setiap malam untuk menjaga Selo, Adrian yakin Bianca sudah tertarik lagi pada Selo dan lelaki itu mulai berkecil hati. Dia tidak mungkin mendapatkan Bianca.


"Bi," panggil Adrian ketika Bianca terus melamun hingga Maira menghentikan ucapanya. Ada sebersit rasa sesak yang Maira rasakan ketika Adrian mengabaikannya, dan malah menegur Bianca yang melamun hingga Maira menghentikan celotehannya. Mood-nya mendadak memburuk. Dia langsung mengambil gelas kemudian meminumnya.


Maira tahu dan Maira sangat yakin bahwa Adrian mempunyai perasaan pada Bianca, dan Maira tidak masalah dengan itu karena dia tahu Bianca tidak mempunyai perasaan pada Adrian. Wanita itu ingin mendekati Adrian dan yakin bahwa Adrian akan luluh suatu saat nanti.


Bianca tersadar kemudian menatap ke arah Adrian, lalu menatap ke arah Maira yang tampak sendu. Dia melihat jam di pergelangan tangannya.


"Maira, Dokter Adrian, aku lupa ada janji dengan seseorang," ucap Bianca membuat mata Maira berbinar. Seidaknya dia bisa dekat dengan Adrian, karena Bianca akan pergi.


"Kau mau pergi ke mana?" tanya Adrian membuat Maira langsung menoleh.


"Aku ada janji sebentar dengan temanku. Kalau begitu, sampai jumpa." Bianca langsung bangkit dari duduknya, kemudian wanita itu keluar dari kafe hingga kini di cafe tersebut hanya ada Adrian dan Maira.


Adrian terdiam. Dia hanya mampu menatap punggung Bianca tanpa bisa mengejarnya. Lelaki itu menghela napas sebanyak-banyaknya. Tentu saja ekspresi Adrian tidak luput dari penglihatan Maira hingga Maira hanya bisa tersenyum getir.


Ardian melihat jam di pergelangan tangannya, lalu melihat ke arah Maira. "Maira, maaf aku harus pulang. Alice tidak ada yang menunggu di rumah."


Rasanya, Maira ingin mengungkapkan perasaannya, tapi dia segan untuk mengatakannya hingga pada akhirnya Maira hanya bisa menggangguk.


"Sampai jumpa Maira," ucap Adrian.


Sselah mengatakan itu, Adrian pun langsung berbalik meninggalkan Maira. Tiba-Tiba wajah Maira menjadi sendu. Dia tidak pernah setergila-gila ini pada lelaki, karena biasanya Maira hanya akan fokus dengan pekerjaan, apalagi dia menjadi CEO baru di perusahaan keluarganya. Namun, entahlah. Pesona Adrian benar-benar membuatnya gila, hingga Maira rela merasakan kesakitan karena dia tahu Adrian hanya tertarik pada Bianca.


Maira menarik napas kemudian mengembuskannya. Wanita itu memutuskan untuk pulang. Dka juga tidak tahu ke mana Bianca, hingga dis memutuskan untuk langsung pergi ke mansionnya saja.


***


Bianca masuk ke dalam kedai es krim. Wanita itu memutuskan untuk menikmati es krim sejenak sebelum dia pergi ke rumah sakit. Setelah memesan, Bianca duduk di depan jendela. Wanita itu menatap ke depan dengan mata yang berkaca-kaca, teringat sebelum dia diculik oleh Roland, Selo pernah mengajaknya pergi ke kedai es krim. Namun dia menolaknya, dan sekarang dia menyesal. Seandainya saat itu dia menerima tawaran Selo, tentu saja dia tidak akan merasakan semua hal ini.


Sepuluh menit kemudian, akhirnya es krim yang di pesan Bianca pun sampai. Bianca langsung menarik es krim itu ke depannya, kemudian dia langsung menyantapnya sambil menunduk karena matanya sudah berkaca-kaca. Sayu kali kedipan saja mungkin air matanya sudah menganak sungai dan benar saja, tak lama bahu wanita cantik itu bergetar.


Pada akhirnya, Bianca melunturkan tangisnya. Dia menangis sesenggukan hingga orang yang ada di sana langsung menoleh ke arah Bianca, dan menatap Bianca dengan aneh. Namun, Bianca sama sekali tidak mempedulikan orang di sekitarnya. Dia larut dalam rasa sedihnya hingga pada akhirnya, setelah empat puluh lima menit berlalu, Bianca kamu memutuskan untuk keluar dari kedai es krim tersebut.

__ADS_1


Bianca berjalan menelusuri trotoar. Dia seperti wanita yang hilang arah. Saat ini dia sedang berjalan ke arah rumah sakit. Dia sengaja tidak memakai taksi karena dia ingin menikmati waktu sore hingga pada akhirnya, Bianca merasakan lelah dan dia pun langsung mendudukkan diri di kursi yang ada di trotoar tersebut.


Bianca mengutak-atik ponselnya, kemudian dia melihat Instagram Selo. Jika dia rindu lelaki itu, dia akan terus menatap Instagram Selo yang dipenuhi dengan foto Selo karena bisa dibilang selalu terbilang narsis jika di media sosial.


Sepuluh menit kemudian, hujan turun hingga Bianca langsung panik. Wanita itu langsung memutuskan untuk berteduh.


***


Bianca melihat jam di pergelangan tangannya. Ini sudah satu jam berlalu dia menunggu, tapi hujan tidak kunjung reda. Dia pun memutuskan untuk menelepon sang ayah, memintanya menjemput dan mengantarkannya ke rumah sakit.


Satu jam kemudian, klakson berbunyi hingga Bianca langsung menoleh dan ternyata ayahnya yang datang. Wanita itu pun langsung masuk ke dalam. "Maaf merepotkanmu, Dad," ucap Bianca membuat Lyodra terkekeh.


"Kenapa kau tidak mengabari dari tadi? Daddy dengar, tadi kau pergi meninggalkan Mayra di cafe dengan Adrian," ucap Lyodra, karena tadi Lyodra telah menelpon Maira, dan Maira mengatakan bahwa Bianca pergi.


"Aku ingin memberikan waktu untuk Maira dan Adrian, karena aku tahu Maira menyukai Dokter Adrian," jawab Bianca hingga Lyodra mengangguk-anggukkan kepalanya, kemudian lelaki paruh baya itu langsung menyalakan dan menjalankan mobilnya.


Saat berada di perjalanan, Bianca menyadarkan tubuhnya ke belakang. Dia merasa tubuhnya tidak enak badan, setiap malam Bianca tidak pernah tertidur. Lyodra tidak ingin mencegah Bianca melakukan itu, karena dia tahu Bianca masih merasa bersalah, hingga dia hanya bisa mendoakan putrinya agar tetap kuat.


Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Lyodra sampai di rumah sakit. Dia tidak membangunkan putrinya karena terlihat jelas putrinya sedang pulas.


Bianca memegang kepalanya yang terasa nyeri, karena dia terbangun secara tiba-tiba karena mendengar suara klakson.


"Dad, panggil Bianca.


"Kenapa kau tidak membangunkanku?" tanya Bianca lagi.


"Kau tampak pulas. Kau tidak ingin pulang dulu ke rumah?"


Bianca menggeleng. "Aku akan langsung turun."


Bianca mengulurkan tangannya untuk mencium tangan sang ayah, kemudian wanita cantik itu pun langsung turun dari mobil. Lalu setelah itu dia masuk ke dalam rumah sakit. Saat masuk ke dalam rumah sakit, Bianca langsung berjalan ke arah lift untuk naik ke dalam.


Bianca mengintip saat sudah berada di depan ruang rawat Selo, dan ternyata di ruangan rawat Selo tidak ada siapapun karena Amelia sedang pergi ke kantin. Sepertinya kedua mantan mertuanya sedang menikmati makan malam, hingga Bianca pun langsung masuk.


Bianca menyimpan tasnya kemudian dia berjalan ke arah brankar. Dia langsung membungkuk, kemudian mencium kening Selo. Lalu setelah itu dia menarik kursi kemudian mendudukkan dirinya di kursi, lalu setelah itu dia menggenggam tangan mantan suaminya.

__ADS_1


***


Waktu menunjukkan pukul dua malam. Bianca selesai dengan aktivitasnya yaitu salat malam. Wanita itu langsung merapikan semuanya, kemudian seperti biasa, dia kembali duduk di kursi lalu setelah itu dia menggenggam tangan Selo dan mengecupnya.


Bianca menyimpan kepalanya di brankar. Tanpa terasa, kantuk menyerang Bianca hingga pada akhirnya Bianca memejamkan matanya. Namun, baru saja dia akan terlelap Bianca kembali membuka mata ketika tangan Selo bergerak. Dia pun langsung melihat menegakkan tubuhnya, kemudian wanita cantik itu melihat ke arah Selo.


Helaan napas terlihat dari wajah cantik Bianca ketika Selo masih memejamkan matanya, dan dia pikir bahwa dia hanya berhaluan hingga pada akhirnya Bianca kembali lagi ke posisi semula. Wanita itu kembali menggenggam tangan Selo dan tidur dengan kepala yang ada di brankar.


Baru saja Bianca akan memejamkan mata lagi, tangan Selo bergerak. Namun, kali ini Bianca tidak terkejut karena dia masih menyangka itu adalah khayalannya.


Tapi ternyata,.Bianca salah. Dia tidak berhalusinasi. Selo memang menggerakkan tangannya.


Bianca mengabaikan perasaannya lalu dia pun memejamkan matanya, dan berusaha terlelap. Namun, kali ini Bianca kembali membuka mata ketika tangan Selo bergerak dengan sedikit kencang tidak seperti barusan, hingga dia langsung menegakkan tubuhnya kemudian melihat ke arah Selo.


Wajah Biarkan memucat. Seluruh sendi-sendinya terasa keluar dari tubuhnya saat melihat Selo mengerjapkan pandangannya seperti yang akan membuka mata.


Bianca menutup mulut tak percaya, dia langsung bangkit dari duduknya, wanita cantik itu pergi keluar untuk memanggil dokter.


Setelah Bianca pergi, Selo membuka matanya dan akhirnya lelaki tampan itu tersadar dari komanya. Sejenak, Selo terdiam. Dia bingung dia ada di mana. Dia melihat ke sekitarnya yang tampak berwarna putih, lelaki itu tidak mengingat apapun.


Selo terdiam dengan waktu yang cukup lama, berusaha mengingat apa yang terjadi. Bahkan dia juga tidak ingat dengan dengan penyiksaan Roland padanya, hingga pada akhirnya pintu terbuka. Dokter muncul bersama Bianca.


Mata dokter membulat saat melihat Selo sudah membuka mata. "Tuan Selo," panggil dokter membuat Selo menoleh. Lelaki itu hanya menggerakkan matanya karena dia tidak bisa menggerakkan kepalanya. Dia menatap aneh pada dokter dan tak lama suara tangisan membuyarkan lamunan Selo.


Sello pun langsung melihat ke arah sumber suara, dan ternyata yang menangis adalah Bianca. Mata Selo membulat saat melihat Bianca menangis, dan seketika itu juga semua ingatan menabrak Selo.


Dia teringat akan semua hal, termasuk saat dia menyelamatkan Bianca, dan dia juga ingat detik demi detik-detik yang menyakitkan ketika dia disiksa oleh Roland. Namun, bukannya mengkhawatirkan dirinya sendiri, yang pertama Selo pikirkan ketika mengingat itu adalah dia memikirkan kondisi Bianca, walaupun Bianca terlihat baik-baik saja.


Dokter dengan cepat memeriksa kondisi Selo. Lutut Bianca gemetar. Dia hanya berdiri di samping brankar, tatapan matanya dan tatapan mata Selo saling mengunci, bahkan Bianca tidak mengalihkan tatapannya pada Selo sedikitpun. Wanita itu seperti tidak percaya bahwa Selo sudah membuka matanya, dan rasanya sekarang Bianca ingin menerjang tubuh Selo, memeluk Selo dengan erat. Selo menumpahkan tangisannya.


Lima belas menit kemudian akhirnya dokter selesai memeriksa keadaan Selo dan mengecek semuanya, dan ternyata kondisi Selo sudah normal. Semua alat vital berjalan dengan semestinya, hingga dokter langsung melihat ke arah Bianca.


"Pasien sudah sadar. Dia berhasil melewati masa komanya. Kami akan melakukan pemantauan," ucap dokter hingga Bianca mengangguk.


"Bisakah dokter hubungi Paman Gabriel dan Bibi Amelia?" tanya Bianca. Dia terlalu syok hingga dia tidak bisa mengabari mereka, dan malah meminta tolong pada dokter hingga dokter pun mengangguk. Setelah itu, dokter pergi meninggalkan ruang rawat Selo.

__ADS_1


Setelah dokter pergi, Bianca dengan langkah yang sangat pelan serta wajah yang sudah berlinang air mata, berjalan ke arah Selo.


__ADS_2