
Bianca terduduk di sofa, ia menunduk dengan hati yang luar biasa hancur, sedangkan Gabriel dan Amelia yang duduk bersebelahan tidak berani membuka mulut mereka dan tidak berani bertanya, mereka menunggu Bianca untuk tenang terlebih dahulu.
“Bianca!” panggil Gabriel, akhirnya Gabriel memberanikan diri berbicara setelah 15 menit berlalu.
“ Kenapa kau tidak memberitahukan semuanya pada kami?” tanya Gabriel. “Daddy tidak bermaksud untuk menyalahkanmu. Hanya saja, jika kau memberitahu lebih cepat. Mungkin Daddy akan menghukum Selo dari dulu!”
Bianca menghapus air matanya, ia berusaha menegarkan dirinya. “Daddy, seandainya saat itu aku tidak bodoh memaksa Sello untuk melanjutkan pernikahan. Pasti semuanya tidak akan seperti, Sello memang sudah berubah semenjak sebelum menikah. Tapi aku memaksanya untuk menikah, karena aku yakin Sello akan berubah seperti dulu.”
__ADS_1
Bianca menjeda sejenak ucapannya, kemudian menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.
“Daddy, setelah menikah. Aku pikir, Sello akan kembali bersikap hangat seperti dulu. Tapi ternyata aku salah, dia hanya menemaniku saat malam pertama kami. Tapi keesokan harinya sampai 5 tahun berlalu sikapnya tidak berubah.”
Gabriel mengusap wajah kasar seraya menghela nafas gusar. Rahangnya mengeras saat mendengar ucapan Bianca.
“Daddy selama 5 tahun ini aku tersiksa. Bahkan aku mengidap penyakit bipolar. Terkadang aku ingin mengamuk, terkadang aku ingin melukai diriku sendiri jika mengingat nasib pernikahanku bersama Sello. Tapi aku tidak bisa berbuat apapun dan bodohnya, Aku selalu menganggap Sello pasti akan kembali seperti dulu. Daddy ingat, Daddy pernah memberikan kami bulan madu ke Argentina Selama 2 bulan? Ya, kami memang pergi. Saat kami sampai di Argentina, keesokan harinya Sello menghilang, aku tidak tahu dia ke mana. Setiap hari, aku selalu menunggunya pulang. Itu negara asing untukku Dan aku tidak tahu harus mencari Sello ke mana itu sebabnya aku hanya menunggu dan menunggu. Satu bulan di Argentina, rasanya aku menyerah. Aku tidak tahan lagi untuk menunggu hingga aku memutuskan mencari Sello ke seluruh penjuru. Aku mendatangi hotel-hotel berharap Sello ada di sana tapi ternyata tidak, Sello tidak ada di manapun dan ....”
__ADS_1
“Dan apa Bianca?” tanya Amelia.
“Dan aku kehilangan calon anakku mommy!” Amelia menutup mulut saat mendengar ucapan Bianca.
“Kau keguguran?” tanya Amelia dengan wajah yang memucat.
“Hmm, aku keguguran. Anakku hanya bertahan satu bulan di rahimku dan aku menghabiskan 1 bulan di Argentina dengan berdiam diri di rumah sakit. Setiap hari, aku selalu mengharap Sello datang. Tapi ternyata tidak, Sello tidak datang. Ia datang ketika kita sudah ada jadwal untuk pulang. Sello juga tidak menjelaskan apapun padaku ke mana dia. Bahkan dia juga tidak berbicara dan bersikap dingin padaku. Saat itu, aku tidak berani mengatakan bahwa aku telah keguguran karena saat itu, Sello tidak berbicara padaku.”
__ADS_1
Bianca kembali menunduk, kemudian ia menangis lagi. Kali ini, tangisannya lebih kencang dari sebelumnya, apalagi saat mengingat dia kehilangan anaknya, karena dulu dia kelelahan mencari Selo dan sekarang rasa sakit yang ia rasakan karena hal dulu berkali-kali lipat saat menyadari semuanya, bahwa selama ini Sello menghianati pernikahan mereka.
••••