Tatap Aku, Lelakiku!

Tatap Aku, Lelakiku!
Akhirnya


__ADS_3

"Halo Baby, kau di mana?" tanya Molly ketika Tristan mengangkat panggilannya.


Tristan mengepalkan tangannya ketika Molly memanggilnya seperti itu. Dia mengepalkan tangannya menahan rasa jijik yang luar biasa.


"Aku di apartemen, maaf tadi aku tidak jadi. Ada urusan mendadak," jawab Tristan membuat Molly berdecak kesal.


"Oh ya udah Baby, padahal aku sudah menunggumu. Tapi, bisakah kau kembali lagi? Lagian ini juga masih siang, tidak ada salahnya kau kemari. Besok, Mommy-ku akan pergi, jadi aku rasa kau bisa berkenalan dengan Mommy-ku sekarang," ucap Molly dengan suara yang di halus-haluskan. Rasanya, Tristan ingin membanting handphone saat mendengar molly mengatakan hal seperti ini. 'Memangnya dia siapa? Berani sekali mengaturku,' batin Tristan yang menggerutui Molly. Beruntung, Bella sudah tidur hingga Bella tidak mendengar hal seperti ini.


"Besok saja, oke? Aku bisa berkenalan dengan ibumu dalam waktu dekat," ucapnya. Tiba-Tiba, Tristan terpikirkan sesuatu.


"Tunggu, Mommy-mu mau ke mana?" tanya Tristan, berharap agar bisa mendapat petunjuk tentang ayah Bella.


Molly tampak terdiam di seberang sana dan sinyal otak Tristan menangkap bahwa ada yang disembunyikan oleh Molly, sebab Molly tidak langsung menjawab.


"Oh, Mommy akan pergi ke villa untuk melakukan meeting di sana," kata Molly lagi hingga Tristan mengangguk, walaupun anggukannya tidak terlihat.


"Ya sudah aku tutup panggilannya, kita bertemu besok, Baby," panggil Molly ketika Tristan menjauhkan ponselnya dan akan mematikan panggilannya.


Tristan memejamkan mata kemudian menempelkan lagi ponsel pada telinganya.


"Iya," jawab Tristan.


"Ayo cium aku," ucap Molly. Dia bahkan sudah mencium ponselnya sendiri seolah dia mencium sedang mencium Tristan.


Tristan benar-benar merasa speechless dengan wanita yang sedang meneleponnya. Bagaimana mungkin wanita ini begitu mempunyai percaya diri yang tinggi?


"Halo, halo," panggil Tristanl, dia berpura-pura tidak mendapatkan sinyal dan setelah itu Tristan langsung mematikan panggilannya.


"iuh, menjijikan sekali," ucap Tristan.


Keesokan harinya.


Tristan turun dari mobil kemudian lelaki tampan itu melihat sekelilingnya. Saat ini, dia sedang berada di kampus untuk menjemput Molly, mereka berencana untuk makan siang bersama. Rasanya dia begitu enggan untuk melakukan hal gila seperti ini, tapi dia harus meneruskan semuanya.


Dia ingin urusannya dengan Molly selesai dan ingin Bella menemukan ayahnya dengan cepat dan setelah itu, dia akan terbebas dari Molly. Bella juga sudah sepakat akan menikah ketika urusannya selesai.


“Baby. ...” Tiba-Tiba, terdengar suara Molly memanggil Tristan. Lagi-Lagi, kata-kata menjijikan itu begitu membuat Tristan muak. Namun, Tristan hanya bisa tersenyum canggung.


"Kau sudah selesai!" tanya Tristan yang masih berusaha bersikap lembut, apalagi sekarang Molly menggandeng tangannya.


"Kita makan siang di mana?" tanya Molly, dia bersikap seolah sudah lama menjadi pacar Tristan, tidak ada kecanggungan dalam diri wanita itu. Molly sengaja ingin memamerkan Tristan pada teman-temannya. Dia masih kuliah melanjutkan S2-nya di kampus yang sama tentu saja.


"Jangan seperti ini," ucap Tristan membuat Molly menoleh.


"Kenapa? Kita, 'kan, sudah resmi pacaran," balas Molly yang terdengar menjengkelkan di telinga Tristan.


Lelaki itu pun langsung berjalan ke arah mobil lalu membukakan pintu mobil untuk Molly. Molly merasa terhormat Saat duduk di mobil Tristan, dia langsung mengambil ponselnya kemudian memfoto dirinya sendiri lalu menguploadnya di Instagram membuat Tristan diam-diam berdecak.


Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Tristan sampai di sebuah restoran. "Tunggu sebentar, aku akan pergi ke kamar mandi," ucap Tristan ketika mereka sudah memilih meja hingga Molly mengangguk.


Lalu ketika sudah jauh dari meja yang ditempati Molly l, Tristan mengutak-atik ponselnya menelpon seseorang, dan tak lama muncul seorang lelaki berpakaian pelayan dan Tristan pun langsung menyerahkan satu buah botol kecil yang berisi cairan sejenis alkohol dosis tinggi untuk di campurkan ke minuman Molly dan setelah itu, Tristan kembali ke mejanya.


Tristan melakukan ini agar membuat molly mabuk dan ketika Molly mabuk berat, dia akan memancing Molly untuk berbicara tentang keberadaan Ayah Bella.


Akhirnya, makanan yang dipesan Molly dan Tristan pun sampai. "Kau hanya memesan itu, kau ingin memesan yang lain?" tanya Tristan.


"Tidak, aku hanya ingin ini saja," Jawabnya. Tristan tidak bertanya lagi, dia langsung memakan makanannya dan setelah itu Tristan menyeringai ketika Molly meminum air putih yang sudah diisi cairan yang tadi dia berikan pada pelayan. Hingga Akhirnya, acara makan pun selesai.


Tiba-Tiba, Molla merasa kepalanya memberat. "Tunggu, kenapa kepalaku pusing seperti ini?" tanya Molly dia bahkan tidak fokus menatap Trsitan. Beberapa kali kepalanya hampir terjatuh ke meja. Namun, dia selalu bisa menahan dirinya.


"Molly kau mempunyai riwayat penyakit hipertensi?" tanya Tristan yang berpura-pura bertanya.


"Tidak, aku tidak mempunyai riwayat itu. Toh aku barusan hanya memakan salad dan spaghetti, tidak makan yang daging-daging," jawab Molly lagi. Dia mengacak rambutnya.


Tristan mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Bagaimana jika kita menginap di hotel?" tanya Tristan.


Mendengar Tristan yang menyebutkan tentang hotel, Molly langsung membulatkan matanya. Dia berusaha untuk menguatkan dirinya.


"Ayo kita pergi ke hotel," jawab Molly dengan antusias. Dia pikir Tristan akan melakukan lebih dan itu akan semakin mempermudah jalannya, tapi tentu saja dia salah.


***


"Baby, kepalaku pusing sekali," ucap Molly ketika keluar dari mobil Tristan, dia membopong tubuh Molly.


"Tidak apa-apa, tahan saja. Sebentar lagi kepalamu tidak akan pusing." Tiba-Tiba, Molly menghentikan langkahnya kemudian dia menoleh ke arah Tristan lalu setelah itu dia berusaha mencium pipi Tristan membuat Tristan bergidik.


"Ah, Aku tidak sabar untuk melakukan itu denganmu." Tristan bergidik, mendengar itu saja rasanya begitu menjijikan.


"Hmm, aku juga tidak sabar, ayo kita berjalan," ucap Tristan lagi dan sekarang mereka pun sampai di kamar hotel yang Tristan pilih .


Tristan melongokan kepalanya, Bella sepertinya sudah bersembunyi di kamar mandi dan ketika Tristan melepaskan rangkulannya dari Molly, wanita langsung membuka blazernya.


"Kau mau apa?" tanya Tristan yang berusaha menahan tangan Molly agar Molly tidak membuka pakaiannya.

__ADS_1


"Bukankah kita akan bercinta?" tanyanya lagi sambil tertawa. Dia berusaha menarik kerah jas Tristan, hingga Tristan refleks menghindar.


"Nanti dulu, sebelum kita bercinta aku ingin mengenal lebih jauh denganmu," balas Tristan.


"Oh baiklah," kata Molly hingga Tristan pun langsung merangkul pundak Molly kembali kemudian dia membawa Molly untuk duduk di sofa.


"Kau ingin tahu apa tentangku?" tanya Molly sembari mengacak rambutnya layaknya orang yang sedang mabuk.


"Apa yang kau berikan pada Bella kemarin? Bukankah kau menjanjikan sesuatu pada Bella?" tanya Tristan.


Seketika Molly tertawa. "Dia bodoh, tentu saja aku tidak mengabulkan keinginannya," jawab Bella hingga Tristan mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Memangnya apa yang dia minta?" tanya Tristan lag yang terus memancing Molly


"Dia meminta aku untuk memberitahukan keberadaan ayahnya. Cih, dasar wanita bodoh. Mmangnya aku mau memberitahukan keberadaan ayahnya, bisa-bisa aku dan ibuku yang ditendang jika ayahnya ditemukan," kata Molly tanpa sadar, memberitahukan semuanya.


"Memangnya dia di mana?" tanya Tristan, tiba-tiba Molly langsung menoleh ke arah Tristan. Dia menatap Tristan dengan bingung lalu menunjuk wajah Tristan.


"Kenapa kau ingin tahu?" tanya Molly, "tunggu, apa kau bekerja sama dengan Bella?"


Tristan berusaha tenang walaupun wajahnya sedikit panik.Tristan tertawa.


"Untuk apa juga aku bekerja sama dengan Bella? Emangnya, apa untungnya?" tanya Tristan, seketika Molly tampak berpikir. Bola matanya memutar ke atas.


"Benar juga, untuk apa kau bekerja sama dengan Bella." Wanita itu langsung menegakkan tubuhnya kemudian dia menyerang Tristan membuat mata Tristan membulat karena Molly akan mencium bibirnya.


"Ayo kita lakukan sekarang, aku sudah tidak tahan," jawab Molly membuat Tristan benar-benar tidak mengerti dengan gadis di sampingnya ini. Kenapa wanita ini tidak mempunyai harga diri sekali? Berbeda dengan Bella. Selama dua tahun berpacaran dengan Bella, dia tidak pernah melakukan hal lebih, tapi Molly?


'Oh Ya Tuhan, setelah semuanya selesai tolong lenyapkan saja wanita ini.' Tristan membatin.


"Sebentar, aku ingin mengenal tentangmu lebih dalam," jawab Tristan lagi sambil menjauhkan kepala Molly yang sedang dekat dengan wajahnya.


"Jadi di mana ayah Bella sekarang?" tanya Tristan lagi.


"Dia disembunyikan oleh ibuku di villa keluarga kami yang ada di perbatasan kota.”


"Oh begitu," sahut Tristan.


"Karena dia tidak bisa bergerak, dia stroke dan hanya bisa menggerakkan kepalanya saja."


"Jadi maksudmu, dia tidak bisa bergerak?"


"Itu semua karena ibuku memberikan obat pemati syaraf.”


"Oh, aku juga mempunyai villa di perbatasan. Mau main ke sana nanti?" tanya Tristan. Seketika, Molly langsung menegakkan tubuhnya.


"Apakah jauh dari villamu? Apa nama villamu?" tanya Tristan lagi dan karena Molly benar-benar mabuk, pada akhirnya dia mengatakan semuanya tentang alamat di mana ayah Bella di simpan.


Tristan mengutak-atik ponselnya kemudian lelaki itu langsung menelepon anak buahnya. "Aku akan kirimkan alamatnya, kepung villa itu."


"Tristan, kau menelpon siapa?" tanya Molly bingung.


"Aku berterima kasih karena kau mengatakan di mana ayah Bella.” Tristan menyeringai.


"Maksudmu apa?" Di tengah rasa mabuk yang melandanya, Molly masih bertanya.


"Kenapa kau berterima kasih? Kita, 'kan, belum memulai apapun," jawabnya dengan polos.


Tristan tidak menjawab, dia bangkit dari duduknya lalu setelah itu dia memanggil Bella.


"Hah, kenapa kau ada di sini? Bukankah kau ada di ruang bawah tanah?" tanya Molly. Dia bangkit dari duduknya berniat menghampiri Bella. tapi baru beberapa langkah, Molly langsung terjatuh ke lantai kemudian dia mengaduh kesakitan.


"Oh Tuhan, sebenarnya ada apa dengan kepalaku?"


Bella menekuk kakinya dia menyetarakan dengan Molly. Plak, satu tamparan mendadak di pipi Molly. Bella menampar Molly dengan kencang, sedangkan Tristan langsung membulatkan matanya. Dia tidak percaya bisa melihat sisi Bella yang lain. Sekarang, Bella terlihat sangat berbeda dengan wajah yang memerah serta tangis yang berlinang.


"Kurang ajar! Kenapa Kau menamparku?! Berani sekali Kau Mau kuadukan kau?!" teriak Molly, dia berusaha untuk bangkit dan menegakkan kepalanya. Namun, setiap kali Molly menegakan tubuhnya, setiap itu pula, tamparan mendarat di pipinya. Tidak cukup sampai di sana, Bella juga menjambak rambut Molly kemudian membenturkan kepala Molly ke dinding. Dia berteriak histeris sembari memaki Molly.


Tristan meringis ketika mendengar teriakan Molly, dia sama sekali tidak berniat untuk menghentikan Bella, toh dia tahu pasti sekarang Bella sedang berada titik emosi tertingginya.


Tak lama, ponsel Tristan berdering. Satu panggilan masuk dari anak buahnya yang ternyata sudah berada di tempat ayah Bella berada.


"Bagaimana, apakah kalian sudah sampai di titik lokasi?" tanya Tristan.


"Kami akan masuk sebentar lagi, sepertinya akan ada mobil yang keluar dan kami akan masuk setelahnya."


"Baik, terima kasih." Tristan pun langsung mematikan panggilannya.


Di tengah rasa nyeri yang melanda Molly karena tamparan dan benturan di kepalanya yang dilakukan oleh Bella, Molly masih sempat mengangkat kepalanya kemudian dia menatap Tristan dan Bella secara bergantianm


"Apa kalian bekerja sama?" tanya Molly sambil memegang kepalanya, kali ini dia merasakan rasa nyeri yang luar biasa. Belum lagi bekas alkohol belum hilang dari otaknya, tiba-tiba terdengar suara guncangan yang cukup keras.


Tristan kembali meringis, rupanya Bella menendang tubuh Molly hingga Molly terhuyung ke belakang. Seepertinya Bella masih dilanda emosi hingga pada akhirnya Tristan berbalik kemudian dia pergi ke dapur, berencana mengambil minum untuk Bella.


"Ini Sayang, minum dulu," kata Tristan di tengah Bella yang sedang melakukan aktivitasnya menginjak tubuh Molly.

__ADS_1


Bella mengambil air itu dari tangan Tristan kemudian langsung membuka kaleng, meneguk kaleng soda yang diberikan oleh Tristan lalu meneguknya hingga tandas dan setelah itu dia melemparkan kalengnya.


"Sudah?" tanya Tristan ketika Bella sudah menghentikan aktivitasnya.


"Bisakah kau ikat dia? Jangan biarkan dia kabur?"


"Alu akan mengikatnya." Tristan pun berjalan ke arah ranjang, kemudian dia mengambil tambang, lalu setelah itu dia kembali lagi menghampiri Bella dan Molly ke sofa kemudian dia langsung mengikat tubuh wanita itu, dibantu dengan Bella.


"Sayang apa tidak akan terlalu kencang?" tanya Tristan ketika Bella menarik tambang dengan cukup kencang.


"Biarkan saja, dia harus merasakan rasa sakit seperti yang aku alami."


Tristan tidak menjawab lagi hingga pada akhirnya acara mengikat tubuh Molly pun selesai dan setelah itu, Tristan dan Bella pun keluar dari kamar hotel. Mereka akan pergi ke villa di mana tempat ayah Bella berada.


***


Peni membuka tirai, dia melihat sekelilingnya, memastikan tidak ada orang yang megikutinya. Dia baru saja selesai mengontrol keadaan suaminya dan seperti biasa ketika akan pulamhn dia aka melihat ke sekelilingnya, memastikan tidak ada yang melihatnya masuk atau keluar ke dalam rumah.


"Nyonya." Tiba-Tiba, terdengar suara pelayannya memanggil hingga Peni menoleh.


"Ada apa?" tanya Peni


"Apa Anda ingin pulang sekarang? Jika iya, saya akan menyiapkan semuanya," ucap pelayan tersebut.


"Siapkan saja, aku akan pulang sekarang," kata Peni hingga pelayan itu mengangguk dan setelah itu, Peni pun langsung melihat ke arah ranjang di mana suaminya sedang terbaring lemah di sana.


"Alu akan pulang, jangan lupa kau harus meminum obatmu. Jika kaubtidka mau menelan obatmu. putrimu yang akan menggantikannya. Dia akan minum obat itu sampai dia lumpuh sepertimu," ucap Peni hingga Noel langsung dilanda kepanikan.


"Jika kau tidak mau putrimu minum obat ini, maka jangan pernah melawan jika kau diberi obat. Kau mengerti?" tanyanya, lagi-lagi Noel mengangguk, dia tidak bisa berbuat apa-apa. Ya, biarlah dia mengorbankan dirinya agar Bella baik-baik saja.


Setelah itu, Peni pun keluar dari kamar, wanita itu memutuskan untuk pulang.


Peni keluar dari rumah, wanita itu langsung berjalan ke arah mobilnya. Namun ketika sudah melangkah, Peni menghentikan langkahnya ketika merasakan ada yang memerhatikannya. Namun, dia tidak melihat siapa pun.


"Mungkin hanya perasaanku saja," lirih Peni.


Saat dia akan masuk ke dalam mobil, tiba-tiba ada orang yang menarik tangannya.


"Siapa kalian?!" teriaknya, dia langsung berteriak ketika melihat orang-orang berjas. Rupanya, Tristan yang tadinya menyuruh anak buahnya masuk secara diam-diam, berubah pikiran. Dia menyuruh anak buahnya untuk menahan Feni agar Peni idak kabur.


"Siapa kalian?!" teriak Peni lagi.


"Kami anak buah Tuan Tristan."


"Tristan putra Tuan Darren?" tanya Peni "kenapa dia menyuruh kalian melakukan ini? Aku ini calon mertuanya!" teriak Peni, dia masih berusaha meronta.


"Maaf Nyonya, kami akan menahan Anda sampai Tuan Tristan datang."


Peni membulatkan matanya, sepertinya dia menyadari situasi yang sedang terjadi terlebih lagi selama ini Bella bekerja di cafe Tristan. Tristan sengaja mendekati Molly dan dia juga teringat ketika Tristan menyuruh Molly untuk menepati janjinya pada Bella.


"Lepaskan aku!" teriak Peni


"Maaf, Nyonya, jika Anda tidak ingin terluka, silakan ikuti kami. Jika anda masih melawan, kami akan melukai tubuh anda secara paksa."


Tiba-Tiba peni diam ketika mendengar ancaman itu. Di depannya adalah orang-orang yang kekar, sedangkan dia hanya seorang wanita. Biasanya Peni akan datang ke rumah ini didampingi oleh pengawalnya yang selalu menjaganya, tapi entah kenapa tadi dia ingin pergi sendiri dan dia menyesali keputusannya. Seandainya tadi dia pergi bersama anak buahnya, mungkin dia tidak akan seperti ini.


Pada akhirnya, tubuh oeni melemah hingga anak buah Tristan langsung masuk ke dalam.


"Apa ada kamar kosong di sini?" tanya anak buah Trsitan, hingga Peni mengangguk lalu setelah itu dia menunjukkan sebuah kamar tamu, dia sengaja menunjukkan kamar tamu karena ada jendela hingga dia bisa kabur. Sepertinya posisinya sudah tidak aman, sekarang yang harus dia lakukan adalah kabur dari tempat ini. Rasanya, dia ingin mengumpat putrinya yang begitu bodoh. Seandainya putrinya tidak tertipu oleh Tristan, tentu saja tidak akan seperti ini


Peni tidak punya pilihan apapun, dia harus cepat lari dari sini karena jika Tristan sudah melaporkan pada polisi, maka tamatlah riwayatnya.


Anak buah Tristan langsung membuka kamar kemudian satu anak buahnya masuk lalu memeriksa semua.


"Jangan di kamar ini, ada jendela," ucap anak buah Tristan membuat mata Peni membulat. Sial, rencananya untuk kabur menjadi susah.


Salah satu anak buah Tristan mencari-cari ruangan yang pas untuk mengurung Feni.


"Di kamar mandi saja," ucapnya pada rekannya hingga tubuh Peni kembali ditarik dan setelah itu, Feni dimasukkan kamar mandi. Dua anak buah Tristan menjaga, sedangkan dua lagi langsung menelusuri rumah hingga mereka bertemu dengan seorang pelayan.


"Siapa kalian?" tanya pelayan dengan terkejut.


Anak buah Tristan langsung masuk ke dalam kamar, dan ketika masuk ke dalam kamar, dia melihat sosok pria paruh baya yang sedang terbaring dan dia yakin lelaki ini adalah yang dicari oleh bosnya.


***


Tristan dan Bella turun dari mobil, dan Bella pun langsung berlari tanpa menunggu disusul Tristan yang juga berlari di belakang.


"Tuan, orang yang anda cari ada di dalam.”


Seketika, Bella kembali berlari ke arah dalam kemudian dia membuka pintu dengan keras.


"Ayah!" Bella berteriak histeris ketika melihat lelaki yang selama delapan tahun dia rindukan.


"Ayah! Ayah," panggil Bella ketika berada di ranjang, tangis Bella langung meledak, ketika melihat ayahnya seperti ini.

__ADS_1


Noel menatap putrinya dengan tatapan tak percaya, lelaki paruh baya itu mengerjapkan pandangannya. Dada Bella terasa nyeri saat melihat ayahnya seperti ini, tubuhnya hanya tinggal tulang padahal terakhir kali mereka bertemu, ayahnya masih gagah.


Noel menatap putrinya dengan berlinang air mata, rasanya dia ingin memeluk Bella, tapi, dia sama sekali tidak bisa menggerakkan tubuhnya,. dan tak lama tubuh Bella ambruk menimpa ayahnya lalu memeluknya dengan erat seraya menangis kencang-kencangnya. Seketika, hawa kesedihan langsung terasa di ruangan itu, begitu pun pada Tristan. Dia langsung memalingkan tatapannya karena tak kuasa menahan tangis.


__ADS_2