
Tristan memalingkan tatapannya ke arah lain, karena dia merasa tak kuasa menahan tangisnya saat melihat Bella memeluk ayahnya dan menangis dengan kencang. Ini pemandangan yang sangat mengharukan di mana setelah delapan tahun berlalu, Bella kembali melihat ayahnya. Walaupun didominasi dengan rasa sakit karena ayahnya benar-benar berubah, bahkan tubuh ayah Bella sangat kurus kering, seperti mayat hidup.
Tak lama, Tristan pun langsung merogoh saku kemudian mengutak-atik ponselnya, lalu setelah itu menyuruh pihak rumah sakit mengirimkan ambulans ke rumah ini. Dia harus membawa calon ayah mertuanya ke rumah sakit, untuk pemeriksaan tambahan.
Setelah menelepon rumah sakit, Tristan langsung berjalan ke arah ranjang. Lelaki itu langsung mengelus rambut Bella yang sedang memeluk ayahnya.
Tristan mendudukkan diri di sebelah Bella. Dia meringis saat melihat ayah Bella. Dia pernah melihat foto Noel dan sekarang, dan itu sangat-sangat jauh berbeda.
"Ayahmu sebentar lagi akan dibawa ke rumah sakit, kita periksa keadaannya," ucap Tristan hingga Bella mengangguk dan setelah sekian lama, terdengar suara ambulans dari arah luar hingga Tristan pun bangkit dari duduknya, kemudian memastikan bahwa itu adalah ambulans dan benar saja, itu ambulans yang dia pesan dari rumah sakit.
Beberapa pegawai medis langsung masuk ke dalam rumah sambil membawa tandu, lalu setelah itu anak buah Tristan membuka kamar yang ditempati oleh ayah Bella dan setelah itu, Bella dan Tristan pun langsung mengikuti ke rumah sakit.
***
"Jadi maksud Dokter ...." Bella menatap tak percaya pada dokter, tubuhnya hampir saja limbung saat mendengar ucapan dokter yang mengatakan bahwa ayah Bella sulit untuk disembuhkan, sebab obat pelumpuh saraf yang diberikan pada Noel oleh Peni sudah sangat banyak, dan tentu itu memengaruhi kondisi Noel. Bagaimana tidak, selama delapan tahun, dia selalu memberikan obat tersebut hingga kini Noel sulit untuk disembuhkan.
Tristan yang berada di samping Bella, hanya bisa menguatkan calon istrinya. Dia merangkul pundak istirnya agar istrinya tetap berdiri.
"Tapi, apa bisa disembuhkan, Dok? Maksudku, apa bisa pulih seperti sedia kala?" Kali ini Tristan yang berbicara karena Bella sudah terlalu syok dengan apa yang dia dengar.
"Bisa, tapi kemungkinannya sangat kecil. Kami akan berusaha sebaik mungkin," ucap dokter dan setelah itu, dokter pamit pergi.
Ketika dokter pergi, Bella langsung masuk ke dalam disusul Tristan yang juga ikut masuk.
Bella mendudukkan diri di samping brangkar ayahnya, kemudian dia menggenggam tangan sang ayah. Sementara Noel, hanya mampu menggerakkan matanya. Tangis langsung berlinang dari lelaki paruh baya itu, dia pikir dia tidak akan selamat dari cengkraman Peni. Dia pikir dia tidak akan bertemu Bella lagi, dan dia pikir dia akan mati sia-sia, tapi ternyata Tuhan begitu baik. Akhirnya, dia bisa selamat. Tidak masalah dia tidak sembuh, yang terpenting dia masih bisa melihat Bella.
***
Sementara di sisi lain, Molly terbangun dari tidurnya. Wanita itu merasakan seluruh tubuhnya begitu nyeri. Sepertinya, efek alkohol sudah menghilang dari otak Molly hingga dia bisa berpikir dengan jernih.
Tak lama, Molly tersadar ketika tubuhnya diikat. Sejenak, otak Molly kosong. Dia masih tidak mengingat kejadian sebelumnya hingga pada akhirnya Molly teringat sesuatu.
Mata Molly membulat saat menyadari bahwa sebenarnya dia dimanfaatkan. Dia juga mengingat ketika Bella tadi memukuli tubuhnya. Dia berusaha melepaskan talinya tapi tidak bisa, dan yang terjadi dia malah terjatuh ke lantai berguling-guling di bawah hingga tak lama, Molly kembali berteriak karena kepalanya terasa nyeri.
Setelah beberapa saat berlalu, Molly langsung menggerakkan tubuhnya, berusaha menggapai tasnya. Dia harus menelepon seseorang agar tidak terus terjebak di sini, tapi beberapa kali Molly mencoba berjalan dengan tubuhnya, dia tidak bisa sebab semua tubuhnya diikat hingga pada akhirnya wanita itu kembali ambruk ke lantai.
Molly berteriak sekencang-kencangnya, meminta tolong berharap ada yang menolongnya, tapi sayangnya Molly tidak tahu bahwa kamar hotel yang Tristan pesan adalah kamar hotel yang kedap suara. Belum lagi, Tristan memesan kamar hotel yang di pinggir agar tidak ada yang tahu.
Dua jam kemudian.
Molly rasanya sudah menyerah, dua jam berlalu dia teru berteriak meminta tolong, tidak ada yang menolongnya hingga pada akhirnya wanita itu tak sadarkan diri.
***
"Lepaskan! Kalian mau membawaku ke mana?!" teriak Peni ketika para kepolisian menjemput di rumah yang di tempat Noel selama ini.
Tristan tidak ingin menggunakan kekerasan karena dia yakin masih ada rahasia yang disembunyikan oleh Peni, hingga Tristan menyerahkan ke kantor polisi dan Bella pun sudah setuju. Sekarang, Peni sedang di gelandang untuk sampai di kantor polisi di mana Tristan dan Bella sudah menunggunya. Walaupun berat untuk meninggalkan sang ayah di rumah sakit, tapi Bella ingin melihat bagaimana ibu tirinya diadili.
"Tidak, aku tidak mau masuk. Aku tidak bersalah. Memangnya apa salahnya? Aku hanya merawat suamiku," kata peni pada petugas kepolisian ketika mereka sampai di kantor polisiam
"Apa merawat pasangan adalah hal yang salah, kenapa kalian menghukumku?” Peni masih berusaha berkilah.
“ Nyonya, Anda tidak bisa mengelabui polisi. Anda bukan menjaga, tapi Anda meracuni suami Anda," kata polisi.
__ADS_1
"Tidak, siapa bilang?" tanya Peni dengan panik, dia berusaha melepaskan borgol yang sedang melingkar di tangannya.
"Jangan banyak protes, ayo ikut sebelum Anda kami seret." Polisi pun dengan cepat turun dan Peni pun langsung dibawa untuk masuk ke dalam dan ketika akan masuk, sudah ada Bella dan Tristan yang menunggu di sana.
Emosi Bella tidak bisa terbendung ketika melihat ibu tirinya, dengan cepat Bella pun langsung berlari menuruni anak tangga dan menghampiri ibunya.
"Ah!" tiba-tiba Peni berteriak kala Bella menendang tubuh wanita itu, hingga Peni tersungkur ke belakang.
Tristan terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Bella, begitu pun para polisi. Polisi menghentikan Bella, tapi Bella sudah terlebih dahulu maju kemudian dia menindih tubuh ibu tirinya lalu memukuli wajah Peni secara membabi buta, hingga akhirnya polisi pun memisahkan keduanya.
"Lepas!" teriak Bella. Dia meronta pada polisi karena tidak terima polisi menghentikannya.
"Tenang Nona, tenang. Jangan main hakim sendiri," ucap polisi yang berusaha menahan tubuh Bella.
"Main hakim sendiri katamu? Dia membuat lumpuh ayahku selama delapan tahun ini, apa kau bisa merasakan rasanya menjadi aku?!" Bella malah berteriak di hadapan polisi hingga polisi itu langsung terdiam dan ketika polisi tidak memegangnya lagi, dia langsung kembali menghajar tubuh ibu tirinya.
***
Peni meringis ketika duduk di kursi. Pada akhirnya, tadi polisi berhasil menghentikan Bella dan setelah polisi berhasil menghentikan Bella, Peni meminta polisi untuk mengantarnya ke rumah sakit, tapi polisi tidak menuruti keinginan peni hingga kini peni langsung diinterogasi.
Selama di ruang interogasi, ada Tristan dan Bella. Bella menatap Peni dengan penuh aura permusuhan, sedangkan Peni tidak berani melihat ke arah Bella. Setelah dihajar oleh anak tirinya, dia mendadak ketakutan padahal selama ini dia selalu berhasil mengendalikan anak tirinya, tapi sekarang, dan tak lama terdengar suara gaduh hingga Tristan dan Bella langsung menoleh, begitu pun Peni yang juga ikut menoleh.
Mata Peni membulat saat melihat yang datang ternyata polisi sambil membawa Molly, dan yang lebih membuat wanita terkejut adalah Molly datang dengan kondisi babak belur. Wajah Molly semuanya memerah dan beberapa bagian membengkak.
Setelah keluar dari rumah sakit dan sebelum pergi ke kantor polisi, Tristan menyuruh polisi untuk menjemput Molly agar Molly sekalian dijebloskan ke dalam penjara, karena tentu saja Molly turut ambil alih dalam apa yang terjadi dengan Noel.
"Molly," panggil Peni dia langsung menghampiri putrinya.
"Mommy, tubuhku sakit, kepalaku juga sakit." Suara cempreng khas Molly langsung terdengar, dia bahkan tidak menyadari bahwa Bella dan Tristan sedang menatap ke arahnya.
"Sial, wanita ular kau bilang?" Kali ini, Bella yang berbicara hingga Molly menoleh.
“Aaaa!” Tiba-Tiba, Molly berteriak ketika melihat Bella di depannya. Dia masih teringat bagaimana ketika Bella menghajarnya tadi, hingga pada akhirnya Molly langsung mundur karena terkejut.
"Mau aku hajar lagi kau?!" teriak Bella dengan emosi.
Molly langsung bersembunyi di punggung orang yang tadi menjemputnya.
"Sudah, sudah, jangan diperpanjang. Ayo silakan kita akan mulai investigasi."
Satu bulan kemudian.
Proses hukum begitu melelahkan dan setelah satu bulan berlalu, akhirnya Peni dan Molly dikenakan hukuman penjara selama tiga puluh lima tahun. Apa yang disembunyikan oleh Feni pun sudah kembali ke tangan Bella, hingga kini Bella bisa mendapatkan haknya kembali.
Tapi selama satu bulan dirawat, kondisi Noel belum membaik, bahkan cenderung sama. Namun, bagi mereka tidak apa-apa, yang penting dia sudah bisa menemukan ayahnya dan mengobati ayahnya.
Waktu menunjukkan pukul dua belas siang.
Tristan bangkit duduknya, dia berencana untuk mengajak Bella pergi, apalagi selama sebulan ini, mereka jarang menghabiskan waktu bersama karena Bella lebih sering menemani ayahnya di rumah sakit dan Tristan juga banyak pekerjaan. Barusan, Bella mengatakan bahwa dia ingin makan bersama Tristan. Tentu saja Tristan senang. Dia pun langsung bangkit dari duduknya kemudian menyambar kunci mobil, lalu setelah itu keluar dari ruangannya dan akhirnya, Tristan pun sampai di restoran favorit Bella.
Tristan langsung turun kemudian masuk ke dalam dengan wajah yang berseri-seri, karena jujur dia sangat merindukan kekasihnya.
"Wah, aku merindukanmu sekali. Akhirnya kau bisa ditemui," ucap Tristan ketika sampai di meja yang ditempati oleh Bella.
__ADS_1
"Setiap malam kau juga menemuiku," jawab Bella karena memang setiap malam, Tristan selalu menginap di rumah sakit, menemani Bella.
"Kau sudah memesan, Sayang?" tanya Tristan hingga Bella mengangguk.
"Tristan." Tiba-Tiba, terdengar suara orang dari arah belakang hingga Tristan menoleh, rupanya yang memanggil Tristan adalah Flora yang tak lain anak teman Darren. Bella menoleh ke arah belakang.
"Kau mengenalnya?" tanya Bella. yang menatap Tristan hingga Tristan mengangguk.
"Halo," sapa Flora.
"Hai Flora, oh ya, perkenalkan ini Bella, calon istriku," balas Tristan
Flora langsung menoleh ke arah Bella kemudian dia tersenyum, lalu setelah itu mengulurkan tangannya hingga Bella pun menerima uluran tangan Flora.
"Hai, aku Flora," ucapnya.
"Aku Bella," sahut Bella.
"Apa kalian sedang menunggu pesanan kalian?" tanya Flora hingga Tristan mengangguk.
"Boleh aku bergabung?" tanya lagi.
Baru saja Bella akan mengizinkan, tapi Tristan dengan cepat menjawab, "Maaf Flora, aku ingin makan siang bersama calon istriku, tidak apa-apa, 'kan? Mungkin kita bisa makan bersama lain kali," jawab Tristan hingga Flora mengangguk.
"Baiklah, sampai jumpa," kata Flora.
"Dia tampak akrab denganmu, padahal kau ketika kuliah tidak pernah akrab dengan wanita," kata Bella.
"Kau cemburu, Sayang?" tanya Tristan.
"Tidak, mana mungkin aku cemburu," jawab Bella. Selama ini, Bella tidak pernah memperlihatkan rasa cemburunya padahal dulu Tristan dikejar-kejar oleh wanita dan ketika melihat Bella seperti ini, tentu saja Tristan senang.
"Bilang saja kau cemburu," kata Tristan.
"Iya, aku cemburu. Kau mau apa?" tanya Bella membuat Tristan tertawa.
"Ya bagus, berarti kau mencintaiku," jawabnya membuat Bella berdecak.
"Dia anak teman ayahku, kami tumbuh kecil bersama dalam artian kata ayahnya selalu membawa Flora ketika bermain di rumah, itu sebabnya aku bisa dekat dengan dia tapi tentu saja hanya sebagai teman. Jika aku menyukainya, aku tidak akan mengejarmu," jawab Tristan yang mengerti dengan pikiran Bella, sebelum dia menjawab, makanan yang di pesan pun tiba hingga Tristan dan Bella langsung menyantap makanan mereka.
Enam tahun kemudian.
Waktu berjalan begitu cepat. Tidak terasa, ini sudah enam tahun berlalu, dan enam tahun lalu Tristan dan Bella resmi menikah. Walaupun saat itu ayah Bella dalam tahap perawatan, tapi Tristan tidak mau lagi menunggu dan menunda apapun hingga pada akhirnya mereka pun menikah dan ini sudah enam tahun pernikahan mereka.
Awal pernikahan mereka menjalaninya sangat bahagia. Walaupun sampai enam tahun berlalu belum dikaruniai anak, Tristan dan Bella menjalani hari mereka dengan penuh sukacita.
Namun setelah pernikahan mereka menginjak tahun ketiga, datanglah duka di mana ayah Bella yang masih dalam tahap perawatan harus meninggal dunia. Saat itu, dunia Bella kembali gelap. Dia belum melihat ayahnya pulih, dia belum melihat ayahnya seperti semula, tapi Tuhan malah mencabut nyawa ayahnya, dan setelah kematian ayahnya 3 tahun lalu, Shelby masih terpuruk sampai saat ini.
Waktu menunjukkan pukul sembilan malam.
Tristan menghela napas ketika Bella masih meringkuk dan dia tahu mungkin Bella belum keluar dari kamar, karena Bella masih memakai pakaian yang tadi dipakai. Jujur, Tristan lelah harus meyakinkan Bella bahwa semuanya sudah berlalu dan tidak ada yang harus disesali. Dia juga lelah terus mengatakan pada Bella bahwa hidup harus terus berjalan, karena selama ini, Bella seperti mayat.
Setelah Noel meninggal, tristan selalu menyemangati Bella, memberikan kekuatan agar Bella bangkit, menasihati Bella bahwa hidup akan terus berjalan, tapi yang terjadi Bella malah terus terperangkap dalam lukanya.
__ADS_1
Tapi, Bagi Bella ini sangat menyakitkan. Delapan tahun dia berpisah dengan ayahnya dan kegika dia bertemu dengan ayahnya, ayahnya harus meninggal dan itu membuat Bella terpuruk sampai tiga tahun ini, hingga rasanya Bella malas untuk melanjutkan hidup dan sudah setahun belakangan Tristan menyerah untuk menasehati Bella. Dia seorang suami, ketika dia pulang ke rumah, dia berharap mendapat sambutan. Dia berharap mendapat kehangatan, tapi selama tiga tahun ini, Tristan tidak pernah mendapatkan itu dari Bella.