Tatap Aku, Lelakiku!

Tatap Aku, Lelakiku!
Mengelak


__ADS_3

Mayra melepaskan pelukannya kemudian dia menatap Adrian. "Ayo kita berbelanja sekarang, besok temani aku lagi ke tempat lain," ajaknya.


Adrian mengangguk. "Ayo," ucapnya menyanggupi, walaupun dalam hati menggerutui istrinya, tapi dia tidak bisa melakukan apapun hingga akhirnya dia hanya bisa menuruti Mayra.


***


Akhirnya, Mayra selesai bersiap. Dia langsung menggandeng tangan Adrian lalu mereka pun keluar dari kamar.


"Mommy, Daddy, kalian mau ke mana?" tanya Alice ketika Mayra dan Adrian keluar dari lift.


"Mommy akan berbelanja peralatan bayi. Mau ikut?" tanya Mayra.


Alice menggeleng. "Tidak, aku ingin diam saja di rumah," jawabnya.


Mayra dan Adrian pun mengangguk, kemudian mereka keluar dari rumah lalu setelah itu mereka pun berjalan ke arah mobil. Adrian mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Jujur saja, dia begitu risi ketika Mayra menyandarkan kepalanya di bahu, tapi dia tidak berani untuk menegur Mayra hingga akhirnya dia menyetir dengan kekesalan yang luar biasa.


Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Adrian sampai di sebuah mall. Mayra pun turun disusul oleh Adrian, lalu mereka pun berjalan ke arah dalam.


Setengah jam berlalu, Adrian sepertinya mulai dilanda kekesalan karena Mayra dari tadi hanya berjalan tidak karuan. Dia tidak masuk ke dalam store pakaian bayi.


"Kenapa kau tidak memilih?" tanya Adrian.


Mayra terdiam. "Aku bingung. Kita, 'kan, belum tahu jenis kelamin anak kita apa," jawab Mayra dengan polosnya membuat Adrian mengepalkan tangannya menahan kesal. Namun, dia hanya bisa menghirup oksigen sebanyak-banyaknya guna menetralkan dirinya.


"Ya sudah kita ke sana saja." Adrian menarik lengan Mayra.


Saat masuk, mata Mayra langsung berbinar ketika melihat pakaian-pakaian bayi yang berjajar, padahal tadi tidak ada satu pun yang menarik di matanya. Namun sekarang, rasanya Mayra ingin memborong semua.


Satu jam kemudian.


Adrian menggeleng saat melihat belanjaan Mayra. "Kau membeli sebanyak ini?" tanya Adrian.


"Kenapa?" tanya Mayra, "kau keberatan membayarnya?"


Karena memang, Mayra hampir memborong semua yang ada di toko tersebut.


"Tidak, bukan begitu maksudku. Maksudku, 'kan, masih lama. Jadi ...."


"Ya sudah jika kau tidak mau membayarnya, biar aku saja," ucap Mayra.


"Tidak, bukan begitu maksudku." Adrian dengan cepat bangkit dari duduknya kemudian dia mengambil alih belanjaan milik Mayra, lalu setelah itu dia berjalan ke arah kasir.


"Bagaimana aku membawanya?" tanya Adrian.


"Kita, 'kan, bisa pinjam troli dari sini," kata Mayra lagi.


"Ya sudah tunggu dulu sebentar," ucap Adrian, meninggalkan Mayra dan belanjaannya. Tak lama, dia pun membawa troli lalu memasukkan belanjaan Mayra ke dalam sana.


"Aku ingin membeli tas belanja lagi," ucap Mayra.


"Apa ini masih kurang?" tanya Adrian. Dia hampir saja berteriak di hadapan Mayra, karena rasanya dia benar-benar lelah, padahal Mayra baru mengajak berbelanja selama satu jam.


"Kau tidak mau? Ya sudah jika kau tidak mau. Pulang saja, aku akan belanja sendiri," kata Mayra.


Pada akhirnya, Adrian menggenggam lagi tangan Mayra kemudian dia tersenyum. "Kau mau membeli tas yang mana? Ayo aku temani," katanya lemah lembut.


Mayra kembali mengembangkan senyumnya ketika melihat Adrian bersikap seperti ini, hingga dia pun langsung menarik tangan suaminya, tanpa dia ketahui sebenarnya Adrian ingin mengutuk mati-matian sikap manjanya.


Saat masuk ke dalam store tas, Adrian menunggu di luar karena dia tidak ingin masuk ke dalam, apalagi di dalam begitu penuh dengan orang-orang. Tak lama, Adrian menoleh ketika ada yang memanggil namanya hingga dia pun langsung menegakkan tubuhnya, ternyata Siska yang memanggilnya.


"Halo Dokter Adrian. Tidak menyangka kita bertemu di sini," ucap Siska.


Adrian tersenyum kemudian menerima uluran tangan Siska, mereka pun berbincang-bincang hingga Mayra yang sedang memilih tas, melihat ke arah Adrian dan ternyata Adrian sedang mengobrol bersama wanita lain. Seketika, hawa panas langsung menjalar di dalam diri Mayra. Wanita itu langsung menyimpan tas yang sedang dia pegang kemudian dia langsung menghampiri suaminya.


"Ekhem." Tiba-Tiba Mayra berdeham membuat Adrian menoleh. Sungguh, Adrian benar-benar muak dengan kondisi seperti ini, sudah dipastikan Mayra akan merajuk karena dia mengobrol dengan Siska.


"Halo," ucap Siska yang menyapa Mayra terlebih dahulu hingga Mayra mengangguk.


"Hai," jawab Mayra.


"Kalau begitu aku permisi, Dokter," ucap Siska hingga Adrian pun mengangguk, lalu setelah itu Adrian menoleh ke arah Mayra, berharap Mayra tidak merajuk karena dia tidak ada tenaga untuk membujuk istrinya.


"Aku tidak sengaja bertemu dengannya. Dia yang menyapaku terlebih dahulu," ucap Adrian.


"Oh, ya sudah. Aku akan melanjutkan belanjaku," kata Mayra.

__ADS_1


Adrian menghela napas kemudian mengembuskannya ketika Mayra tidak merajuk. Setidaknya, dia tidak harus menambah beban pikirannya.


Akhirnya, acara belanja pun selesai. Satu troli dipenuhi oleh belanjaan Mayra. Wanita itu benar-benar menguras semua kartu kredit Adrian, walaupun bagi Ardian itu tidak masalah karena dia pun juga orang yang bisa dikatakan cukup kaya.


"Adrian, aku lapar," ucap Mayra.


Sungguh, Adrian benar-benar ingin mengamuk. Saat ini dia ingin sekali membaringkan tubuhnya, karena dia begitu lelah mengikuti Mayra belanja ke sana kemari, tapi sekarang istrinya ingin makan.


"Makan apa, hm?" tanya Adrian, seperti biasa dia berpura-pura ramah.


"Bagaimana jika pergi ke restoran Jepang?" tanya Mayra.


Tak ingin berdebat ataupun berbicara panjang lebar, Adrian pun terpaksa menganggukan kepalanya menyetujui ucapan Mayra, hingga pada akhirnya di sinilah mereka berada, di restoran Jepang yang ada di Rusia. Mayra turun dari mobil diikuti oleh Adrian.


"Kau tidak memesan?" tanya Mayra hingga Adrian menggeleng.


"Tidak, aku masih kenyang," balas Adrian.


"Oh, ya sudah," kata Mayra yang memesan banyak sekali makanan membuat Adrian menggeleng, dan mereka pun langsung masuk ke dalam VIP room.


Setengah jam kemudian, pintu terbuka. Makanan pun datang, dan mata Adrian membulat saat melihat pelayan yang membawa makanan begitu banyak padahal Mayra hanya makan seorang diri.


"Mayra, kau memesan sebanyak ini?" tanya Adrian, dia menatap Mayra dengan tatapan tak percaya.


"Ini, 'kan, keinginan anakmu," jawab Mayra dengan santai.


"Lalu jika tidak habis, siapa yang akan menghabiskannya?" tanya Adrian.


"Kaulah. Memangnya siapa lagi?" jawab Mayra.


Rasanya, kekesalan Adrian begitu berapi-api pada istrinya. Hari ini Mayra benar-benar membuat kesabarannya habis.


"Mayra, bukankah sudah kubilang aku sudah kenyang?" tanya Adrian, nadanya mulai naik satu oktaf hingga Mayra menatap Adrian dengan sendu.


"Maafkan aku," jawab Mayra sambil menunduk hingga Adrian tersadar. Lagi-Lagi, dia harus bersandiwara.


"Tidak, aku yang minta maaf. Baik, aku akan menghabiskannya," bujuk Adrian.


Kali ini, Mayra menegakkan tubuhnya kemudian tersenyum, lalu dia mulai memakan makanannya dan tentu saja Mayra hanya mencicipi satu persatu makanan itu, dan pada akhirnya makanan itu berakhir di perut Adrian.


"Sudah, ayo kita pulang," ajak Adrian hingga Mayra mengangguk.


Adrian bangkit dari duduknya kemudian dia mengulurkan tangannya pada Mayra. Mereka pun keluar dari restoran tersebut


Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Adrian sampai di rumah mereka. Mayra pun dengan pelan turun disusul Adrian di belakangnya.


"Belanjaannya," ucap Mayra ketika Adrian melenggang tanpa membawa apapun.


"Biar nanti pelayan yang membawakannya. Aku lelah," katanya lagi hingga Mayra pun mengangguk, lalu setelah itu Mayra menggandeng tangan Adrian. Adrian memejamkan matanya. Rasanya, dia ingin menarik tangannya dari tangan Mayra.


"Aku akan pergi ke kamar Alice erlebih dahulu. Kau pergi duluan ke kamar," kata Mayra hingga Adrian pun mengangguk. Lelaki itu langsung berjalan ke arah kamarnya, sedangkan Mayra ke kamar Alice.


"Alice," panggil Mayra ketika dia berada di depan kamar putrinya.


Alice yang sedang menonton televisi menoleh. "Apa sudah selesai? Mana barang-barang Mommy?" tanya Alice. Dia tampak antusias.


Mayra terkekeh. "Masih di mobil, nanti akan dibawakan oleh pelayan. Kau sudah makan?" tanya Mayra hingga Alice mengangguk.


"Sudah Mommy," jawabnya.


"Mommy, satu minggu lagi akan ada pameran tapi di luar kota. Apa aku boleh pergi ke pameran? Pameran di sekolahku semua orang tua murid juga ke sana, tapi jika Mommy tidak bisa karena mengandung, tidak apa-apa," ucap Alice.


"Tentu. Jika di luar kota mungkin masih bisa ikut," ucap Mayra sembari tersenyum, "ya sudah kalau begitu, Mommy pergi ke kamar." Mayra pun berbalik, kemudian keluar dari kamar Alice dan berjalan ke kamarnya.


Mayra masuk ke dalam kamar dan ternyata saat dia masuk, Adrian sedang berbaring. Rupanya tadi setelah masuk ke dalam kamar, Adrian langsung mengganti pakaiannya kemudian lelaki tampan itu langsung membaringkan tubuhnya di ranjang, karena dia merasakan rasa lelah yang luar biasa.


Mayra mendudukkan dirinya di samping Adrian kemudian dia mengelus rambut lelaki tampan itu. "Terima kasih kau sudah berubah," ucap Mayra, tanpa dia sadari mungkin suatu saat dia akan menarik kata terima kasih itu dan menggantinya dengan kata umpatan.


Mayra pun bangkit dari duduknya kemudian wanita cantik itu langsung mengganti pakaiannya. Dia membuka lemari kemudian dia mengambil pakaiannya.


Saat dia sudah mengganti pakaian, dia melupakan sesuatu. Dia pun membuka lemari Adrian, berniat untuk menyiapkan pakaian suaminya yang akan dibawa ke Korea lusa.


Mayra memilih satu persatu pakaian suaminya, dan ketika akan menutup lemari, Mayra mengerutkan keningnya kala melihat sebuah kotak. Selama menikah dengan Adrian, Mayra tidak pernah membuka lemari pribadi lelaki itu. Dia tidak pernah meneliti apapun tentang Adrian, tapi entah kenapa dia mendadak penasaran dengan kotak tersebut.


Mayra menggigit bibirnya, rasa penasaran begitu meronta-ronta. "Bukankah tidak masalah jika aku melihatnya?" tanya Mayra, bermonolog. Dia pun meyakinkan dirinya bahwa tidak masalah untuk melihat kotak itu, hingga pada akhirnya wanita itu menggerakkan tangannya menggapai kotak tersebut.

__ADS_1


Saat membuka kotak tersebut, ternyata itu hanya foto-foto Adrian ketika Adrian muda. Mayra mengambil satu persatu foto itu, lalu melihatnya. Ternyata, sedari remaja memang Adrian sudah tampan.


Setelah puas menatap foto Adrian muda, Mayra kembali menyimpan kotak tersebut di dalam lemari. Setelah itu wanita cantik itu pun langsung mengambil koper, lalu menyiapkan beberapa kebutuhan Adrian.


Setengah jam berlalu, aktivitas Mayra pun selesai. Wanita cantik itu memutuskan untuk keluar, dan setelah itu dia berjalan ke arah ranjang lalu berbaring di samping Adrian dan memeluk Adrian dari belakang.


Dua hari kemudian.


Hari yang dinanti Ardian pun tiba, di mana dia akan pergi meninggalkan rumah, dan otomatis dia juga akan terbebas dari masalah tentang Mayra. Dia akan terbebas dari tingkah Mayra yang menyebalkan.


Adrian melihat jam di pergelangan tangannya, ternyata waktu sudah menunjukkan siang hari dan pesawat Adrian akan berangkat dua jam lagi, dan sekarang dia pun memutuskan untuk pergi.


"Aku ingin mengantarmu ke bandara," ucap Mayra yang masuk ke dalam kamar Adrian. Adrian yang baru saja akan keluar dan membuka pintu, menghentikan gerakannya ketika Mayra masuk ke dalam. Dia tersenyum lalu mengelus rambut Mayra.


"Aku akan pergi dengan taksi saja. Kau juga tidak enak badan, 'kan?" tanya Adrian, karena semalam Mayra mengeluh tidak enak badan.


"Tapi aku ingin mengantarmu." Mayra tampak kukuh, hingga Adrian maju ke arah istrinya kemudian dia membelai rambutnya.


"Sebulan lagi juga kita pasti bertemu. Waktuku pasti untukmu," ucap Adrian hingga Mayra pun mengangguk dengan cemberut, lalu dia pun melepaskan pelukannya.


Adrian pun keluar dari kamar sambil merangkul pundak Mayra, dan mereka pun berjalan ke arah lift untuk turun, sebab koper Adrian sudah menunggu di bawah. Saat ditinggalkan kali ini, Mayra merasa berat. Entah kenapa feeling-nya mengatakan akan ada yang terjadi, tapi Mayra menyamarkannya dengan perasaan bahwa selama ini dia sudah terbiasa dengan kehadiran Adrian.


Sebelum masuk ke dalam mobil, Adrian kembali menoleh ke arah Mayra, lalu setelah itu dia memeluk istrinya. "Jangan lupa minum vitaminmu, kau tidak boleh makan pedas," ucap Adrian hingga Mayra mengangguk.


"Kau juga ingat pesanku. Tidak boleh mengabaikan panggilanku, kau harus selalu mengirimkanku kabar," ucap Mayra. Adrian pun mengangguk kemudian lelaki tampan itu langsung masuk ke dalam mobil, lalu melambaikan tangannya pada Mayra dan setelah itu mobil pun mulai melaju hingga Mayra hanya bisa menatap kepergian suaminya.


Saat mobil Adrian tidak terlihat, Mayra memegang dadanya yang terasa nyeri. Wanita cantik itu benar-benar merasa aneh dengan perasaannya sendiri. Tidak biasanya dia berpikir seperti ini.


Mayra menggelengkan kepalanya, kemudian wanita itu pun berbalik lalu setelah itu dia masuk ke dalam rumah.


***


"Tuan, apa kita akan ke tempat biasa?" tanya Fabio yang tak lain sopir Adrian yang mengetahui bahwa Adrian tidak pergi ke Korea, melainkan ke luar kota.


"Pergi ke tempat biasa," balas Adrian.


Adrian menyadarkan tubuhnya ke belakang. Rasanya, dia begitu lega tidak harus berurusan lagi dengan wanita itu. Akhirnya, dia bisa tidur nyenyak tanpa drama apapun. Adrian mengutak-atik ponselnya, menyalakan lagu, lalu setelah itu dia pun memejamkan matanya karena perjalanan masih sangat jauh.


***


Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Adrian sampai di kota tempat tujuannya. Seperti biasa, sopir mengantarkannya ke apartemen.


"Kau bisa menginap di hotel, dan kau bisa kembali besok," ucap Adrian pada sopir yang mengantarnya, hingga sopir itu pun mengangguk, lalu setelah itu dia pun langsung keluar dari mobil dan berjalan ke unit apartemen miliknya tanpa membawa koper yang sudah disiapkan oleh Mayra, karena tentu saja dia tidak membutuhkan itu.


Adrian masuk ke dalam apartemen. Dia menghirup udara apartemennya yang sangat menyenangkan. Terdengar sepi sunyi dan bisa membuatnya tenang. Adrian langsung pergi ke dapur, kemudian lelaki itu membuka kulkas lalu setelah itu dia mengambil soda dan berbalik lalu duduk di sofa.


Adrian menyandarkan tubuhnya ke belakang. Tak lama, ponsel Adrian berdering. Satu panggilan masuk dari Kevin yang tak lain teman yang juga menjadi dokter di rumah sakit yang sama, dan kebetulan tower apartemen mereka pun sama. Kevin ada di lantai atas sedangkan Adrian ada di lantai bawah.


"Ada apa?" tanya Adrian.


"Kau di apartemen? Jika kau di apartemen, aku akan datang ke apartemenmu," ucap Kevin yang kebetulan ada di tower apartemen yang sama.


"Aku di sini, datang saja," katanya mempersilakan walaupun lelah, karena Adrian tidak mungkin menolak Kevin.


Sepuluh menit kemudian, bel berbunyi hingga Adrian pun langsung bangkit dari duduknya kemudian membuka pintu. "Akhirnya, kau kembali lagi ke sini," ucap Kevin ketika masuk ke dalam membuat Adrian menggeleng.


Kevin mendudukkan dirinya di sofa, sedangkan Adrian langsung pergi ke dapur untuk mengambil minum. Adrian melemparkan soda ke arah Kevin hingga Kevin membukanya.


"Kau ini, bagaimana mungkin meninggalkan tugasmu begitu lama?" tanya Kevin.


"Ah, kau tahu bukan istriku itu menyebalkan? Gara-Gara dia aku harus bersandiwara agar dia tidak menceraikanku," balas Adrian yang mengumpati Mayra di hadapan Kevin.


Kevin yang sedang minum langsung tersedak saat mendengar ucapan Adrian. "Aku pikir kau akan menyetujui ucapannya untuk bercerai karena kau tidak ingin menikah dengannya. Lalu, kenapa kau mempertahankannya?" tanya Kevin.


"Seandainya putriku tidak menyanyanginya, aku juga tidak ingin terus mempertahankan pernikahan seperti ini," ucap Adrian. Tanpa Adrian sadari, mungkin suatu saat Ardian akan menyesali ucapannya saat ini.


Kevin menggeleng. "Adrian, kau ini sudah dewasa. Walaupun kau menikahi istrimu demi anakmu, tapi setidaknya bukalah hati untuknya. Ini sudah lima tahun kau menikah dan kau masih tetap seperti ini," ucap Kevin.


Adrian menyadarkan tubuhnya ke belakang. "Kau benar, terkadang aku lelah tapi aku juga tidak bisa membuka hatiku. Putriku bahkan terang-terangan akan lebih memilih dia daripada aku, jadi aku rasa mungkin aku akan membuka hatiku jika waktunya sudah tepat. Siapa tahu dengan aku berpura-pura bersikap baik, aku akan terbiasa dengan kehadirannya," jawab Adrian seraya meminum soda.


"Lalu, kau masih tetap berbohong bahwa kau pergi ke Korea bukan ke rumah sakit ini?" tanya Kevin hingga Adrian mengangguk.


"Aku izin padanya sebulan, tapi setelah sebulan di sini, aku akan mencari alasan lagi agar tetap di sini," katanya jujur.


Kevin menggeleng. "Aku harap kau tidak menyesali keputusanmu," katanya memperingatkan.

__ADS_1


__ADS_2