Tatap Aku, Lelakiku!

Tatap Aku, Lelakiku!
Tidak mempean


__ADS_3

Mayra tetap dengan keputusannya. Dia ingin tetap bercerai. Dia tidak akan lagi termakan oleh janji manis Adrian. Wanita itu sudah tidak mau mendengarkan apapun, sekali pun Adrian bermulut manis. Dia tidak ingin merasakan rasa sakit yang kedua kalinya, dia tidak ingin menyia-nyiakan lagi hidupnya.


Tidak masalah jika dia harus terus berpura-pura di hadapan Alice, yang terpenting statusnya jelas bahwa dia adalah seorang janda, daripada menikah tapi statusnya digantung.


Adrian yang sedang berlutut, langsung bangkit dari berlututnya kemudian dia menegakkan tubuhnya, lalu setelah itu dia mendudukkan diri kembali di posisinya lalu dia menatap Mayra. Sepertinya, tidak ada gunanya untuk terus meyakinkan Mayra, jadi Adrian memakai cara lain, cara yang mungkin bisa ampuh.


"Aku minta maaf Mayra, aku sadar aku benar-benar egois. Aku akan melakukan apapun yang kau mau, termasuk tetap diam di sini dan tidak kembali lagi ke Korea, asal kau tidak meninggalkanku dan Alice. Aku sadar aku terlalu egois, terlalu mementingkan diriku sendiri, dan aku berjanji mulai saat ini aku akan menjadi apapun yang kau mau," ucap Adrian. Rasanya, Adrian ingin mengamuk ketika dia mengatakan hal yang tidak sesuai dengan hatinya.


Mayra tertawa. "Sudahlah, Adrian. Jangan bersandiwara. Sudah kubilang jangan khawatirkan Alice. Aku akan tetap tinggal di sini, berpura-pura menjadi istrimu. Jadi, tidak ada yang harus dikhawatirkan, bukan?" tanya Mayra. Itu sangat sederhana, tapi tidak bagi Adrian. Dia tidak ingin bercerai dari Mayra, karena tidak ingin melihat lagi luka di mata Alice, sebab cepat atau lambat, pasti Alice akan tahu tentang perceraian mereka.


"Tidak Adrian, keputusanku sudah bulat. Aku tidak ingin menunda apapun lagi. Aku ingin bebas menjalani hariku dengan status yang jelas. Kau pikir menjadi aku mudah? Bertahun-tahun mengharapkanmu berubah. Aku mungkin bodoh karena bertahan denganmu, dan aku tidak mau mengulangi kebodohanku lagi. Aku bisa bahagia dengan caraku dan dengan statusku yang baru. Jangan juga membohongi dirimu sendiri, Adrian. Karena kita memang tidak akan pernah bisa untuk bersatu," kata Mayra lagi.


Pada akhirnya, Mayra pun bangkit dari duduknya, berniat untuk menyelesaikan pekerjaannya membuat Adrian mengusap wajah kasar. Sepertinya, keputusan Mayra sudah bulat dan kini harusnya dia yang mengambil langkah. Adrian pun langsung bangkit dari duduknya, kemudian lelaki itu langsung berjalan ke arah Mayra. Lalu setelah itu, dia menggendong tubuh Mayra dari belakang membuat Mayra menjerit.


"Apa yang kau lakukan?!" teriak Mayra dengan kencang.


Adrian menyeringai. "Aku tidak akan pernah melepaskanmu. Kau milikku," ucap Adrian terdengar gentle, tapi hanya kamuflase dan sedetik kemudian, Mayra sudah berbaring di ranjang, lalu setelah itu Adrian langsung menindih tubuh Mayra.


"Adrian, apa yang kau lakukan? Minggir!" Mayra meronta, dia menendang-nendang tubuh Adrian. Dia juga memukuli dada Adrian agar Adrian menyingkir, tapi bukannya menyingkir, Adrian malah membuka kaosnya hingga kini lelaki itu bertelanjang dada menampilkan tubuhnya yang atletis, membuat Mayra meneguk saliva.


Lalu setelah itu, Adrian langsung mengambil tangan Mayra kemudian menyimpannya di atas, dan mencekal lengan Mayra agar tidak bergerak.


"Adrian, minggir. Apa yang kau lakukan?! Kau pikir ini lucu?" Mayra berteriak, tapi Adrian dengan cepat membungkam mulut Mayra dengan mulutnya hingga pada akhirnya Adrian pun menggoda bibir istrinya untuk ikut bergerak


Mayra yang tadinya meronta, merasa lelah hingga akhirnya dia diam, tidak membalas ataupun menerima ciuman dari Adrian. Tentu saja Adrian tidak menyerah, lelaki itu kembali menjambah tubuh Mayra yang lain hingga Mayra bereaksi dan pada akhirnya daerah berkobar hebat di tubuh mereka Mayra yang awalnya menolak ternyata terlena dengan sentuhan Adrian hingga pada akhirnya keduanya menanggalkan pakaian mereka masing-masing Adrian bercinta begitu hebat membuat Mayra berteriak hingga maira mencapai titik lelahnya karena Adrian bukan melakukan sekali melainkan berkali-kali.


Pada akhirnya, Mayra pun tumbang dipelukan Adrian. Adrian yang baru saja menetralkan napasnya, melihat ke arah Mayra sedang bergulung nyaman di pelukannya seraya memejamkan mata. Sepertinya, Mayra benar-benar kelelahan. Adrian tersenyum ketika melihat wanita itu.


"Kau tidak akan pernah pergi Mayra. Akan kupastikan itu," ucap Adrian. Dia tetap kembali pada rencananya, mungkin dia akan sedikit melunturkan sikap dinginnya pada Mayra agar dia tidak pernah berniat pergi lagi dari sisinya.


Adrian melepaskan pelukannya dari Mayra, kemudian lelaki itu pun langsung turun dari ranjang lalu setelah itu memakai pakaiannya dan berjalan ke arah kamar mandi.


Satu jam berlalu, Mayra mengerjap kemudian dia membuka matanya. Dia meringis karena seluruh tubuhnya terasa nyeri, bagaimana tidak Adrian benar-benar melakukannya dengan gila.


Sepersekian detik, Mayra tidak mengingat apapun yang terjadi, tapi kilasan-kilasan yang terjadi antara dia dan Adrian menubruk otaknya.


"Ah." Mayra berteriak kecil ketika mengingat hal itu.


"Sial! Apa yang kau lakukan, Mayra? Bagaimana mungkin terjebak lagi dengannya," ucap Mayra. Dia memukul-mukul kepalanya, mengutuk kebodohannya.


"Tidak, tidak ada masalah dengan ini. Aku tetap bisa bercerai dengannya," lirih Mayra. Seketika itu juga, Mayra berniat bangkit, tapi tak lama dia meringis ketika kakinya terasa nyeri dan sedetik kemudian, pintu terbuka hingga Mayra melihat ke arah pintu. Ternyata, Adrian datang sambil membawa air putih untuk Mayra.


"Kau sudah bangun rupanya," ucap Adrian membuat Mayra berdecih. Dia bahkan enggan melihat ke arah suaminyq.


"Ini minum dulu," kata Adrian ketika laki itu sudah sampai dekat di ranjang, lalu Adrian menyerahkan gelas berisi air pada istrinya.


Mayra menerima air gelas itu dengan kasar hingga air yang ada di gelas tersebut hampir tumpah ke ranjang, kemudian dia langsung turun dari ranjang lalu setelah itu memungut pakaiannya dan berjalan ke arah kamar mandi.


Mayra menyalakan keran air untuk mengisi bath-up, dia ingin berendam guna menetralkan rasa kesalnya. Setelah air di bath-up penuh, Mayra langsung masuk ke dalam kemudian dia berendam lalu setelah itu dia menyandarkan tubuhnya ke belakang, memejamkan matanya menikmati wangi sabun yang dia pakai.


Tak lama, Mayra membuka mata ketika mendengar suara pintu terbuka. Mata Mayra membulat saat melihat siapa yang masuk, siapa lagi jika bukan suaminya.


"Adrian," ucap Mayra dengan tidak terima. Dia menatap Adrian dengan marah.


"Memangnya, apalagi? Tentu saja mandi bersama istriku." Adrian langsung melepaskan handuk kimono yang dia pakai, kemudian dia langsung berjalan ke arah bath-up berniat bergabung dengan Mayra.


Mayra langsung memanjangkan tangan dan kakinya agar Adrian tidak masuk ke dalam, tapi tentu saja Adrian yang tidak hilang akal, dia bahkan sedikit mengangkat tubuh Mayra lalu setelah itu dia langsung bergabung di bath-up hingga kini Adrian duduk di belakang tubuh Mayra, membuat mata Mayra membulat. Baru saja Mayra akan bangkit, Adrian sudah memeluk pinggang istrinya membuat tubuh Mayra menegang.


"Kau mau ke mana, Sayang?" tanya Adrian, tiba-tiba dia merasa asing ketika harus memanggil Mayra 'sayang', tapi dia harus melakukan ini.


Mayra berdecak kesal saat mendengar panggilan Adrian padanya. "Adrian, kau membuatku merinding," ucap Mayra yang dengan cepat melepaskan tangan Adrian dari pinggangnya, tapi lagi-lagi Adrian tidak membiarkan itu terjadi. Dia tidak akan membiarkan Mayra keluar dari kamar mandi. Saat ini, Adrian benar-benar harus membujuk ekstra keras Mayra agar Mayra luluh, tidak memikirkan lagi perceraian.

__ADS_1


"Adrian!" teriak Mayra, tapi Adryan tidak menggubris peringatan istrinya. Dia malah memeluk Mayra semakin erat, menyimpan kepalanya di bahu istrinya dan tentu saja tangannya tidak diam. Satu tangannya menelisik ke milik istrinya satu tangannya lagi bermain di dada Mayra hingga Mayra tanpa sadar melengkung dan sepertinya maira kembali lagi terbakar oleh sentuhan Adrian hingga pada akhirnya wanita itu tidak meronta dan tetap diam di tempat membuat Adrian bersorak kegirangan. Setelah tangannya menggoda ke sana kemari, Mayra pun berhasil ditaklukan hingga pada akhirnya keduanya mengulang lagi hal yang tadi mereka lakukan


Mayra menjatuhkan kepalanya di bahu Adrian. Napasnya masih terengah-engah, begitu pun dengan Adrian. Lalu setelah itu, Adrian mengelus punggung Mayra dengan tangan yang dibaluri oleh sabun.


Mayra memejamkan matanya. Sial, lagi-lagi dia tergoda oleh sentuhan Adrian, hingga pada akhirnya dia bangkit dari pangkuan suaminya lalu setelah itu dia keluar dari bath-up. Namun, tentu saja Adrian tidak membiarkannya. Dia menarik lagi tangan Mayra hingga Mayra terjatuh di pangkuannya.


"Adrian minggir, aku harus membersihkan diriku terlebih dahulu," kata Mayra.


"Kau tidak bisa kabur, Sayang," ucap Adrian.


"Adrian berhenti memanggilku dengan kata-kata yang menjijikan. Karena di telingaku kata-kata itu begitu menjijikan," ucap Mayra.


"Aku tidak peduli, pokoknya aku akan membuktikan semuanya padamu bahwa aku bisa berubah," jawab Adrian.


"Tetap saja. Memangnya, siapa juga yang peduli?" Mayra langsung melepaskan tangan Adrian yang sedang memegang tangannya, kemudian dia turun dari bath-up, kemudian dia membersihkan dirinya, sedangkan Adrian terus menatap Mayra yang berjalan ke arah kucuran shower.


Sepuluh menit kemudian, Mayra mematikan kucuran shower dan ketika dia akan mengambil handuk, tiba-tiba tangannya dipeluk lagi oleh Adrian hingga Mayra benar-benar kesal. Tidak, dia tidak ingin tergoda lagi dengan sentuhan lelaki itu. Mayra pun langsung mendorong tubuh Adrian dan setelah itu dia keluar dari kamar mandi, membuat Adrian mengangkat bahunya tak acuh.


'Jika bukan karena Alice, aku tidak mau melakukan hal seperti ini.' Adrian membatin walaupun dia sendiri terlena dengan tubuh Mayra. Tanpa Adrian sadari, mungkin nanti dialah yang akan mengejar-ngejar istrinya. Dia yang akan tergila-gila dengan Mayra.


Mayra berjalan ke arah walk-in closet, kemudian dia mengganti pakaiannya lalu setelah itu dia memoles make-up tipis. Hari ini, dia berencana untuk pergi berbelanja bersama Bianca, sebab hari ini dia sengaja tidak pergi bekerja, karena dia ingin berbelanja, memanjakan dirinya. Toh, Alice juga sedang pergi sekolah.


"Kau mau ke mana?" Tiba-Tiba terdengar suara Adrian dari arah belakang. Rupanya, lelaki itu baru saja keluar dari kamar mandi.


"Bukan urusanmu," kata Mayra.


"Oh tentu itu menjadi urusanku," jawabnya.


Enggan direcoki oleh Adrian, dengan segera Mayra keluar dari kamar sedangkan Adrian langsung mengganti pakaiannya, berencana membuntuti Mayra. Sekarang, yang terpenting dia terus memepet wanita itu agar wanita itu tetap tinggal dengannya, dan tidak berpikiran untuk bercerai lagi.


***


"Kau ini lama sekali," gerutu Bianca.


"Aku telat lima menit, bagaimana itu disebut lama?" tanya Maira lagi sambil menarik kursi, kemudian mendudukkan diri di seberang Bianca.


"Fatimah bersama siapa?" tanya Mayra.


"Dia sedang bersama Selo.' anak dan ayah itu membuatku pusing. Mereka selalu saja bersatu melawanku," kata Bianca lagi dengan kesal membuat Mayra tertawa.


"Kau pasti cemburu pada anakmu," ucapnya.


"Memang, kau tidak pernah cemburu pada anak tirimu?" Kali ini, Bianca mengembalikan ucapan Mayra hingga Mayra terdiam tidak lagi berbicara.


"Bukan, bukan begitu maksudku," jawab Mayra, "mana mungkin aku cemburu pada Alice."


"Hm, setelah berbelanja, bagaimana jika kita pergi ke salon langgananku?" tawar Bianca.


"Itu ide bagus, tubuhku juga remuk," jawab Mayra.


"Tunggu." Tiba-Tiba Bianca menghentikan ucapannya ketika melihat tanda merah di leher wanita itu.


"Apa Adrian ada di Rusia?" tanya Bianca membuat Mayra mengerutkan keningnya.


"Kenapa kau bertanya tentang dia?" tanya Mayra lagi.


"Tidak apa-apa," jawabnya.


Tak lama, Mayra tersadar ketika melihat arah pandangan Bianca dan sekarang Mayra mengerti dengan maksud Bianca.


"Jangan melihat aku seperti itu," kata Mayra ketika Bianca terus menatapnya membuat tawa Bianca meledak, dan pada akhirnya mereka pun memesan makanan.

__ADS_1


"Aku akan ke Indonesia, kau mau ikut?" tanya Bianca ketika mereka sedang mengunyah makanan mereka masing-masing.


"Entahlah, aku banyak sekali pekerjaan," ucap Mayra, padahal dia sedang mengurus perceraiannya bersama Adrian.


"Ya sudah kalau begitu," jawab Bianca.


Pada akhirnya, acara makan mereka pun selesai. Bianca pergi ke kasir untuk membayar, sedangkan Mayra menunggu di depan restoran. Saat Mayra menunggu di depan restoran, tanpa sengaja dari seberang dia melihat Tommy sedang menggandeng seorang wanita yang Mayra tahu itu adalah calon istri dari lelaki itu. Sepertinya, Tommy sudah berdamai dengan dirinya sendiri dan menerima wanita yang dijodohkan dengannya, karena Mayra juga melihat beberapa unggahan di Instagram Tommy.


"Ayo," kata Bianca yang baru saja keluar dari restoran, hingga mereka pun memulai belanja.


"Kau mau beli apa? Ke mana?" tanya Mayra.


"Kita beli sepatu dulu. Sepatuku dicoret-coret oleh Fatimah. Anak itu tidak tahu bahwa sepatuku mahal," ucap Bianca.


"Suamimu kaya, kau tinggal membeli lagi. Apa susahnya?" tanya Mayra.


"Kau ini sama saja ya dengan Selo dan juga Fatimah, menyebalkan," gerutu Bianca.


Bianca dan Mayra pun masuk ke dalam store sepatu, hingga tak lama Mayra langsung tertarik dengan sepatu yang terpampang di sebelah kanan. Dia pun langsung berjalan mengambilnya, tapi baru saja dia akan menarik sepatu itu, sepatu itu sudah terlebih dahulu ditarik oleh orang lain.


"Maaf itu punyaku," kata Mayra.


"Aku yang lebih dulu mengambilnya."


"Tapi aku yang lebih dulu melihatnya," ucap Mayra lagi.


"Maaf Nona, itu punya istriku. Tolong kembalikan padanya." Tiba-Tiba, terdengar suara Adrian dari arah belakang hingga Mayra menoleh. Dia mendengkus ketika Adrian ada di belakangnya.


"Tidak usah, untukmu saja Nona," ucap Mayra, dia memutuskan untuk memberikan sepatunya pada wanita itu. Setelah itu, dia langsung berbalik meninggalkan Adrian membuat Adrian menggeleng seraya menghela napas. Sungguh, jika bukan karena Alice, dia tidak sudi melakukan hal seperti ini pada Mayra.


"Adrian, kau di sini," ucap Bianca yang tiba-tiba melihat Adrian.


"Halo, Bi," sapanya.


"Kenapa kau menyusul kemari? Aku akan menghabiskan waktu bersama Mayra," kata Bianca lagi sambil terkekeh.


"Silakan saja, aku akan mengikuti dari belakang," ucap Adrian.


"Ayo Bianca, tidak usah pedulikan dia." Mayra pun menarik tangan Bianca untuk keluar dari store sepatu, karena dia dan Bianca tidak menemukan yang pas.


Sepanjang berbelanja, Adrian terus mengekor di belakang tubuh Bianca dan Mayra, hingga tercetus ide di benak Mayra, yaitu menyuruh Adrian untuk membawakan belanjaannya hingga sekarang tangan Adrian begitu penuh dengan belanjaan Mayra.


Tak cukup sampai di situ, dia juga menyuruh Adrian membayar belanjaannya. Hari ini, dia ingin menghabiskan seluruh uang Adrian. Itu terbukti dengan belanjaan yang ada di tangan Adrian yang sangat banyak, dan tentu saja harga yang dibeli Mayra tidak murah.


Akhirnya, acara berbelanja pun selesai. Bianca sudah dijemput oleh Selo, sedangkan Mayra dan Adrian sedang berjalan ke arah basement.


Saat berada di belakang tubuh Adrian, Mayra menatap punggung Adrian lekat-lekat, lalu tak lama tatapannya teralih pada tangan Adrian yang memegang banyak belanjaannya. Melihat ini, Mayra luluh. Namun ... tidak. Dia dengan cepat menggelengkan kepalanya. Keputusannya untuk bercerai harus tetap terlaksana.


Adrian mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, sedangkan Mayra mengutak-atik ponselnya. Dia sedang berkirim pesan dengan Alice, rupanya hari ini Alice pergi ke rumah temannya dan minta dijemput nanti malam.


Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Adrian sampai di rumah. Lelaki itu langsung turun kemudian membawa belanjaan Mayra, sedangkan Mayra melenggang pergi begitu saja meninggalkan Adrian membuat Adrian menggeleng.


Adrian masuk ke dalam kamar, ternyata saat masuk Mayra baru saja berganti pakaian dan tak lama ponsel Mayra berdering, satu panggilan masuk dari pengacaranya hingga Mayra menoleh ke arah Adrian sebelum dia mengangkatnya, dan setelah itu Mayra langsung mengangkat panggilan dari pengacaranya.


"Ini aku. Bagaimana, apa surat yang aku minta sudah keluar?" tanya Mayra.


"Baik, jangan siapkan gugatan apapun seperti yang aku bilang, dan tolong kirimkan surat itu padaku dan jug—" Tiba-Tiba ucapan Mayra terhenti ketika Adrian menarik ponsel Mayra.


"Tidak ada perceraian, jangan terbitkan surat apapun. Akan kupatahkan kakimu jika kau menerbitkan surat tentang perceraianku," ancam Adrian.


"Kau ini bodoh atau gila? Kau pikir siapa yang menyiapkan surat cerai? Ini surat tuntutan kepada perusahaan lain, bukan surat tuntutan perceraian kepadamu!" teriak Mayra karena surat perceraian yang ia ajukan ditangani oleh pengacara lain, dan akan tiba besok pagi.

__ADS_1


__ADS_2