
"Maira ayo duduk," ucap Saira yang menyadarkan Maira dari lamunannya, hingga Maria tersadar. Wanita itu menarik kursi. Dia mendudukkan dirinya di sebelah Saira.
"Aku pikir kalian tidak saling mengenal," ucap Mayria, dia berusaha menetralkan ekspresi wajahnya, dia tidak ingin Adrian mengetahui bahwa dia tengah hancur.
"Ada program rumah sakit, dan dokter Adrian akan menjadi ketuanya. Jadi aku berkonsultasi dengannya," kata Saira.
Maira mengangguk-nganggukkan kepalanya, sedangkan Adrian langsung bersorak ketika melihat wajah Maira yang sendu. Setidaknya ini bisa menyadarkan Maira, bahwa dia tidak tertarik pada wanita itu.
Adrian mengangkat tangannya, memanggil pelayan dan setelah pelayan datang, Adrian langsung menyodorkan buku menu pada Saira.
"Silakan Nona Saira," ucap Adrian hingga Maira yang sedang menunduk, menoleh. Dia tidak pernah melihat raut wajah Adrian selama ini padanya, tapi pada Saira, Adrian begitu ramah.
Maira menggeleng pelan. Dia sudah bertekad untuk melupakan lelaki itu, karena semenjak Adrian membuang makanannya ke tempat sampah, dia berusaha untuk tidak mengingat lagi bayang-bayang lelaki yang pernah menghancurkan perasaannya.
__ADS_1
Setelah Saira memesan, Saira memberikan buku menu pada Maira hingga Maira pun langsung memilihnya, lalu setelah itu dia memberikannya pada Adrian.
Akhirnya, acara memilih makan pun selesai dan Adrian langsung mengambil kesempatan untuk berbincang-bincang hangat dengan Saira, membuat jantung Maira terasa ditikam ribuan belati.
Selama mengenal Adrian, ini kali pertamanya lagi dia melihat Adrian akrab dengan orang lain selain Bianca, dan orang lain itu naasnya adalah saudara kembarnya, tidak ada yang bisa Sayra lakukan dia hanya bisa menahan rasa sakit yang luar biasa.
Detik demi detik dilalui dengan penuh rasa sakit, karena Saira dan Adrian tampak begitu akrab. 'Tuhan, kuatkan aku,' batin Mayra. Mayra tidak mungkin juga pergi dari restoran ini karena dia sudah terlanjur datang dan sudah terlanjur memesan.
"Dokter Adrian, Saira, aku ingat aku belum menyelesaikan sesuatu. Bolehkah aku pulang duluan?" tanya Maira.
"Maira, tunggu dulu. Kita pulang bersama. Aku akan ikut mobilmu," ucap Saira, membuat Mayra menghentikan langkahnya.
"Tidak usah khawatir, Nona Saira, biar aku yang mengantarkanmu pulang," kata Adrian hingga otomatis Maira langsung menoleh ke arah lelaki itu. Satu kali kedipan saja, mungkin bulir bening langsung terjatuh dari pelupuk mata merah, teringat saat dulu dia pernah menunggu di rumah sakit saat hujan, tapi saat itu Adrian sama sekali tidak mau mengajaknya pulang bersama.
__ADS_1
Padahal saat itu Maira sengaja tidak membawa mobilnya, berharap Adrian mengantarkannya. Namun, lelaki itu hanya menyapanya sekilas selalu meninggalkannya, tapi sekarang Adrian malah ingin mengatarkan Sayra.
Maira menggelengkan kepalanya. Dia tidak boleh berpikiran apapun lagi, atau itu hanya masa lalu. Dia juga sudah berniat melupakan lagi yang ada di depannya ini.
"Aku duluan," ucap Maira.
Pada akhirnya Maira pun berbalik, kemudian wanita itu keluar dari restoran, sedangkan Adrian menghela napas lega. Setidaknya, hanya ini cara Adrian agar Maira tidak terlalu berharap padanya, dan agar dia juga tidak terbebani dengan perasaan wanita itu.
Saira melihat punggung Maira dengan aneh. Dia mengenal bentuk saudara kembarnya.
"Apa Dokter Adrian dan kembaranku cukup dekat?" tanya Saira.
Adrian berdeham kemudian menggeleng. "Tidak, kami hanya kenal lewat Bianca," jawab Adrian lagi hingga Saira mengangguk-anggukkan kepalanya.
__ADS_1