
Saat Sello larut dalam lamunannya, tiba-tiba pintu terbuka membuat Sello menoleh, ternyata Agnia yang masuk rasa lapar yang dirasakan Sello mendadak hilang ketika melihat istrinya masuk ke dalam ruang rawatnya.
“ Dari mana saja kau?” tanya Agnia, dia sudah tidak bisa lagi menahan kekesalannya. sedangkan Agnia menatap Sello dengan tatapan acuh tak acuh, seolah tidak memperdulikan pertanyaan suaminya.
“Kau dari mana?” tanya Sello lagi kala Agnia tidakk menjawab ucapannya.
“Aku habis membeli makanan dari kantin. Aku lapar ...."
“Dan kau tidak membelikan makanan untukku?” potongnya Sello dia benar-benar tidak bisa menahan emosinya, ketika melihat Aghnia yang hanya memikirkan dirinya sendiri.
“Kau lapar?” tanya Aghnia.
“Jelas-jelas aku lapar, apa kau tahu aku belum makan dari siang.”
Emosi Agnia sedikit terpancing saat mendengar ucapan Selo yang berbicara dengan nada tinggi.
“Tadi kau bilang kau tidak ingin makan dan kau bilang tidak ingin merepotkanku. Lalu kenapa sekarang kau ....” Tiba-tiba Agnia tersadar saat melihat ekspresi Selo yang menatapnya dengan terkejut.
“ Maafkan aku, Sello ... bukan maksudku seperti itu. Kau tadi bilang kau tidak ingin aku menyiapkan makanan untukmu lalu sekarang.”
Rupanya bukan hanya Aghnia saja yang tersadar, Sello pun juga akhirnya tersadar.
”Maafkan aku juga, tolong sekarang belikan aku makanan, aku lapar.”
__ADS_1
“Baiklah tunggu sebentar.” Agnia pun berbalik kemudian keluar dari ruang rawat Sello. 15 menit kemudian Aghnia datang kembali, ia membawa makanan untuk Sello tentu saja sebelum makanan itu dihidangkan pada suaminya Agnia sudah terlebih dahulu menaburkan sesuatu
Setelah menyiapkan semuanya, Agnia membantu Sello untuk bangkit, kemudian ia menyuapi Selo sesuap demi sesuap hingga akhirnya makanan di piring itu tandas.
dua minggu kemudian.
Ini sudah dua minggu berlalu dan 2 minggu ini pula, Sello dirawat di rumah sakit dan sekarang Sello diperbolehkan untuk pulang, apalagi kondisi Sello sudah membaik.
Selama dua minggu ini, Selo mendapatkan perawatan intensif dari tim medis. Setelah sehari dirawat, Bianca menemukan kandungan obat lain di darah Sello, hingga Bianca menyuruh Selo untuk memakan obat yang diberikan oleh suster saja tidak boleh dengan obat yang diberikan oleh orang lain termasuk Agnia, dan itu semakin mematik rasa penasaran di diri Selo, tentang ucapan Bianca yang membahas tentang obat tersebut. Hanya saja dia masih berusaha berpositif thinking pada Agnia.
Sedangkan Bianca murni melakukan ini karena dia dokter yang menangani Sello, bukan karena ada embel-embel masa lalu, apalagi kasihan pada mantan suaminya, dan pada akhirnya setelah sehari setelah dia dirawat, Sello memutuskan untuk tidak membiarkan Agnia merawatnya, ia memutuskan menyuruh Agnia beristirahat saja di rumah, dan akhirnya tubuh Selo pulih lebih cepat.
Saat ini, Sello sudah memakai jaketnya, ia juga sudah meminta bantuan suster untuk mengurus biaya administrasi dan dia tinggal menunggu dokter untuk pemeriksaan yang terakhir.
Dan tak lama, pintu terbuka muncul sosok Bianca bersama seorang suster. Helaan nafas terlihat dari wajah Bianca saat melihat Sello sudah siap setidaknya ia tidak perlu lagi melihat mantan suaminya ini ada di rumah sakit dan dia tidak perlu lagi memeriksa lelaki yang pernah menyakitinya di masa lalu.
“Ini obatmu dan seperti yang aku bilang kemarin Jangan biarkan orang lain memberiku obat, aku tidak perlu menjelaskan apa yang aku ucapkan tapi percayai saja ucapanku jika kau ingin sembuh, kalau begitu aku permisi,” ucap Bianca, dan suster pun berbalik. Saat Bianca berbalik, Sello menarik tangan Bianca, hingga Bianca refleks berbalik dan menarik tangannya lagi.
“Bolehkah aku bicara berdua denganmu?” tanya Sello, dia melirik ke arah suster mengisyaratkan suster untuk pergi hingga suster pun melanjutkan langkahnya dan di ruangan itu hanya ada Selo dan Bianca
“Ada apa?” tanya Bianca
“Bianca tolong jawab pertanyaanku. Apa kau mencurigai Agnia yang membuat kondisiku seperti ini Hingga kau tidak memperbolehkan aku makan obat dari tangan orang lain.”
__ADS_1
Bianca tampak terdiam, namun dari diamnya Bianca Sello menyimpulkan sesuatu. “Baiklah kau tidak perlu menjawabnya wajahmu sudah menjelaskan semuanya,” kata Sello tiba-tiba tubuh Sello terasa melemah saat mengetahui kecurigaan.
Bianca tersenyum kemudian menepuk bahu Sello. “Aku mengatakan ini bukan sebagai mantan istrimu. Aku mengatakan ini sebagai saudaramu, hati-hati dengan sekelilingmu. Jika kau ingin sembuh turuti perkataan,” ucap Bianca setelah mengatakan itu, Bianca pun berbalik dan keluar dari ruang rawat Sello.
Setelah Bianca pergi, Sello mendudukan dirinya sejenak diberangkar. Tiba-tiba ia merasakan nyeri yang luar biasa saat menyadari sesuatu dan saat menyadari bahwa dugaannya benar tentang Agnia yang selama meracuninya secara perlahan. “Agnia, setega itu kah kau padaku.”lirih Sello, kali ini ia tidak ingin mengalah lagi dan tidak ingin menganggap Agnia baik, mulai sekarang dia harus menyelidiki semuanya.
•••
Sementara di sisi lain.
Roland menyadarkan tubuhnya ke belakang, ia menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, karena tubuhnya benar-benar terasa lelah. Pekerjaannya hari ini benar-benar menumpuk, bahkan sudah 2 hari ia tidak menemui Bianca.
Mengingat soal Bianca, Roland meraih ponsel kemudian mengutak-atik ponselnya. Lalu setelah itu, Roland langsung menelepon ponsel Bianca. namun belum sempat Bianca menjawab Roland kembali mematikan panggilannya saat melihat ada yang masuk ke ruangannya.
Mata Roland membulat saat melihat siapa yang masuk ke ruangannya, ternyata Freed yang tak lain kakanya. Dia bahkan tidak tau sang kakak pulang ke Rusia.
“Freed, bagaimana mungkin kau ada di sini?” tanya Roland, dia menatap kakaknya dengan tatapan tak percaya.
Seperti biasa, Freed, tidak berekspresi sama sekali, lelaki itu tidak menggubris sang adik membuat Rolan berdecih.
Ya, Roland memiliki seorang kakak, lebih tepatnya kakak angkat. Orang tuanya mengadopsi Freed saat Freed berada di panti asuhan. Selama ini Freed tinggal di Amerika dia menjalankan perusahaannya di sana.
Sedari dulu, Freed adalah orang yang sangat tertutup, tidak pernah berekspresi dia hanya berekspresi pada kedua orang tuanya saja. Tapi Walau begitu, tidak dipungkiri sedari kecil Roland bisa merasakan kasih sayang Freed, walaupun Freed tidak memperlihatkan kasih sayangnya.
__ADS_1
“kapan kau sampai di Rusia, kenapa kau tidak memberitahuku?” tanya Roland yang menyusul sang kakak.
Namun, sebelum Freed menjawab. Tiba-tiba ada ruangan Roland diketuk dan Roland pun langsung mempersilakannya masuk, dan munculah sosok Bianca dan saat Bianca masuk, Bianca langsung bertatapan dengan Freed. Hingga ....