Tatap Aku, Lelakiku!

Tatap Aku, Lelakiku!
Menyampaikan pesan


__ADS_3

Gengs gas komen, gas like, besok jangan lupa vote ya


Sello menatap Bianca, dengan tatapan tak percaya saat Bianca menolak keinginannya untuk memanggilkan sang ibu. Padahal itu adalah permintaan yang sederhana.


“Bianca, kenapa kau tidak mau memanggilkan Mommyku!” tanya Sello.


Bianca menghela nafas sedalam-dalamnya, kemudian tersenyum membuat Sello terpana.


“Sello, entah apa yang aku harus katakan padamu. Tapi itu bukan ranahku, aku juga tidak ingin berkaitan apapun lagi dengan apa yang kau lakukan dan apa yang kau alami. Mungkin bagimu sederhana. Tapi tidak bagiku, kalau begitu aku permisi.”


Bianca lebih memilih berbalik kemudian keluar dari ruang rawat Selo, meninggalkan Selo yang Diam terpaku yang hanya bisa menatap punggung Bianca yang semakin menjauh.


Saat Bianca akan keluar, bersamaan itu pula Agnia berjalan ke ruang rawat Selo, hingga kedua orang itu saling menatap. Setiap menatap iris mata Bianca, Aghnia selalu menunduk dia begitu malu pada mantan istri suaminya.


Sedangkan Bianca tidak mengatakan apapun, Ia hanya tersenyum samar. Lalu setelah itu melanjutkan langkahnya dan setelah Bianca tidak terlihat Aghnia pun masuk kedalam.


Saat masuk kedalam, Aghnia mencoba mengatur nafasnya, ia tidak boleh emosi walau bagaimanapun ia sudah dibayar untuk menjaga Sello, tapi tetap saja rasa jengkel itu tetap ada ketika melihat Sello terbaring


“Kau dari mana?” tanya Sello, dengan sedikit kesal karena Aghnia tidak kunjung kembali.


“Maafkan aku, Sello perutku tadi sembelit jadi aku pergi dulu memeriksakan diriku.”


“Tapi kau tidak apa-apa?” tanya Sello, kekesalannya berubah menjadi kekhawatiran saat mendengar apa yang diucapkan oleh Agnia.


“Tidak apa-apa,” jawab Aghnia.


“Kau haus?” tanya Aghnia Sello mengangguk, dengan cepat Aghnia menuangkan air ke gelas. Saat menuangkan air ke gelas, Agnia berpura-pura menoleh ke arah Sello, ternyata Selo sedang melamun. Satu tangannya merohgoh ke saku belakang, kemudian ia berpura-pura batuk. Lalu setelah itu, berbalik kemudian menaburkan serbuk yang ia bawa ke minuman Sello, setelah itu Agnia memasukkan bungkus serbuk yang sudah terpakai dan ia pun langsung berbalik lagi.


“Ini Sello.” Aghnia membantu Sello untuk minum, minuman yang sudah dicampurkan obat oleh Agnia. Lalu setelah selesai, Sello membaringkan tubuhnya lagi.


“Sello, kau lapar?” tanya Agnia tiba-tiba. Seketika Sello terpikirkan ucapan Bianca, setiap mengingat Bianca yang mengatakan tentang obat, pikiran mencurigai Agnia selalu muncul. Walaupun mati-matian dia berusaha mengelak itu tapi perasaannya tidak bisa dibohongi.


“Tidak, aku tidak lapar,” jawab Sello. Pada akhirnya memutuskan sesuatu, ia atau tidaknya Aghnia melakukan itu, ia harus tetap lebih berhati-hati.


•••

__ADS_1


Bianca masuk ke dalam mansion kedua orang tuanya. Saat ini semua keluarga sedang bersiap mengadakan pengajian untuk mendiang Zayn dan Gia yang tak lain kakek nenek dari Bianca, orang tua Maria.


Ya, sebelum Zayn dan Gia tutup usia Zayn Dan Gia, memutuskan untuk menjadi mualaf mengikuti keyakinan Maria dan juga Kakak Maria yang terlebih dahulu menjadi mualaf dan sekarang adalah hari kematian Zayn hingga mereka mengadakan pengajian bersama untuk mendoakan kakek nenek mereka.


Saat masuk di sana sudah ada Fearhad dan Stevia yang tak lain Kaka Maria, bahkan nanti malam kedua mantan mertuanya pun akan hadir di acara tersebut, karena Gabriel dan Gaby juga bagian keluarga dari kakeknya.


Saat mengingat Gabriel dan Amelia tiba-tiba Bianca terpikirkan sesuatu, haruskah dia mengikuti keinginan Sello yang meminta mantan Ibu mertuanya untuk datang ke rumah sakit seketika.


Bianca terdiam lalu menggelengkan kepalanya “Tidak Bianca, itu bukan urusanmu lagi,” ucap Bianca, setelah itu, Bianca


pun langsung naik ke atas.


•••


Waktu menunjukkan pukul 08.00 malam, Bianca sudah siap dengan memakai abaya putih. Hari ini sang ayah akan memimpin doa untuk kakek dan neneknya. Bianca keluar dari kamar, kemudian ia berjalan ke arah lift. Lalu setelah itu, menaiki lift dan tibalah wanita itu di bawah.


Saat berada di bawah, Bianca langsung pergi ruangan yang sudah di siapkan, ternyata semua sudah berkumpul, termasuk mantan mertuanya dan juga di sana ada Gaby kembaran mantan Ayah mertuanya.


Lyodra sang ayah memimpin doa, sedangkan Gabriel Amelia, Gabby dan suaminya, hanya mendengarkan saja karena mereka berbeda agama. Hingga pada akhirnya, pengajian pun selesai dan mereka pun menutup acara dengan makan bersama.


“Bianca!” panggil Amelia, Bianca menoleh..


Bianca pun berjalan ke arah Amelia yang sepertinya akan pulang, walaupun Maria sempat murka pada Amelia dan Gabriel karena menganggap Amelia dan Gabriel mengetahui tentang apa yang Sello lakukan. Tapi pada akhirnya, hubungan keluarga mereka kembali baik


Saat Bianca menghampiri Amelia, Amelia merangkul tubuh wanita itu.


“Jika kau ada waktu, datanglah ke mansion kami,” kata Amelia. Bianca mengangguk.


“Hmm, bibi. Pasti aku pasti akan main. Hanya saja sekarang jadwalku begitu padat,” jawab bianka, kali ini Bianca benar-benar sudah tulus dan melupakan semua, hingga ia bisa berbicara ringan dengan mantan mertuanya. Sudah tidak ada lagi rasa sakit yang Bianca rasakan.


Tiba-tiba Bianca terpikirkan sesuatu lagi, dan ini menyangkut Sello. “Bibi!” panggil Bianca.


“Apa bibi tidak mengetahui keadaan Selo?’ tanya Bianca, wajah Amelia mendadak berubah menjadi sendu.


“Jangan membahas dia lagi, Bianca,” kata Amelia. Setegar-tegarnya seorang ibu jika menyangkut sang anak pasti saja akan ada perasaan yang berbeda. Walaupun dia sedang memberikan pelajaran pada Selo. Tapi tetap saja dia kerap merindukan putranya.

__ADS_1


“Bibi, sebenarnya Sello sedang sakit, dia dirawat di rumah sakit tempatku praktek penyakitnya juga agak sedikit parah.” Tiba-tiba tubuh Amelia diam mematung saat mendengar ucapan Bianca. Bahkan dia menatap Bianca dengan tatapan tak percaya.


“ Bianca Kau tidak berbohong, kan?”


“ Mungkin bibi bisa meluangkan waktu untuk menjenguk Sello.” Helaan nafas lega terlihat dari wajah Bianca, dia merasa lega ketika berhasil mengatakan pesan Selo pada Amelia.


Padahal tadi dia mati-matian tidak mau ikut campur lagi dengan kehidupan mantan suaminya. Tapi ia seorang manusia biasa, tentu saja ada rasa iba.


“ Sayang ayo pulang." tiba-tiba terdengar suara Gabriel dari arah belakang, sepertinya Gabriel baru saja beres mengobrol bersama anggota keluarga yang lainnya.


Gabriel mengerutkan keningya saat melihat ada yang berbeda dari Amelia. “Sayang, kau Kenapa?” tanya Gabriel, membuat Amelia tersadar.


“Tidak, Ayo kita pulang,” ajak Amelia lagi mereka pun pamit pada Bianca, lalu meninggalkan mansion Lyodra.


***


Gabriel mengelus punggung Amelia, ia merasa heran kenapa istrinya sedari tadi masuk mobil langsung melamun.


“Apa ada yang kau pikirkan sayang?" tanya Gabriel.


“Bianca mengatakan bahwa Sello dirawat.” Akhirnya Amelia mengatakan apa yang ia pikirkan. Gabriel terdiam dia seperti sudah tahu dengan apa yang terjadi pada putranya. Walaupun Gabriel sudah tahu Selo sedang dirawat. Tapi sayangnya, Gabriel tidak mengetahui tentang niat Agnia yang ingin mencelakai Sello.


“Biarkan saja ----”


“Dad, dia putramu kau akan terus begitu!?” omel Amelia, walaupun memang dia ingin menghukum Sello. Tapi tetap saja, Amelia merasa khawatir, karena dia seorang ibu mana ada ibu yang tidak khawatir mendengar anaknya sakit.


“Sudah, serahkan saja semua padaku. Tidak akan terjadi apa-apa dengan Sello, hanya sebentar lagi kita akan mendapatkan putra kita kembali,” ucap Gabriel lelaki itu begitu penuh perhitungan dan selalu dengan pemikiran yang matang. Gabriel percaya, suatu saat putranya akan kembali dengan versi yang baru.


•••


waktu menunjukkan pukul 02.00 malam, Selo terbangun dari tidurnya dia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, tiba-tiba perutnya terasa lapar karena dari tadi siang dia belum makan sama sekali.


Namun yang membuat Sello bingung, kenapa tidak ada Aghnia di ruangannya. Padahal tadi sebelum dia memejamkan mata Agnia mengatakan bahwa mengantuk dan tidur di sofa tapi sekarang Agnia tidak ada di ruang rawatnya.


Sello berusaha berpikir positif, mungkin Aghnia sedang pergi mencari makan ataupun di kamar mandi. Namun 15 menit berlalu tidak ada tanda-tanda Agnia akan kembali,.sedangkan perutnya benar-benar terasa perih.

__ADS_1


Lagi-lagi helaan nafas terlihat dari wajah tampan Sello. Tidak ada makanan di atas nakas, Ia juga kesulitan menggerakkan tubuhnya karena masih lemas lalu tak lama selalu tersenyum getir dan menatap ke depan, ia kembali melamun memikirkan semuanya


“Tuhan, kenapa sekarang aku jadi begini.”


__ADS_2