Tatap Aku, Lelakiku!

Tatap Aku, Lelakiku!
Terjebak


__ADS_3

Mayra menggigit bibirnya. Dia merasa gelisah ketika berada di lift. Entah kenapa, dia menyesal menolak ajakan Adrian, tapi di satu sisi lain, dia juga sadar tak seharusnya dia terus berharapan lelaki itu.


"Mayra, kau ini sangat membingung, 'kan?" tanya Mayra, merasa gemas pada dirinya sendiri hingga pada akhirnya lift pun sampai di lantai atas, dan ketika lift sampai, dia langsung turun kemudian dia langsung berjalan ke arah sang ayah. Mayra mendudukkan diri di sebelah Gabriel.


"Kau dari mana?" tanya Gabriel dengan lemah lembut.


"Aku baru beres makan. Dad, Daddy akan pulang atau di sini?" tanya Mayra.


"Sepertinya akan pulang. Oh ya, apa kau sudah mempertimbangkan usul Daddy?" tanyanya lagi.


Gabriel ingin menjodohkan Mayra dengan anak rekan bisnisnya, tapi keputusan di tangan Mayra. Jika Mayra setuju, Gabriel akan mengatur semuanya. Namun jika tidak, Gabriel pun tidak akan memaksa.


"Dia tidak terlihat baik, Dad," kata Mayra hingga dia menganggukkan kepalanya.


"Tapi di mata Daddy, dia cukup baik. Lelaki itu mempunyai sopan santun yang tinggi dan juga kami ...." Gabriel menghentikan ucapannya ketika melihat siapa yang datang ke arah mereka. Baru saja orang itu dibicarakan, dan orang itu sudah datang. Siapa lagi jika bukan Tommy.


Rupanya, Tommy datang untuk menjenguk Bianca. Walaupun dia tidak mengenal wanita itu, tapi dia menggantikan sang ayah untuk datang memberikan selamat pada Gabriel.


Gabriel menyikut Mayra hingga Mayra menoleh ke arah sang ayah, lalu setelah itu Gabriel mengisyaratkan agar Mayra menoleh ke arah samping hingga Mayra pun mengikuti arah tatapan sang ayah, dan tatapannya langsung bersibobrok dengan Tomi.


"Selamat malam, Paman Gabriel," sapa Tommy ketika sudah berada di dekat Gabriel.


Pria itu tersenyum kemudian dia bangkit dari duduknya. Gabriel menerima uluran tangan Tommy, sedangkan Mayra terus diam.


"Kalian sudah saling mengenal, bukan?" tanya Gabriel hingga Mayra dan Tommy saling tatap.


"Iya, Dad," sahut Mayra.


"Iya Paman," jawabnya.


"Ya sudah kalau begitu, silakan mengobrol dulu. Paman akan pergi untuk bertemu Bibi Amelia." Gabriel memutuskan pamit meninggalkan Mayra dan Tommy. Keduanya dilanda kecanggungan. Rasanya, Tommy ingin sekali mengobrol panjang lebar bersama Mayra karena dia sudah mempunyai perasaan dari lama, tapi dia tidak seberani itu.


***


"Kenapa dia belum bangun juga? Apa kita harus menyiram wajahnya?" tanya Sayra ketika dia melihat sang kakak masih belum sadar dari pingsannya, padahal ini sudah dua jam berlalu.


"Apa kita coba saja?" ucap Amelia.


"Ya sudah." Sayra berbalik kemudian dia mengambil sebuah wadah, lalu setelah itu berjalan ke kamar mandi mengambil air lalu kembali lagi menghampiri kakaknya.


"Ayo Mom, siram," titah Sayra.


"Kau saja" jawab Amelia yang enggan menyiram Sello..


"Dia akan mengamuk jika aku menyiram wajahnya," kata Sayra lagi.


"Ada apa ini?" Tiba-Tiba terdengar suara Gabriel dari arah luar.


"Dad, Kakak belum sadar dari tadi. Cepat siram," titahnya. "Tadi Paman Lyodra mengatakan bahwa Kakak harus segera mengazani putrinya," kata Sayra lagi.


Gabriel maju kemudian dia mengambil air, lalu setelah itu menyiramkan air ke wajah Selo dan benar saja, Selo langsung membuka matanya dengan napas yang terengah-engah.


"Ada apa? Mana Bianca? Mana anakku?" tanya Selo membuat semuanya menggeleng.


"Kau ini pingsan lama sekali. Cepat bangun, anakmu harus diazani," kata Gabriel lagi.


Mata Selo membulat saat mendengar ucapan sang ayah. Lalu dengan cepat, lelaki itu pun bangkit dari duduknya kemudian turun dari ranjang. Namun, lelaki itu terjatuh karena dia belum mengumpulkan nyawa sepenuhnya.


"Aish!" umpat Selo ketika dia terjatuh. Dia pun langsung bergegas keluar meninggalkan keluarganya yang menertawakan ulahnya.


Selo berlari dengan kecepatan yang sangat kencang. Rasanya, dia tidak sabar untuk melihat keadaan putrinya dan juga Bianca. Selo membuka pintu dengan napas yang terengah. Ternyata, Bianca sedang melamun.


"Sayang," panggil Selo.


Bianca tersadar kemudian dia merentangkan tangannya. Sedari tadi, dia menunggu Selo sadar dan ketika Selo datang, dia langsung ingin dipeluk oleh suaminya.


Selo dengan cepat berjalan ke arah brankar. Lelaki itu langsung memeluk Bianca dan ketika memeluk Bianca, tangis Selo luruh, begitu pun dengan Bianca. Kedua pasangan suami istri itu tidak menyangka mereka akan ada di titik ini, titik di mana mereka sudah menjadi seorang orang tua.


Selo melepaskan pelukannya. Setelah bisa menguasai diri, kemudian dia menghapus air matanya.

__ADS_1


"Mana Fatimah?" tanya Selo.


"Sebentar lagi. Dia di bawah."


"Daddy belum mengazaninya, 'kan?" tanya Selo.


"Tadinya Daddy ingin mengazani Fatimah, tapi aku melarangnya," kata Bianca.


Selama sembilan bulan ini, Selo mati-matian belajar tentang azan karena dia ingin mengazani anaknya, dan ketika mendengar ucapan Bianca, Selo menghela napas lega.


Tak lama, terdengar suara pintu terbuka. Muncul sosok suster membawa troli putri mereka, hingga Selo langsung menghampiri suster tersebut lalu mengambil ranjang bayi kemudian menyimpannya di sisi brankar.


Setelah suster pergi, Selo membungkuk. Lelaki itu langsung mengumandangkan azan. Selama Selo mengazani putri mereka, tangis Bianca tidak berhenti. Suara Selo begitu merdu. Dia begitu terharu dengan apa yang dia lihat, ternyata kisah mereka berakhir bahagia.


***


Tujuh tahun kemudian.


Waktu berlalu begitu cepat. Tidak terasa ini sudah tujuh tahun berlalu semenjak Bianca melahirkan, dan kini Fatimah sudah menginjak umur enam tahun. Jangan ditanyakan lagi betapa bahagianya keluarga Selo dan Bianca, yang pasti keluarga mereka benar-benar sempurna.


"Fatimah, sudah Mommy bilang. Cepat bersiap. Kau harus sekolah," ucap Bianca. Rasanya, dia sudah gemas karena Fatimah tidak mau berangkat sekolah.


"Tidak mau Mommy. Di sana banyak yang membullyku," jawabnya.


"Membully apa?" tanya Bianca.


"Mereka mengatakan aku gemuk," kata Fatimah dengan mencebbikkan bibirnya.


"Mereka tidak pernah mengatakan seperti itu," ucap Bianca yang masih berusaha membujuk Fatimah.


"Mommy saja tidak mendengar," jawabnya.


"Ada apa ini?" Tiba-Tiba terdengar suara Selo. Dia yang baru saja keluar dari kamar dan sudah bersiap untuk pergi ke kantor, langsung menghampiri anak dan istrinya.


"Dad, lihat anakmu. Dia tidak mau sekolah," adu Bianca.


"Ya sudah Sayang, biarkan saja," ucap Selo.


"Dad, kau tidak bisa terus membela Fatimah. Dia harus disiplin dari kecil," ucap Bianca.


Seperti biasa, Selo hanya terkekeh. "Sayang, Fatimah itu masih kecil. Dia belum mempunyai kewajiban untuk sekolah," ucapnya.


"Aku waktu itu lima tahun sudah sekolah," ucap Bianca. Kedua pasangan itu malah berdebat di hadapan Fatimah, sedangkan Fatimah yang sedang memakan chiki, lebih memilih meninggalkan ruang tamu dan pergi ke kamarnya. Seperti biasa, gadis kecil itu memilih untuk mengunci pintu agar sang ibu tidak terus menggerutu dan menyuruhnya sekolah.


Bianca menoleh ke arah samping dan ternyata putrinya sudah tidak ada di sana.


"Lihat," ucap Bianca, "putrimu selalu seperti ini. Sudah, aku malas dengan kalian," kata Bianca lagi.


Selo menarik lengan Bianca kemudian memeluk Bianca dari belakang. "Sayang, biarkan Fatimah dengan keinginannya sendiri," ucap Selo.


"Dia harus belajar disiplin, Dad," jawabnya.


"Dia akan disiplin seiring berjalannya waktu," kata Selo.


Bianca adalah tipe yang sangat tegas. Dia sudah terbiasa dengan hidupnya yang disiplin, dan sekarang putrinya malah menuruni sifat Selo.


***


Waktu menunjukkan pukul dua belas siang. Selo bangkit dari duduknya, dia berencana untuk makan siang bersama Bianca. Mereka berjanji bertemu di restoran.


Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Selo sampai di restoran tersebut.


"Tuan Selo." Terdengar suara perempuan yang memanggilnya, hingga Selo menoleh dan ternyata itu adalah Regina, mantan rekan bisnis Selo yang paling Bianca tidak sukai, karena Regina terlalu sok akrab dengan Selo. Sekarang, matilah Selo ketika dia bertemu dengan Regina di sini, di mana mungkin Bianca akan tiba sebentar lagi.


"Halo Nona Regina," kata Selo.


"Aku tidak menyangka kita bertemu di sini," jawab Regina yang menghampiri Selo.


"Apa kabar Anda Tuan Selo?" tanya Regina. Dia mengulurkan tangannya pada lelaki itu. Baru saja Selo akan membalas genggaman tangan Regina, tiba-tiba tatapan matanya teralih pada Bianca yang sedang menatapnya membuat mata Selo membulat. Selo pikir Bianca belum sampai di restoran, tapi ternyata biarkan sudah duduk manis di meja.

__ADS_1


"Sampai jumpa,Noan Regina," ucapnya.


Pada akhirnya, Selo memilih berbalik dan tidak menggubris Regina. Saat berjalan ke arah meja yang ditempati oleh istrinya, jantung Selo seakan berhenti berdetak. Bagaimana tidak, pasti setelah ini istrinya akan terus membahas. Dulu saja, dia sampai didiamkan selama satu bulan karena Regina mengirim pesan padanya, lalu apa kabar sekarang? Pastinya akan lebih parah.


"Sayang," ucap Selo ketika sudah berada di meja yang ditempati oleh Bianca.


"Kenapa kau tidak menerima uluran tangannya?" tanya Bianca membuat Selo langsung dibanjiri keringat dingin.


"Aku tidak ...."


"Sudah cepat pesan makanan," ucap Bianca, tidak ingin terus berbicara dengan Selo hingga Selo langsung mengangkat tangannya, kemudian lelaki itu memesan makanan.


"Sayang, aku tidak tahu dia akan menyapaku, jadi jangan marah padaku," ucap Selo setelah memesan makanan.


Bianca tidak menjawab. Dia malah mengotak-atik ponselnya.


"Sayang, dengar aku," ucap Selo lagi dengan penekanan.


"Diam. Ini restoran, kau berisik sekali," tegurnya.


Selo menghela napas. Sekarang, bagaimana caranya dia meyakinkan istrinya?


Akhirnya acara makan pun selesai. Sedari tadi makan, mereka tidak berbicara sedikit pun. Tepatnya, Bianca tidak menjawab pertanyaan dari Selo. Sungguh, level cemburu Bianca sudah berada di level atas.


***


Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam. Bianca keluar dari walk-in closet membuat Selo yang sedang menonton televisi, membulatkan matanya sebab Bianca memakai pakaian dinas yang sangat menggoda.


"Tetap di tempatmu," kata Bianca.


"Sayang," panggil Selo.


Selo memejamkan matanya ketika menyadari sang istri sedang menghukumnya. "Oh, ayolah, Sayang. Kenapa kau jahat sekali padaku?" kata Selo sambil maju ke arah Bianca.


"Sekali kau maju lagi, maka aku putuskan jatahmu," ucap Bianca lagi membuat Selo mengusap wajah kasar.


"Lalu aku harus bagaimana?" tanyanya.


Bianca maju ke arah suaminya membuat jakun Selo naik turun, sebab Bianca begitu menggoda. Tanpa sadar Selo mengikuti langkah Bianca yang mendorong tubuhnya dan tak lama Bianca menutup pintu. Ternyata, Bianca mendorong tubuh Selo keluar dari kamar, lalu setelah itu dia menguncinya agar Selo tidak masuk.


***


"Mommy!" panggil Alice ketika Mayra sedang melamun. Mayra tersenyum saat melihat putri tirinya, kemudian dia merentangkan tangannya.


"Kau tidak jadi les piano?" tanya Mayra ketika Alice datang lebih cepat dari sekolah.


"Tidak Mommy," jawab Alice, memeluk Mayra begitu erat, menyalurkan rasa lelahnya. Selalu seperti ini, jika Alice lelah, yang pertama dia cari adalah ibu sambungnya.


"Kau istirahat. Mau Mommy membuatkan makanan?" tanya Mayra.


"Mommy tidak lelah?" tanya Alice.


"Tidak, Mommy tidak lelah. Kau ingin makanan apa?" tanya Mayra lagi.


"Sepertinya spagheti enak," jawab Alice hingga Mayra pun mengangguk.


"Ya sudah kau pergi ke kamar. Mommy akan mengantarkan makanan ke kamarmu," ucap Mayra.


Alice pun bangkit dari duduknya kemudian keluar dari sana. Ketika melihat punggung Alice, mata Mayra membasah. Rasanya dia rindu dengan Adrian. Empat tahun lalu, akhirnya Adrian berhasil mengambil hati Mayra.


Lelaki itu benar-benar menjalankan rencananya dengan bersungguh-sungguh, hingga 3 tahun mendekati Mayra, akhirnya Mayra mau menjadi istrinya. Tentu saja itu semua karena Alice, dan dua tahun lalu Adrian pergi ke luar negeri karena dia mengambil pekerjaan di rumah sakit yang ada di Korea.


Entah kenapa Mayra mulai merasakan kesepian. Setelah menikah, dia hanya tinggal bersama Ardian dua tahun, dan itu pun Adrian jarang sekali menyentuhnya dengan alasan lelah dengan pekerjaan.


Setelah dua tahun menikah, Adrian pergi ke Korea dan ketika mereka jauh pun, Adrian jarang sekali memberinya kabar. Awalnya Mayra menyangka bahwa memang Adrian sibuk, apalagi Adrian ditempatkan di rumah sakit besar, tapi sudah dua minggu ini Mayra merasa sendiri.


Tanpa Mayra ketahui, Adrian tidak di Korea. Lelaki itu masih berada di Rusia, hanya saja dia bertugas di daerah lain, daerah yang tidak diketahui oleh Mayra. Adrian melakukan ini karena dia tidak ingin terlibat lebih jauh dengan istrinya. Toh, niat Adrian menikahi Mayra hanya karena Alice.


Awalnya Adrian memang berat jika harus meninggalkan Alice, tapi semakin dia berusaha tinggal, hatinya semakin menolak. Setiap dia melihat Mayra, dia merasa aneh. Itu sebabnya dia memutuskan untuk berpura-pura pergi ke luar negeri.

__ADS_1


Adrian hanya akan menjawab pesan Mayra, selebihnya Adrian tidak pernah mengirim pesan pada istrinya dan selama dua tahun ini, Mayra sudah berusaha bersabar. Dia sudah berusaha memaklumi Adrian, tapi semakin lama Mayra semakin lelah. Dia menyayangi Alice, tapi ada kalanya dia juga iri pada putrinya karena dia sering mendengar Alice sedang berbicara dengan Adrian, sedangkan Adrian tidak pernah meneleponnya.


Mayra menghapus sudut matanya yang berair. Wanita itu memutuskan untuk bangkit dari duduknya, kemudian dia keluar dari kamar lalu setelah itu wanita cantik itu pun pergi ke dapur untuk membuatkan makanan untuk Alice.


__ADS_2