Tatap Aku, Lelakiku!

Tatap Aku, Lelakiku!
Bos yang asli


__ADS_3

Aghnia menarik napas kemudian menghembuskannya. Walaupun sadar bahwa tidak akan masalah memberitahukan siapa bos mereka, tapi tetap saja dia ketakutan. Bahkan ketika mengingat lelaki itu saja, rasanya Aghnia ingin pergi.


"Siapa dia? Katakan sebelum aku murka!" titah Gabriel yang tidak sabar, membuat Aghnia kembali menoleh ke arah lelaki itu.


"Dia Kaisar Moron," balas Aghnia setelah itu dia menunduk .


"Kaisar Moron?" tanya Gabriel. Dia merasa tidak asing dengan lelaki itu. Dia mengingat-ingat marga Moron, hingga dia teringat seseorang.


"Maksudmu, dia adalah adik dari Chico Morone ?" tanya Gabriel, Chico Morone adalah lawan Gabriel ketika Gabriel masih menjadi Mafia.


Aghnia mengangguk. Gabriel menyandarkan tubuhnya ke belakang. Dunia ini begitu sempit. Dulu, dia berteman dengan Chiko tapi pertemanan mereka hancur karena persaingan bisnis, hingga mereka menjadi lawan. Dan beberapa tahun lalu, Chico di habisi oleh Grisya, ketika putrinya masih menjadi polisi.


"Apa saja yang dia pegang?" tanya Gabriel, "Dia penjual organ tubuh di pasar gelap?" tanyanya lagi.


"Dia menjual obat-obatan, narkobaa, ekstasii dan juga lain-lain. Dia juga menjual senjata pada negara komunis," balas Aghnia.


"Wah, aku tidak menyangka kau bisa menikah dengan putraku yang sangat polos," jawab Gabriel. Walaupun Selo terbilang sama kejamnya, tapi dia yakin Sello tidak pernah terlibat dalam dunia hitam seperti ini.


"Sekarang aku mengerti kenapa kau dulu tega meninggalkan putraku saat hujan di kursi roda," Hardik Gabriel. Aghnia yang tadinya menatap Gabriel, langsung menunduk ketika mendengar itu. "Apa lagi yang kau sembunyikan?" tanya Gabriel. "Aku yakin kau tidak sepolos itu dengan hanya menyembunyikan satu hardisk," kata Gabriel. Seketika, Aghnia tergagap kemudian menggeleng dengan cepat.


"Tidak ada, Tuan. Aku tidak menyembunyikan apapun," ucap Aghnia.


Gabriel menggebrak meja. "Kau masih berani berbohong dan menyembunyikan sesuatu?" tanya Gabriel hingga tubuh Aghnia langsung gemetar. Dia memejamkan matanya.


"Maafkan aku, Tuan Gabriel," ucapnya dengan cepat.


"Katakan di mana kau menyembunyikan semuanya!" titah Gabriel.

__ADS_1


"A-ada di atap apartemenku, di bagian dapur. Ada atap yang tertutup oleh papan, kalian bisa mencoba mecarinya di sana," ucap Aghnia dengan terbata.


Ya, faktanya Aghnia selalu berpikiran jauh. Dia memang menyembunyikan dana yang sangat besar di flashdisk yang ada di laci, tapi ada lagi yang lebih besar dari itu, dan dia menyembunyikannya di atap hingga tidak ada yang curiga.


Gabriel benar-benar speechless dengan wanita di depannya ini. Pantas saja dulu Selo tergoda oleh Aghnia, karena ternyata dia sangat cerdas.


Gabriel menggeleng kemudian melihat ke arah anak buahnya. "Geledah apartemennya," kata Gabriel.


Saat anak buah Gabriel akan pergi, dia mendadak mengangkat tangan hingga mereka terdiam. Lalu dia kembali menetap ke arah Aghnia. "Tidak ada lagi yang kau sembunyikan?" tanya Gabriel.


"Tidak ada, Tuan. Aku bersumpah tidak ada lagi," jawab Aghnia dengan jujur, karena memang hanya itu yang disembunyikan.


Setelah itu, Gabriel mengisyaratkan anak buahnya untuk pergi hingga kini di ruangan itu hanya ada Aghnia dan dirinya.


"Tuan Gabriel, bisakah Anda bebaskan aku?" tanya Aghnia. Dia menatap Gabriel dengan penuh permohonan. Berharap Gabriel iba dan membebaskannya.


Gabriel tertawa. "Kau pikir kau bisa lolos dengan mudah?" tanya Gabriel.


"Siksaanmu sudah berakhir, kau akan dilimpahkan pada polisi," kata Gabriel.


"Apa?!" tanya Aghnia, dia hampir saja berteriak saat mendengar ucapan Gabriel. Dia lebih baik mati daripada harus masuk ke kantor polisi, hal yang paling dia takuti di dunia ini. Namun sekarang, dia harus berurusan dengan pihak berwajib.


"Tidak Tuan Gabriel, kurung saja aku di sini. Kau boleh menyiksaku ataupun melakukan apapun padaku," ucal Aghnia, berharap Gabriel iba.


Seketika, Gabriel tertawa. "Kau berharap aku kasihan padamu dan membebaskanmu? Tidak, aku tidak akan pernah memberikan keringanan," ucap Gabriel.


Gabriel menekan tombol hingga beberapa anak buahnya masuk. "Bawa dia, kurung di tempat biasa sebelum polisi datang menangkapnya," ucap Gabriel.

__ADS_1


Anak buah Gabriel langsung berjalan ke arah Aghnia kemudian melepaskan borgol yang ada di tangan wanita itu, lalu menarik lengannya hingga dia pun keluar dari ruangan tersebut.


Setelah tidak ada siapapun, Gabriel mengetuk meja hingga semua layar kembali tertutup, dan tidak akan pernah ada yang membuka layar tersebut kecuali dirinya, lelaki paru baya itu menyandarkan tubuh ke belakang. Dia bisa bernapas lega. Setidaknya, jika ini terbongkar dia mempunyai peran menghentikan perdagangan illegal, apalagi ini berkaitan dengan nyawa.


***


Bianca menyandarkan tubuhnya ke belakang. Dia melihat malas pada ponsel yang tergeletak, karena dia tahu yang menelepon adalah Selo.


Sudah tiga kali Selo menelepon, dan secara sengaja dia tidak mengangkatnya. Wanita itu begitu malas untuk berbicara mantan suaminya.


Sudah beberapa hari berlalu di mana Bianca mengerjai Selo di kafe, dan selama beberapa hari ini pula secara tidak berhenti menerornya, dari mulai mengirim pesan sampai menelepon.


Bianca melihat jam di dinding, waktu menunjukkan pukul tujuh malam. Tidak ada pasien yang harus ditangani, hingga dia memilih pulang. Setelah membereskan semuanya, dia keluar dari ruangan.


Saat berada di perjalanan pulang, tiba-tiba Bianca terpikirkan sesuatu, dia sangat ingin memakan makanan manis, sehingga dia memutuskan untuk membeli pie susu sebelum pulang ke rumah.


***


Dan di sinilah Bianca berada, di sebuah kedai yang menjual pie susu dan olahan makanan lainnya. Setelah masuk, Bianca langusung memilih makanan yang dia mau, dan setelah itu dia membayarnya ke kasir.


Saat akan keluar, Bianca sungguh ingin sekali melemparkan barang yang dia pegang ke wajah lelaki yang ada di depannya yang tak lain Selo. Bianca semakin muak, ketika Sello tersenyum padanya. Dia yakin lelaki itu mengikutinya.


"Apa kau tidak punya otak?" tanya Bianca yang tiba-tiba memaki Selo.


"Kenapa kau marah-marah padaku, Bianca?" tanya Selo yang menjawab dengan masih bingung. Tentu saja itu hanya pura-pura.


"Kau mengikutiku, 'kan?" tanya Bianca.

__ADS_1


"Hah? mengikutimu? Untuk apa aku mengikutimu?" tanya Selo. "Aku ingin belikan pastry di toko ini untuk Mommy," kata Selo membuat mata Bianca membulat. Dia menggigit bibir.


Karena tanggung malu akhirnya Bianca pun langsung berbalik, kemudian mengibaskan rambut. Lalu setelah itu, dia kembali berjalan ke arah mobil, membuat Sello tertawa.


__ADS_2