Tatap Aku, Lelakiku!

Tatap Aku, Lelakiku!
Sadar


__ADS_3

Melihat Darren yang berlutut, Salsa dan Shelby membulatkan matanya. Mereka tidak percaya apa yang mereka lihat. Darren yang selalu menjunjung tinggi harga diri di hadapan mereka khususnya, berlutut di hadapan Shelby.


"Untuk apa berlutut seperti ini?" tanya Shelby, nadanya masih terdengar emosional. Dia berbicara dengan berapi-api.


"Aku tidak ingin berbicara apapun tapi izinkan aku untuk menebus semuanya." Akhirnya Darren memberanikan diri berbicara, membuat Shelby tertawa lepas.


“Rasanya ingin menghajarnya lagi!"


Shelby berteriak. Dia mendadak emosi ketika Darren mengucapkan hal itu.


"Shelby tenang. Aku mohon tenang. Kau bisa menghajar Darren nanti, jangan membuat gaduh di sini," kata Salsa.


Seketika Shelby kembali tersadar kemudian tubuh Shelby ambruk ke bawah lalu menangis sejadi-jadinya. Rasanya dia begitu lelah dengan Darren, hingga kini kedua pasangan suami-istri itu terduduk di lantai dengan Darren yang terus menunduk, sedangkan Shelby terus menangis.


"Darren, kenapa hatimu sekeras itu? Dia hanya anak kecil, kenapa kau terus membuat dia terluka? Dia tidak pernah menuntut apapun darimu. Dia tidak pernah menyusahkanmu, lalu kenapa kau harus membuatnya seperti ini? Apa yang kau ingin? Katakan sekarang, apa kau ingin Theresia menghilang?!" Shelby berteriak di akhir kalimatnya.


Kemarin-kemarin mungkin dia masih bisa menahan diri, tapi ketika sekarang untuk kesekian kalinya Theresia seperti ini karena Darren, rasanya Shelby begitu lelah. Padahal selama sepuluh tahun ini, dia dan Theresia tidak pernah menyusahkan lelaki yang ada di depannya ini.


Dan ketika mendengar itu, bulir bening terjatuh dari pelupuk mata Darren. Dia hanya bisa terdiam, tidak bisa menjawab Shelby. Dia juga bingung harus menjawab apa pada istrinya, berkata menyesal pun rasanya sudah percuma.


Salsa memalingkan tatapannya ke arah lain ketika melihat suami-istri itu menangis. Dia memutuskan untuk keluar, memberi ruang Darren dan Shelby untuk berbicara, dan ketika dia keluar, ternyata Tommy dan Mayra baru saja tiba di rumah sakit karena rupanya tadi juga Salsa memberitahukan kedua orang tuanya keadaan Theresia.


Baru saja Tommy akan masuk, langkahnya dihadang oleh Salsa.


"Jangan dulu, Daddy. Berikan ruang untuk Shelby dan Darren terlebih dahulu," kata Salsa.


Tommy mengerutkan keningnya saat mendengar ucapan Salsa, hingga lelaki itu pun langsung mengintip. Lelaki paruh baya itu bingung dengan apa yang terjadi. Kenapa Shelby dan Darren duduk di lantai?


Tak lama, terdengar teriakan demi teriakan yang dikeluarkan Shelby. Sepertinya, Shelby sedang mengeluarkan semua amarahnya pada Darren. Tommy juga melihat putranya hanya tertunduk, ini benar-benar aneh.


"Ada apa? Kenapa Darren ...?" tanya Tommy.


"Sepertinya, doa kita diijabah oleh Tuhan," kata Salsa. Mayra dan Tommy mengerutkan keningnya saat mendengar ucapan Salsa.


"Maksudmu?" tanya Tommy.


"Sepertinya Darren sudah berubah. Dia sudah bisa menerima Theresia," Jawab Salsa lagi.


"Apa?" Tommy dan Mayra terpekik saat mendengar ucapannya.


"Aku tidak tahu persisnya seperti apa, tapi barusan Darren menelepon, memintaku untuk datang dan meminta memberitahukan Shelby tentang kondisi Theresia, dan aku juga tidak tahu kenapa Darren babak belur," kata Salsa.


Tommy mengangguk-anggukkan kepalanya, kemudian dia mengintip lagi ke arah jendela.

__ADS_1


"Terima kasih, Tuhan. Kau sudah lembutkan hati putraku." Mata Lelaki paruh baya itu berkaca-kaca. Akhirnya harapannya terkabul. Darren sudah berubah, setidaknya putranya tidak terlambat untuk meminta maaf pada cucunya.


***


Darren turun dari mobil, lelaki itu baru saja sampai di apartemennya. Tadi setelah orang tuanya masuk ke dalam ruang rawat Theresia, Darren memutuskan untuk pulang. Tentu saja sebelum pulang, luka-luka akibat hajaran Rush sudah dibersihkan dan diobati oleh dokter. Dia sengaja pulang untuk beristirahat sejenak dan untuk membuat Shelby tenang, sebab jika ada di sana, Shelby mungkin akan terus tertekan.


Darren masuk ke dalam apartemen. Saat masuk ke dalam apartemen, tiba-tiba Darren menghentikan langkahnya ketika melihat Theresia sedang berlari ke sana kemari dan bermain dengan Tristan.


Namun tak lama, Darren tersadar ketika bayangan Theresia menatapnya. Bayangan Theresia menatap Darren dengan tatapan terluka, dan sedetik kemudian bayangan itu hilang. Tanpa sadar, Darren menunduk kemudian bulir bening langsung terjatuh dari pelupuk matanya. Dia merasakan sesak ketika melihat Theresia menatapnya dengan tatapan marah, sedih dan kecewa walaupun itu hanya bayangan.


Setelah cukup lama terdiam, Darren pun kembali melanjutkan langkahnya. Lelaki itu langsung mendudukkan diri di sofa, menengadahkan kepalanya ke belakang.


Tristan sedang berada di rumah Tommy dan Mayra, hingga Tristan tidak melihatnya seperti ini. Sebab, pasti putranya akan bertanya saat melihat wajahnya yang babak belur.


Setelah sekian lama melamun, tanpa sadar Darren memejamkan matanya kemudian terlelap, sepertinya obat barusan yang diberikan dokter sudah bereaksi hingga kini merasakan kantuk yang luar biasa.


Namun, baru saja Darren terlelap, tiba-tiba terdengar suara bel berbunyi hingga Darren langsung membuka mata kemudian, dia berusaha meredam emosi karena bel terus berbunyi.


Darren terpaksa bangkit dari duduknya kemudian berjalan dengan pelan ke arah pintu, lalu setelah itu dia membuka pintu.


"Darren," panggil Mia. Ternyata, Mia-lah yang datang ke apartemen. Sepertinya, wanita itu ingin mengetahui keberadaan calon suaminya, sebab tadi teman Mia yang bekerja di rumah sakit memberitahukan kondisi Darren pada Mia, hingga Mia langsung menyusul datang ke apartemen Darren. Dia harus mengurus lelaki itu agar bisa terus mendapatkan simpati dari Darren.


Namun, alih-alih mendapat sambutan yang baik, Mia malah mendapat tatapan tak suka dari Darren padahal biasanya Darren tidak pernah seperti ini.


"Untuk apa kemari?" tanya Darren.


"Aku tidak apa-apa," balas Darren, tanpa mendengar jawaban Mia, Dareen langsung menutup pintu membuat Mia terperanjat kaget. Tubuhnya mematung ketika melihat apa yang Darren lakukan barusan.


Tunggu, kenapa Darren memperlakukannya seperti ini dan kenapa Darren tiba-tiba marah padanya? Bukankah seharusnya Darren senang ketika dia datang karena Darren sedang sakit? Namun, kenapa sekarang begini?


Setelah menutup pintu, Darren langsung masuk ke kamar. Dia bukan masuk ke dalam kamarnya, melainkan ke dalam kamar yang selalu ditempati oleh Shelby dan Theresia.


Perlahan, Darren berjalan ke arah ranjang kemudian dia membaringkan tubuhnya di sana. Tak lama, dia menarik guling yang dia tahu itu adalah guling kesayangan Theresia dan setelah itu, dia memeluk guling itu kemudian, menghirup aroma guling itu karena masih ada jejak wangi sang putri di sana.


***


Beberapa menit berlalu, Mia masih terdiam di apartemen Darren. Wanita itu menatap pintu yang barusan tertutup dengan bingung. Tidak biasanya Darren seperti ini, dan bahkan jika dipikir untuk pertama kalinya, Darren bersikap kasar padanya. Dia mengotak-atik ponselnya kemudian dia menelepon Darren, tapi Darren tidak mengangkat panggilannya.


"Sepertinya aku harus kembali nanti," katanya. Wanita itu pun berbalik kemudian memutuskan pergi dari unit apartemen Darren dan pulang ke apartemennya.


Mia menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang. Wanita cantik itu terus berpikir kenapa Darren berubah, padahal kemarin malam mereka masih melakukan panggilan karena Mia baru saja pulang dari luar kota. Semalam, Dareen masih bersikap romantis padanya walaupun hanya lewat panggilan.


Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Mia sampai di rumah. Mia pun turun dari mobil kemudian masuk wanita cantik itu langsung melepaskan blazer, menghempaskan tasnya lalu mendudukkam diri di sofa. Mia menyadarkan tubuhnya ke belakang, pikiran wanita itu mengembara, memikirkan Darren. dia sungguh takut Darren berubah. Bagaimana jika dia memutuskannya atau yang paling parah dengan memecatnya? Dia tidak akan lagi mendapatkan sumber penghasilan.

__ADS_1


Mia mengusap wajah kasar, wanita itu pun langsung mengutak-atik ponselnya lalu menelepon seseorang.


***


Darren terbangun dari tidurnya, kemudian dia melihat ke sekelilingnya. Saat membuka mata, tiba-tiba perasaan Darren merasa hampa. Ketika dia sedang melamun, tiba-tiba terdengar suara Theresia dan Shelby hingga Darren langsung menoleh ke arah depan, bayangan Shelby dan Theresia ketika sedang beraktivitas ada di depan Darren, hingga tanpa sadar Darren tersenyum


. Tak lama, senyuman Darren luntur ketika bayangan anak dan istrinya menghilang. Selain mengingat Theresia, dia pun juga mengingat Shelby. Ternyata, perjuangan Shelby selama ini begitu besar belum lagi terkadang dia memisahkan Tristan dari istrinya.


Darren turun dari ranjang kemudian dia berjalan ke arah walk-in closet. Ada beberapa barang yang Shelby tinggalkan seperti aksesoris dan lain-lain, karena saat dia keluar dari apartemen Darren, dia hanya membawa pakaiannya dan pakaian Theresia.


Perlahan, Darren melihat ke arah lemari lalu membukanya. Ada beberapa helai pakaian yang masih tersisa di sana. Tiba-Tiba, ingatan Darren berputar pada saat tahun kemarin di mana saat pesta natal DI rumah kedua orang tuanya, dia melihat Theresia hanya memakai gaun biasa, tidak seperti tamu-tamu yang lain dan dia juga ingat betul saat itu dia memakai pakaian terbaik untuknya dan Tristan, sedangkan Shelby dan Theresia tidak.


Darren tiba-tiba menunduk. Entah seberapa besar penyesalan lelaki itu. Setiap dia mengingat semuanya, rasanya dia ingin menangis kencang-kencangnya.


***


Shelby sedari tadi terus menggenggam tangan Theresia, dia menyimpan kepalanya di brankar. Wanita itu terus menatap putrinya dengan mata yang membasah, berharap Theresia segera sadar.


Dokter mengatakan jika Theresia tidak sadar maka Theresia akan dinyatakan koma, dan itu membuat hati Shelby semakin nyeri. Sementara Tommy dan Mayra, sedari tadi tadi berusaha untuk menenangkan Shelby. Mereka menyuruh Shelby untuk beristirahat ataupun menyuruh Shelby untuk makan siang, tapi Shelby tetap tidak mau. Dia tetap ingin bersama dengan putrinya.


Tubuh Shelby sebenarnya terasa lemas. Dia tidak menginginkan apapun lagi selain menginginkan Theresia segera sadar, apalagi dia sungguh takut Theresia koma, sebab kondisi Theresia sepertinya lebih buruk dari sebelumnya


Theresia mengalami hal bertubi-tubi dari mulai bentakan Darren, teriakan Darren sampai dia yang berjemur di bawah sinar matahari dan yang lebih parah adalah ketika tadi Rush menendang kursi yang ditempati oleh Theresia hingga kepala Theresia terbentur ke tanah.


Shelby menegakkan kepalanya kemudian dia menatap mertua dan kakak iparnya secara bergantian. "Mommy, Daddy, Salsa, kalian bisa pulang. Aku tidak apa-apa menunggu di sini sendiri," kata Shelby, karena dari tadi mereka sudah menemani Shelby dengan waktu yang lama dan Shelby merasa tidak enak jika kedua mertua dan kakak iparnya terus menunggunya di rumah sakit.


"Tidak apa-apa kami akan menunggu di sini," jawab Mayra, mana mungkin mereka bisa pulang ketika cucu mereka sedang terbaring.


Waktu menunjukkan pukul tiga pagi.


Theresia mengerjap, gadis kecil itu membuka mata. Seluruh tubuh Theresia langsung terasa nyeri dan seperti biasa, ketika akan bergerak Theresia tidak bisa menggerakkan tubuhnya.


Dia melihat ke sekelilingnya, ternyata dia terbaring lagi di rumah sakit. Theresia tidak mengingat apapun hingga dia melamun. Sepersekian detik kemudian, Theresia tersadar. Dia mengingat semuanya saat Darren membentaknya dan saat Darren berteriak padanya. Setelah itu, dia tidak mengingat apapun lagi.


Namun setelah mengingat itu, sayup-sayup mengingat sesuatu, yaitu ketika Darren berlari ke hadapannya dan berteriak memanggil namanya. Rupanya saat Rush menendang kursi Theresia dan sebelum Theresia kejang, Theresia sempat membuka matanya dan dia melihat ketika Darren berlari ke arahnya.


Shelby terbangun ketika dia merasakan kepalanya disentuh oleh seseorang, hingga wanita itu langsung menegakkan tubuhnya


"Theresia," panggil Shelby, dia menghela napas lega sebanyak-banyaknya ketika Theresia sudah membuka mata dengan cepat, Shelby pun bangkit dari duduknya kemudian dia menghampiri Theresia, mengelus rambut putrinya.


***


Darren menjalankan mobilnya dengan kecepatan penuh. Rasanya dia segera sampai di rumah sakit. Barusan Tommy meneleponnya dan mengatakan bahwa Theresia sudah sadar, dan Darren yang juga baru saja bangun tidur langsung pergi ke kamar mandi. Setelah itu, dia memutuskan untuk pergi ke rumah sakit. Rasanya, dia tidak sabar untuk bertemu putrinya.

__ADS_1


Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Darren sampai di rumah sakit. Lelaki itu pun langsung turun kemudian berjalan ke arah dalam. Saat berada di depan ruangan, Darren menghentikan langkahnya sejenak. Dia bingung harus mulai dari mana. Dia tidak tahu harus mengatakan apa pada putrinya Setelah apa yang dia lakukan selama ini. Darren memejamkan matanya kemudian dia memutar gagang pintu, hingga pintu terbuka.


kemudian .....


__ADS_2