
Selo mengendarai mobil dengan kecepatan pelan. Dia menatap heran pada Bianca yang terus menggenggam tangannya, bahkan ketika dia sudah menyetir.
"Bi, are you oke?" tanya Selo, dia memberanikan diri bertanya.
"Oh, kau kesulitan untuk menyetir?" tanya Bianca yang melepaskan genggaman tangannya dari Selo, tapi belum sempat Bianca melakukan itu, Selo sudah kembali menggenggam tangan istrinya.
"Tidak, aku tidak kesulitan," jawab Selo. Belum hilang keterkejutan Sello karena Binaca menggenggam tangannya secara tiba-tiba, dia juga dibuat terkejut dengan Bianca yang sekarang menyender di bahunya, bahkan tubuh Selo langsung terasa tersetrum karena ini benar-benar di luar kebiasaan Bianca.
Bukannya senang, Selo malah merasa was-was. Dia takut Bianca melakukan ini karena ingin meninggalkannya.
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Selo sampai di basement apartemen.
Bianca pun turun, begitu pun dengan Selo. Keadaan saat berjalan, Bianca kembali menggenggam tangan Selo hingga membuat Selo kebingungan, tapi dia tidak bertanya.
Selo membuka pintu dan mereka pun masuk ke dalam. "Sebentar, aku ingin pergi ke dapur," kata Bianca hingga Selo mengangguk, lelaki yang masih bingung itu berjalan ke arah dalam kemudian dia mendudukkan diri di sofa sambil mengutak-atik ponselnya, dan tak lama terdengar suara derap langkah.
Muncul Bianca membawa dua kotak kecil jus buah. "Ini," kata Bianca.
Selo mengambil kotak buah itu dengan ragu membuat Bianca menatap Selo dengan mengerutkan keningnya. "Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Bianca.
"Kau tidak memberikanku racun, 'kan, dalam minuman ini?" tanya Sello dengan suara pelan. Namun, Bianca masih bisa mendengarnya.
Bianca tertawa. "Minuman itu saja masih di segel, kenapa aku harus memberimu racun?" tanya Bianca lagi.
Bianca langsung mendudukkan diri di sebelah Selo kemudian dia memasukkan sedotan ke dalam minuman yang dia bawa, lalu setelah itu dia merebut minuman yang ada di tangan Selo, kemudian memberikan minuman yang sudah dia buka hingga dengan ragu Selo pun meminumnya. Setelah itu, Bianca langsung menyandarkan kepalanya ke bahu Selo membuat tubuh Selo menegang.
"Tapi sebenarnya ada apa denganmu? Kenapa kau tiba-tiba berubah seperti ini? Jangan bilang kau berubah baik karena ingin meninggalkanku?" tanya Selo. Teirdengar suara nada kesedihan di dalam suara Selo, membuat Bianca ingin sekali menangis, tapi Bianca berusaha menegarkaan hatinya
Bianca menegakkan tubuhnya kemudian mengangkat satu kakinya lalu bersila dan menghadap ke hadapan Selo.
"Selo," panggil Bianca.
"Bagaimana jika kita berbulan madu?" ucap Bianca yang langsung tho the point.
Tiba-Tiba Selo tersedak saat mendengar perkataan istrinya. "Kau benar-benar membuatku merinding," kata Selo membuat Bianca tertawa.
"Selo, tatap aku," ucap Bianca. "Ayo berbulan madu," ajaknya lagi, dia mengulang ucapannya.
Tiba-tiba Selo menjatuhkan tubuhnya ke sofa membuat Bianca tertawa.
"Tolong, pasti aku sedang bermimpi," lirih Selo.
Bianca kembali menarik tangan Selo hingga Selo kembali duduk. Bianca memegang kedua pipi suaminya. "Tidak, kau tidak bermimpi. Ayo kita berbulan madu, lalu setelah itu kita mempunyai anak."
Tiba-Tiba Selo terpikirkan sesuatu. Dia terdiam, wajahnya mulai meredup. Sekarang, sepertinya dia mengerti kenapa Bianca bersikap seperti ini.
"Apa kemarin malam kau bertemu dengan Edward?" tanya Selo.
Bianca tidak mengatakan ataupun, tidak mengiyakan maupun membantah. Dia malah kembali menggenggam tangan Selo.
"Tidak, aku tidak mendengar apapun. Aku tidak melihat apapun, aku tidak tahu apapun," kata Bianca dan kali ini Bianca sudah tidak bisa menahan tangisnya lagi hingga bulir bening terjatuh dari pelupuk mata wanita itu.
Selo menunduk. Dia sungguh malu pada Bianca, karena dia yakin ucapan Bianca terbalik dengan kenyataannya.
"Bi-Bianca, aku bukan lelaki lemah," jawab Selo dengan terbata, dan kali ini bulir bening juga terjatuh dari pelupuk mata Selo. Pada akhirnya, apa yang ditutup-tutupi tercium oleh Bianca.
Bianca melepaskan genggaman tangannya dari Selo kemudian dia mengelus pipi suaminya, hingga Selo mengangkat kepalanya lalu menatap ke arah Bianca.
"Kita sama-sama terluka di masa lalu. Kita sama-sama memulai untuk bangkit, jadi ayo kita mulai dari nol. Aku tidak ingin lagi mengingat apapun di masa lalu. Sekarang, kau selalu milikku, sekarang kau suamiku, sekarang kau lelaki yang aku cintai. Aku tidak mau lagi mengingat hal buruk yang kau lakukan, karena sekarang di mataku kau adalah pria yang sempurna."
Sudah lama sekali dia berharap kata-kata ini keluar dari mulut Bianca. Dia pikir dia hanya bermimpi bisa mendengar Bianca mengatakan ini, tapi ternyata tidak. Bianca benar-benar mengatakannya.
__ADS_1
"Bianca," panggil Selo.
"I love you, Selo."
Seketika Selo langsung menangkap pipi Bianca kemudian mencium bibir istrinya begitu pun dengan Bianca yang kali ini membalasnya dengan sukacita, dan setelah itu mereka tidak menunda apapun lagi. Keduanya sama-sama melepaskan luka, menanggalkan pakaian mereka masing-masing dan akhirnya mereka melebur menjadi satu
Tidak terhitung beberapa kali Selo mengucapkan kata cinta ketika permainan berlangsung begitu pun dengan Bianca dan kali ini keduanya benar-benar merasakan rasa lega yang luar biasa.
Tubuh Selo dan tubuh Bianca sama-sama menegang ketika mereka sudah mencapai puncaknya bersama-sama. Selo menempelkan keningnya kening Bianca. Napas nya masih memburu, begitu pun Bianca.
Selo menggulingkan tubuhnya ke samping, dia berusaha mengatur napasnya, begitu pun dengan Bianca, dan tak lama lelaki itu mengubah posisinya menjadi menyamping hingga menoleh ke arah Bianca lalu mengusap wajah istrinya yang penuh dengan keringat.
Tidak, dia tidak berbicara, tapi tatapan matanya menjelaskan bahwa dia sangat mencintai istrinya hingga Bianca mengubah posisi berbaringnya, lalu setelah itu dia memeluk maju kemudian berhambur memeluk Selo.
"Apa aku boleh mengulanginya lagi nanti?" tanya Selo dengan ragu karena walau bagaimanapun, dia terlalu takut untuk berharap pada Bianca.
"Hmm, kau boleh melakukannya, kapanpun. Aku mengantuk, aku ingin tidur. Jangan bangunkan aku dan jangan melepaskan pelukanku," kata Bianca membuat Selo terkekeh. Dia menarik selimut dengan kakinya, kemudian menyelimuti tubuh mereka berdua lalu setelah itu kedua pasangan itu pun sama-sama memejamkan matanya dan terlelap. Mereka cukup kelelahan karena mereka bercinta dengan hebat.
Satu jam kemudian, Selo terbangun. Dia melihat ke samping, ternyata sudah tidak ada Bianca di sampingnya hingga dia pun langsung bangkit dari berbaringnya. Dia melihat ke arah tubuhnya yang masih polos lalu menghela napas. Dia pikir yang barusan adalah mimpi, tapi ternyata itu nyata.
Terdengar suara ribut dari arah luar hingga Selo langsung turun dari ranjang, lalu setelah itu dia mengambil pakaiannya dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Sepuluh menit kemudian, Selo sudah mengganti pakaiannya kemudian keluar dari kamar. Dia berjalan ke arah dapur karena mencium wangi yang sangat sedap, dan ternyata Bianca sedang memasak. Selo mendekat ke arah istrinya kemudian dia memeluk Bianca dari belakang.
"Kau mengagetkanku," ucap Bianca membuat Selo terkekeh.
"Kau masak apa? Kenapa kita tidak makan saja di luar?" tanya Selo.
"Kenapa? Apa masakanku tidak enak?" tanya Bianca.
"Aku takut kau lelah," jawabnya.
"Tidak boleh, kau tidak boleh memakan masakan orang lain. Kau harus memakan masakanku," larang Bianca.
"Jika pergi ke kantor, aku tidak akan makan di luar. Bekal saja makanan untukku," ucap Selo.
"Tentu. Awas aja jika aku berani makan orang lain," kata Bianca.
Setengah jam kemudian, akhirnya masakan Bianca selesai. Dia membawa ke ruang makan, di mana Selo sudah menunggunya di sana dan mereka pun mulai menikmati makan yang tadi Bianca masak.
Mereka menikmati makanan dengan penuh sukacita, saling bercerita satu sama lain hingga akhirnya acara makan pun selesai dan kali ini Bianca mengajak Selo untuk berendam dan mandi bersama. Tentu saja Selo menyetujuinya dengan senang hati, dan mereka pun kembali ke kamar untuk pergi mandi.
Selo mengulurkan tangannya pada Bianca, membantu Bianca masuk ke dalam bath-up, hingga kini posisi Bianca duduk membelakangi Selo. Bianca menyadarkan punggungnya ke dada Selo, sedangkan Selo menyimpan kepalanya di bahu Bianca. Tangannya sudah bergerak mengeluh seluruh tubuh istrinya bermain di sana
"Sayang kita akan bulan madu ke mana?" tanya Selo yang memberanikan diri memanggil Bianca "sayang" membuat wajah Bianca merah. Dulu, ketika pacaran dia paling senang dipanggil seperti itu.
"Indonesia. Kebetulan sebentar lagi hari peringatan kematian kakek buyutku," kata Bianca hingga Selo mengangguk.
"Bukankah kita ingin berbulan madu, lalu kenapa ke sana?"
"Setelah acara itu, kita ke Bali dan pergi ke Lombok. Di sana sangat indah.”
"Terserah kau saja yang penting aku selalu bersamamu."
Tiba-Tiba Bianca menoleh ke arah Selo ketika merasakan ada yang berbeda dengan suaminya dan tanpa bertanya lagi Bianca langsung bangkit lalu dia berbalik dan mereka pun mengulang apa yang tadi mereka lakukan hingga pada akhirnya, mereka pun selesai dengan aktivitas mereka.
***
Dua bulan kemudian
, Selo melihat kertas di tangannya dengan tangan gemetar. Dia bahkan menatap kertas itu dengan wajah yang membasah. Jangan ditanyakan betapa bahagianya Selo saat ini, yang pasti dia benar-benar bahagia ketika Bianca dinyatakan hamil.
__ADS_1
Bianca sengaja tidak mengajak Selo untuk memeriksa kandungan, karena dia ingin memberikan kejutan pada suaminya dan ternyata reaksi Selo seperti ini.
"Kau tidak senang aku mengandung?" tanya Bianca. Dalam benak wanita itu, Selo akan berteriak kesenangan dan juga akan langsung memeluknya, tapi ekspresi suaminya sangat berbeda.
Selo tersadar kemudian dia melihat Bianca, begitu pun dengan Bianca. Ternyata, dugaannya salah saat melihat Selo menangis dia sadar bahwa suaminya begitu bahagia dengan kabar ini, sedetik kemudian Bianca terpekik ketika Selo menarik Bianca ke dalam pelukannya.
Selo memeluk Bianca begitu erat. Dia menangis tersedu di pelukan istrinya, begitu pun dengan Bianca. Dia tidak menyangka ternyata respon seperti ini lebih membahagiakan daripada respon yang Bianca mau.
***
Bianca terus mengelus rambut Selo. Dia tersenyum ketika Selo terus menciumi perutnya. Setelah tadi menguasai diri, Selo mengajak Bianca duduk di sofa. Lelaki itu berbaring, dan setelah itu dia menghapkan wajahnya pada perut istrinya kemudian terus mencium perut Bianca.
Jangan ditanyakan lagi, betapa bahagianya Selo saat ini, yang pasti dia benar-benar bahagia hingga rasanya dia tidak ingin menjauhkan wajahnya dari perut sang istri.
Setelah cukup lama melakukan apa yang sedang dia lakukan, Selo mengubah posisi kepalanya menjadi menatap ke arah Bianca.
"Kenapa, hm?" tanya Bianca.
"Kau tidak boleh terlalu lelah. Kau tidak boleh melakukan apapun. Aku tidak akan pergi ke kantor, pokoknya aku akan menjagamu dua puluh empat jam," ucap Selo membuat Bianca terkekeh.
"Aku ini orang hamil bukan orang sakit,"
"Tidak mau, pokoknya aku akan terus bersamamu," jawab Selo.
"Terserah kau saja," katanya.
***
Waktu menunjukkan pukul lima sore.
Selo merentangkan tangannya. Akhirnya, pekerjaannya selesai. Dia melihat ke arah Bianca yang sedang tertidur. Selo bangkit dari duduknya, kemudian lelaki tampan itu berjalan dengan pelan ke arah istrinya karena takut membangunkan, dan ketika dekat dengan sofa, Selo menekuk kakinya kemudian dia berjongkok hingga kini wajahnya dekat dengan Bianca.
Selo menatap Bianca, dia mengucapkan rasa syukur sebanyak-banyaknya. Pada akhirnya, dia kembali dipercayakan untuk menjadi seorang ayah dan sekarang dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan.
"Kenapa kau terus menatapku begitu?" tanya Bianca. Rupanya, Bianca sudah terbangun membuat Selo terkejut.
Baru saja Selo akan menjauhkan wajahnya, tapi Bianca sudah terlebih dahulu menarik tengkuk suaminya, dan setelah itu dia mencium bibir Selo.
"Kau sudah selesai?" tanya Bianca hingga Selo mengangguk.
"Aku sudah selesai. Ayo kita pulang," kata Bianca lagi.
"Kita makan di luar saja," ajak Selo.
"Kau tidak mau makan masakanku?" kata Bianca.
"Tidak, aku takut kau lelah," jawab Selo lagi.
"Tidak ada kata lelah untuk memasak untukmu," ucap Bianca.
Bianca bangkit dari berbaringnya diikuti Selo yang juga bangkit, hingga kini mereka pun bersiap untuk pulang. Waktu berlalu begitu cepat.
***
"Alice, apa maksudmu?" tanya Adrian ketika Alice meminta hal yang tak masuk akal, gadis kecil yang terkulai lemah di brankar itu, meminta permintaan yang sangat tidak masuk akal untuk dilakukan Adrian. Bagaimana mungkin sang putri memintanya untuk menikahi Mayra?
"Dad, aku ingin mempunyai ibu dan aku ingin Bibi Mayra menjadi ibuku," jawab Alice. Dia berbicara dengan suara perlahan, karena dia masih belum bisa berbicara dengan normal. Saat ini, kondisi Alice terbaring lemah di brankar. Gadis kecil itu baru saja karena melakukan operasi sebab Alice menderita jantung bocor, dan dia tidak menyangka putrinya akan memintanya untuk menikahi Mayra, hal yang tidak pernah dia bayangkan dan yang tidak pernah dia lakukan.
Setelah Mayra dirawat beberapa bulan lalu, Adrian dan Alice, tidak pernah bertemu lagi. Dia pikir, setelah dia dan Alice tidak bertemu dengan Mayra, Alice akan melupakan wanita itu, tapi ternyata dia salah. Sekarang, Alice malah memintanya melakukan hal yang benar-benar gila.
"Alice, tidak mungkin Daddy menikahi Bibi Mayra," kata Adrian. Wajah Alice tampak sendu. Rasanya, Adrian ingin sekali menangis ketika melihat putrinya seperti ini, hingga dia menghela napas.
__ADS_1
"Baik, Daddy akan berbicara pada Bibi Mayra," jawabnya.