Tatap Aku, Lelakiku!

Tatap Aku, Lelakiku!
Lelah dan Menyerah


__ADS_3

Deren membuka pintu ruang rawat Theresia seperti tadi tatapannya langsung terarah pada Theresia yang berbaring di brangkar. Darren seperti tidak sadar bahwa Sekarang dia sedang menatap lekat putrinya. Padahal sebelumnya dia paling anti menatap wajah Theresia.


Tanpa sadar pula, Dareen berjalan ke arah Brangkar, hingga sekarang tubuh lelaki itu sudah berada di sisi brangkar yang ditempati oleh putrinya, saat dekat dengan brangkar, Dareen tidak bisa mengalihkan tatapannya dia terus menatap Theresia yang sedang memejamkan mata.


‘Lihatlah wajah putrimu lekat-lekat, Dareen.” Tiba-tiba ucapan Salsa kembali menubruk otak Dareen. Ucapan yang menyuruhnya untuk memperhatikan wajah Theresia, dan benar saja Dareen merasakan getaran yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya.


Dan tak lama Dareen terpaku ketika Teresia membuka matanya, hingga kini tatapan keduanya saling mengunci. Theresia yang baru saja tersadar Setelah dia berjuang terlepas dari maut merasa aneh ketika melihat sang ayah di depannya. Tere merasa Ini adalah sebuah mimpi, dia bahkan tersenyum pada sang ayah, karena untuk pertama kalinya Tere melihat sang ayah menatapnya.


Ketika Tere tersenyum samar padanya, Darren semakin merasa aneh. Namun tak lama, Dareen tersadar kemudian menggelengkan kepalanya, lelaki itu pun berbalik hingga Tere menyadari bahwa ini adalah nyata dan sang ayah benar-benar di depannya. Saat Dareen berbalik, rasa senang yang dirasakan Teresia berubah menjadi rasa sedih karena sang ayah pergi lagi tidak memperdulikan dia yang dalam kondisi seperti ini. Karena Theresia menyadari apa yang sedang terjadi pada tubuhnya apalagi dia tidak bisa menggerakkan seluruh badannya.


***


Selbie membuka pintu tangga gawat darurat, dia mendudukkan dirinya sejenak di tangga tangga darurat, wanita itu merasa ingin istirahat sekaligus menenangkan diri di tempat yang sepi karena setelah sampai ruang rawat putrinya, Selbie tidak ingin memikirkan rasa sedihnya.


Selbie membuka kresek, kemudian dia membuka botol air minum yang telah dia beli kemudian menenggaknya. Setelah itu Shelbi menyadarkan tubuhnya ke samping dengan tatapan mata yang menatap lurus ke depan, sepertinya jiwa Selby sedikit terguncang sekarang. Sebab dia baru saja mengalami hal yang menyakitkan di mana dia hampir saja kehilangan Theresia dan sekarang tubuh wanita itu melemah dan tidak berdaya bahkan dia merasa tidak bisa menggerakkan tubuhnya.


10 menit kemudian


Pintu tangga darurat terbuka, hingga Shelby berusaha untuk menoleh dan menggerakkan tubuhnya. “Salsa!” panggil Selby, ternyata Salsa yang masuk ke dalam tangga darurat.


Tadi saat Theresia sedang berjuang, teman Salsa yang juga dokter di rumah sakit tersebut menelpon Salsa dan memberitahukan yang terjadi. Berhubung Salsa masih ada pekerjaan, dia baru bisa datang ke rumah sakit saat pekerjaannya sudah selesai.


Dan barusan ketika Shelbi keluar dari kantin Salsa mengikuti adik iparnya dan ketika Shelbi masuk, Salsa tidak langsung masuk dia berdiam diri sejenak karena dia tahu Selbi butuh waktu dan setelah beberapa menit berlalu, akhirnya Salsa masuk ke dalam menyusul adik iparnya.


Salsa tersenyum, hati wanita itu begitu tercabik ketika melihat Shelbi seperti ini. Entah kenapa, Shelbi begitu kuat menghadapi semuanya sendir, di mana tidak ada yang tahu penyakit Theresia. Dan barusan Salsa juga sudah menelpon kedua orang tuanya memberitahukan apa yang terjadi dan mungkin orang tuanya sudah menyusul kemari.


Selbie ingin bangkit dari duduknya, tapi tidak bisa hingga Salsa langsung menghampiri Selbi dan duduk di sebelah adik iparnya. “Sa-Salsa!" panggil Shelby dengan suara yang super pelan, raut wajahnya seolah mengatakan ’Tolong peluk aku.’


Salsa tidak menjawab. Dia malah memeluk Adik iparnya, karena tau sekarang Shelbi butuh pelukan. Dan detik ketika Salsa memeluknya, Shelbi pun membalas pelukan Salsa dengan erat, lalu menangis sekencang-kencangnya.


Setelah ayahnya meninggal beberapa tahun lalu, Shelbi benar-benar tidak mempunyai siapapun untuk sekedar berbagi kesedihan, tidak ada yang menguatkannya, tidak ada yang pernah menghiburnya dan tidak ada yang mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.


Salsa memeluknya, Shelby benar-benar menumpahkan semuanya. Pelukan ini memang sederhana, tapi mampu menenangkan diri Shelby.


Sementara Salsa yang mendengar suara raungan Shelby, juga ikut menitikkan air mata. Dia mengutuk perbuatan adiknya.


Lima belas menit kemudian.


Shelby berusaha menguasai diri. Wanita cantik melepaskan pelukannya dari sang kakak ipar. Salsa menghapus air matanya, dia menggenggam tangan Shelby.


"Kenapa kau menyembunyikan ini dari kami?" tanya Salsa.


Shelby lebih menghapus air matanya kemudian menggeleng.


"Ya sudah, kau ingin tetap di sini? Ingin menenangkan diri? Biar aku yang menemani Theresia," ucap Salsa hingga Shelby mengangguk.


Akhirnya, dia bisa tenang meninggalkan Theresia karena ada kakak iparnya yang menunggu.


***

__ADS_1


Darren mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Entah kenapa setelah pulang dari rumah sakit, lelaki itu merasa aneh. Jiwanya seperti terlepas dari raganya, hingga dia seperti orang linglung.


Tiba-Tiba, Darren menghentikan laju mobilnya. Dia mengerem secara mendadak ketika ada orang yang menyeberang, dan setelah orang itu pergi, Darren langsung memarkikan mobilnya di sisi, karena dia benar-benar merasa tidak karuan.


Darren menyandarkan tubuhnya ke belakang. Dia memegang dadanya yang terasa nyeri. Sungguh, Darren tidak pernah merasakan seperti ini sebelumnya. Tanpa sadar, sebenarnya jiwa Darren sebagai ayah memberontak ketika melihat Theresia terbaring di brankar, tapi egonya masih lebih tinggi.


Setelah cukup lama terdiam, Darren langsung menyalakan dan menjalankan mobilnya kembali. Dia memutuskan untuk pulang karena dia ingat Tristan.


Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Darren sampai di apartemen. Lelaki itu pun bergegas turun kemudian berjalan ke arah lift untuk naik ke dalam unit apartemen miliknya.


Saat dia masuk ke dalam, terdengar suara bincang-bincang dari arah dalam hingga Darren langsung berjalan dengan cepat, dan ternyata ayah dan ibunya sedang ada di apartemen.


"Sayang, tolong bawa Tristan ke kamar," kata Tommy hingga Mayra mengangguk.


"Kau juga boleh pergi," kata Tommy lagi yang menolehkan kepalanya pada asisten rumah tangga yang bekerja di apartemen Darren. Asisten rumah tangga itu tidak menginap dan hanya akan pulang pergi, itu sebabnya ketika Darren datang, Tommy minta asisten rumah tangga untuk keluar dari apartemen.


"Dad, kenapa kau tidak mengabari aku jika kalian akan kemari?" tanya Darren.


Tommy tersenyum. Di dalam hati, dia ingin sekali menghajar putranya, tapi ketika dia berbuat kasar, tidak akan menemukan jalan apapun, Dareen malah akan semakin menjadi-jadi.


"Daddy ingin berbicara denganmu," kata Tommy. Nadanya terdengar masih santai, padahal emosinya menggebu-gebu. Jangan ditanyakan betapa terkejutnya Tommy dan Mayra ketika mengetahui apa yang terjadi pada cucu mereka. Mereka benar-benar terkejut, bahkan secara langsung Tommy menelepon dokter yang menangani Theresia. Lalu dari dokter tersebut, mengatakan semuanya pada Tommy, hingga mereka mengetahui apa yang terjadi pada cucunya secara lengkap, dari mulai dia pertama kali terdeteksi lupus sampai sekarang.


"Ada apa, Dad?" tanya Darren, "Apa ini soal pekerjaan? Aku rasa perusahaan tidak ada yang genting. Aku mampu mengendalikan perusahaan dan tidak ada kesalahan apapun."


"Darren," panggil Tommy yang malah memanggil nama putranya alih-alih menjawab pertanyaan Darren.


Seketika, tubuh Darren dia mematung. Entah kenapa, dia mendadak aneh ketika sang ayah membahas Theresia. Senyuman Theresia tadi langsung menubruk otak Darren, membuat Darren merasa sesak.


"Kenapa memangnya?" tanya Darren seperti biasa, ego mampu mengalahkan semuanya.


"Putrimu menderita penyakit lupus," jawab Tommy.


"Apa?!" pekik Darren, cukup terkejut saat mendengar ucapan sang ayah. Namun tak lama, dia kembali tersadar lalu menyandarkan tubuhnya ke belakang, seolah tidak peduli dengan penyakit yang diidap oleh Theresia, padahal hatinya bergemuruh.


"Sudah kubilang dan sudah aku tekankan, bahwa aku tak peduli dia mati atau ..." Darren menghentikan ucapannya ketika melihat senyuman ayahnya. Tunggu, bukankah seharusnya ayahnya mengamuk atau setidaknya menghajarnya karena dia mengatakan ini? Namun, kenapa ayahnya sangat santai sekali.


Mengerti akan kebingungan Darren, Tommy kbaki tersenyum membuat Darren terpaku. Entah kenapa, di mata Darren itu bukan senyuman yang menyenangkan.


"Daddy tidak bisa memaksamu untuk peduli pada Theresia, itu hakmu sebagai orang tua. Daddy hanya mengingatkan, jangan sampai kamu menyesal." Setelah mengatakan itu, Tommy pun bangkit dari duduknya kemudian dia menyusul Mayra ke kamar, lalu setelah itu mengajak Mayra untuk pergi untuk menjenguk cucu mereka di rumah sakit.


***


Tommy dan Mayra turun dari mobil, kemudian mereka pun langsung masuk ke dalam rumah sakit.


"Sayang, kau masuk duluan. Aku akan menunggu di sini," kata Tommy pada Mayra.


Tommy berusaha menenangkan dirinya, lelaki itu mendudukan dirinya di kursi tunggu, dia mengusap wajahnya, dia benar-benar merasa gagal sebagai seorang ayah.


'Maafkan aku gagal mendidik putraku,' batin Tommy yang meminta maaf pada yang ayah Shelbi yang telah tiada.

__ADS_1


Dua bulan kemudian.


Tidak terasa, ini sudah dua bulan berlalu semenjak Theresia dirawat, dan setelah dua bulan dirawat, akhirnya Theresia diperbolehkan pulang. Semakin hari, kondisi Theresia semakin membaik karena dia mendapatkan support sistem yang luar biasa dari keluarga ayahnya.


Dareen, Jangan ditanyakan, tentu saja lelaki itu tidak pernah datang. Sejak hari Theresia sadar dan melihat Darren menjenguknya dan pergi meninggalnya ketika dia sadar, sejak hari itu pula Theresia sudah lelah untuk berharap pada sang ayah.


Bagaimana tidak, saat itu dia yang baru saja sadar setelah berjuang dari maut langsung melihat sang ayah. Dia pikir ayahnya akan sedikit iba, tapi ayahnya malah berbalik. Ditambah lagi selama dua bulan, dia di rawat sang ayah tidak pernah datang lagi.


Waktu menunjukkan pukul tujuh pagi.


Shelby yang baru saja keluar dari kamar mandi, langsung melihat Theresia sudah rapi dengan seragam sekolah.


"Theresia, kau mau ke mana?" tanya Shelby. Mereka baru pulang dari rumah sakit kemarin malam, tapi Theresia ingin pergi sekolah karena dia rindu dengan lingkungan sekolahnya.


"Mommy, aku ingin sekolah," kata Theresia.


Shelby menekuk kakinya, menyetarakan diri dengan putrinya. "Theresia, tapi ka—"


"Mommy, dokter mengatakan aku akan baik-baik saja selama aku happy, dan aku sekarang ingin sekolah," kata Theresia.


Shelby mengembangkan senyumnya. "Ya udah kalau begitu. Tristan mungkin sedang sarapan jika tidak ada Daddy, sarapan saja bersama Tristan," kata Shelby.


Karena memang selama ini, Darren tidak pernah mau bergabung bersama Tristan ketika ada Theresia di meja makan.


"Baik Mommy," jawabnya.


Theresia pun langsung berbalik kemudian dia keluar dari kamar, lalu setelah itu dia berjalan ke arah meja makan.


"Theresia, ayo kemari," ajak Tristan ketika melihat adiknya masuk ke dalam ruang makan, hingga Theresia langsung berjalan dengan riang karena dia bisa sarapan bersama Tristan tanpa ada Darren.


"Kenapa kau sekolah? Kau baru pulang dari rumah sakit," ucap Tristan yang juga sudah siap memakai seragam sekolah.


"Aku rindu teman-temanku," kata Theresia. Dia pun langsung menarik kursi, kemudian dia mendudukkan dirinya di seberang Tristan. Baru saja dia akan mengambil roti, tiba-tiba gerakan Theresia terhenti ketika Darren menarik kursi dan duduk di sebelah Tristan, membuat Theresia mengerutkan keningnya. Tumben sekali ayahnya mau bergabung dengan Tristan ketika ada dirinya di meja makan.


Seketika, suasana dipenuhi kecangungan. Tristan menoleh ke arah sang ayah, rupanya Tristan juga bingung tuliskan. Selama bertahun-tahun, inilah pertama kalinya mereka sarapan bertiga.


Tristan yang tidak ingin Theresia meninggalkan meja makan, dengan cepat menyerahkan sarapannya. "Ayo sarapan, Theresia," ajak Tristan hingga Theresia menarik piring itu, sedangkan Darren juga langsung menarik piring di depannya dan mengambil roti. Lalu setelah itu, mengolesnya dengan selai dan memberikannya pada Tristan.


Tentu saja itu tidak luput dari pengamatan Theresia. Namun, Theresia seolah tidak peduli dengan apa yang dilakukan pada kakaknya, walaupun tentu saja itu menyakitkan.


Suasana di meja makan begitu penuh dengan keheningan. Tristan, Theresia fokus menghabiskan sarapan mereka masing-masing, hingga pada akhirnya Theresia menyimpan sisa roti yang dipegangnya kemudian menyimpannya di piring.


"Theresia, kau mau ke mana?" tanya Tristan ketika Theresia bersial meninggalkan meja makan.


"Aku ingin sarapan di kamar sambil menonton," kata Theresia. Tentu saja dia berbohong. Gadis kecil itu pergi dari meja makan karena ingin menahan tangis. Entah kenapa, walaupun dia sudah berusaha untuk tidak berharap, tapi ketika melihat sang ayah, dia teringat momen di mana Darren saat itu meninggalkannya ketika dia baru saja sadar.


Sementara Tristan, langsung melihat ke arah Darren, begitu pun dengan Darren yang juga melihat ke arah Tristan.


"kenapa kau menatap Daddy begitu? Tanya Dareen.

__ADS_1


__ADS_2