
Roland terus mengerjai Selo yang tergantung. Apapun dilakukan lelaki itu agar Selo meringis dan merintih. Rintihan Selo bagaikan kesenangan bagi Roland. Jangan ditanyakan betapa tersiksanya Selo saat ini, yang pasti Selo seperti Bianca. Dia lebih memilih mati daripada harus menerima hal seperti ini. Walaupun Selo merasakan rasa sakit, tapi entah kenapa Selo tidak menyesal telah mengambil langkah ini, menukar dirinya dengan Bianca. Sebab, dia tidak bisa membayangkan bagaimana jika Bianca yang ada di posisinya saat ini.
Pada akhirnya, Roland menghentikan aktivitasnya. "Jangan turunkan dia seperti ini, dan jangan obati dia," kata Roland pada anak buahnya hingga anak buahnya mengangguk. Dia masih harus membuat Selo tersiksa, agar Gabriel semakin menurut padanya. Dia masih belum menghubungi lelaki itu, karena dia sedang menyusun strategi. Walau bagaimanapun, dia tahu Gabriel bukan orang yang mudah untuk ditangani.
Roland keluar dari ruangannya, kemudian lelaki itu langsung berjalan ke arah kamar yang menjadi kamar tempatnya untuk beristirahat.
Roland mengambil cara Aghnia, yaitu bersembunyi di tempat yang dekat dari lingkungan mereka. Sebab pasti tempat itu tidak akan terendus oleh Gabriel, karena Gabriel tidak akan menyangka bahwa sebenarnya dia masih berada di satu daerah.
Roland menatap ke arah langit-langit dia tersenyum karena merasa puas. Sekarang, dia telah berada di atas awan, dia yakin Gabriel akan melakukan apapun untuknya, dan dia akan mendapatkan kejayaannya lagi.
Dia akan meminta tebusan pada Gabriel dengan nominal yang sangat besar, untuk mengganti kerugian perusahaan yang sudah hancur, dia juga akan meminta beberapa aset Gabriel karena dia tahu lelaki itu sangat kaya. Setelah mendapatkan apa yang dia mau, dia menghilangkan jejaknya dan akan pergi keluar negri.
Seringai Roland semakin melebar ketika dia mengingat saat dia menyiksa Bianca, dan di mata Roland, itu sangat menyenangkan. jika tidak mempunyai rencana untuk memeras Gabriel, mungkin Rolan juga akan mengurung Bianca. Tapi, sayang dia harus melepaskan wanita itu agar apa yang di dapat lebih besar.
Tak nama Roland tertawa terbahak, lelaki itu membayangkan Bagaimana sekarang menderitanya kaisar Moron di penjara, seandainya saat itu Kaisar tidak meninggalkannya, mungkin Roland tidak akan kabur seorang diri, dia juga akan membawa Kaisar.
Tapi saat itu, Kaisar pergi begitu saja, meninggalkan dirinya dan sekarang Roland berharap kaisar membusuk di penjara. Setelah puas dengan lamunannya, akhirnya Roland pun memejamkan matanya, lelaki itu terlelap. Setelah dia bangun dia berencana untuk menyiksa Sello.
***
“Da-Dad, Kau berbohong kan, itu tidak benar kan?” Amelia menatap Gabriel dengan tangis yang berlinang, pada akhirnya Gabriel memutuskan untuk jujur tentang apa yang terjadi pada Sello, walau bagaimanapun dia tidak ingin menutupi apa yang terjadi. Sebab Amelia akan murka ketika tahu dari orang lain.
“Itu benar sayang, Sello sekarang sedang ditahan.” Tubuh Amelia hampir ambruk di lantai. Namun beruntung, Gabriel dengan cepat menahan tubuh istrinya, dia mengelus punggung Amelia agar Amelia tenang, tapi yang terjadi tangis Amelia malah semakin mengencang.
Amelia meraung, dia menangis kencang dan memukul-mukul dada Gabril, hingga Gabriel memeluk tubuh istrinya begitu erat, kedua pasangan suami istri itu sekarang begitu rapuh memikirkan bagaimana keadaan putra mereka, rasanya mereka benar-benar hancur sehancurnya.
Satu minggu kemudian
Ini sudah satu minggu berlalu Sello diculik oleh Roland, jangan ditanyakan betapa beratnya dan kerasnya usaha Gabriel untuk menemukan Sang putra, dia bahkan sudah menyebar anak buahnya ke seluruh penjuru negeri.
Selain mencari di daratan, Gabriel juga mengutus anak buahnya untuk buat patroli di udara, dia juga mengutus anak buahnya untuk pergi ke hutan siapa tahu Sello ada di sana.
Namun nihil, seminggu berlalu tidak ada kabar dari putranya.
Kondisi Amelia begitu drop. Bahkan, wanita itu sekarang dilarikan ke rumah sakit sedangkan Gabriel pun juga sama, dia pun merasakan drop. Walau bagaimanapun, dia juga cukup depresi karena kehilangan putranya, tapi Gabriel harus bertahan jika dia tumbang tidak akan ada yang memberi instruksi pada anak buahnya.
Gabriel Masuk ke dalam markas, lelaki itu langsung berjalan ke arah ruangan pribadinya diikuti seorang detektif yang diambil dari luar negeri, Gabriel rasa dia sudah tidak bisa untuk mencari seorang diri, karena Sello tidak ditemukan di manapun, hingga dia terpaksa memanggil detektif yang sudah sangat berpengalaman.
Gabriel mengetuk meja, kemudian dinding berubah menjadi cermin. “Siilakan,” ucap Gabriel pada detektif yang barusan masuk bersamanya, hingga detektif itu masuk dia memperhatikan grafik dengan seksama mencari sumber lokasi dari device yang berhubungan dengan Sello dan juga langsung menghubungkannya ke tab yang sedang dia pegang.
Detektif itu mencoba mendeteksi sinyal ponsel Sello saat Sello sampai di Rusia sampai lokasi terakhir ponsel Sello tidak terdeteksi.
Satu jam kemudian detektif itu masih terus melihat grafik demi grafik yang tersusun di layar dan, rasanya Gabriel ingin mengamuk mungkin jika di detektif itu anak buahnya dia akan mengumpat karena bekerja dengan lambat. Tapi sayangnya saat ini dia tidak bisa protes dan hanya bisa menunggu.
Dua jam kemudian.
Ini sudah 3 jam berlalu, detektif itu masih terus menunggu grafik, biasanya Gabriel tidak pernah sabar dengan apapun, tapi sekarang dituntut untuk sabar dan akhirnya Gabriel tidak sabar lagi, langsung bangkit untuk menghampiri lelaki itu dan melayangkan protesnya
Namun belum dia bangkit, lelaki itu sudah Menoleh. “Bisa tolong pause, agar grafik berhenti,” kata detektif tersebut hingga Gabriel pun langsung menekan meja dan sedetik kemudian aktifitas layar semua terhenti.
“ Tuan Gabriel Tolong zoom bagian ini," uca detektif tersebut.
“Zoom titik merah," kata Gabriel hingga kaca itu langsung meng-zoom dengan sendirinya dan sekarang titik merah itu ada di depan detektif tersebut.
“ Tuan Gabriel bisa mendekat,” ucap detektif hingga Gabriel pun langsung mendekat ke arah layar. “Apa ada bangunan seperti ini di dekat sini.”
Gabriel pindah ke layar kaca yang berada di sisi lain. “Cari bangunan yang ada di titik merah,” ucap Gabriel hingga layar dengan cepat bergerak lalu titik merah itu berubah menjadi sebuah bangunan yang teramat jelas, hingga satu layar itu penuh dengan gambar bangunan tersebut.
Gabriel mencoba mengingat bangunan yang ada di depannya, dia merogoh saku kemudian mengutak-atik ponselnya Lalu setelah itu memotokan bangunan itu dan mengirim pada anak buahnya.
10 menit berlalu, anak buah Gabriel mendapatkan jawaban bahwa bangunan itu terletak di sisi kota.
__ADS_1
“Memangnya ada apa?” tanya Gabriel.
“Ada kemungkinan putra Anda ada di sini, sebab kami menangkap sinyal terakhir tepat berada di titik ini.”
Helaan nafas lega terlihat dari wajah tampan Gabriel, rasanya sendi-sendinya terasa melemas ketika mendengar apa yang diucapkan oleh detektif tersebut, tanpa mengatakan apapun lagi Gabriel langsung berbalik kemudian keluar diikuti detektif itu.
“Kita pergi sekarang.” Titah Gabriel pada anak buahnya, hingga semua mengangguk.
Iring-iringan mobil terlihat di jalan rayan banyak sekali mobil anak buah Gabriel yang berjalan di belakang mobil milik Gabriel. Sedari tadi Gabriel terus mengumpat supirnya yang berjalan dengan pelan, padahal supirnya sudah mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang sangat penuh. Tapi seperti bisa, Gabriel tidak pernah sabar.
Gabriel Menyandarkan tubuhnya ke belakang, lelaki itu mengusap dadanya menguatkan dirinya, karena dia tau tentang kemungkinan yang akan terjadi pada putranya, dia yakin kondisi Selo sedang tidak baik-baik saja.
Seandainya saat itu dia menghadirkan detektif lebih cepat tentu saja saya Sello akan langsung ditemukan. Dia mengumpat kebodohannya harusnya dia berkaca dari kasus Aghnia, di mana dia pernah mencari Aghnia ke tempat yang jauh, tapi ternyata Aghnia masih berada di daerah yang sama dan sekarang pun Roland begitu.
***
Roland duduk di kursi, lelaki itu tertawa puas ketika melihat Selo terpasung dan tak sadarkan diri. Selama seminggu ini, jangan ditanyakan betapa parahnya kondisi Selo Rambut yang botak, wajah yang bengkak dan memar karena terus di hajar, tubuh yang sangat kurus dan sekarang pun Sello di pasung.
Bahkan selama satu minggu ini pula, Selo hanya diberikan makan selama 2 kali itu pun Roland memberikannya di lantai, memaksa Selo untuk makan seperti hewan dan sekarang kepala Sello sudah berlumuran darah karena barusan Roland memukul Sello dengan tongkat bisbol dan pada akhirnya Selo kehilangan kesadarannya. Nanti malam, Roland akan memulai menghubungi Gabriel dan membuat kesepakatan dengan lelaki itu.
Roland bangkit dari duduknya,elaki itu langsung keluar dari ruangan tempat dikurungnya Sello. Lalu setelah itu, dia pergi ke arah ruang makan untuk menikmati makanan siangnya.
Roland makan dengan lahap, satu minggu ini Entah kenapa sangat menyenangkan untuknya, bisa menyiksa Selo adalah hal yang terindah yang bisa Rolan lakukan untuk melampiaskan amarahnya yang tertahan selama 3 bulan dia dipenjara.
Melihat wajah Selo yang meringis, bagaikan obat bagi Roland. Sepertinya, Roland benar-benar suah dijuluki sebagai psikopat di mana tidak ada rasa iba sedikitpun pada korbannya.
Akhirnya makanan di piring Roland pun kandas, lelaki itu memutuskan untuk bangkit dari duduknya kemudian keluar.
“ Aku ingin tidur, pastikan lingkungan sekitarnya aman,” ucap Roland pada anak buahnya hingga anak buahnya mengangguk. Roland pun kembali masuk ke dalam kemudian naik ke kamarnya. Sedangkan anak buahnya seperti biasa kembali berjaga di luar.
Detik demi detik yang menegangkan bagi Gabriel pun tiba, di mana saat ini dia hampir dekat dengan lokasi yang diduga tempat di mana Sello berada, Gabril membuka mantelnya dia akan menghabisi Roland dengan tangannya sendiri.
“Apa ini lokasinya?” tanya Gabriel pada detektif yang sedang memegang tab.
“Ini kan jalan buntu," ucap Gabriel ketika di depannyanya ada tembok. Tembok itu sengaja di buat oleh Roland, agar orang mengira itu jalan buntu.
“Ini bukan jalan buntu, ini hanya tembok biasa, Anda bisa menyuruh anak buah anda untuk menyingkirkan menghancurkan tembok di depan,” ucap detektif tersebut.
Gabriel turun dari mobil, kemudian anak Gabriel pun ikut turun.
“Robohkan itu, ternyata itu bukan jalan buntu,” ucap Gabriel hingga anak buah Gabriel menggangguk, kemudian mereka berjalan ke belakang di mana ada mobil yang berisi peralatan di sana yang juga ikut untuk menjemput Sello.
Anak buah Gabriel membuka mobil pan di mana di sana banyak sekali alat berat, semua orang langsung membawa benda-benda yang akan mereka pakai dan setelah itu anak buah Gabriel membongkar tembok tersebut.
2 jam kemudian, akhirnya tembok sedikit-sedikit demi sedikit berhasil diruntuhkan, tembok itu memakai beton hingga butuh waktu lebih lama untuk membongkar tembok yang ada di depannya.
Sedari tadi, Gabriel sudah gelisah tak karuan rasanya lelaki itu ingin melompat melewati tembok tersebut . Namun tentu saja tidak bisa dan akhirnya satu jam kemudian, tembok bagian tengah sudah berhasil dibobok, dan cukup untuk dilalui oleh mobil, hingga Gabriel mengisyaratkan untuk anak buahnya masuk ke dalam mobil dan dia pun juga ikut masuk Lalu setelah itu menyuruh supir untuk melajukan mobilnya melewati tembok tersebut, dan benar saja dibalik tembok tersebut ada beberapa rumah yang sepertinya tidak terpakai seperti perumahan kosong.
Detektif yang berada di mobil Gabriel melihat ke arah jendela, memastikan lokasi yang akurat hingga tak lama detektif itu menyuruh supir Gabriel untuk berhenti ketika berada di depan sebuah rumah yang tampak usang dan tidak terlihat dari luar, karena pagar rumah itu itu begitu tinggi.
Ya, rumah itu adalah rumah yang di tempati oleh Roland dan juga rumah tempat Selo di sekap. “Apakah ini titiknya?” tanya Gabriel.
“Hmm, ini titiknya tuan.” Gabriel dengan cepat turun dari mobil, dan anak buah Gabriel pun juga semua ikut turun.
“Hancurkan pagarnya!" titah Gabriel, hingga anak buah Gabriel langsung berlari kemudian mereka menggoyang goyangkan gerbang yang terkunci dari dari dalam. Namun berkat kekuatan anak buah Gabriel yang sangat banyak, gerbang itu mampu terkoyak.
Anak buah Roland saling tatap ketika gerbang terus bergerak, hingga mereka pun langsung berlari dan mengintip. Kedua mata anak buah Roland membulat saat banyak sekali orang yang seperti algojo sedang berusaha membuka gerbang. Tidak mereka tidak akan sanggup untuk melawan orang-orang tersebut.
“Ayo kita bersembunyi saja," ucap anak buah Roland pada temannya, hingga mereka pun langsung berlari masuk ke dalam, mereka bukan berlari masuk ke dalam rumah, melainkan mereka berlari ke pinggir rumah dan bersembunyi di sana.
15 menit kemudian, gerbang terbuka hingga mereka pun langsung masuk diikuti Gabriel yang berlari. Semua anak buah Gabriel masuk mencari kesana kemari begitupun dengan Gabriel.
__ADS_1
“Tuan!” teriak salah satu anak buah Gabriel yang menemukan Selo sedang berada di satu ruangan, hingga Gabriel langsung berjalan ke arah sumber suara yang memanggilnya.
“Sello!” teriak Gabriel ketika melihat kondisi putranya sangat mengenaskan, dengan cepat Gabriel langsung menghampiri putranya.
“Selo ... Selo!” Panggil Gabriel. Namun, Selo masih memejamkan matanya. Nafas Gabriel memburu saat melihat kondisi putranya seperti ini.
“Tuan, tolong anda minggir. Aku akan membuka pasungan ini.” Gabriel menyingkir kemudian anak buah Gabriel mulai membuka gembok dengan kampak, hingga pada akhirnya kaki Sello berhasil dibebaskan.
“Cepat bawa Putraku ke rumah sakit!” teriak Gabriel, dia menyuruh anak buahnya untuk membawa Sello ke rumah sakit, sedangkan dia harus memberi pelajaran pada Roland.
Roland yang sedang tidur langsung terbangun, ketika mendengar suara gaduh dari luar. Tapi, tak lama, dia pikir itu adalah mimpi, hingga dia kembali memejamkan matanya. Namun sepersekian detik, suara orang berlari membuyarkan tidur Roland hingga lelaki hingga membuka matanya kembali
Mata Roland membuat sempurna, jantung Roland berpacu dengan cepat, lelaki itu pun langsung bergegas turun kemudian berniat untuk melihat apa yang terjadi. Namun, belum sempat dia membuka pintu, pintu sudah terbuka dari luar.
Jantung Roland berhenti berdetak saat melihat siapa yang ada di depannya, lelaki yang paling dia takuti yaitu adalah Gabriel. Wajah lelaki itu memucat, belum sempat dia mengajukan kesepakatan dan ternyata ternyata Gabriel sudah berada di depannya. Sepertinya sekarang kondisi berbalik, dia juga akan mendapatkan rasa sakit, yang seperti Sello alami.
Tatapan mata Gabriel begitu mematikan, lelaki itu merogoh saku kemudian dia langsung mengeluarkan air keras dan dia menumpahkan air itu pada wajah Roland hingga seketika Roland berteriak. Dia memegang wajahnya dan ketika Roland berteriak Gabriel langsung menghajar tubuh Roland secara membabi buta, hingga Roland yang sedang kesakitan tidak bisa melawan sedikitpun.
Lelaki itu terus memegang wajahnya yang benar-benar terasa pedih, bahkan mungkin wajah Roland hancur dalam waktu singkat, setelah cukup lama menghajar Roland akhirnya terkapar di lantai. Lelaki itu hanya bisa merintih karena wajahnya langsung terbakar, akibat air keras yang disemprotkan oleh Gabriel dan seketika itu juga Gabriel langsung menginjak-nginjak wajah Roland membuat Roland berteriak.
Dan pada akhirnya, Roland terkapar tidak sadarkan diri setelah 1 jam Gabriel menyiksa tubuh lelaki itu. Gabriel menegakkan tubuhnya dia menatap Roland yang sudah tidak sadarkan diri, wajah Roland langsung melepuh memerah dan juga mengerut karena efek air keras yang di bawakan olehnya.
Hukuman sampai di situ? Oh tidak, tentu saja ada hukuman yang lain sebelum Rolan diserahkan pada kepolisian. Gabriel tidak akan menyerahkan Roland pada polisi yang ada di Rusia, dia akan menyerahkan kepada polisi yang ada di Amerika.
”Tuan!” panggil anak buah Gabriel.
“Apa putraku sudah dibawa ke rumah sakit?” tanyanya Gabriel. Anak buah Gabriel mengangguk.
“Bawa dia ke markas, nyalakan listrik bertegangan tingg,” ucap Gabriel pada anak buahnya, hingga kedua anak buahnya mengangguk. Gabriel pun keluar dari kamar kemudian lelaki itu berniat menyusul Sello ke rumah sakit.
“Biar aku saja yang menyetir, kau ikut bersama yang lainnya," ucap Gabriel pada supir, dia ingin mengendarai mobilnya dan kecepatan yang sangat kencana, karena ingin secepatnya sampai di sana dan melihat kondisi putranya hingga supir itu pun memberikan kunci pada Gabriel, lalu Gabriel masuk ke dalam dan benar saja ketika berada di jalan Gabriel mengendarai mobilnya dan kecepatan yang sangat-sangat kencang.
Beberapa kali Gabriel hampir menabrak mobil orang lain. Namun dia masih beruntung karena berhasil mengendalikan laju mobilnya, hingga setelah melewati perjalanan yang cukup panjang akhirnya mobil yang dikendarai oleh Gabriel sampai di rumah sakit.
Gabriel turun dari mobil, lelaki itu langsung bergegas masuk ke dalam, dia langsung pergi ke lantai atas, karena lantai atas khusus untuk semua keluarganya.
Gabriel menekan tombol lift. Namun, Lift tidak kunjung terbuka, hingga lelaki paruh baya itu langsung berjalan ke arah tangga darurat dan dia langsung berlari agar secepatnya sampai di tempat ruang rawat Sello.
Gabriel Keluar dari lift, ternyata semua keluarga sudah ada di sana, anak-anaknya dan juga keluarga yang lain sedari tadi menunggu di depan ruang rawat sang putra.
Dan sepertinya Selo sudah ditangani oleh dokter.
“Bagaimana keadaan Selo?” tanya Gabriel untuk pertama kalinya dia memperlihatkan wajah sedihnya di hadapan orang lain, wajah lelaki paruh baya yang biasanya terlihat berwibawa itu mendadak terlihat tidak berdaya ketika bertanya tentang kondisi putranya
Sayra maju kemudian memeluk sang ayah, karena dia tahu ayahnya sedang hancur. “Kakak sedang ditangani oleh dokter, Dad," ucap Sayra, dan seketika tangis Gabriel luruh, sedangkan Amelia sepertinya belum mengetahui bahwa Selo sudah diketemukan, sebab Amelia tidak ada di sana dan semua sengaja merahasiakan dari Amelia agar Amelia tidak semakin drop.
Gabriel tidak bisa menghentikan tangisnya, hingga semua yang ada di sana ikut menangis, mereka tadi sempat melihat bagaimana kondisi terakhir Sello sebelum diobati dan setelah 15 menit berlalu, akhirnya dokter keluar dari rawat Selo hingga Gabriel langsung melepaskan pelukannya dari Sayra, kemudian menghampiri dokter.
”Bagaimana keadaan Putraku, dok?” tanya Gabriel, dia bertanya dengan tidak sabar.
“Tuan Gabriel, kami harus segera melaksanakan operasi, ada perdarahan yang cukup hebat di kepala anak Anda,” ucap dokter tersebut. “Dan juga, ada kemungkinan pasien akan kritis dan mungkin mengalami, koma, sebab benturan di kepalanya benar-benar sangat hebat.”
Mendengar ucapan dokter, Gabriel hampir saja terjatuh ke lantai, namun beruntung Nael yang tak lain adik ipar Gabriel langsung menahan tubuh Gabriel, hingga Gabriel kembali menegakkan tubuhnya.
“Lakukan yang terbaik untuk anakku,” ucap Gabriel. Dia berbicara dengan nada yang super pelan, terdengar kepahitan di dalam nada bicara lelaki paruh baya itu, dia tidak pernah sehancur ini sebelumnya, hingga pada akhirnya dokter mengangguk kemudian berlalu meninggalkan Gabriel.
***
Bianca menangis sejadi-jadinya ketika melihat foto Sello yang diperlihatkan oleh Mayra, karena Bianca pun dirawat di rumah sakit yang sama. Selama seminggu dirawat, Bianca masih belum bisa bergerak dan barusan ketika Sello masuk ke ruang operasi Mayra menghampiri Bianca, kemudian memperlihatkan fotonya pada mantan kakak iparnya, dan tangis Bianca pun langsung mengencang, ketika melihat foto Selo yang sangat mengenaskan.
Begitupun maira yang juga ikut menangis saat melihat Bianca seperti ini. “Tolong panggil dokter. Aku ingin melihat Sello," kata Bianca dengan suara yang sangat pelan. Saat ini bahkan dia berusaha sekuat tenaga untuk menggerakkan kakinya tapi tidak bisa.
__ADS_1
Sedangkan Maria yang berada di dekat brangkar hanya bisa menutup mulut menahan tangis saat melihat foto Sello. Rasa bersalah menghujamnya, ia ingin menghampiri ke lantai atas tapi dia terlalu malu pada keluarga Gabriel.
‘Tuhan, tolong selamatkan Sello. Aku berjanji, aku akan merestui mereka.' Maria membatin.