Tatap Aku, Lelakiku!

Tatap Aku, Lelakiku!
Bingung


__ADS_3

Ketika tubuhnya sudah digotong oleh anak buah Roland, Aghnia hanya bisa pasrah. Dia tidak meronta, dia tidak juga berteriak minta tolong pada Roland. Wanita itu tampaknya sudah lelah untuk hidup seperti ini. Sebab, jika dia bernyawa pun, Roland atau Gabriel tidak akan melepaskannya.


Pada akhirnya, anak buah Roland membawa Aghnia ke sebuah ruangan yang sangat kecil, bahkan mungkin hanya cukup untuk satu orang saja. Wanita itu mengerutkan kening saat melihat tempat tersebut.


Aghnia yang yang sudah diturunkan, langsung didorong untuk masuk. Lalu setelah itu pintu tertutup, dan tak lama dia berteriak ketika banyak sekali serangga yang dijatuhkan dari atas.


Setelah Aghnia diberi hukuman, Roland pun pulang ke rumahnya. Dia pulang dengan senyum yang mengembang, karena dia mengingat barusan Bianca meneleponnya untuk mengajak makan bersama.


Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Roland sampai di rumah. Lelaki itu pun turun kemudian masuk ke dalam sana yang tampak sepi, karena ini sudah sangat larut hingga dia pun langsung berjalan ke lift untuk naik ke kamar.


***


Keesokan harinya, Roland terus melihat jam di dinding. Waktu masih menunjukkan pukul sembilan malam. Rasanya, dia tidak sabar untuk bertemu dengan Bianca. Sungguh, dia ingin segera melihat perubahan wanita itu yang seperti dulu.

__ADS_1


Walaupun hanya sebatas terobsesi dengan Bianca, tapi ketika melihat wanita itu bergantung padanya, Roland seolah terbang ke atas awan.


Tak lama, Roland yang sudah tidak sabar, langsung merogoh saku kemudian mengutak-atik ponsel lalu menelepon Bianca.


"Bianca," kata Roland, "kita jadi, 'kan, bertemu nanti?" tanyanya basa-basi, dia takut Bianca membatalkan janji dengannya.


“Hmm, tentu saja Roland. "Ya sudah kalau begitu, aku tutup panggilannya."


Roland menggelengkan kepalanya. "Ah sudahlah, mungkin hanya pikiranku saja," gumamnya seorang diri. Dia pun memutuskan untuk bersiap.


***


Akhirnya, waktu yang dinanti-nanti pun tiba. Roland dengan cepat keluar dari kamar. Dia berjalan sedikit kencang, dan ketika sampai di mobil, dia langsung mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang agak cepat.

__ADS_1


Setelah berada di perjalanan, tanpa sengaja Roland melihat toko bunga, hingga lelaki itu pun langsung memarkirkan mobilnya, kemudian keluar dari sana dan berencana membelikan Bianca bunga.


Roland paling ingat, Bianca selalu tersipu ketika dia memberikan bunga untuk wanita itu. Setelah masuk, dia jatuh pada bunga yang sangat indah, hingga dia tanpa pikir panjang langsung mengambilnya.


Setelah itu, dia kembali keluar dari toko bunga tersebut, dan masuk kembali ke dalam mobilnya.


Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai Roland sampai di kafe, di mana dia dan Bianca berjanji untuk bertemu.


Ternyata, saat tiba di sana Bianca masih belum ada di cafe tersebut hingga Roland memutuskan untuk memilih meja.


***


Bianca keluar dari rumah sakit. Dia menarik napas kemudian mengembuskannya. Sedari tadi, rasanya dia begitu bingung dan bimbang. Dia bingung, bagaimana cara mengatakan pada Roland, rasanya dia juga terlalu takut untuk melihat ekspresi lelaki itu. Bayang-bayang dia akan melihat kekecewaan di mata Roland langsung menubruk otak Bianca.

__ADS_1


__ADS_2