
Setelah Bianca keluar dari ruang rawatnya, Selo menghentikan sejenak aktivitasnya yang berusaha untuk menggerakkan kakinya. Dia terus menatap ke arah jendela, berharap Bianca tidak mengintip. Entahlah, dia tidak ingin dikasihani oleh Bianca. Dia hanya ingin Bianca melihatnya sebagai Selo yang kuat, bukan Selo yang penuh dengan trauma dan dia tidak mengerti kenapa Bianca bisa sampai mengetahui kondisinya, padahal dia sudah mati-matian untuk menyembunyikan semuanya.
Sepuluh menit kemudian, setelah dirasa cukup beristirahat, Selo berhasil menggerakkan kakinya kemudian dia berusaha untuk bangkit.
"Ah!" Tiba-Tiba Selo menjerit ketika tubuhnya kembali ambruk di lantai, ternyata kakinya tidak sekuat itu untuk menopang tubuhnya hingga pada akhirnya Selo kembali berdiam diri di lantai.
Pada akhirnya, Selo berjalan mengesot ke arah sofa. setidaknya jika dia duduk Bianca tidak akan tau kondisinya. Sello menggunakan kekuatan tangannya untuk menopang tubuhnya, dan setelah beberapa kali mencoba akhirnya Selo berhasil duduk.
Selo menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Keringat sudah membanjiri seluruh tubuhnya. Walau bagaimanapun, butuh usaha yang keras bagi Selo untuk bisa duduk seperti ini sebelum Bianca datang.
Selo memejamkan matanya, dia memutuskan untuk beristirahat sejenak agar terlihat baik-baik saja di hadapan Bianca.
Bianca menutup mulut dengan mata yang membasah saat melihat apa yang dilakukan oleh Selo. Dia memang tidak mengintip dari jendela, tapi dia mengintip dari lubang pintu. Namun, walaupun begitu dia bisa melihat jelas dengan apa yang dilakukan oleh suaminya. Bianca bertanya-tanya ada apa dengan Selo? Kenapa dengan suaminya? Tadi pagi semuanya baik-baik saja, Selo masih seperti semula, tapi kenapa sekarang seperti ini?
"Bianca."
Bianca hampir saja terjatuh ke belakang kala ada yang memanggilnya, hingga dia langsung memegang dadanya dan menoleh.
"Edward," panggil Bianca yang tak lain adalah kekasih Celine, dan psikiater yang juga menangani Selo. Tadi, dia diminta Selo untuk datang sebab hanya dia yang bisa membantu Selo, dan dia tidak menyangka Bianca ada di sini.
"Kenapa kau di sini?" tanya Bianca.
Edward terdiam. Selo sudah memintanya untuk merahasiakan apa yang terjadi pada Bianca. "Oh, aku hanya lewat."
"Bohong," jawab Buangan. Entah kenapa, dia merasa yakin bahwa Edward berbohong. Feelingnya mengatakan menemui Selo, sebab Selo ada di ruangan paling ujung dan tidak mungkin Edward melintas untuk ke ruangan lain.
Seketika Bianca menarik tangan Edward, membawanya menjauh dari ruangan ruang rawat Selo, karena dia harus berbicara dengan lelaki ini.
"Bianca, kenapa kau menarik tanganku?" tanya Edward.
"Aku mohon, kau pasti tahu sesuatu tentang Selo."
"Tidak, aku saja hanya mengenal Selo saat kalian menikah," jawab Edward.
__ADS_1
"Aku mohon, jika kau tidak berbicara maka aku tidak akan tahu kondisi Selo."
Edward bersidekap, dia menatap Bianca lekat-lekat. Masslah keduanya adalah kurang komunikasi, dan keduanya sama-sama trauma. Sepertinya, dia harus sedikit mengingkari janjinya pada Selo. Ini juga demi Selo sendiri.
"Kau yakin ingin mendengar tentang kondisi suamimu?" tanya Edward.
Bianca mengangguk.
"Baiklah, ayo duduk."
Akhirnya, mereka pun duduk di kursi tunggu dengan posisi bersebelahan.
"Katakan Edward, pa yang terjadi pada Selo?"
"Bianca, tidak pernahkah kau berpikir penyiksaan yang dilakukan oleh temanmu berdampak besar pada Selo?" tanya Edward.
"Apa maksudmu? Tolong jangan berbelit-belit," kata Bianca dengan tidak sabar.
Bianca mengacak rambut frustrasi karena lelaki di sampingnya ini terlalu berbelit-belit. "Edward, katakan saja."
"Apa kau melihat awal pertama kali Selo ditemukan setelah disiksa?" tanya Edward.
Bianca mengangguk. "Aku melihat."
"Menurutmu seberapa parah penyiksaan yang dilakukan oleh Roland pada Selo sampai dia mengalami koma?"
Bianca terdiam. Dia yang tadinya gemas karena Edward terlalu berbelit-belit, langsung terpikirkan hal itu.
"Ya, tepat Bianca. Selo mengalami traumatik yang sangat hebat karena penyiksaan itu," jawab Edward yang berhasil menebak pikiran Bianca.
Bianca menutup mulut kemudian tangisnya berlinang saat dia mengerti arti dari kata-kata Edward. "Maksudku, dari awal sampai akhir Selo ditahan oleh Roland, dia diperlakukan dengan buruk. Siksaan demi siksaan Selo lalui setiap hari beberapa kali. Setiap hari Selo melaluinya dengan penuh rasa sakit. Disiksa dengan cara yang sadis, lalu apa kau pikir itu bisa terlupakan dalam benak Selo?"
"Jadi maksudmu, trauma Selo masih belum sembuh sampai sekarang?" Bianca menatap Edward dengan tatapan yang memucat.
__ADS_1
"Rasa sakit karena disiksa oleh Roland masih membayangi. Walaupun kejadian itu sudah dua tahun berlalu, dan juga ...." Edward menghentikan ucapannya kemudian lelaki itu mengelus pundak Bianca, karena dia tahu Bianca masih terpukul dengan apa yang dia katakan.
"Bianca, kau tahu apa yang Selo katakan padaku ketika aku bertanya apa kau tahu tentang ini atau tidak? Selo mengatakan dia tidak ingin membuatmu merasa bersalah. Dia juga mengatakan inilah hal yang bisa dia lakukan untuk menarik hatimu kembali. Dia tidak ingin terlihat lemah di depanmu. Dia ingin menggapai kepercayaanmu karena dirinya sendiri, bukan karena dia yang menyelamatkanmu. Dia ingin kau mencintai Selo, karena itu Selo sendiri bukan karena Selo pernah mengorbankan nyawanya untukmu. Dia hanya ingin kau mencintai Selo bukan karena balas budi, melainkan karena perasaanmu sendiri, Bianca."
Ucapan Edward berputar-putar di otaknya.
Bagai anak panah menghujam jantungnya.
"Apa selama dua tahun ini Selo sering seperti itu?" tanya Bianca dengan bibir gemetar.
"Ada kejadian tertentu, jika Selo mengingat berkaitan dengan masa lalunya, dia selalu merasa seperti ini dan kau tahu saat tadi Selo tersadar dari pingsannya, dia minta aku segera datang agar bisa membantunya. Dia tidak ingin pulang terlalu malam karena dia takut membuatmu curiga dan dia takut dia kehilangan kepercayaanmu, dan juga ada ...."
Lagi-Lagi, Edward menghentikan ucapannya ketika Bianca menangis sesegukan. Tak perlu dijelaskan lagi bagaimana penyesalannya Bianca setelah mengabaikan Selo bertahun-tahun. Dia awalnya ragu dengan perasaan Selo padanya, tapi sekarang dia yakin seratus persen bahwa Selo memang mencintainya.
"Bi, yang terjadi sudah terjadi. Aku tahu bagaimana sakitnya di masa lalu kau dengan Selo, tapi jika kalian terus seperti ini kalian tidak akan menemui titik temu. Selo yang akan terus mengejarmu dengan traumanya, dan kau yang terus menjauh karena traumamu."
Seketika, Bianca bangkit dari duduknya. Rasanya, dia ingin berlari menghampiri lelaki itu, memeluk Selo dan mengucapkan kata maaf sebanyak-banyaknya. Namun, dengan cepat Edward langsung menarik lengan Bianca.
"Lepas Edward, aku ingin menghampiri Selo!" teriak Bianca.
"Bi, kau pikir Selo senang jika kau bersikap seperti ini? Tidak, dia akan kehilangan harga dirinya."
Bianca mematung saat mendengar ucapan Edward.
"Lalu, aku harus bagaimana?" tanyanya.
"Bersikaplah tidak tahu dengan apa yang terjadi pada Selo. Ada saatnya dia akan bicara padamu. Sekarang, coba dekati dia. Lihat wajahnya dan kau akan mengerti bagaimana selama ini Selo berjuang untukmu," kata Edward yang membahas apa yang Selo rasakan, karena selama ini dia sudah berusaha menutupinya.
"Bersikaplah alami agar kalian bisa sama-sama sembuh."
Bianca kembali mendudukkan dirinya, kemudian dia menutup wajahnya dengan tangan, lalu menangis sesenggukan.
"Aku akan membantu Selo terlebih dahulu. Kau masuk setelah aku keluar. Kau mengerti, 'kan, maksudku? Aku akan mengatakan pada Selo kita tidak bertemu."
__ADS_1