
Selo melihat jam di dinding. Dia terus melihat ke arah jendela, menunggu Bianca masuk. Ini Sudah satu jam Bianca keluar dari ruang rawatnya, tapi setelah satu jam berlalu, Bianca tidak kunjung masuk dan tiba-tiba Selo terpikirkan sesuatu. Dia tadi menyuruh Edward untuk datang, lalu bagaimana jika Edward bertemu dengan Bianca.
Selo berusaha untuk bergerak. Rasanya, dia ingin keluar dari ruang rawatnya untuk memastikan bahwa Bianca tidak bertemu dengan Edward, tapi baru saja dia akan mencoba, pintu terbuka muncul sosok Edward membuat Selo menatap Edward dengan sorot penasaran.
"Kau bertemu Bianca tadi di luar?" tanya Selo. Dia langsung bertanya tanpa basa-basi.
"Bianca? Memangnya ada Bianca? Kapan Bianca datang?"
Helaan napas nafas terlihat dari wajah Selo saat mendengar jawaban Edward. Setidaknya, dia tidak perlu khawatir.
"Kenapa kau bisa seperti ini?" tanya Edward.
"Aku tadi melihat jam yang sama. Tolong bantu aku sekarang, aku harus segera pulang. Jika tidak Bianca akan curiga," kata Selo Edward mengangguk.
Edward pun mulai menghipnoterapi Selo, hingga dua jam kemudian Selo sudah bisa menggerakkan kakinya.
"Ayo coba." Edward mengulurkan tangannya pada Selo, hingga Selo pun langsung menerima uluran tangan Edward, dan lelaki itu pun berusaha bangkit dari duduknya.
Helaan napas terlihat dari wajah Selo ketika dia bisa menggerakkan kakinya, kemudian dia berusaha berjalan dan ternyata berhasil.
"Edward, terima kasih," kata Selo.
"Kau harus menaikkan bayaranku. Aku sedang berkencan bersama Celine."
"Ah, kalian ini pasangan yang aneh," jawab Selo sambil terkekeh. "Aku akan mengirimkan invoice yang lebih ke rekeningmu.” Sambung Sello lagi.
"Ya sudah kalau begitu, aku pergi,” pamit Edward.
"Edward," panggil Selo seketika Edward berbalik.
"Benar tadi tidak melihat Bianca?" tanya Sello memastikan.
"Sudah kubilang tidak," jawab Edward. Lelaki itu pun langsung keluar dari ruang rawat Selo, membuat Selo menghela napas.
__ADS_1
Ini sudah tiga jam dia berada di rumah sakit, dan sudah tiga jam pula Bianca tidak kembali ke ruang rawatnya. Tiba-tiba Selo dilanda kepanikan dia pun langsung bergegas mengambil ponselnya lalu setelah itu memakai jasnya dan keluar dari ruang rawatnya.
Saat keluar Selo melihat ke sana kemari, tidak ada Bianca di manapun hingga dia langsung mengutak-atik ponselnya mencari nomor Bianca, dan tak lama Bianca mengangkat panggilan.
"Bi, kau di mana?" tanya Selo.
Bianca yang sedang melihat Selo dari kejauhan, menutup mulut menahan agar tangisnya tidak terdengar. Dia tidak ingin menghampiri Sello sebab jika dia menghampiri Selo, dia tidak bisa menahan diri yang ada. Dia pasti menerjang dan memeluk lelaki itu.
"Selo, Mommy sedang demam. Tadi Mommy meneleponku. Aou pulang duluan. Kau tidak apa-apa, 'kan, hari ini aku menginap di rumah Mommy?"
Selo menghela napas lega. Setidaknya jika tidak pulang ke apartemen bersamanya, Bianca tidak akan bertanya macam-macam.
"Ya sudah besok. Aku jemput, oke?" tanya Sello, karena biasanya Bianca tidak pernah mau di jemput olehhnya.
"hmm, Kalau begitu aku tutup panggilannya." Bianca langsung menutup panggilannya membuat Selo menurunkan ponselnya. Dia menatap ponsel yang sedang dipegangnya dengan aneh. Biasanya, Bianca paling tidak mau dijemput karena selalu beralasan bawa membawa membawa mobil.
Selo pun berbalik kemudian dia memutuskan untuk pulang ke apartemen untuk mengistirahatkan tubuhnya, agar dia kembali segar saat menjemput Bianca.
***
"Bianca, apa Sello melukaimu? Apa dia menyakitimu?" tanya Lyodra. Dia berbicara dengan nada tak sabar. Seketika, emosi mendera Lyodra. Dia berprasangka bahwa Selo menyakiti Bianca.
Bukannya membalas, Bianca malah memeluk Lyodra. Rasanya, dia butuh pelukan dan ketika memeluk Lyodra tangisnya pecah.
"Bianca, katakan pada Daddy apa yang dia lakukan?"
Lyodra berusaha melepaskan pelukannya pada Bianca. Jika memang Selo melukai Bianca lagi, dia akan maju untuk menghajar menantunya.
Mendengar intonasi tinggi sang ayah, Bianca tersadar kemudian dia melepaskan pelukannya. "Ternyata, Selo sangat mencintaiku," kata Bianca sambil menangis sesegukan.
"Hah maksudnya apa Bi?" tanya Lyodra. Dia pikir Selo melukai Bianca karena Bianca datang dengan menangis, tapi putrinya malah mengatakan yang sebaliknya.
"Jangan banyak bertanya," kata Bianca hingga dia pun langsung menjauhkan tubuhnya dari sang ayah, lalu setelah itu dia langsung masuk ke dalam meninggalkan Lyodra yang kebingungan.
__ADS_1
"Aneh sekali mereka ini." Pada akhirnya Lyodra memutuskan untuk tidak mencampuri rumah tangga anak dan menantunya.
***
Malam berganti pagi.
Selo terbangun dari tidurnya setelah salat subuh. Dia memutuskan untuk beristirahat karena dia harus memulihkan tenaganya untuk menjemput Bianca. Lelaki itu turun dari ranjang kemudian berjalan ke arah kamar mandi untuk menyegarkan diri.
Dua puluh menit kemudian, Selo sudah rapi dengan tampilan casualnya. Lelaki itu langsung keluar dari kamar, menyambar kunci mobil dan keluar dari apartemen.
Selo menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang. Saat berada di lampu merah, Selo tersenyum ketika melihat pasangan suami istri yang sedang menggandeng anak mereka yang masih kecil.
"Bi, seandainya anak kita masih ada mungkin anak kita seumuran anak itu," lirih Selo tak lama Selo tersadar ketika lampu mulai berwarna hijau, dan klakson sudah berbunyi dari arah belakang hingga lelaki itu pun menyalakan dan menjalankan mobilnya kembali.
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Selo sampai di rumah mertuanya. Dia pun langsung bergegas turun kemudian berjalan ke arah dalam.
"Assalamualaikum," ucap Selo.
"Waalaikumussalam," kata Maria. Seperti biasa, raut wajah wanita paruh baya itu tampak bersemangat ketika menyambut menantunya.
"Mommy, Mommy sudah baikan?"
"Hah, kenapa kau bertanya seperti itu? Memangnya siapa yang sakit?"
"Tapi Bianca mengatakan Mommy sedang demam?"
"Tidak, Mommy baik-baik saja."
Selo menggaruk tengkuk yang tidak gatal. Dia bingung kenapa Bianca berbohong pahamu tiba-tiba Bianca berdeham membuat Selo dan Maria menoleh.
"Bi, kenapa kau mengatakan Mommy sakit?" tanya Maria.
"Selo, ayo kita pergi. Aku ingin pulang ke apartemen. Aku ingin istirahat di sana," kata Bianca, setelah itu Bianca langsung menarik lengan Selo dan keluar dari rumah.
__ADS_1
Saat Bianca kamu menggenggam tangannya. Otak Selo kosong, jika dipikir setelah dua tahun menikah, ini pertama kalinya Bianca menggenggam tangannya.
Tunggu, ada apa ini? Sikap istrinya benar-benar aneh.