Tatap Aku, Lelakiku!

Tatap Aku, Lelakiku!
Bertemu


__ADS_3

"Sayangku, kau tidak apa-apa?" tanya Lyodra ketika melihat Maria melamun.


Maria yang baru saja akan menyiapkan sarapan, menoleh kemudian tersenyum pada sang suami lalu dia menggeleng. "Tidak, aku tidak apa-apa," jawab Maria. Padahal, dia sedang memikirkan kenapa Bianca berbohong padanya.


Lyodra mengangguk-anggukkan kepala, dia berpura-pura tidak tahu dengan apa yang akan dilakukan Maria, yaitu menemui Roland.


"Dad," panggil Maria.


"Iya?" jawab Lyodra sambil menyuapkan roti ke mulutnya.


"Aku ingin meminta izin, aku akan pergi bersama temanku nanti siang," ucap Maria.


"Kau akan ke mana? Mau aku temani?" tanya Lyodra.


Seketika, Maria langsung dilanda kepanikan. Bisa bahaya jika sang suami mengikutinya. "Tidak, aku hanya ingin bertemu dengan teman-temanku. Tidak enak jika kau ikut," dusta Maria.


Lyodra mengangguk-anggukkan kepalanya. "Asal jangan pulang terlalu sore. Jika ada apa-apa, telepon aku," ucap Lyodra, padahal jelas-jelas dia pun akan mengikuti Maria, karena akan ada penangkapan di restoran yang akan ditempati oleh istrinya dan Roland.


"Bianca mana?" tanya Lyodra.


Mendengar putrinya disebut, Maria mendadak tidak enak. Dia merasa kecewa karena Bianca membohonginya. Walaupun kebohongan itu kecil, tapi Maria paling tidak suka dibohongi. "Entahlah biarkan saja," ucap Maria.


"Sayang, apa kau sedang kesal pada Bianca?" tanya Lyodra.


"Tidak, aku tidak kesal. Mungkin dia hanya ingin istirahat," jawab Maria yang berbohong padahal Lyodra tahu, bahwa Maria sedang kecewa hingga Lyodra pun mengangguk-anggukkan kepalanya.


Tak lama terdengar suara derap langkah, ternyata Bianca datang ke bawah untuk sarapan.


Semalaman Bianca tidak tidur. Dia menangis karena tahu semuanya, dan itu sebabnya dia merasa lapar.


"Bi, kau kenapa?" tanya Maria. Walaupun kecewa pada putrinya, Maria adalah seorang ibu. Dia penasaran kenapa mata Bianca begitu bengkak seolah sudah menangis dengan waktu yang lama. "Bi, apa ada yang mengganggumu?" tanya Maria lagi ketika Bianca tidak menjawab.


"Aku hanya menonton drama Korea semalaman," kata Bianca. Tanpa semangat, dia menarik piring kemudian mengambil beberapa roti.


"Aku akan sarapan di kamar Mom, Dad," ucap Bianca. Setelah mengatakan itu, Bianca berbalik sambil membawa piring dan susu membuat Maria menggeleng.


"Apa kau yakin dia hanya menonton drama Korea? Apa dia menangisi sesuatu?" tanya Maria lagi. Dia mendadak penasaran dengan apa yang terjadi pada putrinya.


"Semalaman aku ini, 'kan bersamamu. Aku bertemu Bianca barusan, lalu bagaimana aku tahu?" tanya Lyodra.


Maria terdiam. Apa yang diucapkan suaminya memang benar. Maria tidak bertanya lagi. Dia fokus sarapan, begitu pun Lyodra.


Sesekali Lyodra menoleh ke arah Maria. Dia tidak tahu bagaimana reaksi Maria Ketika nanti melihat Roland ditangkap di hadapan istrinya.


"Kenapa kau menatapku begitu?" tanya Maria.


"Tidak," jawab Lyodra.


***


Maria mondar-mandir di depan kamar. Entah kenapa dia merasa aneh ketika akan bertemu dengan Roland, karena biasanya Roland-lah yang datang. Dia melihat jam di dinding dan tepat ketika itu, ponsel berbunyi. Satu panggilan dari Roland hingga Maria pun langsung mengangkatnya.


"Bibi," panggil Roland.


Padahal mereka akan bertemu dua jam lagi, tapi tetap saja Roland merasa gelisah. Dia takut Maria membatalkan pertemuan mereka.


"Roland, Bibi sudah mengirimkan alamatnya. Bibi tunggu di sana," ucap Maria yang dengan cepat mematikan panggilannya, karena takut ada yang mendengarkan pembicaraan, hingga pada akhirnya ini sudah dua jam berlalu.


Maria memutuskan untuk pergi dan tepat ketika dia bersiap, Lyodra masuk ke dalam kamar.


"Sayang, kau akan pergi sekarang?" tanya Lyodra.


Maria mengangguk. "Teman-temanku sudah menunggu di sana," jawabnya.


"Kau yakin tidak ingin aku temani?" tanya Lyodra lagi.


Maria menggeleng. "Tidak, aku tidak ingin ditemani. Aku bisa membawa mobil sendiri. Kalau begitu aku pergi," jawabnya.


Maria menarik tangan Lyodra kemudian mencium tangan suaminya. Wanita itu bergegas keluar dari kamar, karena tidak ingin Lyodra curiga.


***

__ADS_1


Lalu sekarang, di sinilah mobil Maria terparkir, di sebuah restoran yang sudah dia sepakati dengan Roland. Wanita paruh baya itu pun masuk ke dalam restoran, kemudian memilih ruang VIP untuk berbicara berdua.


Saat sudah mendapatkan ruangan, Maria langsung mengutak-atik ponselnya berniat menelepon Roland, menanyakan keberadaan lelaki itu.


"Roland, kau di mana? Bibi sudah berada di restoran," ucap Maria ketika Roland mengangkat panggilannya.


"Sebentar lagi Bibi, aku tinggal membelokkan mobilku," jawab Roland hingga Maria mematikan panggilannya.


***


Roland sampai di restoran, lelaki itu kemudian menarik cermin. Dia memastikan tampilannya sudah rapi. Dia juga sedikit mengoles bibir dengan bedak dan berpura-pura sedang sakit dengan alasan memikirkan Bianca yang menjauh


Setelah semua selesai, Roland langsung turun dari mobil kemudian masuk ke dalam restoran, dan dia menuju ke reservasi atas nama Maria, hingga diantarkan pihak restoran ke ruang yang dipesan oleh wanita paruh baya itu.


"Maaf Bibi, malah membuatmu menunggu lama," ucap Roland ketika masuk.


Maria menggeleng. "Tidak, ayo silakan duduk," kata Maria hingga Roland mengangguk, lalu lelaki itu menarik kursi kemudian mendudukkan diri di seberang Maria.


"Bibi, kenapa Bibi ingin menemuiku? Tumben sekali," ucap Roland yang tanpa basa-basi, dia langsung bertanya ketika duduk, bahkan mereka belum memesan makanan.


"Boleh Bibi bertanya padamu?" tanya Maria.


"Tentu, Bibi boleh menanyakan apapun padaku," jawabnya lagi. Dia berusaha santai.


"Kenapa kau tidak pernah datang ke rumah lagi? Apa ada masalah antara kau dan Bianca? Bianca juga berbohong pada Bibi bahwa kau pergi ke luar negeri padahal kau masih ada di Rusia. Apa ada yang terjadi?" tanya Maria.


Roland tampak terdiam. Ekspresi wajahnya begitu meyakinkan bahwa dia yang disakiti. "Apa Bianca tidak bercerita pada Bibi?" tanya Roland membuat Maria semakin bingung.


"Bercerita apa? Kalian sedang ada masalah?" tanya Maria lagi.


"Beberapa waktu lalu Bianca memintaku menjauh, dan sebelum memintaku menjauh, Bianca sudah terlebih dahulu menghindariku. Dia tidak pernah mau aku ajak keluar padahal dulu aku selalu menemani Bianca, tapi entah kenapa dia berubah dan beberapa hari setelahnya, Bianca meneleponku, mengajakku bertemu. Aku pikir Bianca akan kembali berubah seperti semula, tapi ternyata tidak." Roland menjeda sejenak ucapannya. Dia melihat wajah Maria. Dalam hati dia bersorak ketika melihat raut wajah Maria yang tampak bersimpati padanya.


"Lalu apa?" tanya Maria lagi yang tidak sabar mendengar cerita Roland.


"Saat itu Bianca mengatakan dia tidak nyaman denganku. Bianca mengatakan dia tidak ingin bertemu denganku dan menyuruhku untuk menjauh. Aku bingung salahku di mana, kenapa Bianca harus mengatakan seperti itu, padahal aku selalu ingin melihat Bianca bahagia," ucap Roland.


Maria lagi-lagi terdiam. Dia semakin membenci Selo karena dia pikir Bianca berubah karena Selo.


"Apa ini ada kaitannya dengan Selo?" tanya Maria.


"Bibi, sepertinya Bianca lebih pro pada Selo. Beberapa kali aku melihat mereka jalan berdua," ucap Roland.


Rahang Maria mengeras saat mendengar ucapan Roland. Dia benar-benar marah pada putrinya karena telah membohonginya. "Mereka seperti itu?" tanya Maria.


"Bolehkah aku minta bantuan pada Bibi?" tanya Roland lagi, dan inilah saat yang tepat untuk mengecoh wanita paruh baya di seberangnya.


"Kau ingin bibi membantumu untuk bersama dengan Bianca?" tanya Maria.


Roland mengembangkan senyumnya. "Seandainya Bibi tidak keberatan, aku ingin meminta itu. Tapi jika Bibi keberatan, tidak apa-apa. Mungkin aku dan Bianca tidak berjodoh."


"Tidak, tidak. Bibi akan membantu kalian untuk bersatu," jawab Maria dengan cepat. Tanpa dia tahu bahwa lelaki di depannya ini lebih berbahaya dari Selo.


"Bibi, terima kasih sudah mendukungku," ucap Roland.


Maria mengembangkan senyumnya lalu dia pun memesan makanan.


"Jadi, Bibi akan membantuku mulai dari mana?" tanya Roland ketika Maria dan Roland sudah memesan.


Maria tampak terdiam. Dia mencoba memikirkan bagaimana caranya agar Bianca dekat dengan Roland. "Bibi bingung bagaimana caranya menyatukan kalian. Apa kau punya usul?" tanya Maria membuat Roland semakin berada di atas awan.


"Bibi mau mendengar usulku?" tanya Roland lagi.


Maria mengangguk mantap. "Bibi akan melakukan apapun asal kau bersatu dengan Bianca, tapi satu yang harus ditanyakan. Apa jika kau bersama dengan Bianca, kau siap menjadi seorang mualaf?" tanya Maria.


"Aku siap, bahkan aku sudah merencanakan menjadi mualaf dari dulu. Tapi baru saja aku akan memulai, ternyata Bianca menyuruhku untuk menjauh dan ketika aku sudah mendapatkan Bianca, aku akan menjadi mualaf dan dengan cepat menikahi Bianca," jawab Roland.


"Lalu apa rencanamu? Bibi akan membantumu," ucap Maria.


"Bagaimana jika dimulai menemui Selo dan meminta Selo untuk menjauhi Bianca? Aku rasa hanya Bibi yang ditakuti oleh lelaki itu," kata Roland.


Maria mengangguk-anggukkan kepalanya. Bingung rasanya memikirkan bagaimana cara yang baik agar Selo menjauh dari Bianca.

__ADS_1


"Baiklah, setelah itu aku akan mulai meyakinkan Bianca lagi, Bibi. Mungkin Bini bisa menyuruh Bianca untuk terus pergi denganku, dan aku yakin Bianca akan terbiasa lagi dengan kehadiranku," jawab Roland.


Akhirnya, makanan pesanan Maria dan Roland pun sampai hingga mereka memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu, sebelum membahas apa yang akan dilakukan ke depannya.


***


Lyodra mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Sesekali dia menoleh ke arah Bianca yang tampak gugup saat ini.


Lyodra sedang mengendarai mobil menuju restoran, tempat di mana Maria dan Roland bertemu. Awalnya dia tidak ingin mengajak Bianca, tapi ternyata Bianca melihatnya saat akan keluar dari rumah, hingga Lyodra mengajak Bianca untuk ikut bersama, dan tentu saja Bianca mau. Dia ingin menyaksikan detik-detik Roland dijemput oleh polisi.


"Kenapa kau gugup?" tanya Lyodra.


Bianca menoleh ke arah Lyodra. "Entahlah, aku merasa bingung harus berekspresi seperti apa ketika aku melihat Roland ditangkap," ucapnya.


Lyodra mengelus rambut Bianca. "Tidak perlu melakukan apapun. Tidak perlu berekspresi apapun, cukup diam. Tapi jika kau ingin tampar, tampar saja," jawab Lyodra sambil tertawa.


"Daddy, apa Paman Gabriel dan juga anak buahnya sudah ada di restoran?" tanya Bianca.


Lyodra mengangguk. "Mereka sudah ada di sana sejak tadi. Beberapa polisi juga sudah menyamar menjadi pelayan restoran," ucap Lyodra.


"Oh ya, dan ada Selo juga di sana," kata Lyodra lagi membuat mata Bianca membulat.


"Daddy memberitahunya bahwa aku akan ke sana?" tanya Bianca.


"Tidak. Gabriel adalah ayahnya, otomatis Gabriel memberitahukan itu pada Selo," jawab Lyodra. Tiba-Tiba dia terpikirkan sesuatu.


"Bianca," panggil Lyodra lagi.


"Seandainya Selo benar-benar berubah dan ternyata dia ingin kembali padamu, bagaimana keputusanmu?" tanya Lyodra.


Bianca yang tadinya menoleh ke arah depan, langsung menoleh ke arah sang ayah kemudian bersidekap. "Daddy sebelum aku menjawab, aku ingin bertanya, kenapa Daddy terlihat peduli sekali pada Selo? Bahkan mendukung aku kembali padanya? Bukankah Daddy tahu bagaimana dia?" tanya Bianca lagi membuat Lyodra menggaruk takutnya yang tidak gatal. Dia bingung harus beralasan bagaimana.


"Bagaimana? Daddy, 'kan, hanya bertanya. Apalagi sekarang Selo begitu intens mendekatimu," ucap Lyodra.


"Aku bukan keledai yang ingin jatuh dua kali ke lubang yang sama," jawab Bianca.


"Tapi, 'kan, itu karena Aghnia," jawab Lyodra lagi yang masih berusaha untuk mengecoh Bianca.


"Dia sudah dewasa. Dia sudah bisa berpikir rasional. Jika dia tidak tergoda, tidak akan ada perceraian di antara kami," ucap Bianca. Kali ini, dia menjawab dengan nada yang sendu membuat Lyodra tidak lagi bertanya. Dia mengelus rambut Bianca.


"Jadi pada intinya, kau tidak ingin menerima Selo lagi?" tanyanya.


"Sekuat apapun perjuangannya, sekuat apapun pengorbanannya, aku tidak akan pernah luluh. Bagiku, Selo tetap masa lalu dan aku juga tidak pernah berpikir untuk menikah lagi," ucap Bianca.


Tiba-Tiba Lyodra menghentikan mobilnya secara mendadak saat mendengar ucapan Bianca hingga dia tersadar. Beruntung tidak ada mobil di belakangnya.


"Dad, kau ini kenapa?" tanya Bianca.


Lyodra kembali melanjutkan perjalanan. "Tidak, kenapa kau memutuskan seperti itu?" tanya Lyodra.


Jujur saja, di luar pembahasan Roland, dia cukup terkejut ketika mendengar apa yang Bianca ucapkan.


"Aku tidak ingin menikah lagi. Kau tahu semenjak aku bercerai aku menikmati hidupku, dan aku tidak ingin terluka lagi. Hidupku benar-benar sudah enjoy, aku tidak ingin mengalami lyoa lagi. Aku tidak ingin menangis setiap malam. Aku tidak ingin merasakan overthinking dan pada intinya, aku sudah nyaman dengan keadaan seperti ini," ucap Bianca.


Lyodra tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya.


Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Lyodra sampai di restoran, dan ternyata Gabriel sedang berdiri di depan mobil miliknya.


Sepertinya Gabriel menunggu kehadirannya. Lyodra dan Bianca pun turun untuk menghampiri lelaki itu, dan ketika Bianca turun, dia langsung bergabung bersama sang ayah.


"Halo Paman Gabriel," sapa Bianca.


Gabriel mengangguk.


"Halo Bianca," sapa Selo dengan ramah, tapi Bianca tidak menggubris sapaan Selo, hingga Lyodra menepuk lembut bahu putrinya. Dia tidak ingin Bianca bersikap tidak sopan di hadapan Gabriel, hingga Bianca menormalkan ekspresinya.


"Halo Selo," jawab Bianca, hingga tiba-tiba Selo terpikirkan sesuatu.


"Tunggu, kau di sini, berarti kau sudah tahu apa yang akan terjadi di dalam?" tanya Selo pada mantan istrinya.


Bianca hanya berdeham.

__ADS_1


"Akhirnya kau tahu bahwa dia tidak sebaik yang kau kira," jawab Selo lagi dengan tersenyum bangga.


"Sama saja denganmu," balas Bianca membuat kali ini Gabriel tertawa.


__ADS_2