Tatap Aku, Lelakiku!

Tatap Aku, Lelakiku!
Hantaman


__ADS_3

Mayra terkesiap saat Tommy memanggilnya. Wanita cantik itu menatap Tommy dan ayahnya secara bergantian. Dia tidak percaya Tommy akan ikut, dan kenapa juga Tommy harus ikut? jujur saja, Mayra benar-benar bingung.


"Tommy, kenapa kau di sini?" tanya Mayra.


"Aku akan ikut denganmu. Kebetulan aku juga ada bisnis di negara yang sama," dusta Tommy karena dia tidak ingin melihat Mayra menjauh.


"Oh," jawab Mayra, dia terlalu bingung harus menjawab apa.


"Ayo, silakan masuk," kata Gabriel hingga Tommy dan Mayra pun mengangguk.


Tommy mempersilahkan Mayra untuk naik terlebih dahulu. Dia menjaga dari belakang, jaga-jaga Mayra kehilangan keseimbangan, hingga pada akhirnya mereka pun naik ke dalam pesawat.


Pesawat mulai mengudara. Dari tadi, Mayra terus melamun, memikirkan rasa sakitnya dan juga memikirkan Alice. Tidak terbayang bagaimana hancurnya Alice ketika Alice mengetahui, bahwa dia pergi dan berpisah dengan Adrian.


'Alice, maafkan Mommy.' Mayra membatin. Tak lama, Mayra merasa kursi di sampingnya bergerak, hingga Mayra menoleh dan ternyata itu adalah Tommy.


"Ini," ucap Tommy, menyerahkan sebuah botol pada Mayra hingga Mayra mengerutkan keningnya.


"Ini ramuan rempah buatan ibuku yang sangat kau sukai. Ibuku membuatkannya khusus untukmu," kata Tommy karena beberapa kali, Mayra sempat berkunjung ke rumah Tommy karena urusan bisnis sang ayah dan dia sempat mencoba minuman ini, dan Mayra menyukainya.


"Terima kasih, Tommy," jawab Mayra, seperti biasa, dia tidak berani menatap wajah Tommy karena masih merasa malu.


Tommy pun mengangguk kemudian membukakan tutup botol, lalu memberikan botol tersebut pada Mayra yang langsung mengambilnya, sedangkan Gabriel hanya melihat interaksi keduanya dari jauh, lalu diam-diam lelaki paruh baya itu tersenyum.


"Dad, aku seperti melihat sosokmu dalam diri Tommy." Tiba-Tiba mata Gabriel berkaca-kaca saat mengingat sang Stuard, sang ayah.


Dulu pun nasib ibu Gabriel sama seperti Mayra, hanya bedanya, Gabriel dan kembarannya tidak diakui oleh ayah kandung mereka dan beruntung ada sosok Stuard yang mencintai ibu mereka dan tulus menyayangi Gabriel dan kembarannya.


Dan sekarang dia bisa melihat sosok sang ayahnya ada di diri Tommy, dan dia berharap Tommy benar-benar seperti ayahnya yang bisa menyayangi Mayra dan anaknya dengan tulus.


Selama perjalanan, Mayra lebih banyak melamun. Dia menyandarkan tubuhnya ke belakang lalu menatap ke arah jendela, sedangkan Tommy sedari tadi tidak berpindah lagi, lelaki itu tetap di sisi Mayra. Sesekali, dia menatap Mayra.


Akhirnya, setelah melewati perjalanan panjang, Gabriel pun turun dari pesawat diikuti Tommy dan juga Mayra, lalu mereka pun sudah dijemput oleh mobil hingga mereka pun langsung masuk ke dalam mobil yang sudah disiapkan.


Lalu setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, mereka sampai di sebuah rumah mewah milik keluarga Gabriel yang dulu ditempati oleh adik kembarnya.


Mayra masuk ke dalam rumah. Rasanya, dia ingin segera membaringkan tubuhnya di ranjang. Rasa lelah, rasa nyeri dan rasa jenuh membayangi Mayra sedari tadi, hingga rasanya dia ingin membaringkan tubuhnya.


"Paman, kalau begitu aku akan mencari hotel di daerah sini," ucap Tommy ketika Mayra sudah naik ke lantai atas.


"Tommy," panggil Gabriel.


"Kenapa kau harus mencari hotel? Kau bisa tinggal di sini," ucapnya.


Mata Tommy membulat saat mendengar ucapan Gabriel. "Maksud Paman?"


"Tinggalah di sini. Bukankah kau ingin menjaga Mayra, lalu kenapa kau harus pindah?" tanya Gabriel lagi.


"Tapi, bagaimana jika Mayra tidak setuju?" tanya Tommy.


"Tunggu dulu di sini sebentar, jangan dulu pulang. Istirahatlah. Paman akan berbicara dengan Mayra ketika Mayra terbangun," kata Gabriel, "ayo, Paman tunjukan kamarnya."


Tommy pun mengangguk kemudian lelaki tampan itu mengikuti langkah Gabriel, lalu setelah itu mereka pun naik ke atas di mana ada kamar yang kosong.


"Istirahatlah, Paman akan ke bawah lagi," kata Gabriel hingga Tommy pun mengangguk. Tommy berjalan ke arah balkon, dia membuka pintu lalu berdiam diri di balkon sejenak untuk melihat pemandangan yang sangat indah. Senyum menghiasi bibir Tommy.


'Akhirnya, Tuhan memberikan jalan untukku,' batin Tommy.


"Thanks, God," lirihnya.


***


Waktu menunjukkan pukul sembilan malam. Gabriel langsung mengetuk pintu kamar Mayra, karena yakin Mayra sudah terbangun hingga tak lama terdengar sahutan dari dalam.


Gabriel menghela napas ketika melihat wajah Mayra yang sembab. Dia yakin putrinya dari tadi menangis. Dia berjalan ke arah ranjang kemudian dia mendudukkan diri di sebelah putrinya.


"Mayra," panggil Gabriel.


Mayra menghapus air matanya.


"Bolehkah Tommy tinggal di sini?" tanya Gabriel.


Mata Mayra membulat saat mendengar ucapan Gabriel. Bagaimana mungkin sang ayah menyuruh Tommy untuk tinggal di sini?


"Dad, kenapa kau menyuruh Tommy tinggal di sini?" tanya Mayra.


"Kau keberatan?" tanya Gabriel.


"Bukan, maksudku bukan begitu. Tapi, 'kan, Tommy sudah mempunyai tunangan," jawabnya.


"Tidak, Tommy sudah membatalkan tunangannya," kata Gabriel.


"Apa?!" Mayra terpekik saat mendengar ucapan Gabriel.

__ADS_1


"Membatalkan tunangan karena apa?" tanya Mayra lagi.


"Entahlah, mungkin mereka tidak cocok," jawab Gabriel karena Tommy mengatakan pada Gabriel untuk tidak mengatakan alasan pembatalan pertunangan pada Mayra, karena dia tak ingin Mayra merasa bersalah.


"Jadi bagaimana keputusanmu?" tanya Gabriel.


"Mayra, kau di sini seorang diri. Walaupun kau di sini ada pelayan dan penjaga, tapi tetap saja Daddy menghawatirkanmu. Daddy ingin Tommy di sini agar bisa menjagamu. Daddy percaya Tommy yang terbaik untukmu," kata Gabriel lagi, "apalagi sekarang kau sedang hamil, Mayra."


Mayra menghela napas kemudian mengembuskannya hingga pada akhirnya, Mayra pun mengangguk.


"Baiklah, Dad," ucapnya.


"Kalau begitu, ayo makan. Semalam kau belum makan, bukan?" tanya Gabriel.


"Aku tidak lapar," jawabnya, "aku akan makan nanti," kata Mayra lagi.


"Ya sudah, nanti Daddy akan menyuruh pelayan untuk membawakanmu makanan." Setelah mengatakan itu, Gabriel pun langsung bangkit dari duduknya kemudian lelaki paruh baya itu langsung keluar dari kamar Mayra.


"Bagaimana Paman, apa Mayra mengizinkanku untuk tinggal di sini?" tanya Tommy ketika Gabriel menghampirinya di ruang tamu.


"Mayra mengizinkan kau untuk tinggal di sini," jawab Gabriel.


Tommy menghela napas berkali-kali. Lelaki tampan itu merasa lega saat mendengar ucapan Gabriel, dia pun langsung mengikuti langkah Gabriel yang berjalan ke ruang tamu.


"Tommy, boleh Paman bicara?" tanya Gabriel hingga Tommy mengangguk.


"Sebelum kalian melangkah lebih jauh, Paman ingin mengatakan secara lebih jelas semuanya. Pertama, Mayra bukan wanita lajang lagi, dengan kata lain Mayra adalah seorang single mom. Kedua, dia sedang mengandung anak lelaki lain, jika kau belum siap menerima Mayra dan anaknya, hentikan sampai di sini," kata Gabriel setelah mereka duduk berhadap-hadapan.


"Jika aku berbicara panjang lebar, aku akan seperti pembual. Aku tidak perlu berbicara panjang lebar. Aku mencintai Mayra selama bertahun-tahun walaupun Mayra sudah menjadi milik orang lain. Itu sudah menjadi bukti bahwa aku akan menerima Mayra dan anaknya yang akan menjadi anakku juga, jadi tidak usah ada yang Paman khawatirkan," jawab Tommy dengan lugas dan tidak ada keraguan.


"Ya sudah kalau begitu, istirahatlah." Gabriel bangkit dari duduknya.


"Paman," panggil Tommy hingga Gabriel langsung menoleh.


"Apa Mayra belum makan malam?" tanya Tommy.


"Belum, biar nanti pelayan yang mengantarkannya," jawabnya.


"Apa Paman tahu makanan kesukaan Mayra?"


"Mayra biasanya menyukai steak dan pasta," jawab Gabriel.


"Baiklah Paman.”


Tommy pun langsung memakai apron lalu memulai memasak. Tommy memang jago memasak, apalagi dulu dia tinggal di luar negeri dan dia tidak biasa dengan masakan orang lain, itu sebabnya dia selalu masak sendiri.


Satu jam kemudian, masakan Tommy pun selesai. Dia memindahkan piring ke nampan, lalu setelah itu dia berjalan ke arah kamar Mayra.


"Mayra," panggil Tommy.


Dia mengetuk pintu kamar wanita itu, tapi tidak ada sahutan dari dalam, dan tak lama terdengar suara derap langkah. Sedetik kemudian, pintu terbuka.


"To-Tommy," panggil Mayra dengan terbata.


"Kau belum makan, 'kan? Ini aku membuat makanan kesukaanmu," jawab Tommy.


Mayra tidak menjawab, dia malah fokus melihat makanan yang ada di piring Tommy yang tampak menggugah. "Tommy, kenapa kau repot-repot?" tanya Mayra.


"Tidak apa-apa, ayo makan. Tidak baik untuk kandunganmu," jawab Tommy hingga Mayra pun langsung mengambil nampan itu.


"Terima kasih, Tommy," ucap Mayra hingga Tommy mengangguk.


"Kalau begitu, selamat malam." Tommy pun berbalik kemudian lelaki itu langsung berjalan ke arah kamarnya, begitu pun dengan Mayra.


Mayra mendudukkan diri di ranjang. Dia tidak lantas memakan makanan yang sudah dia simpan di atas nakas, dia terus melihat makanan itu. Ada sedikit sesak yang menghantam Mayra setiap Tommy bersikap baik padanya, sebab dia teringat ketika dulu dia menolak Tommy dan lebih memilih lelaki sebrengsek Adrian.


Lima belas menit kemudian, akhirnya Mayra pun mengangkat piring dari nampan, kemudian langsung menyuapkan makanan ke mulutnya. Saat makanan itu menyentuh lidahnya, Mayra memejamkan mata karena makanan buatan Tommy sangat-sangat enak, hingga tanpa sadar dia pun menghabiskan semuanya.


***


Dua hari kemudian.


"Tommy, Paman titip Mayra. Paman akan sering berkunjung," kata Gabriel saat dia akan keluar dari rumah, karena memang hari ini Gabriel akan pulang ke Rusia.


Tommy tersenyum kemudian mengangguk. "Paman tidak usah khawatir, aku akan menjaga Mayra," jawab Tommy, sedangkan mata Mayra berkaca-kaca ketika sang ayah akan pergi.


"Dad, jika kau bertemu Alice atau jika Alice datang ke mansion, tolong sampaikan aku akan menghubunginya setelah semuanya tenang," kata Mayra. Seperti biasa, dia tetap memprioritaskan Alice dan Gabriel pun mengangguk.


"Baik, Daddy akan sampaikan. Kalau begitu, sampai jumpa." Gabriel langsung berbalik kemudian berjalan ke arah mobil, dan ketika akan masuk, lelaki itu langsung melambaikan tangan pada Tommy dan Mayra. Lalu setelah itu, dia pun masuk ke dalam mobil. Ketika mobil sudah tidak terlihat, Tommy melihat ke arah Mayra di mana Mayra seperti sedang melamun.


"Mayra, kau baik-baik saja? Kau ingin berjalan-jalan?" tanya Tommy.


Mayra tersenyum. "Tommy, kenapa kau membatalkan pertunangan?" tanyanya.

__ADS_1


"Aku hanya tidak cocok saja dengan Celine. Aku sudah mencoba untuk membuka hatiku tapi tidak bisa," jawab Tommy.


"Ya sudah, kalau begitu aku ingin istirahat di kamar," kata Mayra lagi hingga Tommy pun mengangguk.


***


Gabriel mendarat di Rusia. Lelaki itu langsung turun dari pesawat kemudian masuk ke dalam mobil yang menunggunya, dan ternyata yang menjemputnya adalah Selo.


"Dad, kau serius membiarkan Mayra tinggal dengan seorang lelaki?" tanya Selo.


Sungguh, rasanya Gabriel begitu malas meladeni pertanyaan putranya. Dia mempunyai Selo sebagai satu-satunya anak lelaki di keluarganya tapi terkadang mulut putranya ini selalu melebihi dari mulut wanita.


"Selo, Daddy lelah. Jadi, jangan banyak bertanya. Cepat kamu jalankan saja mobil dengan benar," jawab Gabriel.


Selo berdecak hingga dia pun tidak bertanya lagi pada sang ayah.


Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Selo sampai di kediaman Gabriel. Mereka pun langsung turun ke dalam.


***


Adrian menghela napas ketika masuk ke dalam kamar ruang rawat Alice, di mana Alice sedang meringkuk. Ini sudah tiga hari Alice dirawat, dan selama tiga hari itu pula, Alice tidak mau berbicara dengan Adrian. Rasanya, Alice masih terlalu emosi. Dia bahkan tidak pernah membalas ucapan sang ayah. Alice juga sangat sulit untuk makan. Dia hanya teringat Mayra, Mayra dan Mayra.


Perlahan, Adrian masuk ke dalam ruang rawat Alice, kemudian lelaki itu langsung berjalan ke arah brankar. Dia menarik kursi kemudian mendudukkan dirinya di sana.


"Alice," panggil Adrian.


"Alice, kau belum makan? Ayo makan," kata Adrian lagi yang membujuk Alice.


Alice bergeming. Dia tidak bergerak sedikit pun. Gadis remaja itu benar-benar membenci ayahnya.


"Alice, Daddy mohon. Ayo makan sedikit saja. Setelah ini Daddy akan menjemput Mommy Mayra," katanya.


Mendengar ucapan itu, Alice menoleh. "Bawa dulu Mommy Mayra," kata Alice, "baru aku akan makan."


Sebab ini sudah satu minggu berlalu, dan rasanya Alice bagai hidup di neraka. Membayangkan Mayra pergi dari hidupnya saja sudah sangat menakutkan, apalagi jika ibu sambungnya benar-benar pergi meninggalkannya.


"Ayo makan dulu, satu suap saja. Nanti Daddy akan menyusul Mommy Mayra," kata Adrian hingga mau tak mau, Alice pun langsung menoleh dan Adrian langsung bangkit untuk mengambil nampan yang berisi makanan dan mulai menyuapi Alice.


***


Adrian turun dari mobil. Dia sedikit berlari untuk menghampiri mansion mertuanya. Hari ini sudah satu minggu berlalu Mayra pergi, dan seperti yang Mayra ucapkan, dia baru mau diajak bicara ketika sudah satu minggu berlalu, hingga sekarang dia datang untuk menjenguk Mayra.


"Ada apa kau kemari?" Tiba-Tiba, terdengar suara Gabriel dari arah samping hingga Adrian menoleh.


"Da-Dad, di mana Mayra?" tanya Adrian membuat Gabriel berdecak kesal.


Adrian langsung mengerutkan keningnya ketika melihat reaksi Gabriel yang berbeda. Dia pikir Mayra tidak memberitahukan apa yang terjadi, sebab jika Mayra memberitahukan apa yang terjadi pada rumah tangga mereka, Gabriel pasti sudah menegurnya dari lama. Namun selama seminggu ini, Gabriel tidak pernah menegur ataupun mengirim utusannya untuk bertemu dengannya.


"Maksud Daddy apa?" tanya Adrian. Dia masih berpura-pura karena ingin mengetes Gabriel.


"Aku tidak ingin emosi karena aku masih memikirkan putrimu. Sekarang, pergi dari sini karena kau bukan suami dari putriku lagi." Tubuh Adrian langsung lesu saat mendengar ucapan Gabriel.


"Maksud Daddy?" tanya dengan panik.


"Jangan panggil aku seperti itu. Aku sudah mengurus semuanya. Kau dan Mayra resmi bercerai," jawaban Gabriel, tatapan matanya berkilat penuh amarah.


Dunia Adrian terasa menggelap. Jantungnya seakan keluar dari rongga dadanya saat mendengar ucapan Gabriel. Dia berharap ini adalah mimpi, tapi ini nyata dan Gabriel mengatakan itu padanya.


"Tidak, itu tidak mungkin," ucap Adrian, dia menatap Gabriel dengan tatapan tak percaya.


"Sayra!" teriak Gabriel dari arah luar, hingga Sayra yang sedang berada di ruang tamu langsung menghampiri sang ayah.


"Iya, Dad?" sahut Sayra.


"Ambilkan surat perceraian Mayra," ucap Gabriel hingga Sayra pun mengangguk karena memang Sayra juga ikut mengurus surat perceraian tersebut.


Lima menit kemudian, Sayra langsung memberikan surat tersebut pada Gabriel hingga Gabriel langsung maju ke arah Adrian, lalu setelah itu dia melemparkan kertas itu ke dada mantan menantunya. Lalu dengan cepat, Adrian pun langsung membuka map yang berisi surat dari pengadilan.


"Bagaimana mungkin?" tanya Adrian. Dia langsung menjatuhkan kertas itu ke bawah saat melihat isi dari kertas tersebut yang menyatakan bahwa mereka sudah bercerai.


Gabriel menyeringai ketika melihat Adrian. "Kau menjadikan anakku sebagai pengasuh anakmu. Kau membohonginya, membuatnya hancur, lalu apa kau pikir dia akan mau kembali lagi pada lelaki brengseek sepertimu?" tanya Gabriel, nadanya berapi-api.


Jika tidak ada Sayra, mungkin dia sudah menghajar secara habis-habisan Adrian.


Setelah melihat surat itu, untuk pertama kalinya Ardian merasa hatinya remuk ketika berkaitan dengan Mayra. Napas Adrian pun terasa tercekat saat mengetahui yang sebenarnya, bahwa dia dan Mayra sudah bercerai.


"Nikmati rasa sakitmu, syukur-syukur kau menyesal. Oh ya, jangan mencari Mayra lagi ke sini karena dia sudah pergi ke luar negeri dan aku tidak akan pernah membiarkan kau bertemu dengan cucuku," katanya.


Setelah mengatakan itu, Gabriel pun berlalu masuk meninggalkan Adrian yang mematung. Dia masih terdiam di tempat, sedangkan Sayra langsung berjalan ke arah Adrian.


"Aku tak tahu apa kesalahan adikku padamu, sampai kau tega melakukan ini padahal Mayra sangat mencintamu," ucap Sayra.


β€œDan kau harus tau, Mayra akan menikah dengan orang yang mencintainya dan mungkin Mayra Takan mau mempertemukanmu dengan anak kalian.”

__ADS_1


Deg


__ADS_2