
Mata Sello membulat saat mendengar ucapan Bianca, ia langsung menoleh ke arah Bianca dan menatap Bianca dengan tatapan bingung.
Perlahan, Sello bergerak untuk menyentuh kaki Bianca, memberikan Bianca isyarat agar tidak berbicara. Namun, gerakan Sello terbaca hingga Bianca menjauhkan kakinya.
“Maksudmu apa Bianca, kenapa kalian tidak ingin mempunyai anak?” tanya Maria, ia menyipitkan matanya saat melihat ekspresi Bianca ia mengenal putrinya lebih dari siapapun dan Maria yakin sedang ada yang tidak beres dengan pernikahan putrinya.
Bianca tersenyum getir, kemudian ia menatap Maria. “Kami memutuskan untuk tidak memiliki anak karena kami ....”
“karena kami masih Ingin menikmati waktu berdua Mommy,” jawab Sello yang tiba-tiba menyela ucapan Bianca membuat Bianca menarik sudut bibirnya, lalu tersenyum sinis. Entah kenapa ternyata sangat menyenangkan membuat Selo panik.
Maria terdiam saat melihat ekspresi Sello yang tanpa ketakutan. Namun tak lama, ia mengangguk-nganggukan kepalanya, pertanda percaya dengan apa yang diucapkan oleh Sello.
Tentu saja Maria tidak sebodoh itu untuk percaya apa yang diucapkan oleh menantunya, dari ekspresi saja, Maria sudah bisa menilai bahwa memang ada sesuatu yang terjadi di antara mereka.
__ADS_1
Pada akhirnya ketiga orang itu pun meneruskan makanan mereka, Bianca dengan rasa senangnya karena mengerjai Sello, Sello, dengan rasa paniknya dan Maria dengan rasa bingungnya.
waktu menunjukkan pukul 12.00 siang, Maria yang memutuskan pulang dari apartemen anak dan menantunya. “Mommy kenapa kau tidak menginap di sini saja?” tanya Bianca.
“Mommy, harus pergi Daddy akan kembali dari Indonesia jadi Mommy harus menyambut Daddy!” balas Maria, karena memang Lyodra baru saja akan kembali dari Indonesia, itu sebabnya Maria memutuskan untuk pulang
“Oh baiklah, sampaikan salam kepada Daddy, aku akan mengunjungi kalian nanti!” kata Bianca.
“Hati-hati di jalan Mommy!” kali ini Sello yang bertanya, Maria pun menggangguk. Kemudian keluar dari apartemen Bianca dan di Sello.
“Apa-apaan, kau!” kali ini Sello bertanya dengan nada tak terima, ia bahkan menampakan wajah kesalnya di hadapan Bianca.
Namun tak lama, Sello terdiam saat melihat ekspresi Bianca yang santai. Biasanya, Bianca tidak seperti ini jika ia marah. Tapi sekarang, Bianca terlihat sama sekali tidak peduli.
__ADS_1
“Memangnya kenapa, apa yang salah ... bukankah kita tidak akan pernah memiliki anak?” tanya Bianca lagi. Ia bisa saja berkata begitu dan menatap wajah Sello dengan santai. Tapi ada rasa sakit yang ia sembunyikan di balik wajah santainya.
“Tapi tak seharusnya kau berbicara begitu di depan ibumu?”
“Kenapa memangnya? kenapa kau mengaturku, Sello?” tanya Bianca, kali ini ia menyebut nama Sello dengan dingin tidak seperti Bianca yang dulu. di mana ia selalu memanggil nama Sello dengan nada yang hangat.
Sello berdecih sinis saat melihat Bianca yang tampak santai. Padahal tadi dia sudah ketar-ketir ketakutan. Tapi wanita di depannya ini sama sekali terlihat tidak peduli.
“Apa kau ingin ibumu mengetahui semuanya tentang kita? apa kau ingin ibu mu masuk ke dalam rumah sakit karena pernikahan kita?” tanya Sello yang mencoba mengancam Bianca.
Bianca tertawa seraya bersidekap. ”Kau yang ketakutan. Lalu kenapa kau melimpahkan semuanya padaku?” tanya Bianca
“Siapa yang takut?" ucap Selo yang tidak terima. Ia bahkan menantang Bianca.
__ADS_1
“Oh, kau tidak takut? Oke! kita Panggil Mommy lagi dan kita buka semuanya!" baru saja Bianca akan kembali berbalik dan membuka pintu untuk memanggil Maria. Namun tak lama, Sello menarik tangan Bianca