
Selo menggapai bingkai foto yang berisi fotonya dan juga foto Bianca. Dia mengelus Foto Bianca, kemudian tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca. Tiga bulan ini begitu berat untuknya karena dia harus menahan rasa rindu yang luar biasa.
Pekerjaan Selo belum usai, tapi dia memutuskan untuk bangkit dari duduknya. Lelaki itu memutuskan untuk beristirahat di apartemen apalagi dia merasa sedang tidak enak badan.
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Selo sampai di basement apartemen. Lelaki itu langsung turun. Saat dia turun, Selo menghentikan langkahnya sejenak kala merasa kepalanya berputar-putar.
Setelah bisa menguasai diri, Selo pun kembali melanjutkan langkahnya. Selo membuka pintu apartemen kemudian dia melempar tas kerjanya lalu membuka jasnya, dan membanting tubuhnya di sofa.
Hidup Selo saat ini begitu hampa. Tidak ada hal yang menarik di hidupnya. Terkadang dia selalu menangis seorang diri jika mengingat anak mereka yang sudah tiada. Mungkin jika saat itu Selo tidak bodoh, dia dan Bianca masih bersama dengan anak mereka.
Tak lama, Selo merogoh saku kemudian mengutak-atik ponselnya lalu menelepon Bianca. Tentu saja tidak menelepon dengan nomornya, melainkan dengan nomor lain.
Setiap dia rindu Bianca, dia akan menelepon wanita itu dan ketika Bianca menjawab, Selo akan dengan cepat mematikan panggilannya. Bagi Selo, mendengar sepatah kata Bianca saja itu sudah cukup.
Sekali, dua kali, tiga kali berdering Bianca tidak mengangkatnya dan pada saat telepon keempat, akhirnya Bianca mengangkat panggilan darinya.
"Halo?" sapa Bianca.
Selo mengerutkan keningnya kala mendengar suara wanita itu. Rasanya ia ingin berbicara, mengatakan rindu pada mantan istrinya.
"Halo, siapa ini?" tanya Bianca.
"Cih, aneh sekali," sambungnya lagi.
Setelah mengatakan itu, Bianca pun langsung mematikan panggilannya hingga tanpa terasa bulir bening langsung terjatuh dari pelupuk mata Selo.
***
Bianca memperhatikan nomor yang barusan meneleponnya. Sudah beberapa kali dia mendapatkan telepon dari nomor tidak dikenal dan nomor itu tidak pernah berbicara.
"Ada apa?" tanya Maira ketika Bianca memperhatikan ponselnya, karena sekarang Bianca dan Maira sedang berada di mall, mereka sedang menghabiskan waktu berdua.
Bianca tahu Selo pergi ke Belgia karena Maira memberitahukannya, tapi dia berpikir itu bukan urusannya dan dia juga tidak mau tahu apapun yang terjadi pada Selo. Sepertinya, hati Bianca benar-benar membeku hingga dia sama sekali tidak pernah tertarik dengan urusan mantan suaminya.
"Entahlah, ada yang meneleponku tapi dia tidak berbicara sedikitpun," jawab Bianca.
Maira tampak Berpikir. "Jangan-Jangan itu Selo?" terka Maira.
Tiba-Tiba tubuh Bianca diam mematung. Namun tak lama, dia menggelengkan kepalanya. "Memangnya, apa urusannya denganku?" tanya Bianca.
Maira yang sedang mengaduk minumannya, langsung melihat ke arah mantan kakak iparnya.
"Tidak, aku tidak punya perasaan apapun lagi pada Selo. Hubungan kami sudah selesai ketika kami keluar dari persidangan. Tidak akan ada yang namanya cinta bersemi kembali," jawab Bianca padahal Maira belum berbicara, tapi Bianca sudah menebak apa yang akan Maira ucapkan.
"Cih, kau ini seperti cenayang," jawab Mahira.
Akhirnya, acara makan pun selesai. Mereka bangkit dari duduknya kemudian memutuskan untuk melanjutkan berbelanja.
***
Bianca turun dari mobil. Wanita cantik itu berjalan masuk ke dalam kamar. Entah kenapa ucapan Maira barusan di mall masih membayangi Bianca, tentang Selo yang meneleponnya memakai nomor baru.
Bianca sama sekali tidak peduli dengan apapun yang dilakukan Selo, tapi yang Bianca ingin tahu kenapa Selo harus meneleponnya dengan nomor yang berbeda. Namun tak lama, Bianca menggelengkan kepalanya. Wanita itu memutuskan untuk tidak memikirkan apapun lagi.
Selama tiga bulan ini hidupnya begitu enjoy, tidak pernah ada teror dari siapapun. Dari Roland maupun dari Selo. Dia benar-benar bisa menikmati hidupnya tanpa merasa risih dengan sekitarnya.
***
Roland melihat jam di dinding. Hari ini, dia baru saja menjalani persidangan. Dia, Aghnia serta Kaisar dan juga beberapa anak buah lain di mendapat hukuman penjara seumur hidup, sedangkan yang lainnya hanya puluhan tahun, dan saat ini rasanya Roland tidak sabar untuk segera keluar dari pengadilan.
Tiga bulan di penjara, Roland terus berpikir bagaimana caranya dia bisa bebas, karena dia tidak bisa lagi mengandalkan Kaisar Morone, apalagi Kaisar Morone ditahan sama seperti dirinya, dan ternyata sang ayah mau membantunya.
Setelah keluar dari pengadilan, mobil anak buah sang ayah akan meledakkan bom di jalan hingga mobil tahanan akan berhenti dan saat itu pula, Roland akan dibawa kabur oleh anak buah ayahnya.
Roland masih menunggu di ruang tunggu. Lelaki itu rasanya benar-benar tidak sabar. Setelah dia bebas, dia berencana membalas dendam pada Gabriel dan pada lain-lain. Pertama, yang dia akan balas adalah Bianca. Dia akan diculik wanita itu dan setelah itu dia akan memancing Selo dan Gabriel untuk datang.
Akhirnya, detik-detik menegangkan bagi Roland pun sampai. Pintu ruang tunggu terbuka. Beberapa polisi masuk lalu menyeret para tahanan untuk pergi ke mobil tahanan.
Beruntung Roland hanya bertiga di mobil tahanan tersebut, hingga tidak terlalu banyak orang dan beruntung juga, Kaisar tidak ikut bersamanya sebab dia enggan menyelamatkan lelaki itu. Biar saja kaisar di penjara seumur hidup, begitulah pikir Roland.
Mobil tahanan mulai melaju. Dari tadi, jantung Roland berdebar tidak karuan. Dia takut misi kaburnya gagal. Dia takut anak buah ayahnya tidak berhasil menjawabnya.
Roland melihat ke arah jendela. Tak lama, senyuman Roland semakin melebar kala jalanan mulai sepi, pertanda sebentar lagi dia akan memasuki terowongan yang jarang dilalui oleh mobil.
Roland sedikit bangkit dari duduknya kemudian melihat ke arah depan, ternyata saat akan memasuki terowongan, dia melihat beberapa mobil dan dia yakin itu anak buah ayahnya.
Roland melihat ke sekitarnya. Semua orang tampak sibuk. Polisi juga sedang bermain ponsel hingga inilah saatnya.
Tiba-Tiba ada sebuah ledakan, membuat beberapa anggota polisi langsung keluar dari bis. Mereka tidak memikirkan tahanan yang ada di dalam mobil, sebab mereka memastikan apa yang terjadi di luar sana.
Ketika polisi sudah pergi, seseorang masuk ke dalam bis kemudian melemparkan gas beracun untuk tahanan lain. Sementara Roland, langsung menutup hidung. Tak lama, ada seseorang yang memegang tangannya lalu membantunya untuk turun dari mobil tahanan hingga pada akhirnya, Roland berhasil kabur.
Roland langsung berlari ke arah mobil, dan ketika Roland sudah masuk ke dalam mobil, sopir langsung memutarbalikkan mobilnya hingga berjalan berlawanan arah. Akhirnya, Roland pun bebas. Lelaki itu bersiap untuk membalaskan dendamnya.
Saat berada di mobil, Roland bersorak. Lelaki itu merasakan bahagia yang teramat dalam ketika dia bisa bebas dari kepolisian. Tiga bulan mendekam di penjara membuat Roland tersiksa. Dia tidak masalah menjadi buronan, toh dia bisa pergi ke mana saja daripada harus mendekam di penjara.
"Apa kalian bawa minum?" tanya Roland pada anak buah ayahnya, hingga anak buah Daniel yang tak lain adalah ayah Roland mengangguk.
Roland pun langsung menenggak minuman itu hingga tandas, lalu setelah itu dia menyandarkan tubuhnya ke belakang. Borgolnya masih terpakai. Dia mungkin akan membuka borgolnya ketika sampai di tempat yang akan menjadi tempat persembunyiannya.
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh anak buah sang ayah sampai di sebuah rumah yang tidak terlalu besar, cenderung kecil dan jauh dari pemukiman warga.
Rumah itu sengaja disiapkan untuk Roland agar Tidak ada yang mencurigainya.
"Kalian pergilah," katakan Roland, "Aku sudah selamat," ucap Roland pada anak buahnya. Dia ingin menikmati waktu seorang diri hingga anak buah Daniel mengangguk.
__ADS_1
Lalu setelah itu, mereka pun pergi dari rumah tersebut, sedangkan Roland langsung masuk ke dalam. Tentu saja sebelum turun, dia sudah membuka borgolnya hingga Roland benar-benar bebas.
Roland masuk ke dalam rumah kemudian dia merentangkan tangannya, menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Rasanya dia rindu sekali di tempat yang membuatnya nyaman. Dia rindu tidur di kasur yang empuk, walaupun rumah ini cenderung sederhana. Namun, ini jauh lebih baik daripada dia mendekam di penjara.
Roland berjalan ke arah tangga. Lelaki itu langsung naik untuk pergi ke kamar. Roland membanting tubuhnya di ranjang, hingga kini dia berbaring sambil telentang. Lelaki itu menatap langit-langit.
Satu yang dia pikirkan, yaitu adalah bagaimana cara dia menculik Bianca, membalas wanita itu dan memancing Gabriel atau Lyodra untuk datang, sebab mereka berdualah yang berperan penting dalam penangkapannya.
Sungguh, Roland tidak akan melepaskan Bianca. Roland tidak tahu cara membalas Gabriel ataupun Lyodra, tapi dia yakin Bianca sedikit berpengaruh untuk membalas keduanya.
Tanpa sadar, Roland terlelap. Lelaki itu rasanya sudah rindu dengan tidur nyenyak, karena selama di penjara dia hanya tidur beralaskan tikar.
***
Siang berganti malam.
Roland terbangun dari tidurnya. Perutnya terasa lapar. Lelaki itu bergegas turun dari ranjang kemudian langsung turun ke bawah, lalu masuk ke dapur dan ternyata di dapur ada beberapa makanan yang sudah disiapkan oleh ayahnya.
Lelaki itu menarik satu kotak yang berisi burger, lalu menghangatkannya di microwave. Saat burger sudah terhidang, Roland makan dengan rakus seolah tidak pernah makan makanan seperti ini.
Ya, karena dipenjara dia tidak pernah memakan makanan semewah ini.
Akhirnya acara makan pun selesai. Roland langsung menenggak minumannya, hingga setelah itu berjalan ke ruangan televisi untuk menonton TV.
Saat TV mulai menyala, Roland tidak fokus menatap televisi yang ada di depannya. Dia malah melamun memikirkan bagaimana caranya dia bisa bebas berkeliaran, sedangkan polisi memburunya. Dia hanya berharap Gabriel tidak tahu tentang dia kabur, agar lelaki itu tidak waspada.
Sebab jika Gabriel tahu dia kabur, maka Gabriel akan turun tangan.
Sementara di sisi lain, semua anggota kepolisian sedang heboh. Bagaimana tidak, Roland yang baru saja menerima vonis hukuman, melarikan diri dari mobil tahanan.
Semua yang ada di sana saling menyalahkan satu sama lain, dan yang paling parah ketua polisi yang menangani kasus Roland melarang untuk memberitahukan berita ini keluar. Sebab jika berita ini bocor pada media ataupun pada kalangan luas, mereka akan dicap tidak becus menjaga tahanan, hingga setelah Roland kabur tidak ada satupun berita yang beredar mengenai kaburnya lelaki itu.
***
"Bianca," panggil Maria ketika Bianca sedang asyik menyantap sarapannya.
"Iya Mom," jawab Bianca.
"Bagaimana hubunganmu dengan dokter yang tampan itu?" tanya Maria.
Sudah satu bulan ini Adrian sering mengantar jemput Bianca ke rumah, dan Adrian juga sudah dikenalkan oleh Bianca pada kedua orang tuanya. Lalu mendadak, Maria ingin menjodohkan Bianca dengan lelaki itu, karena Maria yakin Adrian menyukai Bianca.
Sejatinya, ketakutan Maria masih tetap sama, Bianca kembali pada Selo. Walaupun dia tahu Selo sedang berada di Belgia dan tidak akan mungkin menemui Bianca, tapi entah kenapa Maria takut Bianca dan Selo berkomunikasi diam-diam di belakangnya. Itu sebabnya dia harus segera mencarikan lelaki yang tepat untuk putrinya.
Bianca menghentikan acaranya yang sedang mengunyah, kemudian dia mengambil air lalu mendorong makanan yang ada di mulutnya dengan air yang baru saja dia minum. Pembahasan kali ini begitu berat.
Entah kenapa Bianca mendadak kesal ketika sang ibu terus berbicara seperti ini, karena ini bukan pertama kalinya sang ibu terus bertanya tentang Adrian, dan dia tahu apa maksud Maria bertanya seperti ini.
"Mom, cukuplah. Jangan terus membahas ini," ucap Bianca.
Ucapan Bianca membuat Maria langsung bertanya, "Memangnya kenapa? Mommy, 'kan, hanya bertanya."
"Apa?" tanya Maria.
Lyodra yang sedang menikmati teh, mengerutkan keningnya kala mendengar perdebatan anak dan istrinya.
"Bisakah kalian tidak memperdebatkan hal seperti ini di meja makan?" tanya Lyodra membuat Maria langsung menoleh.
"Aku hanya bertanya, apa itu salah?" tanya Maria membuat Lyodra menggeleng.
Bianca langsung meneruskan sarapannya. Dia tidak ingin lagi berdebat dengan sang ibu, hingga akhirnya acara makan pun selesai.
Bianca bangkit dari duduknya, kemudian wanita itu menoleh ke arah sang ibu dan ayahnya.
"Mom, Dad, aku akan pergi sekarang. Aku akan pulang malam karena aku ada jadwal untuk latihan," ucap Bianca lagi.
"Apa bersama Dokter Adrian?" tanya Maria dengan antusias.
"Hm, bersama Dokter Adrian," jawabnya.
"Ya sudah kalau begitu, aku pergi. Assalamualaikum," pamit Bianca.
Bianca pun langsung berbalik kemudian keluar dari rumah, hingga kini menyisakan Maria dan Lyodra.
"Sayang, bisakah kau jangan terlalu menekan Bianca? Kasihan dia," ucap Lyodra.
"Memangnya, aku menekan apa pada Bianca?" tanya Maria yang tidak mau kalah, hingga Lyodra mengelus lengan Maria.
"Sayang tolonglah, jangan buat Bianca tertekan. Sudah kubilang tidak ada yang perlu ditakutkan. Selo juga sudah tidak ada di negara ini," jawab Lyodra.
"Memangnya, siapa juga yang menakutkan hal itu? Apa aku salah bertanya? Adrian juga dokter yang baik," kata Maria yang kekeh dengan ucapannya.
Lyodra yang berpikir tidak ada gunanya berdebat dengan sang istri, langsung kembali meneruskan sarapannya begitu pun dengan Maria.
***
Bianca mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Moodnya sudah memburuk karena dia masih mengingat percakapannya dengan Maria. Sungguh jika membahas ini, mood Bianca selalu memburuk.
Ketika berada di lampu merah, dia menyandarkan tubuhnya ke belakang. Saat ia melamun, tanpa sengaja Bianca menoleh ke arah samping.
Jantung Bianca berdetak dua kali lebih cepat saat melihat seseorang yang berada di persimpangan jalan. Wajah Bianca mendadak memucat. Lelaki itu memakai topi dan masker, tapi perawakan lelaki itu sama seperti Roland.
Bianca mengucek matanya. Walaupun dia tidak melihat lelaki itu, tapi dia benar-benar yakin lelaki itu adalah Roland. Bianca langsung mengutak-atik ponselnya. Dia memegang ponselnya dengan tangan yang gemetar, lalu setelah itu dia menelepon kepolisian dan menanyakan keberadaan Roland. Lalu ternyata, kepolisian mengatakan bahwa Roland masih berada di dalam penjara. Tentu saja polisi itu bohong, karena mereka menutupi kaburnya Roland.
Helaan napas terlihat dari wajah cantik Bianca saat mendengar itu. Setelah mematikan panggilan, Bianca langsung melihat lagi ke arah luar, dan ternyata lelaki yang tadi Bianca lihat tidak ada di sana. Sejujurnya Bianca memang terlalu parno jika mengingat tentang Roland atau apapun yang berhubungan dengan lelaki itu.
__ADS_1
Dia teringat dengan ucapan sang ayah yang mengatakan semua tentang Roland dan juga, dia takut Roland melakukan sesuatu padanya. Namun beruntung, barusan dia mendengar bahwa Roland masih berada di penjara.
Namun, Bianca tidak menyadari bahwa sekarang Roland sedang mengincarnya.
Bunyi klakson berbunyi hingga Bianca tersadar. Lampu sudah berubah dan berwarna hijau, hingga Bianca kembali menyalakan dan menjalankan mobilnya.
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Bianca sampai di rumah sakit. Dalam perjalanan, Bianca masih terpikirkan lelaki yang dia lihat. Walaupun polisi mengatakan bahwa Roland ditahan, tapi entah kenapa perasaan Bianca merasakan ada yang berbeda.
Namun tak urung, Bianca menggelengkan kepalanya. Dia pun langsung melepaskan seat belt kemudian turun dari mobil, lalu masuk ke dalam.
Setelah berganti pakaian, Bianca melakukan visit pasien karena jam prakteknya akan mulai satu jam lagi, hingga dia bisa memeriksa pasiennya terlebih dahulu.
"Dokter Bianca," panggil Adrian dari arah belakang.
Bianca menoleh kemudian tersenyum pada lelaki itu, hingga Adrian dan Bianca sama-sama berjalan dan mereka pun bertemu di tengah-tengah.
"Iya Dokter Adrian?" tanya Bianca.
"Nanti ke ruang operasi. Aku akan melakukan operasi nanti," kata Adrian.
Jujur saja selama tiga bulan ini, Adrian benar-benar memepet Bianca, apalagi Alice sudah nyaman dengan wanita yang ada di depannya ini. Dia juga sudah mempunyai rasa. Terlebih lagi, dia melihat ibu Bianca yang tak lain Maria memberikan respon baik padanya.
"Aku akan ikut," jawab Bianca.
"Setelah itu, bagaimana jika kita menikmati secangkir kopi di cafe langganan kita?" ajak Adrian.
Bianca tampak berpikir. Dia ada janji sebenarnya dengan Maira. "Tapi aku sudah ada janji bersama temanku," wajah Adrian berubah menjadi sendu hingga Bianca menjadi tidak enak.
"Bagaimana jika kita ajak saja dia? Toh, tidak ada salahnya, 'kan, kalian berkenalan?" tanya Bianca.
Adrian yang sudah terpalang mengajak Bianca, mengangguk walaupun anggukan itu terlihat sangat lesu, karena dia ingin menikmati waktu berdua dengan Bianca.
"Ya sudah kalau begitu, sampai jumpa Dok. Aku harus visit pasien dulu," kata Bianca.
Adrian mengangguk hingga Bianca pun berbalik. Lalu setelah wanita itu berbalik, Adrian mulai berjalan untuk pergi ke ruangan pasien yang dia tangani.
***
Akhirnya pekerjaan Bianca dan Adrian pun selesai. Mereka baru saja keluar dari rumah sakit dan memutuskan untuk pergi ke cafe.
"Bi, kau tidak ingin menaiki mobilku saja? Biar aku yang mengantarmu ke rumah. Besok aku pagi aku akan menjemputmu lagi," ucap Adrian ketika mereka sedang berjalan ke arah parkir.
"Tidak, Dokter Adrian. Kebetulan aku akan pergi bersama Maira dan menginap di apartemennya," jawab Bianca hingga Adrian mengangguk-nganggukan kepalanya, dan mereka pun masuk ke dalam mobil masing-masing.
Lalu di sinilah mereka berada, di cafe yang sudah mereka sepakati dan ternyata di cafe itu sudah ada Maira yang sudah memilih meja.
"Maira," panggil Bianca hingga Maira yang sedang memainkan ponsel langsung mengangkat kepalanya, kemudian wanita itu melambaikan tangannya saat Bianca berjalan dengan Adrian.
Jantung Maira berdetak dua kali lebih cepat saat melihat lelaki itu. Ini bukan pertama kalinya Maira melihat Adrian. Dia pernah beberapa kali mendatangi seminar yang dihadiri oleh Adrian, dan dia tidak menyangka ternyata Bianca mengenalnya.
"Kau sudah menunggu lama?" tanya Bianca.
Maira tidak menjawab. Dia malah fokus pada Adrian yang juga sedang menatapnya.
"Hei, kau," panggil Bianca lagi hingga Maira mengerjap kemudian menoleh.
"Tidak, aku baru saja sampai," jawab Maira dengan gugup.
Adrian dan Bianca menarik kursi, hingga kini Bianca duduk di tengah-tengah.
"Oh iya Dokter Adrian, perkenalkan ini Maira, saudaraku," ucap Bianca.
Adrian mengangguk. Entah kenapa dia merasa risih dengan tatapan Maira. Padahal Maira tidak kalah cantik dengan Bianca, tapi tetap saja Adrian merasa tidak nyaman di tatap seperti itu.
"Ekhem." Bianca berdeham menyadarkan Maira dari lamunannya, hingga Maira mengulurkan tangannya.
"Aku Maira," ucap Maira.
"Adrian," jawab Adrian.
Bianca pun langsung mengangkat tangannya untuk memanggil pelayan, dan mereka pun langsung memesan kopi dan juga beberapa camilan.
Sepanjang pembicaraan, Adrian lebih banyak diam. Dari tadi hanya Bianca dan Maira yang mengobrol. Sesekali dia melihat ke arah Bianca yang tampak asik ngobrol dengan Maira.
Sungguh, seharusnya dia tidak jadi pergi dengan Bianca ketika berjanji dengan orang lain, karena dia hanya merasa sebagai patung. Dia tidak mengerti dengan apa yang sedang dibahas oleh kedua wanita itu.
Akhirnya, kopi yang mereka pesan pun sudah habis, dan mereka pun memutuskan untuk keluar dari kafe.
"Dokter Adrian, terima kasih sudah mentraktir kami," ucap Bianca hingga Adrian mengangguk.
"Terima kasih, Dok," kata Maira.
Bianca melihat raut wajah Maira yang menatap dokter Adrian dengan berbeda. Dari tatapan saudaranya saja, dia sudah yakin bahwa Maira tertarik pada Adrian.
"Kalau begitu aku permisi," ucap Adrian.
Adrian pun berbalik kemudian lelaki itu pergi ke arah mobilnya, sedangkan Maira dan Bianca masih tetap diam di tempat.
"Sepertinya kau menyukainya," kata Bianca ketika Adrian sudah menjauh.
"Tampan sekali," kata Maira tanpa sadar.
"Kali ini, aku setuju. Menurutku ketampanannya seperti Dewa Yunani," ucap Bianca lagi hingga Maira tersadar. Namun dengan cepat dia menggeleng.
"Bukan begitu maksudku," kata Maira.
__ADS_1
"Aku ini mengenalmu puluhan tahun. Aku tahu jika kau menyukainya," kata Bianca lagi hingga Maira mengibaskan rambutnya.
"Tidak, aku tidak menyukainya. Tapi jika kau ingin memberikan nomornya padaku, dengan senang hati menerima," ucap Maira.