
"Sayra, apa maksudmu?" tanya Adrian. Napas Adrian tercekat saat mendengar ucapan Sayra yang mengatakan Mayra yang akan menikah dengan orang lain. Ini membingungkan untuk Mayra
Sayra terkekeh. "Kau tahu Tommy?" tanya Sayra. Rasanya dia ingin mengumpat lelaki di depannya ini.
"Ya," jawabnya. Adrian mengetahui Tommy karena Mayra pernah bercerita menolak Tommy demi dia. "Lalu maksudmu?" tanya Adrian dengan wajah yang memucat. Dia bahkan tidak mampu lagi meneruskan ucapannya. Rasanya dia tidak sanggu mendengar apapun lagi dari mulut Saya.
"Mayra pergi ke luar negeri bersama Tommy dan mereka mungkin akan segera menikah setelah anak kalian lahir, dan kau tahu? Anak itu tidak akan menjadi anakmu tapi menjadi anak Tommy," jawab Sayra, dia menatap Tommy dengan puas.
Belum cukup keterkejutan dan rasa sakit Adrian karena mendengar dia sudah diceraikan secara paksa dengan Mayra oleh Gabriel, sekarang dia semakin terkejut dengan ucapan Sayra yang mengatakan bahwa Mayra pergi keluar pergi ke luar negeri dengan seorang lelaki yang tak lain adalah Tommy, yang Adrian tahu sangat mencintai Mayra.
"Tidak mungkin," ucap Adrian, dia menatap Sayra dengan tatapan tak percaya.
Sayra tertawa. "Kau mungkin bisa percaya diri karena Mayra mencintaimu, tapi kau tahu? Setiap manusia punya batas lelahnya. Mayra pernah mengatakan seumur hidup terlalu lama untuk dilalui dengan orang yang salah. Aku harap kau mengerti pepatah itu. Nikmati penyesalanmu, dan oh iya untuk Alice, aku akan menjelaskan pada Alice tentang kepergian Mayra dan aku bersyukur jika Alice membencimu. Setidaknya, itu menjadi hukuman untukmu karena kau telah melukai kakakku."
Setelah mengatakan itu, Sayra pun langsung berbalik kemudian wanita itu meninggalkan Adrian yang masih diam mematung. Sungguh, saat ini Adrian benar-benar merasa dirinya tak berdaya. Dunia Adrian seakan menggelap, jantungnya seperti berhenti berdetak, bahkan jiwanya terasa direnggut paksa dari raganya. Kenyataan yang dia dengar begitu menyakitkan, dan tiba-tiba terlintas wajah Alice di otak Adrian hingga wajah Adrian berubah semakin pucat bahkan cenderung memutih.
Pada akhirnya, Adrian tersadar kemudian lelaki itu berjalan dengan langkah yang amat pelan dan keluar dari mansion Gabriel dengan membawa rasa sakit yang luar biasa. Mayra, orang yang sangat tulus padanya telah pergi karena kelakuannya sendiri.
Adrian masuk ke dalam mobil kemudian lelaki itu terdiam sejenak, tidak langsung pergi dan seketika bulir bening langsung terjatuh dari pelupuk matanya saat mendengar ucapan Sayra. Adrian benar-benar tidak tahu harus bagaimana, ditambah lagi dia terbayang wajah Alice yang mengetahui dia dan Mayra sudah selesai.
Ketika pikiran itu berputar-putar di otak Adrian, bahu lelaki itu gemetar dan sedetik kemudian, Adrian menangis tergugu menyesali semuanya. Setelah bisa menguasai diri, Adrian menghapus air matanya kemudian lelaki itu menegakkan tubuhnya dan menyalakan mobilnya menuju pulang.
Mau tak mau, suka tak suka, Adrian harus jujur pada Alice tentang Mayra. Jika dia berbohong lagi pada Alice, sudah dipastikan Alice akan kembali mengamuk di kemudian hari dan dia tidak mau memberikan Alice harapan palsu.
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Adrian sampai di rumah sakit. Ketika sampai di rumah sakit, Adrian tidak langsung turun. Dia melamun sejenak, memegang dadanya yang terasa perih saat membayangkan Tommy dan Mayra. Lalu yang paling membuat Adrian sesak, bagaimana jika Mayra benar-benar tidak mau mempertemukan dia dengan putranya?
"Tuhan, tolong ampuni aku. Tolong kembalikan Mayra padaku," ucap Adrian. Kini, dia baru menyadari bahwa Mayra adalah segalanya dan tak lama, Adrian menyimpan kepalanya di setir kemudi lalu lelaki itu menangis kencang-kencangnya.
Satu jam kemudian.
Adrian sudah mulai bisa menguasai diri hingga lelaki tampan itu memutuskan untuk turun dan masuk ke dalam rumah sakit. Tadi sebelum dia berangkat, wajah Alice sangat berseri-seri, berbeda dengan kemarin-kemarin. Beberapa kali dia mengulangi kata-kata yang sama, yaitu menyuruh Adrian untuk membawa Mayra, sebab ini sudah satu minggu berlalu tapi sekarang yang terjadi, Adrian malah gagal dan malah membawa kabar yang menyakitkan bagi Alice.
Adrian berdiri di depan ruang rawat Alice. Dia masih tidak berani untuk masuk, dia masih tidak berani melihat kekecewaan Alice, bahkan bisa saja mungkin Alice mengamuk padanya.
Adrian menghela napas kemudian mengembuskannya dan setelah sepuluh menit berlalu, Adrian memutar gagang pintu kemudian lelaki itu masuk ke dalam ruang rawat Alice.
"Daddy, Mommy Mayra mana?" tanya Alice. Dia yang sedang duduk di brankar langsung berjalan ke arah Adrian, bahkan dia mencabut selang infusan yang tertancap di tangannya karena dia ingin melihat Mayra. Gadis remaja itu menyangka Mayra masih di luar karena Adrian hanya masuk ke ruangannya seorang diri.
"Daddy, mana Mommy?" tanya Alice lagi. Gadis remaja itu menatap Adrian dengan tatapan tanda tanya. Tiba-Tiba, jantung Alice berpacu dengan cepat saat melihat mata Adrian yang bengkak, seperti orang sehabis menangis.
"Dad, di mana Mommy?" tanya Alice, dia menatap Adrian dengan tatapan bingung.
"Alice," panggil Adrian dengan suara pelan.
Alice pun langsung melewati tubuh Adrian kemudian dia memastikan dan berjalan ke arah luar, berharap Mayra ada di luar. Alice melihat ke sana kemari. Sekitarnya tampak kosong, tidak ada siapa pun hingga Alice kembali berbalik dan menghampiri ayahnya.
"Mana Mommy Mayra?!" teriak Alice.
Kali ini, Alice berteriak dengan histeris. Walaupun Adrian belum mengatakan apapun, tapi dari mata Adrian yang bengkak karena menangis, Alice mengerti. Dia yakin Mayra tidak mau kembali pada sang ayah, dan itu berarti Mayra tidak akan mau lagi menjadi ibunya.
"Alice, tenang," ucap Adrian berusaha menggapai tangan Alice. Namun, Alice menjauh .
"Kau bilang Mommy akan kembali!" Alice kembali berteriak. Kali ini teriakannya lebih kencang dari sebelumnya dan sedetik kemudian, Alice langsung memukuli tubuh Adrian. Gadis remaja itu mengamuk. Teriakan Alice bahkan sampai terdengar keluar, sedangkan Adrian sama sekali tidak menghentikan putrinya. Dia membiarkan Alice memukul tubuhnya dan berteriak, karena dia tahu ini adalah bentuk emosi putrinya.
__ADS_1
Lima belas menit kemudian, Alice menghentikan serangannya. Rupanya, dia merasakan rasa lelah. Ketika dia masih mengatur napasnya, Alice menatap ke arah Adrian. Dia menatap Adrian dengan tatapan amarah yang membara dan untuk pertama kalinya, Alice menatap Adrian seperti ini.
"Demi Tuhan, aku bersumpah aku membencimu, Daddy." Pada akhirnya, kata-kata itu keluar dari mulut Alice, kata-kata yang paling Adrian hindari dan jangan ditanyakan betapa hancurnya Adrian saat ini. Dia kehilangan Mayra dan juga dia kehilangan putrinya.
Dunia Adrian menggelap, tapi inilah balasan dari apa yang dia lakukan pada Mayra. Dia mendapat karma yang berkali-kali lebih dahsyat. Mungkin Mayra mencintai Adrian hanya lima tahun, dan Mayra akan hidup dengan kehidupan yang baru. Namun berbeda dengan Adrian, di mana mungkin sebentar lagi dia akan menyadari betapa pentingnya Mayra di hidupnya.
Napas Alice masih memburu. Gadis remaja itu menatap sang ayah dengan tatapan kebencian yang benar-benar dipenuhi kemarahan. Ini titik bencinya pada Adrian, di mana dia benar-benar dipaksa menerima kenyataan kehilangan Mayra, wanita yang sangat dia cintai, ibu sambungnya yang selama ini menemaninya. Pada akhirnya, Alice pun berbalik berniat untuk pergi ke brankar. Namun, ketika dia berbalik tiba-tiba ... bug!
Alice langsung terjatuh di lantai karena wanita itu tidak sadarkan diri. Amarah dan juga rasa sedih menyatu di dalam diri Alice, hingga pada akhirnya dia tak sadarkan diri karena terlalu syok dengan kenyataan yang menimpanya, bahwa dia tak bisa lagi hidup dengan Mayra, atau yang terparah dia tidak bisa melihat wanita itu.
"Alice!" Adrian terpekik ketika melihat Alice terjatuh. Lelaki tampan itu langsung berlari ke arah Alice kemudian membungkuk, lalu setelah itu membopong tubuh Alice dan langsung membaringkan tubuh Alice.
Dia dengan cepat memanggil perawat untuk memasangkan infusan lagi pada putrinya. Setelah Alice dipasangi infusan, Adrian menarik kursi kemudian mendudukkan dirinya di kursi, lalu menatap wajah sang ayah dan ketika seperti ini, kenangan dia bersama Mayra dan juga Alice memutar-mutar otaknya.
Kali ini, hatinya merasa sesak ketika membayangkan tidak akan lagi ada Mayra, dan membayangkan ketika Mayra berbahagia dengan orang lain. Dia juga tidak akan bisa melihat anaknya, dan lagi-lagi bahu Adrian bergetar. Lelaki yang kemarin begitu percaya diri Mayra tidak akan meninggalkannya, sekarang menangis tergugu menyesali apa yang dia lakukan. Namun, sebuah sesal tidak akan ada gunanya, karena sekarang Mayra benar-benar sudah pergi.
Dua jam kemudian.
Alice mengerjap. Dia terbangun, napas Alice mendadak tidak beraturan. Dia mendadak tidak bisa bernapas dengan normal. Sepertinya, rasa syok Alice berdampak hingga sekarang. Dia terlalu syok karena Mayra tidak mau lagi datang kembali pada sang ayah.
"Alice! Alice!" panggil Adrian ketika Alice terlihat kesulitan bernapas.
Alice menatap Adrian dengan tatapan sayu, seolah mengatakan bahwa dia kesakitan sebab Alice juga tidak bisa menggerakkan mulutnya untuk sekadar berbicara, hingga pada akhirnya Adrian langsung memeriksa kondisi Alice.
***
Waktu menunjukkan pukul delapan malam. Seperti biasa, Tommy sudah selesai membuat makanan untuk Mayra. Sedari tadi kepulangan Gabriel, Mayra tidak keluar dari kamar, bahkan tadi Tommy mengajak Mayra untuk menikmati angin sore tapi Mayra menolak. Lalu karena Mayra masih belum keluar, Tommy berinisiatif untuk membuatkan makan malam bagi wanita itu.
"Mayra," panggil Tommy ketika dia sudah berada di depan kamar Mayra.
"Mayra! Mayra!" panggil Tommy dengan panik.
Mayra hanya membuka sedikit matanya, kemudian dia memejamkan matanya lagi karena rasa pusing yang menderanya, hingga dengan cepat Tommy langsung keluar memanggil pelayan, meminta pelayan menyiapkan mobil untuk pergi ke rumah sakit, karena dia tidak tahu di mana rumah sakit di sekitar rumah yang dia tinggali.
***
"Apa Paman bisa menyetir dengan cepat?" tanya Tommy pada sopir yang sedang menyetir dan mengantarkan mereka ke rumah sakit. Rasanya dia tidak sanggup melihat Mayra seperti ini.
Tommy yang sedang duduk di belakang sambil memeluk Mayra, meminta sopir lebih cepat karena dia merasakan tubuh Mayra bergetar. Mayra yang hampir kehilangan kesadarannya, memegang mantel Tommy dengan erat hingga Tommy langsung melihat kesana kemari mencari Tumbler.
Ketika melihat tumbler yang berisi air, Tommy langsung mengambil tumbler tersebut. "Apa ini air baru?" tanyanya pada sopir.
"Ya Tuan, tumbler selalu disediakan setiap hari, dan air yang digunakan adalh air yang baru," jawab supir tersebut, membuat Tommy menghela nafas.
Lalu dengan cepat, Tommy pun membuka tumbler tersebut kemudian dia memberikannya pada Mayra. "Mayra, kau ingin minum?" tanya Tommy, lalu dengan pelan Tommy pun membantu Mayra untuk minum.
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang ditumpangi oleh Tommy dan Mayra sampai di rumah sakit.
Tommy menyandarkan tubuh Mayra terlebih dahulu kemudian dia turun, lalu setelah itu dia mengelilingi mobil, membuka pintu, lalu membopong tubuh Mayra dan berlari ke instalasi gawat darurat. Saat berada di instalasi, Tommy hampir saja berteriak karena menurut Tommy, tim medis datang terlambat.
Pada akhirnya, Mayra pun segera ditangani dan ternyata Mayra mengalami demam tinggi. Sepertinya, demam yang dialami Mayra karena pengaruh dari masalah yang dia hadapi dengan Adrian. Tak dipungkiri, Mayra masih belum bisa melupakan rasa sakitnya, tentu saja rasa sakit itu begitu membekas karena Adrian melukainya benar-benar sangat dalam hingga rasanya luka itu sulit untuk kering.
Tommy mundar-mandir di depan ruang rawat Mayra, dan tak lama dokter pun keluar dari sana, hingga Tommy pun langsung menghampiri dokter tersebut. "Bagaimana keadaan istriku, Dok?" tanya Tommy. Dia sengaja menyebut Mayra istrinya, perut Mayra membesar dan pasti dokter tahu bahwa Mayra sedang hamil.
__ADS_1
"Istri Anda dehidrasi ringan dan juga demam tinggi, kondisi kandungannya juga sedikit lemah, jadi mohon untuk menjauhkan istri Anda dari hal-hal yang membuatnya stres," kata dokter hingga Tommy pun mengangguk.
"Baik Dok, terima kasih," ucap Tommy.
Setelah dokter pergi, Tommy pun langsung masuk ke dalam ruangan. Tommy mendudukkan diri di kursi sebelah brankar. Sepertinya, Mayra baru saja terlelap. Dia menggenggam tangan Mayra kemudian mengecupnya, lalu menatap Mayra dengan penuh ketulusan dan kemudian lelaki itu pun langsung melepaskan genggaman tangannya dari tangan Mayra, lalu setelah itu dia langsung mengelus perut Mayra kemudian tersenyum.
"Daddy memang bukan ayah kandungmu, tapi Daddy jamin, di masa depanmu kau hanya akan melihat Daddy sebagai ayahmu," ucap Tommy kemudian dia membungkuk lalu mencium perut Mayra.
Mata Mayra berkaca-kaca saat mendengar apa yang dikatakan oleh Tommy, karena nyatanya dia tidak tertidur. Tadi saat masuk, Mayra berpura-pura tertidur karena dia terlalu malu menatap Tommy. Kebaikan Tommy benar-benar selalu membuat Mayra kembali ke titik jatuhnya, di mana dia merasakan penyesalan yang luar biasa. Seandainya saat itu dia lebih memilih Tommy, pasti hidupnya tidak akan begini dan ketika mendengar apa yang barusan diucapkan Tommy, rasanya Mayra ingin menangis kencang-kencangnya.
Beberapa hari kemudian.
Kondisi Mayra sudah membaik. Selama Mayra di rumah sakit, Tommy benar-benar mengurus Mayra dengan baik hingga Mayra pulih lebih cepat.
Saat ini, Tommy baru saja membereskan tempat makan yang barusan dipakai oleh Mayra, karena sebelum pulang, Mayra disarankan makan terlebih dahulu karena harus minum vitamin.
Saat melihat Tommy yang berjalan ke sana kemari, Mayra tersenyum. Cinta untuk Adrian memang masih ada, tapi cinta itu tertutup luka hingga Mayra enggan untuk melihat lagi ke belakang dan sekarang, dia tidak ingin menyia-nyiakan Tommy lagi.
Mungkin orang lain pasti akan menolak laki-laki lain setelah mereka bercerai, tapi Mayra tidak ingin seperti itu. Dia ingin merasakan dicintai, hingga itu sebabnya jika Tommy mengajaknya menikah, dia tidak akan menolak. Dia akan langsung menerima Tommy. Tidak apa-apa dia belum mencintai Tommy, karena cinta akan datang seiring berjalannya waktu.
"Mayra, kenapa kau melamun?" tanya Tommy.
Mayra menggeleng. "Tidak, tidak apa-apa," jawabnya sambil tersenyum.
"Tunggu sebentar, kau tidak boleh terlebih dahulu bangkit. Kau baru saja makan vitaminmu," ucap Tommy. Lelaki itu menekuk kakinya. Dia berlutut di hadapan Mayra. Hingga kaki lutut Mayra mengenai dada Tommy.
"Tommy, apa yang kau lakukan?!" pekik Mayra ketika Tommy berlutut di hadapannya, Tommy menggenggam tangan Mayra kemudian mengecupnya.
"Mayra, will you marry me?" tanya Tommy. Dia langsung berbicara tanpa basa-basi. Dia tidak ingin menunda apapun lagi
Mayra menggigit bibirnya.
"Tidak, aku tidak ingin bertanya. Aku tidak ingin mendengar jawabanmu, karena setuju atau tak setuju, kau harus tetap menjadi milikku," jawab Tommy sebelum Mayra menjawab ucapannya.
Bulir bening langsung terjatuh dari pelupuk mata Mayra. Padahal, baru saja dia memikirkan tidak akan menolak Tommy jika Tommy mengajaknya menikah, dann sekarang Tommy benar-benar mengajaknya menikah.
Belum menjawab, Tommy sudah memeluk pinggang Mayra hingga kini wajahnya menempel pada perut wanita yang dia cintai, dan sedetik kemudian Tommy merasakan elusan di kepalanya.
"Aku mau, Tommy," jawab Mayra hingga Tommy mendongak, menatap Mayra lalu menghapus air mata wanita itu.
"Keputusan yang bagus, Sayang," jawab Tommy, "kita akan menikah setelah anak kita lahir." Tommy tersenyum di akhir kalimatnya membuat Mayra terasa damai. Senyuman Tommy sungguh meneduhkan.
Hati Mayra terasa nyeri ketika Tommy menyebut anak yang di dalam kandungannya dengan kata anak kita, sebab dia belum pernah mendengar kata-kata itu dari Adrian, berbeda dengan sekarang.
"Ingat, kau milikku, kau cintaku, anak yang berada di perutmu adalah anakku. Tidak boleh ada yang mengubah keputusan itu. Kau mengerti maksudku?" tanya Tommy.
"Kenapa kau memarahiku?" tanya Mayra karena Tommy berucap dengan tegas, membuat Tommy panik.
"Tidak, tidak. Maksudku bukan begitu," kata Tommy lagi yang langsung melembutkan suaranya.
Mayra menghapus air matanya kemudian dia membungkuk, lalu mencium kepala Tommy. "Aku memang belum mencintaimu, tapi aku berusaha membuka hatiku," jawab Mayra, hingga Tommy mengangguk.
"Suatu saat kau pasti akan mencintaiku. Jika tidak pun, tidak masalah, yang penting aku terus menempel padamu," jawab Tommy, mata lelaki tampan itu berkaca-kaca, penantiannya tidak sia sia.
__ADS_1
'Tuhan, kenapa Kau menciptakan lelaki sesempurna dia?' Mayra membatin ketika Tommy menatapnya dengan penuh ketulusan. Sekarang, Mayra tidak ingin memikirkan apapun lagi, melupakan semuanya dan dia ingin bahagia bersama Tommy dan anak-anaknya.