Tatap Aku, Lelakiku!

Tatap Aku, Lelakiku!
Bertemu Gabriel


__ADS_3

Roland menghentikan mobilnya di sebuah restoran. Setelah mengantar makanan untuk Bianca, tiba-tiba dia terpikirkan sesuatu, di mana dia akan menghasut Maria dan Lyodra agar tidak mengizinkan Bianca dekat dengan Selo.


Roland kini menelepon Lyodra kemudian mengajak lelaki paruh baya itu untuk makan bersama, yang langsung disetujui oleh Lyodra.


***


Roland yang sudah tiba di tempat restoran bercermin sejenak untuk memastikan bahwa tampilannya sudah terlihat lugu. Dia lalu turun, kemudian berjalan masuk ke dalam sana.


Roland kini mengedarkan pandangan mencari ayah Bianca, dan tak lama tatapannya tertuju pada sebuah meja di mana Lyodra duduk sembari mengotak-atik ponselnya.


Roland pun segera mendekatinya. "Hai Paman, maaf membuatmu menunggu lama," ucap Roland


Lyodra mengangguk. "Tidak masalah, paman juga baru sampai."


Roland pun menarik kursi, mendudukkan diri di seberang Lyodra, kemudian mengangkat tangannya untuk memanggil pelayan, yang tak lama kemudian menghampiri mereka.


Setelah memesan, pelayan pun pergi meninggalkan Roland dan Lyodra yang kini saling terdiam. Roland bingung harus memulai dari mana, karena tidak mungkin secara terang-terangan menyuruh Lyodra untuk menolak Selo.


"Ada apa? Kenapa kau mengajak Paman bertemu?" tanya Lyodra memulai pembicaraan.


"Apa Paman tahu, bahwa selama ini aku menyukai Bianca?" tanya Roland dengan hati-hati. Dia masih memutar otak untuk mengatakan tujuannya.


"Maksudmu?" tanya Leoda yang merasa ucapan Roland tidak pada intinya.


"Belakangan ini, aku perhatikam Selo sedang mendekati Bianca. Apa Paman akan menyetujui mereka?" Tanya Roland.


Lyodra mengangguk-anggukkan kepalanya, pertanda bahwa dia mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Roland. "Jadi, maksudmu kau khawatir Bianca kembali pada Selo dan mengacuhkanmu?" tanya Lyodra.


Roland mengangguk cepat, dan setelahnya dia tidak berbicara lagi. Roland melihat Lyodra lekat-lekat. Tadinya, dia begitu semangat mengatakan ini pada ayah Bianca tersebut, tapi entah kenapa saat melihat raut wajah Lyodra, dia merasa ada yang aneh.


"Benar begitu?" tanya Lyodra membuat Roland mengerjap dan tersadar dari lamunannya.


Roland mengangguk. "Iya, Paman, sudah lama sekali aku dekat dengan Bianca, dan aku tidak mau dia terluka untuk yang kedua kalinya, jika kembali pada Sello." ucap Roland.


Entah kenapa, Roland mendadak gugup saat beradu pandang dengan Lyodra, karena sadar, bahwa sorot mata pria itu menatapnya tidak seperti biasa, dari juga meresakan pembicaraan kali ini terasa berbeda dari biasanya.


"Jangan khawatir, Bianca pasti akan baik-baik saja," ucap Lyodra, dia tersenyum di akhir kalimatnya membuat Roland merasa sedikit lega. Dia berharap bahwa pria ini tidak memiliki kecurigaan apapun terhadapnya.


"Jadi kau ingin bertemu Paman hanya untuk mengatakan ini?" tanya Lyodra membuat Roland menggigit bibirnya.


"Tidak juga, Paman. Kita sudah lama sekali tidak bertemu, jadi aku mengajak Paman ke mari," dusta Roland yang dijawab anggukan oleh Lyodra.


Pelayan restoran pun datang membawakan pesanan mereka. Kini, keduanya mulai menyantap makanan masing-masing.


"Lalu, kenapa sampai sekarang kau belum melangkah lebih jauh bersama Bianca?"


"Uhuk!" Roland tersedak saat mendengar pertanyaan itu, membuat Lyodra langsung menatap ke arahnya.


"Bukankah kalian sudah dekat bertahun-tahun? Apa kalian tidak mempunyai rencana untuk serius?" tanya Lyodra lagi.


Roland terdiam, memutar otak mencari jawaban yang pas untuknya, agar bisa meyakinkan Lyodra bahwa dia benar-benar serius pada Bianca.

__ADS_1


"Sebenarnya, aku sudah mengatakan perasaanku kepada Bianca sejak tahun lalu, tapi dia terus menghindar," kata Rolan, "bisakah kau membantuku untuk dekat dengan Bianca, Paman?" pinta Roland dengan wajah memelas.


Lyodra tidak langsung menjawab. Pria itu menunduk memotong makanan kemudian menyuapkannya, dengan Roland yang terus memperhatikan karena menunggu jawaban.


Entah kenapa, Roland merasa pertemuannya kali ini dengan Lyodra cukup berbeda. Walaupun obrolan mereka terdengar sangat santai, tapi kenyataannya jantung Roland berdebar kencang karena topik pembicaraan mereka cukup penting.


"Bagaimana, apa Paman bisa mendekatkanku dengan Bianca?" Roland memberanikan diri untuk kembali bertanya, karena Lyodraa belum menjawabnya.


Lyodra pun menganggukan kepala. "Kita lihat saja nanti," jawabnya yang terdengar ambigu di telinga Roland.


Roland kini terdiam, dia memutuskan untuk berhenti membahas Bianca.


Sampai akhirnya, acara makan siang pun selesai. Mereka keluar dari restoran secara bersama-sama.


"Paman, terima kasih sudah mau makan siang denganku," kata Roland pada Lyodra. yang kini mengangguk.


Lyodra pun berjalan ke arah mobilnya, begitu pun sebaliknya. Dia kini mengendarai mobil dengan kecepatan sedang sembari memikirkan sesuatu.


Sampai akhirnya, tak terasa mobil yang dikendarai Lyodra pun sampai di rumah miliknya. Dia pun bergegas masuk ke dalam sana.


***


Selo masuk ke dalam ruangannya. Lelaki itu langsung membuka jas kemudian mendudukan diri di kursi kerja.


Selo kini mengutak-atik ponsel untuk menelepon Bianca, yang tak lama kemudian mengangkat panggilannya.


"Selo, ada apa?" tanya Bianca ketika mengangkat panggilan.


"Tentu, aku memakannya." Bianca menjawab singkat.


Ekspresi senang langsung terlihat dari wajah Selo. "Lalu, apa kau juga memakan pemberian Roland?" tanya Sello lagi, dia ingin tau siapa yang Bianca pilih.


"Iya, aku juga memakannya." Bianca berdecak malas di sebrang sana, karena menerutnya Sello hanya membahas hal yang tidak penting.


Senyum yang semula terbit di bibir Selo, perlahan memudar. Ternyata, Bianca tidak hanya memakan pemberiannya, tapi Roland juga.


"Selo, kau masih di sana?" tanya Bianca membuat Selo tersadar.


"Ya sudah kalau begitu, aku tutup teleponnya," ucap Selo menurunkan ponsel kemudian berdecak kesal, karena ternyata Bianca pun menikmati makanan pemberian Roland.


***


Bianca melihat ponselnya dengan sorot heran. Secara tiba-tiba, Selo menjadi seperti ini yang membuatnya tidak nyaman, mengingat selama ini dia sudah terbiasa asing dengan pria itu.


Bianca pun menyimpan ponsel ke atas meja, kemudian bangkit dari duduknya dan memutuskan untuk visit pasien.


***


Waktu menunjukkan pukul enam sore, ketika Bianca yang sudah selesai dengan pekerjaannya, kini dia merapikan meja lalu keluar dari ruangan.


Saat keluar, Bianca menghela napas kala melihat ternyata hujan turun cukup besar, dia juga mengingat bahwa dia lupa membawa payung, hingga mau tak mau dia harus berlari ke arah mobil. Namun sebelum itu, dia tiba-tiba mendengar klakson mobil yang ternyata milik Selo.

__ADS_1


Sementara Selo, semula dia memang berniat membiarkan semua mengalir bagai air, tapi kejadian bersama Roland tadi, membuatnya tersadar bahwa dia tidak boleh lengah dan harus terus memepet Bianca.


Karena itulah, Selo memutuskan untuk bergerak mendekati Bianca hingga wanita itu terbiasa dengan kehadirannya.


Selo turun dari mobil sembari membawa payung, lalu berjalan menghampiri Bianca.


"Aku tidak menyangka kita bertemu di sini," ucap Selo dengan konyolnya. Mana mungkin dia tidak menyangka, jelas-jelas dia datang ke rumah sakit tempat Bianca bekerja.


"Kau bisa saja berkata seperti itu, tapi aku tahu kau sengaja datang ke sini," ucap Bianca dengan sinis membuat Selo tersenyum kikuk


"Jika kau mau, aku bisa mengantarmu pulang, siapa tahu kau malas menyetir," ucap Selo yang berusaha tetap memakai cara halus dan tidak memaksa, walaupun di mata Bianca itu sama saja.


"Aku ambil payungmu saja, terima kasih. Jika bertemu Maira, aku akan menitipkannya." Setelah mengatakan itu, Bianca pun langsung mengambil payung dari tangan Selo kemudian meninggalkan lelaki itu begitu saja.


Selo kini menggeleng, kemudian berbalik masuk ke mobilnya.


***


Bianca turun dari mobil. Dia langsung berjalan ke dalam rumah dengan tubuh yang terasa lelah. Saat tiba di dalam sana, dia melihat ayah dan ibunya sedang berada di ruang tamu, ternyata mereka tengah menonton televisi.


"Mom, Dad ....”


"Kenapa kau baru pulang? Seharusnya kau kembali sejak tadi sore, 'kan?" tanya Lyodra..


"Banyak sekali hal yang aku lakukan di rumah sakit," ucapnya. Dia mendudukkan diri di sebelah sang ayah, kemudian memeluknya membuat Maria berdecak, dan langsung menyingkirkan tangan putrinya dari sang suami.


"Jangan peluk Daddy, Daddy milik Mommy," kata Maria membuat Bianca menggeleng.


"Ambil saja."


Bianca kemudian berpindah tempat duduk, lalu merogoh tas untuk membuka ponsel. Dia kini menghela napas saat melihat pesan dari Roland. Pria itu selalu mengirim pesan di waktu yang sama.


Bianca menyimpan kembali ponselnya ke dalam tas. Dia sama sekali tidak berniat untuk menjawab pesan itu.


***


Agnia menoleh ke sana ke mari, setelah memastikan bahwa keadaan sudah aman, dia berjalan dan baru beberapa langkah, dia terdiam ketika merasa ada yang mengikuti.


Agnia menoleh ke belakang, dan dia tidak melihat siapapun di sana. Dia mengedarkan pandangan memperhatikan sekeliling, memastikan apakah ada yang menguntitnya atau tidak.


"Ah, mungkin hanya perasaanku saja," ucap Agnia, dia pun melanjutkan langkahnya dengan cepat karena merasa takut. Dia sungguh menyesal telah meninggalkan apartemen.


Agnia yang sudah berada di dalam lift, kini menekan tombol dan secara tiba-tiba lampu padam membuatnya berteriak karena merasakan sentuhan di pundak.


Sedetik kemudian, Agnia tidak sadarkan diri dan lampu kembali menyala tanpa keberadaannya di sana.


***


Beberapa jam kemudian, Agnia terbangun dengan kepala yang terasa pusing, bahkan untuk sekedar membuka mata saja dia merasa begitu berat, hingga tak lama dia menyadari sesuatu bahwa tangan dan kakinya sedang diikat.


Seketika, Agnia mendongak. Jantungnya seolah akan keluar dari rongga dada, saat melihat siapa yang ada di hadapannya.

__ADS_1


“Tu-tuan, Gabriel.”


__ADS_2