
Shelby menghajar Darren secara membabi buta. Rasanya, emosi yang sepuluh tahun dia pendam pada suaminya terarahkan dengan menghajar Darren. Saat ini, wanita itu benar-benar tidak memberi ampun pada Darren. Beberapa orang yang melihat tidak berani menghentikan Shelby, sebab Shelby benar-benar seperti orang yang sedang kesetanan. Sementara Darren, jangan ditanyakan. Lelaki itu sekarang sudah terkapar di lantai, seluruh tubuh Darren memar-memar, apalagi wajah Darren yang membiru, bahkan mata Darren pun sudah menyipit disertai warna biru di sekelilingnya karena Shelby benar-benar tidak memberi ampun pada suaminya.
"Ah!" Shelby berteriak, dia langsung menghentikan hajarannya pada Darren, tapi sebelum menghentikan hajarannya pada Darren, dia sempat menendang kaki suaminya, lalu setelah itu dia menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Sedetik kemudian, Shelby tersadar ada beberapa orang yang melihatnya.
"Tidak apa-apa, ini hanya pertengkaran suami istri," jawab Shelby dengan entengnya hingga semua menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, karena jawaban Shelby di luar dugaan. Mana ada pertengkaran suami istri seperti ini?
Semua orang pun pergi meninggalkan Shelby dan juga Darren, sedangkan Darren saat ini benar-benar merasa remuk, bahkan matanya sudah separuh terpejam. Namun, dia masih sadar.
Shelby menekuk kakinya kemudian dia memegang dagu suaminya dengan keras membuat Darren meringis.
"Selama ini aku sabar bukan berarti kau bisa menginjak-nginjakku atau memerintahku. Dengarkan ini, Darren, berhenti menggangguku. Jangan pernah ikut campur dengan apapun yang kulakukan. Jika kau masih mencari gara-gara denganku, maka kau akan tahu akibatnya," ancamnya.
Shelby langsung menghempaskan wajah Darren hingga Darren kembali berteriak karena dia benar-benar merasakan nyeri yang luar biasa, dan setelah itu Shelby pun langsung bangkit, menegakkan tubuhnya dan masuk ke dalam unit apartemen miliknya, meninggalkan Darren yang kesakitan.
Shelby masuk ke dalam dapur, dia langsung membuka kulkas lalu setelah itu menarik botol minuman, menenggaknya hingga tandas. Shelby merasakan rasa lega yang luar biasa setelah menghajar Darren, bahkan mungkin barusan Selby seolah menjadikan tubuh Darren sebagai samsak. Ada kepuasan tersendiri ketika dia menghajar suaminya, rasa sakit yang dia rasakan akibat kejadian hari ini, seakan terbayar lunas karena dia mampu melampiaskan emosinya dengan menghajar Darren secara membabi buta.
Shelby mendudukkan dirinya di sofa, kemudian wanita cantik itu menengadahkan kepalanya ke belakang, menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Rasa lelah langsung menghinggapi wanita itu, dan pada akhirnya tanpa sadar Shelby terlelap, melupakan niatnya untuk mengambil pakaiannya dan pakaian Theresia lalu kembali ke rumah sakit.
***
Sepuluh menit kemudian.
Darren merasa tubuhnya benar-benar remuk, bahkan ini lebih menyakitkan dari sebelumnya. Perlahan dia bangkit dari berbaringnya, tapi baru saja dia mengangkat punggungnya, Darren meringis kemudian kembali membaringkan tubuhnya lagi di lantai karena punggungnya terasa nyeri dan kebas.
"Aku akan membalasmu, Shelby," ucap Darren. Lelaki itu mempunyai tingkat harga diri yang tinggi, tentu saja dia tidak akan terima ketika Shelby memperlakukannya bagai pecundang, hingga beberapa saat berlalu akhirnya Darren bisa bangkit dari berbaringnya kemudian dengan pelan dia berjalan untuk pergi ke lift. Rasanya dia ingin berjalan dengan cepat karena beberapa orang yang berpapasan dengannya menatap Darren dengan aneh, dan itu sangat membuat Darren malu hingga dia semakin mengumpat Shelby dan dia bersumpah dia akan membalas Shelby lebih dari apa yang Shelby lakukan padanya.
Darren masuk ke dalam apartemen. Lelaki itu langsung pergi ke kamar untuk mengambil ponsel, dia akan meminta pihak sekolah untuk memecat Shelby, karena tentu saja dia mempunyai pengaruh apalagi keluarganya menyimpan saham di sekolah tersebut.
"Oke bagus. Jika dia bertanya apa alasannya, katakan saja Ini wewenang dari atasan," ucap Darren pada kepala sekolah tersebut, dan setelah itu Darren pun mematikan panggilannya.
"Kita lihat, Shelby, siapa yang akan menang," ucap Darren. Tanpa sadar, dia telah mematahkan penghasilan Shelby yang juga Shelby gunakan untuk putrinya. Setelah itu, Darren mengutak-atik ponselnya kemudian dia menelepon Rush.
"Rush," panggil Darren.
"Apa?" tanya Rush.
"Pecat Shelby, jika tidak aku tidak mau bekerja sama dengan perusahaanmu," kata Darren lagi. Seketika, Rush tertawa di seberang sana.
"Memangnya kenapa kau ingin aku memecat Shelby? Katakan dengan jelas apa alasannya," kata Rush membuat Darren berdecak, tapi tak lama dia meringis karena pipinya terasa nyeri.
"Tidak ada alasan, pokoknya pecat saja dia, maka kita lanjutkan kerja sama ini," kata Darren lagi yang kekeh.
"Ya sudah, batalkan saja kerja samanya," jawab Rush.
Mata Darren membulat saat mendengar ucapan Rush.
"Rush, kerja sama ini lebih penting daripada wanita itu," ucap Darren lagi, dia bahkan hampir berteriak karena kesal dengan jawaban Rush.
"Tidak apa-apa, aku masih bisa bekerja sama dengan perusahaan Jinny. Ya sudah kalau begitu, aku tutup." Rush langsung menutup panggilannya, kemudian dia menurunkan ponselnya ke bawah. Setelah menelpon Darren, Rush langsung menaruh wine yang dia simpan di meja di sebelahnya, kemudian lelaki tampak itu menenggaknya sedikit demi sedikit kemudian tersenyum. Rasanya, dia begitu di atas awan sekarang.
***
"Apa? Aku dipecat?!" Shelby terpekik saat berbicara dengan kepala sekolah yang mengatakan bahwa Shelby dipecat, tentu saja dia sangat terkejut. Bagaimana mungkin dia dipecat secara mendadak? Dia tidak melakukan kesalahan apapun. Dia juga tidak melakukan hal yang membuat malu sekolah, bahkan dia mendapat predikat guru terbaik di sekolah tempatnya mengajar.
"Ini perintah dari atasan, kami tidak bisa mengubahnya," jawab kepala sekolah tersebut.
Shelby terdiam dengan waktu yang cukup lama. Dia berusaha untuk menelisik apa yang terjadi dengan pemecatannya, hingga tiba-tiba dia terpikirkan sesuatu.
"Apa ini ada hubungannya dengan Darren?" tanya Shelby.
"Anda bisa tanyakan itu pada suami Anda," jawab kepala sekolah membuat Shelby menggertakkan giginya.
"Baik, terima kasih kalau begitu," jawab Shelby.
Tak ingin terus berbicara tentang hal ini, Shelby pun lebih memilih berbalik kemudian mengambil barang-barangnya. Tak lupa dia pamit pada Theresia dan akan menjemput Theresia ketika Theresia pulang sekolah.
***
Shelby turun dari mobil. Saat ini, dia sudah berada di basement apartemen miliknya, dan sekarang rasanya dia ingin menghancurkan Darren. Dia mendapat kabar dari sekretarisnya, bahwa saat ini Darren tidak pergi ke kantor. Tentu saja karena lelaki itu pergi di saat kondisinya babak belur.
Saat berada di depan unit apartemen Darren, Shelby langsung menekan kode dan pintu pun terbuka. Beruntung Tristan sedang berada di sekolah, hingga putranya tidak melihat keributan yang akan terjadi.
Darren yang sedang duduk di sofa sambil menonton televisi, lngsung menoleh. Tiba-Tiba, matanya menatap Shelby dengan waspada.
"Berani kau ikut campur dalam pekerjaanku?!" teriak Shelby.
Seketika, rasa takut langsung menghantam Darren. Dia bahkan mundur karena takut Shelby menghajarnya seperti kemarin. Namun dia berusaha untuk tetap tenang.
"Sekarang cepat telepon pihak sekolah, batalkan pemecatanku," kata Shelby, dia berusaha untuk menahan emosinya. Setidaknya Shelby masih mempunyai belas kasihan, karena dia melihat Darren babak belur.
"Tidak mau. Itu, 'kan, salahmu. Siapa kau berani mangaturku?" teriak Dareen
"Oh baiklah, jika kau tidak mau, maka kau tidak akan selamat," kata Shelby lagi
Shelby sudah mengambil ancang-ancang untuk menghajar Darren, dan itu langsung membuat mata Dareen membulat, hingga dengan cepat Daren menjawab.
"Baiklah, baiklah," kata Darren, pada akhirnya dia mengikuti keinginan Shelby daripada selbi menghajarnya lagi.
Pada akhirnya, Darren yang takut hajar oleh Shelby langsung menyetujui keinginan istrinya. Lelaki itu mengutak-atik ponselnya, lalu menelepon pihak sekolah membatalkan pemecatan Shelby. Setelah itu, lelaki itu pun mematikan panggilannya.
"Puas kau?" tanya Darren.
"Darren . Jika kau berulah lagi dan mengganggu aku, aku akan beberkan rahasiamu," ancam Shelby.
"Rahasia? Rahasia apa memangnya? Kau tahu apa tentangku?" Darren balik menantang Shelby, hingga Shelby langsung mengutak-atik ke ponselnya. Tak lama, ponsel Darren berdering. Rupanya Shelby mengirimkan pesan padanya.
Mata Dareen membulat saat melihat file yang dikirimkan Shelby, itu adalah file kelicikannya ketika dia menyabotase perusahaan lain. Darren menatap Shelby dengan tatapan tak percaya. Dia bingung dari mana istrinya mengetahui hal itu.
"Jangan kau pikir selama ini aku diam aku tidak tahu apapun tentangmu. Sekarang kau cukup diam, jalani harimu sempurna seperti dahulu. Jangan pernah ikut campur lagi urusanku ataupun Theresia, kau mengerti?" tegas Shelby.
Setelah mengatakan itu, Shelby pun berbalik kemudian wanita cantik itu memilih untuk keluar dari apartemen Darren.
Shelby pergi ke sekolah untuk kembali mengajar, sebab dia tahu pemecatan telah dibatalkan. Gaji dia menjadi guru memang tidak besar, tapi dia tetap mempertahankan profesinya karena dia harus berada di sisi Theresia dan Tristan.
Satu tahun kemudian.
Tidak terasa waktu bergulir begitu cepat. Ini sudah satu tahun berlalu, selama satu tahun ini Darren dan Shelby menjalani hari-hari mereka seperti biasa, di mana mereka tidak saling mengenal satu sama lain dan selama setahun ini pula, Rush semakin dekat dengan Theresia. Setahun ini Rush benar-benar memperlakukan gadis kecil itu dengan baik, seperti seorang ayah memperlakukan putri. Hubungan Rush dengan Shelby mereka sudah tidak canggung lagi, bahkan terkesan seperti sahabat.
Saat ini Rush mungkin baru saja bisa mendekati Theresia, tapi dia belum bisa mendekati Shelby, dengan arti kata Shelby masih menganggapnya hanya sebagai sahabat, tapi bagi Rush itu tidak masalah, yang terpenting rencananya berhasil.
Sementara Darren semakin hari rasanya dia semakin tidak menentu. Selama setahun ini dia bergulat dengan batinnya. Rasanya dia begitu aneh ketika melihat Theresia, bahkan putrinya benar-benar lengket dengan Rush. Dan yang membuat Dareen kesal adalah setiap dia pergi ke kantor Rush, di sana selalu ada Theresia.
.
Seperti saat ini, Darren baru saja masuk ke dalam kantor. Sebenarnya dia tidak ada urusan datang ke kantor Rush, tapi entah kenapa hatinya merasa aneh.
Tak lama, Darren menghentikan langkahnya saat akan berjalan ke ruangan Rush, ketika dia melihat Theresia sedang melamun. Sepertinya Theresia sedang memikirkan sesuatu, dan tak sengaja Theresia melihat ke arah dia hingga tatapan kedua ayah dan anak itu saling mengunci.
Tanpa sengaja, Darren jngin melangkahkan kakinya ke hadapan Theresia, tapi Theresia langsung mundur satu langkah, kemudian gadis kecil itu berbalik dan memutuskan untuk pergi. Darren memegang dadanya yang terasa nyeri ketika melihat Theresia seperti ini.
Setelah pergi dari sang ayah, Theresia mendudukkan dirinya di kursi yang ada di dekat lift. Suasana begitu hening, tidak ada siapa pun di sana hingga Theresia menjadi tenang. Theresia merasa murung karena memikirkan, beber hari ayah, seperti setiap tahun di sekolah akan ada kegiatan dan ayah-ayah para murid akan datang. Setiap tahun, ayahnya akan selalu mendampingi Tristan sedangkan dia lebih memilih untuk tidak masuk sekolah karena dia tidak ingin menjadi ejekan para teman-temannya.
Namun rasanya, hari esok Theresia ingin bersekolah. Dia ingin melihat kegiatan anak-anak lain, tapi tentu saja dia tidak berani karena sudah dipastikan kejadiannya akan seperti tahun-tahun kemarin. Ayahnya hanya akan datang untuk Tristan. Dia juga tidak ingin meminta Rush untuk datang, karena pasti akan membingungkan di mata semua orang, dan yang paling membuat Theresia sedih, satu minggu lagi adalah hari ulang tahunnya.
Darren termenung ketika melihat putrinya terduduk seorang diri. Karena Setelah putrinya pergi dari hadapannya, ternyata lelaki itu pun mengikuti Theresia. Hati Darren terasa nyeri ketika melihat Theresia seperti ini. Baru saja dia akan melangkahkan kakinya untuk menghadap Theresia, tapi dia menghentikan langkahnya kala mengingat reaksi Theresia barusan yang pergi dari hadapannya, hingga pada akhirnya Darren berbalik. Dia memutuskan untuk masuk ke dalam ruangan.
Saat Darren masuk ke dalam ruangannya, Rush terperanjat kaget. Dia yang sedang menelepon, buru-buru mematikan panggilannya membuat Darren menyipitkan matanya.
"Kenapa kau tampak kaget?" tanya Darren.
"Tidak, kau masuk secara tiba-tiba , adi aku terkejut," jawab Rush berusaha tenang.
Lagi-Lagi, Darren merasa bingung dengan apa yang diucapkan oleh Rush, karena tentu saja dia selalu seperti ini, tidak pernah mengetuk pintu. Lalu kenapa Rush masih terkejut?
"Sudahlah, itu tidak penting," balas Dareen. Lelaki itu pun langsung masuk ke dalam, kemudian dia langsung mendudukkan diri di sofa, disusul Rush yang juga ikut duduk di sofa.
"Bagaimana, apa kau mau menerima tawaranku?" tanya Rush.
"Harus kupikirkan. Aku harus berkonsultasi dengan ayahku," jawab Darren.
"Kau bisa langsung menandatanganinya, Darren. Siapa tahu itu menjadi hal yang menguntungkan di kemudian hari," kata Rush lagi, tapi Darren menggeleng.
"Tidak, aku tidak mau gegabah," kukuhnya.
"Ya sudah kalau begitu," jawab Rush lagi.
Tak lama, pintu Rush kembali terbuka, muncul sosok Theresia.
"Theresia," panggil Rush.
Darren menoleh ketika Rush memanggil putrinya, hingga Theresia pun langsung berjalan ke arah Rush.
"Paman apa boleh aku ikut beristirahat?" tanya Theresia.
"Ayo," jawab Rush.
Lagi-Lagi, jantung Darren serasa diremas saat mendengar permintaan putrinya pada lelaki lain, bahkan Theresia sama sekali tidak mau melihatnya, dan Rush pun langsung bangkit dari duduknya kemudian dia berjalan ke arah meja, lalu setelah itu dia menekan tombol hingga dinding bergeser, menampilkan kamar pribadi Rush.
Sepuluh menit kemudian, Rush keluar dari kamar pribadinya.
"Kau tidak ingin menemani putrimu? Sepertinya putrimu sedang demam," ucap Rush setelah menghampiri Dareen.
"Apa?" Darren terpekik saat mendengar ucapan Rush barusan. Memang Rush merasakan tubuh Theresia hangat. Seperti biasa jika mood-nya memburuk, Theresia akan seperti ini, tentu saja karena penyakit lupus yang dia derita.
Setelah berbaring di kamar Rush,
Theresia melamun. Dia menatap ke depan dengan tatapan kosong. Rasanya, dia ingin segara pulang dan bertemu ibunya dan Tristan karena saat ini, Tristan sedang berada di luar kota untuk mengikuti kelas bola dan akan pulang besok hari, sedangkan ibunya hari ini sedang pergi ke luar kota karena ada pekerjaan.
Tadi Rush menawarkan untuk ikut, hingga Theresia pun menyetujui ajakan Rush karena memang dia tidak ingin sendiri, dan setiap tahun Theresia selalu merasakan hal seperti ini, di mana dia akan menghadapi ulang tahunnya tanpa sang ayah, sedangkan saudara kembarnya bisa pergi ke tempat indah bersama ayahnya, dan juga ketika semua merayakan hari ayah Theresia hanya akan diam di apartemen.
Waktu menunjukkan pukul dua belas siang.
__ADS_1
Rush masuk ke dalam kamar untuk mengajak Theresia makan siang. Mereka akan pergi dengan Darren, karena dari tadi Darren belum pergi dari perusahaannya.
"Theresia," panggil Rush.
Theresia yang baru saja terbangun, langsung menoleh.
"Paman mau makan, ayo kita makan. Ini sudah jam makan siang," ucap Rush.
Theresia bangkit dari berbaringnya, kemudian menatap Rush dengan ragu. "Pa-paman, apa kita hanya akan makan berdua?" tanyanya.
Theresia merasa was-was. Dia takut akan makan bersama Darren. Kejadian setahun lalu membuat Theresia trauma, dan sekarang dia langsung bertanya. Jika ada Darren, tentu saja dia akan menolak.
"Ayahmu ingin ikut, kau keberatan?" tanya Rush.
"Paman saja yang makan, aku akan maka mie instan yang ada di kantin bawah," ucap Theresia.
"Tidak usah, kita makan di sini saja. Jika kau takut ayahmu, kau diam di sini, oke?" tanya Rush hingga Theresia mengangguk.
Setelah itu, Rush pun berbalik berniat menghampiri Daren.
"Darren, maaf aku tidak bisa makan denganmu. Theresia tidak ingin keluar," kata Rush pada Dareen
Darren berdecak kesal.
"Dia itu, 'kan bukan putrimu, kenapa kau mengikuti ucapannya?" tanya Darren. Dia kesal karena Theresia menolak untuk makan dengannya.
"Lalu, kau sebagai ayahnya, kenapa kau diam saja?" tanya Rush membuat Darren berdecak. Lelaki itu pun langsung bangkit dari duduknya.
"Tunggu di sini, biar aku yang belikan makanan," katanya.
Akhirnya, Darren pun keluar dari ruangan. Dia berencana untuk membeli makanan untuk dia, Rush dan juga Theresia hingga Rush yang melihat itu menyeringai.
'Tunggu sebentar lagi, Darren. Kau akan mendapatkan kejutanmu,' batin Rush. Setelah itu, dia pun berbalik kemudian langsung kembali ke meja kerjanya.
Tiga puluh menit memudian.
Darren masuk kembali ke dalam ruangan. Lelaki itu sudah membawa beberapa paper bag berisi makanan untuk mereka.
"Ini untuk anak itu, berikan ini padanya. Ini tidak pedas," kata Darren.
"Kenapa kau tidak memberikannya pada putrimu sendiri?" tanya Rush. Tanpa sadar, Darren menyimpan dua paper bag untuknya dan juga untuk Rush, kemudian dia membawa paper bag yang berisi makanan untuk putrinya.
Saat masuk, ternyata Theresia sedang melamun.
"Ekhem." Darren berdeham membuat Theresia menoleh. Tiba-Tiba, rasa takut langsung menghampiri gadis kecil itu. Walau bagaimana pun ketika melihat iris mata milik Darren, dia selalu teringat tentang bagaimana selama ini Darren menatapnya terkadang dengan tatapan kesal, marah dan juga tatapan beringas, menatapnya seolah seorang musuh dan sekarang ketika Darren menghampirinya, tentu saja Theresia merasa takut.
Mengerti akan ketakutan Theresia, Darren menyimpan paper bag di sisi putrinya. "Makan ini," kata Darren, seperti biasa, nadanya terdengar ketus membuat Theresia ingin sekali menangis, hingga Theresia hanya mampu menunduk dan entah kenapa Darren merasa emosi. Dia emosi karena Theresia langsung menunduk, berbeda jika Theresia berbicara dengan Rush.
"Kau tidak dengar?" tanya Darren.
Rush masuk ke dalam kamar, hingga lelaki itu langsung menghampiri Theresia yang sepertinya ketakutan.
"Tidak apa-apa," kata Rush lagi membuat Darren semakin kesal. Lelaki itu pun akhirnya berbalik, kemudian keluar dari kamar Rush.
***
Darren masuk ke dalam ruangannya, kemudian dia langsung membanting pintu. Saat ini dia baru saja tiba di kantornya. Setelah dari kantor Rush, rasa kesal masih menghinggapi Darren jika mengingat tentang barusan, di mana Theresia menolaknya dan malah dekat dengan Rush. Padahal itu hanya soal makanan, tapi entah kenapa Darren merasa kesal.
Darren mendudukkan diri di kursi kerjanya, kemudian lelaki tampan itu menyandarkan tubuhnya ke belakang. Dia menatap ke arah langit-langit, berusaha meraba hatinya.
"Tidak mungkin, kan, aku menyayangi anak itu, sedangkan dia begitu mirip dengan Shelby, wanita yang paling aku benci," ucap Darren dengan berapi-api.
Tiba-Tiba, pintu ruangan Darren terbuka. Muncul sosok Mia masuk ke dalam ruangan kekasihnya. Rupanya dia terlalu terkejut saat mendengar Darren membanting pintu, itu sebabnya dia langsung menyusul ke ruangan Darren.
"Ada apa?" tanya Mia. Dia langsung berjalan menghampiri kekasihnya. Baru saja Mia akan duduk di pangkuan Darren, Darren sudah menggeserkan kursinya, pertanda dia tidak ingin melakukan itu membuat Mia mengerutkan keningnya.
"Ada apa denganmu?" tanya Mia.
"Aku sedang kesal. Moodku sedang tidak baik. Bisa kau tinggalkan aku?" tanya Dareen
"Baiklah." Mia pun langsung berbalik kemudian berniat untuk pergi ke keluar dari ruangan Darren.
Ketika Mia pergi dan ketika Mia akan membuka pintu, tiba-tiba pintu terbuka dari luar muncul sosok Salsa. Salsa menatap Mia dengan aneh. Entah kenapa dari awal, dia tidak menyukai sekretaris adiknya, padahal dia belum mengetahui hubungan Darren dan juga hubungan Mia.
"Selamat siang, Nona," kata Mia.
"Siang," jawabnya.
Mia pun langsung bergegas keluar dari ruangan kekasihnya, lalu setelah itu Salsa masuk dan menghampiri Darren.
"Darren," panggil Salsa.
"Apa kau membuat Shelby bekerja?" tanya Darren, sebab tadi Keenan yang tak lain suaminya melihat Shelby sedang memandu para turis.
Darren mengusap wajah kasar, kekesalannya karena Theresia lebih memilih dengan Rush belum selesai, ditambah lagi kakaknya datang dan menanyakan hal yang tidak penting.
"Aku tidak tahu, tanyakan saja padanya," jawabnya.
"Aku rasa cukup, aku sudah memberikannya uang, kartu kredit dan lain-lain, tapi dia tidak mau memakainya!" kata Darren. Dia membentak Salsa karena dia benar-benar masih merasa kesal.
"Kau membentakku?!" Salsa malah berteriak dengan kencang, hingga Darren yang akan berteriak menghentikan niatnya, sebab jika dia marah, Salsa akan lebih marah padanya.
"Salsa, aku mohon pergilah. Aku sedang pusing," kata Darren lagi yang mengusir sang kakak.
"Aku adukan kau pada Daddy," kata Salsa lagi. Setelah itu wanita itu pun berbalik, sedangkan Darren langsung mengusap wajah kasar. Kenapa semua wanita di dunia ini menyebalkan? Selalu saja membuat pusing. Darren menggerutu.
Waktu menunjukkan pukul delapan malam.
Shelby baru saja selesai dengan aktivitasnya. Akhirnya hari ini dia bisa segera pulang lebih cepat. Barusan dia mendapatkan telepon dari Rush bahwa Theresia sedang berada di rumahnya, dan sekarang Shelby akan menjemput Theresia terlebih dahulu sebelum pulang ke apartemennya, karena walaupun saat bekerja di luar kota, tapi hanya butuh waktu dua jam untuk Shelby sampai ke rumah Rush.
Saat Shelby akan masuk ke dalam mobil, tiba-tiba ada seseorang pria berjas menghampirinya.
"Nona," panggil pria berjas tersebut.
"Maaf kau siapa?" tanya Shelby. Dia menatap heran pada lelaki yang menyapanya.
"Halo perkenalkan aku Mark, sekretaris Tuan Anderson," ucapnya sambil mengulurkan tangannya, tapi Shelby tidak membalas uluran tangan lelaki itu, membuat Mark kembali menurunkan tangannya.
"Ada apa?" tanya Shelby.
"Tuan Anderson menunggu Anda di mobil," ucapnya lagi.
"Apa dia mengikutiku dari tadi?" tanya Shelby.
"Iya, Nona," katanya.
"Aku tidak butuh dia. Jika dia butuh padaku datang kemari." Shelby langsung masuk ke dalam mobil, kemudian dia membanting pintu di hadapan Mark hingga dia menggaruk tekuk yang tidak gatal. Dia pun langsung menghampiri tuannya.
"Tuan، maaf Nona Shelby tidak ingin menghampiri Anda. jika Anda ingin bertemu dengannya, Anda harus datang ke mobil putri Anda," kata Mark.
Anderson mengangguk kemudian lelaki paruh baya itu langsung keluar dari mobil kemudian berjalan menghampiri mobil Shelby. Tepat ketika berada di depan mobilnya, Anderson mengetuk pintu lalu masuk ke dalam mobil putrinya.
Jantung Shelby bergemuruh ketika Anderson duduk di sebelahnya. Dia yang sedang lelah bekerja, rasanya ingin sekali menghajar sang ayah, sama seperti dia menghajar Darren setahun lalu. Namun, dia masih berusaha menahan emosinya.
"Ada apa?" tanya Shelby, dia bertanya tanpa menoleh ke arah sang ayah.
Kini, jari-jari Anderson saling bertautan. Jujur, dia bingung bagaimana caranya berbicara pada Shelby. Sebenarnya, dalam setahun ini, Anderson sudah beberapa kali mencoba untuk berbicara dengan putrinya, tapi Shelby selalu menolak dan selalu menghindar. Itu sebabnya dari tadi dia berusaha untuk mengikuti putrinya, karena dia ingin berbicara sekaligus meminta maaf.
“Daddy ....” Anderan menghentikan ucapannya ketika melihat reaksi Shelby.
"Daddy?" Tiba-Tiba, Shelby tertawa ketika Anderson menyebut dirinya sendiri daddy, sedangkan Anderson langsung menghentikan ucapannya dia tahu reaksi Shelby akan seperti ini.
"Jangan membuat lelucon denganku. Turun! aku ingin pergi," kata Shelby lagi.
"Daddy tahu Daddy salah, Daddy minta maaf," kata Anderson yang langsung berbicara sebelum Shelby menyela ucapannya.
"Maaf yang mana? Maaf atas apa? Terlalu banyak kesalahanmu pada aku dan ibuku, jadi kau ingin minta maaf atas kesalahanmu yang mana?" tanya Shelby membuat Andreson terdiam. Dia sadar kesalahannya pada Selby dan mantan istrinya sudah terlalu banyak.
"Daddy minta maaf atas apa yang terjadi di masa lalu, Daddy diminta maaf karena telah mengusirmu dan ibumu. Kau boleh melakukan apapun pada Daddy," kata Anderson lagi dengan suara pelan.
"Jika aku boleh melakukan apa yang aku mau. Serahkan semua hartamu padaku," ucap Shelby yang memotong ucapan Anderson hingga tiba-tiba Anderson terdiam, tubuhnya dia mematung.
"Maksudmu?" tanya Anderson, dia tidak menyangka Sang putri akan mengatakan itu.
Shelby melihat ke arah ayahnya, untuk pertama kalinya dia melihat ke arah Anderson. Dia menatap Anderson dengan tatapan mencela.
"Jika kau ingin maaf dariku, berikan semua hartamu. Hidup miskin seperti aku dulu dan ibuku," kata Shelby, "kau tidak mau, 'kan? Ya sudah turun sana. Aku memang tidak bisa membalas atas apa yang kau lakukan di masa lalu, tapi Tuhan tidak tidur. Kau akan mendapat balasan entah di dunia ataupun neraka, dan aku yakin anak-anakmu akan menanggung apa yang kalian lakukan." Setelah itu, Shelby pun langsung turun dari mobil kemudian dia memutari mobilnya lalu membukakan pintu untuk Anderson.
"Silahkan turun, mobilku terlalu berharga untuk ditempati lelaki sepertimu," jawab Shelby, seperti biasa jika dia sudah kesal, kata-kata pedas akan keluar dari mulut wanita itu. Sementara Anderson malah menghela napas. Sepertinya dia harus berbicara dengan Shelby tapi nanti.
"Aku akan menemuimu nanti," kata Anderson lagi.
"Tidak perlu, aku tidak sudi bertemu dengan orang sepertimu." Setelah mengatakan itu, Shelby pun langsung memutari kembali mobilnya kemudian masuk ke dalam kursi kemudi.
Shelby mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Dia berusaha untuk tidak menangis, tapi semakin ditahan semakin air mata menuntut untuk dikeluarkan. Faktanya berbicara dengan sang ayah benar-benar memberikan luka yang sangat dalam untuknya.
Shelby berharap dia tidak akan bertemu lagi dengan Anderson, walaupun orang mengatakan darah lebih kental daripada air, tapi tentu saja bagi Shelby itu tidak berlaku. Baginya, sampai kapan pun, Anderson hanyalah orang lain.
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Shelby sampai di rumah Rush. Dia pun langsung masuk kemudian turun dari mobil, dan tepat ketika dia turun, ternyata Rush keluar dari rumah, sepertinya lelaki itu ingin mengambil sesuatu dari mobil.
"Kau sudah sampai," ucap Rush ketika Shelbi ada di hadapannya.
"Rush, maaf merepotkanmu. Maafkan aku juga Theresia menyusahkanmu," kata Shelby.
Rush menggeleng kemudian terkekeh.
"Mana mungkin Theresia menyusahkanku. Ayo duduk, aku akan menyuruh pelayan untuk membawakan minum. Theresia juga sudah tertidur," kata Rush lagi, hingga Shelby pun mengangguk kemudian dia mendudukkan diri yang ada di depan, sedangkan Rush kembali masuk ke dalam untuk menyuruh pelayan mengambilkan minum.
Lima menit kemudian.
Rush kembali keluar dari rumah, lalu setelah itu dia menarik kursi, mendudukkan diri di sebelah Shelby. "Bagaimana, apa semuanya lancar?" tanya Rush.
__ADS_1
"Semuanya lancar, aku berterima kasih. Mungkin jika tidak ada kau, aku tidak akan mengambil job ini karena tidak ada yang menjaga Theresia," jawab Shelby.
Rush mengangguk kemudian menatap Shelby. Shelby yang ditetap, mengerutkan keningnya.
"Apa ada yang ingin kau sampaikan?" tanya Shelby.
Rush mengangguk. "Apa kau masih membutuhkan waktu?" tanya Rush lagi.
Shelby menggigit bibirnya kemudian dia terdiam bingung untuk menjawab. Bagaimana bisa dia menerima Rush sedangkan dia masih terikat pernikahan dengan Darren?
Sebenarnya, Shelby sama sekali tidak percaya dengan arti pernikahan. Itu sebabnya walaupun dia menikah dengan Darren, dia selalu menganggap dirinya lajang karena bagi Shelby, menikah atau tidak semuanya sama saja.
Lalu ketika Rush mengajaknya menjalin hubungan, tentu saja Shelby bingung. Toh walaupun dia bercerai dari Darren, dia juga tidak ingin membuka hati pada siapa pun.
"Rush," panggil Shelby.
"Aku mengerti. Kabari aku jika kau sudah siap," ucap Rush hingga pada akhirnya Shelby mengangguk.
Satu jam berlalu.
Akhirnya karena Theresia tidak kunjung bangun, Shelby terpaksa membangunkan putrinya karena dia harus segera pulang dan setelah mobil Shelby tidak terlihat, Rush mengutak-atik ponselnya kemudian dia menelepon seseorang.
"Tidak, aku akan melakukan rencanaku nanti. Siapkan saja semuanya," kata Rush pada seseorang di seberang sana. Setelah itu, Rush langsung mematikan panggilannya.
***
Beberapa hari kemudian.
Theresia terdiam di depan lapangan, gadis cantik itu sedang melihat acara yang berlangsung di sana. Tatapan matanya tidak henti-henti menatap lapangan, di mana semua anak sedang bermain bersama ayah mereka, sedangkan Theresia hanya mampu menatap Tristan dan ayahnya yang sedang memasukkan bola ke dalam keranjang tadi. Dia memang tidak ingin hadir ke sekolah, terlebih lagi ibunya juga sedang tidak enak badan.
Rupanya kondisi Shelby drop, tapi Theresia ingin ikut hingga tadi selbi hanya mengantarkan putrinya saja, lalu kembali pulang dan akan menjemput ketika jam pelajaran selesai. Biasanya, tahun-tahun ke belakang Theresia tidak pernah hadir dalam hari ayah, dan sekarang dia memaksakan untuk hadir dan sepertinya gadis kecil itu menyesal tentang keputusannya untuk bersekolah. Seandainya tadi dia menemani ibunya dan menurut pada ibunya untuk tidak sekolah, tentu dia tidak akan sakit seperti ini.
Darren yang baru saja selesai dengan aktivitasnya, langsung menoleh ke arah sang putri yang menatapnya dengan mata yang membasah. Sesekali, Darren melihat Theresia, menghapus air matanya begitu pun dengan Tristan.
Shelby mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Dia berusaha untuk tidak menangis, tapi semakin ditahan semakin air mata menuntut untuk dikeluarkan. Faktanya berbicara dengan sang ayah benar-benar memberikan luka yang sangat dalam untuknya. Shelby berharap dia tidak akan bertemu lagi dengan Anderson, walaupun orang mengatakan darah lebih kental daripada air, tapi tentu saja bagi Shelby itu tidak berlaku. Baginya, sampai kapan pun, Anderson hanyalah orang lain.
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Shelby sampai di rumah Rush. Dia pun langsung masuk kemudian turun dari mobil, dan tepat ketika dia turun, ternyata Rush keluar dari rumah, sepertinya lelaki itu ingin mengambil sesuatu dari mobil.
"Kau sudah sampai," ucap Rush.
"Rush, maaf merepotkanmu. Maafkan aku juga Theresia menyusahkanmu," kata Shelby.
Rush menggeleng kemudian terkekeh.
"Mana mungkin Theresia menyusahkanku. Ayo duduk, aku akan menyuruh pelayan untuk membawakan minum. Theresia juga sudah tertidur," kata Rush lagi, hingga Shelby pun mengangguk kemudian dia mendudukkan diri yang ada di depan, sedangkan Rush kembali masuk ke dalam untuk menyuruh pelayan mengambilkan minum.
Lima menit kemudian.
Rush kembali keluar dari rumah, lalu setelah itu dia menarik kursi, mendudukkan diri di sebelah Shelby.
"Bagaimana, apa semuanya lancar?" tanya Rush.
"Semuanya lancar, aku berterima kasih. Mungkin jika tidak ada kau, aku tidak akan mengambil jawaban ini karena tidak ada yang menjaga Theresia," jawab Shelby.
Rush mengangguk kemudian menatap Shelby. Shelby yang ditetap, mengerutkan keningnya.
"Apa ada yang ingin kau sampaikan?" tanya Shelby.
Rush mengangguk. "Apa kau masih membutuhkan waktu?" tanya Rush lagi.
Shelby menggigit bibirnya kemudian dia terdiam bingung untuk menjawab. Bagaimana bisa dia menerima Rush sedangkan dia masih terikat pernikahan dengan Darren?
Sebenarnya, Shelby sama sekali tidak percaya dengan arti pernikahan. Itu sebabnya walaupun dia menikah dengan Darren, dia selalu menganggap dirinya lajang karena bagi Shelby, menikah atau tidak semuanya sama saja.
Lalu ketika Rush mengajaknya menjalin hubungan, tentu saja Shelby bingung. Toh walaupun dia bercerai dari Darren, dia juga tidak ingin membuka hati pada siapa pun.
"Rush," panggil Shelby.
"Aku mengerti. Kabari aku jika kau sudah siap," ucap Rush hingga pada akhirnya Shelby mengangguk.
Satu jam berlalu.
Akhirnya karena Theresia tidak kunjung bangun, Shelby terpaksa membangunkan putrinya karena dia harus segera pulang dan setelah mobil Shelby tidak terlihat, Rush mengutak-atik ponselnya kemudian dia menelepon seseorang.
"Tidak, aku akan melakukan rencanaku nanti. Siapkan saja semuanya," kata Rush pada seseorang di seberang sana. Setelah itu, Rush langsung mematikan panggilannya.
***
Beberapa hari kemudian.
Theresia terdiam di depan lapangan, gadis cantik itu sedang melihat acara yang berlangsung di sana. Tatapan matanya tidak henti-henti menatap lapangan, di mana semua anak sedang bermain bersama ayah mereka, sedangkan Theresia hanya mampu menatap Tristan dan ayahnya yang sedang memasukkan bola ke dalam keranjang. Tadinya, memang dia tidak ingin hadir ke sekolah, terlebih lagi ibunya juga sedang tidak enak badan. Tapi, entah kenapa tahun ini dia ingin melihat perayaan hari ayah di sekolahnya.
Rupanya kondisi Shelby drop, tapi Theresia ingin ikut hingga tadi selbi hanya mengantarkan putrinya saja, lalu kembali pulang dan akan menjemput ketika jam pelajaran selesai. Biasanya, tahun-tahun ke belakang Theresia tidak pernah hadir dalam hari ayah, dan sekarang dia memaksakan untuk hadir dan sepertinya gadis kecil itu menyesal tentang keputusannya untuk bersekolah. Seandainya tadi dia menemani ibunya dan menurut pada ibunya untuk tidak sekolah, tentu dia tidak akan sakit seperti ini.
Darren yang baru saja selesai dengan aktivitasnya, langsung menoleh ke arah sang putri yang menatapnya dengan mata yang membasah. Sesekali, Darren melihat Theresia, menghapus air matanya begitu pun dengan Tristan.
"Daddy, apa boleh kita mengajak Theresia bergabung? Sebentar lagi, 'kan, akan ada lompat tali jadi bisa bermain dengan Theresia," ucap Tristan.
Hati Darren ingin mengiyakan, tapi gengsinya masih terlalu berat, padahal saat ini dia begitu ingin memanggil putrinya, mengajak Theresia untuk bergabung. Tapi, tentu saja semua terhalang ego.
"Tidak usah, ayo kita lanjutkan saja," putus Darren pada akhirnya, membuat Tristan menghela napas.
"Aku ingin istirahat dulu," kata Tristan. Dia yang tidak tega langsung keluar dari lapangan, kemudian dia menghampiri Theresia.
"Theresia, you oke?" tanya Tristan ketika dia sudah berada di depan Theresia.
"Aku baik-baik saja," dusta Theresia, tapi ketika ditanya seperti itu bulir bening langsung terjatuh dari pelupuk mata Theresia, hingga Tristan pun langsung menutupi tubuh Theresia dari sang ayah, karena dia tahu Theresia paling tidak mau menangis di depan ayahnya.
***
"Theresia, Mommy meminta Bibi Salsa untuk menjemput, tapi Bibi Salsa tidak bisa, jadi ayo ikut pulang bersamaku dan Daddy," ajak Tristan ketika acara sudah selesai, dan mereka pun akan segera pulang.
Karena Shelby merasa tubuhnya sangat lemas, dia meminta Salsa untuk menjemput Theresia, tapi Salsa malah menyuruh Dareen, Tentu saja ini bagian usaha dari Salsa, menyatukan Darren dan Theresia dan ketika Salsa menyuruhnya, Darren merasa senang. Akhirnya ada alasan untuk dia pulang bersama putrinya.
"Tapi Tristan, bagaimana jika aku ditinggalkan di pinggir jalan?" tanya Theresia, teringat saat dulu Theresia nekat ikut dengan mobil Darren karena dia ingin ikut untuk pergi ke rumah Mayra dan Tommy, tapi Darren meninggalkannya di sisi jalan, padahal saat itu Theresia masih berusia enam tahun dan ketika Darren menurunkan Theresia, dia langsung menelepon sopir menyuruh sopir untuk menjemput putrinya, dan Theresia sepertinya tidak bisa melupakan itu walaupun ini sudah hampir tiga tahun berlalu.
"Tidak apa-apa, Daddy juga sudah setuju, ayo," ajaknya.
Karena tidak ingin Thersia menolah, Tristan pun langsung menarik lengan Theresia kemudian mengajak Theresia untuk pergi ke mobil. Saat melihat Theresia dan Tristan, hati Darren menghangat ketika melihat kedua anak kembarnya. Tak lama raut wajah Darren berubah kala Theresia tetap tidak mau menatapnya, dan itu membuat Darren sesak dan seperti biasa, ketika Theresia ada di depannya, Darren langsung mengubah ekspresi dinginnya, karena dia terlalu gengsi untuk menunjukkan apa yang dia rasakan pada putrinya.
Mobil berjalan dengan kecepatan sedang. Sedari tadi masuk ke dalam mobil, tubuh Theresia seperti patung, karena dia takut gerak-geriknya akan salah di mata sang ayah, dan dari tadi dia menunduk, begitu pun dengan Darren. Dia benar-benar merasakan dadanya nyeri ketika Theresia menunduk seperti itu. Namun seperti biasa, ego lelaki itu begitu tinggi.
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Darren sampai di perusahaan karena memang dia tidak langsung pulang.
"Daddy, kenapa kita kemari?" tanya Tristan ketika mobil yang di kendarai Dareen terparkir di perusahaan.
"Kita pergi dulu ke kantor, ada yang harus Daddy urus," jawab Dareen.
Darren turun dari mobil, begitu pun dengan Tristan, lalu setelah itu Tristan membukakan pintu mobil untuk Theresia.
"Theresia ayo kita turun, kita pergi ke kantor Daddy," ucapnya hingga Theresia langsung turun dari mobil karena Tristan menarik tangannya.
"Tristan kau tunggu dulu di dalam, biar Daddy akan pergi ke ruang meeting," ucap Darren ketika mereka sudah berada di lantai paling atas, hanya nama Tristan yang Darren sebut, Theresia seolah tidak ada di matanya dan rasanya Theresia ingin sekali menangis.
"Ayo Theresia." Tristan menarik lembut lengan kembarannya, lalu dia pun langsung masuk ke dalam ruangan sang ayah. Saat ruangan itu dibuka, bagai ada panah yang menghantam Theresia, di mana saat itu dia melihat ada bingkai foto ayahnya dan juga Tristan. Harusnya ini tidak aneh untuk Theresia, tapi entah kenapa ini begitu menyakitkan. Lalu tak lama, tatapan Theresia teralih ke bagian sisi, di mana ada satu ruangan yang disekat yang penuh dengan mainan anak lelaki, itu milik kakaknya.
"Theresia," panggil Tristan.
Setengah jam kemudian.
Darren keluar dari ruang meeting. Lelaki itu langsung berjalan ke arah ruangannya, tapi saat dia membuka pintu, Tristan dan Theresia tidak ada hingga Darren pun kembali berbalik lalu mencari kedua anaknya.
"Tristan," panggil Darren ketika Tristan berjalan dengan terengah-engah.
"Daddy, Theresia tidak ada," jawab Tristan dengan panik.
"Apa?!" Darren terpekik saat mendengar ucapan Tristan.
"kemana dia?" tanya Darren. Wajah panik tidak bisa disembunyikan dari lelaki itu. Rupanya saat tadi Tristan anteng bermain, Theresia memutuskan untuk keluar dari ruangan sang ayah karena dia merasa asing di sana, dan dia juga tidak sanggup terus menatap foto Tristan dan ayahnya, itu sebabnya dia lebih memilih pergi dan Tristan yang tersadar, langsung mencari adiknya, tapi adiknya tidak ditemukan di mana pun.
Sepuluh menit kemudian.
Darren sudah mencari Theresia ke sana kemari. Wajah lelaki itu sudah panik dan untuk pertama kalinya, dia merasa ketakutan terjadi sesuatu pada Theresia. Tanpa sadar, naluri Darren sebagai seorang ayah muncul, naluri yang sebenarnya sudah ada setahun lalu di mana dia mulai menyayangi putrinya, hanya saja dia enggan mengakui.
Setelah terdiam sejenak, Darren langsung keluar dari kantor. Dia memutuskan untuk mencari di luar. Darren menolehkan ke kepalanya ke sana kemari, lelaki tampan itu berusaha mengatur napasnya, tapi Theresia tidak ada di depan hingga pada akhirnya Darren mencari di area parkiran.
Helaan napas terlihat dari wajah Darren ketika Theresia ternyata menunggu di depan mobil. Dia pun berlari, antara kesal, takut dan marah bercampur. Di satu sisi dia kesal karena Theresia pergi, dia marah karena Theresia keluar dari perusahaannya dan membuat dia takut.
"Kau!" bentak Darren hingga Theresia yang sedang melamun, menoleh. Kali ini Dareem.menatap Theresia dengan marah semarah-marahnya membuat Theresia langsung ketakutan. Dia langsung mundur satu langkah.
"Kenapa kau selalu merepotkan!" teriak Darren, "apa kau tahu takutnya ...."
Tiba-Tiba, Darren menghentikan ucapannya ketika tubuh Theresia gemetar, lelaki itu langsung mengusap wajah kasar.
"Tunggu di sini!” sambung Dareen lagi.
Tidak ingin memperlihatkan kemarahannya pada sang anak, Darren langsung berbalik memutuskan untuk mengambil kunci mobil dan mengantar Theresia untuk pulang, dia juga menyesali telah membentak dan berteriak di hadapan putrinya. Itu sebabnya dia dengan cepat berbalik.
15 menit kemudian.
Darren dan Tristan keluar dari perusahaan, mereka langsung berjalan ke arah parkiran dan tak lama, tubuh Darren mematung ketika melihat Theresia tidak ada di depan mobil.
Secepat kilat, Darren pun langsung berlari, memastikan keberadaan putrinya. Dia takut Theresia pergi karena apa yang dilakukan barusan.
"Theresia!" Lirih Daren ketika Theresia tidak ada di mana pun.
Darren pun langsung berbalik kemudian dia mencari keberadaan putrinya, tapi Theresia tidak ada di mana pun hingga tak lama ponsel Darren berdering. Satu pesan masuk dari seseorang, yang tak lain adalah dari Rush.
"Datang ke tempat ini jika kau ingin putrimu selamat.”
Mata Darren membulat saat melihat pesan dari Rush, dan yang paling membuat Darren terkejut adalah ketika melihat Theresia yang sedang duduk dengan tubuh terikat.
__ADS_1