Tatap Aku, Lelakiku!

Tatap Aku, Lelakiku!
Malam indah


__ADS_3

"Cucumu?” lirih Darren ketika Anderson memanggil Theresia sebagai cucunya. Dia mengerutkan keningnya, menatap Anderson dengan bingung.


"Maksud Anda apa, Tuan Anderson?" Darren langsung menarik lengan Theresia agar Theresia bersembunyi di balik tubuhnya, dia tidak mungkin membiarkan sembarang orang menghampiri putrinya.


Anderson tersadar. Dia melihat ke arah Angela, saat ini Anderson belum menyadari bahwa sebenarnya Angela sudah tahu semuanya. Dia ragu untuk mengatakan, tapi jika dia tidak mengatakannya di hadapan Darren, dia tidak punya kesempatan untuk mengatakannya lagi dan dia berharap Darren mau membantunya untuk memperbaiki hubungan dengan Shelby.


"Ceritanya sangat panjang, tapi Shelby adalah putri saya," ucap Anderson.


Darren menghela napas kemudian mengembuskannya, lalu wajahnya mendadak berubah menatap Anderson dengan tatapan tak suka.


Shelby menceritakan garis besar kehidupannya di masa lalu pada Darren. Walaupun Shelby hanya menceritakan secara singkat, tapi Darren mengerti apa yang terjadi dan ternyata, orang yang telah melukai istrinya ada di hadapannya.


"Kalau begitu, kami permisi." Pada akhirnya, Dareen lebih memilih memutuskan untuk pergi."Ayo Theresia," ajak Darren.


Saat Theresia berbalik, Theresia kembali menoleh lagi ke arah kakeknya. Entah kenapa dia mendadak tidak suka pada lelaki tua itu yang menurutnya sangat aneh.


"Daddy, dia itu siapa?" tanya Theresia membuat Darren menoleh


"Bukan siapa-siapa, hanya orang aneh," jawab Darren, tidak berani memberitahukan Theresia tentang Anderson, karena itu akan menjadi bagian Shelby. Beruntung tadi Theresia tidak mendengar saat Anderson mengakui bahwa dia Ayah Shelby, dan sekarang mereka berniat untuk menyusul Shelby ke toilet.


***


Shelby mendudukkan diri di atas toilet. Wanita itu menyandarkan tubuhnya ke belakang. Entahlah ini sudah bertahun-tahun berlalu, tapi ketika melihat Anderson, rasanya rasa sakit itu muncul lagi. Ditambah barusan dia melihat betapa hangatnya hubungan adiknya dengan ayahnya, sedangkan dia setelah kematian ayah tirinya, mati-matian berjuang hidup seorang diri bekerja ke sana kemari untuk biaya hidupnya dan hidup Theresia. Namun, ayahnya hidup nyaman dengan keluarganya.


"Shelby." Tiba-Tiba, terdengar suara Darren dari arah luar. Rupanya, Darren terpaksa masuk ke kamar mandi perempuan karena dia takut terjadi sesuatu dengan Shelby.


Shelby tersadar. Tidak, dia tidak boleh memperlihatkan sisi sedihnya pada Darren ataupun Theresia. Seperti inilah Shelby, sekali pun dia hancur, dia tidak pernah memperlihatkannya pada siapapun.


Shelby membuka pintu kemudian dia tersenyum.


"Darren, kau bisa diteriaki karena masuk ke toilet perempuan. Ayo keluar." Selby tanpa sadar menarik tangan Darren dan ketika melihat Shelby seperti ini, Darren merasakan rasa sesak yang luar biasa, teringat masa lalu di mana saat itu dia membiarkan Shelby berjuang membesarkan Theresia seorang diri.


"Shelby, are you oke?" tanya Darren ketika mereka sudah keluar dari toilet.


"Aku baik-baik saja," jawabnya. Namun, matanya berkata berbeda. Dia sedang merasa down dan ketika ada orang yang menanyakan kondisinya, tentu reaksi Shelby akan seperti ini


"Mana Theresia?" tanya Shelby.


"Ada di depan," ucap Darren hingga Shelby pun mengangguk.


Darren langsung melanjutkan langkahnya. Dia berjalan di belakang tubuh Shelby.


"Mommy, are you oke?" tanya Theresia ketika melihat wajah ibunya yang terlihat kacau.


"Theresia," panggil Shelby.


"Apa Mommy ingin istirahat di mobil?" tanya Theresia lagi. Tadi, Dareen memberikan pengertian pada Theresia agar Theresia menyuruh Shelby beristirahat di mobil hingga Shelby pun mengangguk.


"Kau tidak keberatan menunggu di mobil?" tanya Darren.


Shelby menganggukan kepalanya, lalu menoleh ke arah Theresia. “Theresia maafkan Mommy, sepertinya Mommy tidak bisa menemanimu.”


"Hmm, Mommy tidak apa-apa?" jawab Theresia.


"Tidak apa-apa Shelby, pergilah ke mobil." Darren menyerahkan kunci mobilnya pada Shelby hingga Shelby pun langsung menerimanya, lalu setelah itu Shelby berbalik dan ketika Shelby berbalik, ada rasa sesak yang dirasakan oleh Darren ketika melihat Shelby seperti ini. Kekagumannya pada Shelby bertambah karena mengingat masa lalu, di mana Shelby melaluinya seseorang diri.

__ADS_1


"Daddy," panggil Theresia, hingga Dareen tersadar.


“Hmm?”


"Apa Daddy tidak tertarik pada Mommy?" tanyanya


Uhuk!


Tiba-Tiba, Darren tersedak saat mendengar ucapan sang putri. "Maksudmu apa?" tanya Darren lagi yang berpura-pura tidak tau maksud putrinya.


"Mommy perempuan yang hebat, Mommy wanita super. Tidak ada wanita yang lebih hebat dari Mommy, apa Daddy tidak tertarik pada Mommy?" Theresia kembali bertanya seperti itu pada ayahnya, hingga Darren langsung mengelus rambut Theresia.


"Kau ini tidak akan mengerti urusan orang dewasa," jawabnya berusaha mengelak.


"Aku ini sudah dewasa," kata Theresia, dia langsung menyingkirkan tangan Darren dari kepalanya.


"Memangnya jika Daddy mencintai Mommy, apa kau senang?" tanya Darren lagi.


"Aku senang," jawabnya.


"Ya sudah kalau begitu, Daddy memang mencintai Mommy," jawab Darren. Sayangnya, Theresia menganggap itu bercanda padahal Dareen mengatakan yang sebenarnya.


"Ekhem." Tiba-Tiba, seseorang berdeham membuat Darren dan Theresia menoleh, dan ternyata Angela yang berdeham.


"Bibi itu lagi," ucap Theresia. Entah kenapa dia tidak menyukai wanita di depannya ini.


"Ada apa?" tanya Darren, dia langsung bertanya karena takut Theresia mengeluarkan ucapan yang tidak enak.


"Bisa kita bicara?" tanya Angela. Rasanya, dia begitu tertarik pada lelaki ini yang tak lain suami kakaknya itu. Dia sekarang punya alasan untuk berbicara dengan Darren. Wanita itu akan menggunakan Shelby agar bisa berbincang-bincang dengan Darren.


"Ya sudah, kita mungkin bisa bicara lain waktu," kata Angela lagi.


"Tidak boleh." Lagi-Lagi, Theresia yang menjawab.


"Awas saja jika Bibi menemui ayahku," ancam Theresia.


Darren menahan tawa saat mendengar ucapan Theresia, ternyata putrinya begitu posesif dan itu membuat Darren senang, apalagi jika Shelby yang posesif, mungkin Darren akan melayang.


"Kalau begitu, kami permisi." Darren pun memutuskan untuk pergi meninggalkan Angela, membuat Angela menggeram kesal.


"Sepertinya aku harus meminta bantuan Daddy," kata Angela.


***


Akhirnya, acara berbelanja pun selesai. Satu tas dan dua paper bag dibawa oleh Darren, sedangkan Theresia membawa satu tas kecil yang berisi tab yang barusan dibelikan oleh ayahnya. Saat ini, mereka memutuskan untuk langsung pulang. Sedari tadi, Darren merasa tidak tenang karena terus berpikir tentang Shelby. Namun, dia juga tidak bisa mengajak putrinya untuk buru-buru.


Saat berada di depan mobil, Darren langsung mengetuk pintu. Rupanya, Shelby tidur tanpa sadar setelah menangis, dan ketika terbangun, Shelby mengusap wajahnya, memastikan tidak ada jejak air mata.


"Kalian sudah selesai?" tanyanya.


"Kami sudah selesai," jawab Darren.


***


Waktu menunjukkan pukul dua belas malam.

__ADS_1


Darren mendengar suara bising dari arah dapur, dan ternyata itu adalah suara Shelby. Wanita itu sedang duduk di kursi pantry. Di depannya ada alkohol, sepertinya wanita itu mabuk.


Rupanya, pertemuannya dengan sang ayah setelah tiga tahun berlalu, membangkitkan luka di hati Shelby, hingga sedari pulang dari mall, Shelby benar-benar terpukul dan pada akhirnya dia melampiaskannya pada alkohol.


Darren menggeleng saat melihat Shelby seperti ini. Dia tahu Shelby sedang depresi.


"Shelby," panggil Darren, dia mendudukkan diri di seberang Shelby membuat Shelby menoleh.


"Darren kau mau?” tanya Shelby ketika Dareen duduk di depannya


"Tidak, aku tidak mau. Aku sudah tidak meminum itu," jawab Darren. Semenjak dia bertaubat, dia benar-benar menjauhi semua hal yang negatif, bahkan dia sudah tidak meminum alkohol lagi.


"Kau baik-baik saja?" tanya Dareen.


"Mana mungkin aku baik-baik saja? Apa wajahku baik-baik saja?" Shelby mengomel.


Darren menjauhkan gelas ketika Shelby akan meminum alkohol.


"Stop Shelby, kau sudah terlalu mabuk," kata Darren.


"Kemarikan, gelasnya!" Shelby berteriak, dia mengambil paksa gelas dari tangan Darren, setelah itu meneguk lagi alkohol yang baru saja dia tuangkan ke dalam gelas.


"Apa Anderson ayahmu?" tanya Daren yang memulai pembicaraan tentang Anderson.


"Dia ayah brengsek, bukan? Kenapa hidup tidak adil, padahal aku tak pernah mempunyai kesalahan di masa lalu. Dulu, aku berkuliah karena beasiswa. Aku ingin menjadi lulusan terbaik, mendapatkan pekerjaan yang layak, aku ingin sukses. Tapi saat aku kuliah, kau menghamiliku. Aku pikir hidupku akan makmur dan tidak perlu memikirkan apapun lagi karena aku menikah denganmu, tapi ternyata aku salah." Shelby menjeda sejenak ucapannya. Dia memegang kepalanya yang terasa nyeri. Wanita itu berbicara sambil menggoyang-goyangkan kepalanya layaknya orang yang sedang mabuk.


Darren menjadi penasaran dengan apa yang dirasakan oleh Shelby, hingga dia kembali bertanya"Lalu setelah kita menikah, apa yang kau rasakan?" tanya Dareen.


"Pertanyaan bodoh! tentu saja aku hanya mendapatkan rasa sakit. Aku memang bukan wanita materialistis, tapi aku pikir jika menikah dengan keluarga kaya, hidupku akan terjamin dan aku tidak perlu memikirkan apapun lagi. Tapi ternyata aku salah," balas Shelby, dia terekeh pelan ketika mengatakan itu.


Darren menengandahkan kepalanya saat Shelby mengatakan keluh kesahnya, karena dia juga teringat kesalahannya pada istrinya.


"Setelah Tristan dan Teresia lahir, kukira kau akan berubah, tapi ternyata tidak. Kau membenci Theresia hingga aku harus banting tulang untuk membiayai kami. Belum lagi aku harus membayar biaya rumah sakit. Oh, kenapa hidup tidak adil?!" Shelby berteriak di akhir kalimatnya.


"Apakah ada lelaki yang tulus untukku?" tanya Shelby lagi yang tiba-tiba bertanya seperti itu.


"Ada, aku. Aku yang tulus mencintaimu," kata Dareen.


Seketika, Shelby tertawa. "Omong kosong," balas Shelby, dia mengangkat tangannya dan menunjuk wajah Dareen


"Ah sudahlah, tidak ada gunanya berbicara denganmu." Shelby pun turun dari kursi, tapi dia menghentikan langkahnya ketika akan berjalan, wanita itu merasa kepalanya berputar-putar. Darren dengan cepat langsung merangkul tubuh Shelby, lalu menggendongnya dan berjalan ke arah kamarnya.


Tristan ternyata menginap di rumah temannya, hingga di kini di kamar tak ada siapa pun. Dia tidak mungkin membiarkan Shelby tertidur dengan Theresia, karena dia tidak ingin Theresia menghirup alkohol.


Saat berada di kamar, Darren langsung berjalan ke arah ranjang kemudian lelaki tampan itu membaringkan Shelby di ranjangnya dan saat Darren akan menegakkan tubuhnya, Shelby menarik leher Darren.


"Darren, kau mencintaiku?" tanya Theresia lagi yang mengingat ucapan Darren barusan.


"Hmm, aku mencintaimu," balas Dareen, dia menatap Shelby dengan penuh ketulusan.


"Jika kamu mencintaiku, ayo kita bercinta. Aku ingin seperti wanita lain, yang dimanjakan, dibahagiakan dan juga di perlakukan istimewa." Karena sedang mabuk berat, Shelby mengatakan hal seperti itu pada Darren.


Shelby wanita normal. Dia wanita dewasa yang juga butuh kehangatan, tapi selama ini dia hanya menghabiskan waktunya bekerja, bekerja dan bekerja.


"Darren, kau tidak mau bercinta denganku? Kau pasti tidak mau karena aku, 'kan, tidak cantik, aku juga tidak seksi, dan aku juga ...." Tiba-Tiba, Shelby menghentikan ucapannya ketika Darren mencium bibirnya. hingga

__ADS_1


__ADS_2