Tatap Aku, Lelakiku!

Tatap Aku, Lelakiku!
Curiga


__ADS_3

Bianca menghela nafas ketika melihat Selo ada di depannya. Sungguh, Awalnya dia hanya ingin menganggap Selo sebagai saudaranya. Entah semakin lama dia merasa risih karena Sello terus datang menghampirinya.


Bianca seorang wanita dewasa, tentu tahu bahwa sebenarnya Selo ingin kembali padanya, dari gerak-geriknya saja Bianca sudah bisa menebak apa yang sedang dilakukan oleh mantan suaminya.


Bianca juga sadar betul, Sello menyalalah artikan sikap baik yang selama ini dia berikan. Padahal Bianca bersikap baik hanya karena benar-benar murni ingin berdamai dengan masa lalu.


Sello yang sedang cemburu langsung berjalan ke arah Bianca, rasanya dia tidak rela Bianca dekat dengan lelaki lain.


“Hallo, Bi,” ucap Sello ketika dia sudah di depan mantan istrinya.


“Hai, Sello. Kau ingin menjenguk seseorang di sini?” tanya Bianca.


“ Tidak, aku ke sini ingin menjemput ...."


“Sello, Perkenalkan ini dokter Adrian.” Bianca sengaja memotong ucapan Sello, hingga Sello langsung melihat ke arah Adrian.


“Dokter Adrian, perkenalkan ini Selo saudaraku.”


Jantung Selo seperti ditusuk ribuan belati saat mendengar ucapan Bianca yang menyebutnya hanya sebagai saudara, bukan mantan suami. Memang benar, di luar hubungan mereka sebagai mantan suami istri, mereka juga adalah sebagai saudara. Tapi entah kenapa, dia merasa sesak ketika Bianca hanya memperkenalkannya sebagai saudara.


“Oh ini saudaramu," balas Adrian, dia mengulurkan tangannya pada Sello, membuat Sello langsung membalas uluran tangan Adrian. Tak lama, Adrian meringis ketika Sello, mencengkram tangan Adrian dengan erat, membuat Bianca menggeleng.


“Sello!” Panggil Bianca menyadarkan Selo hingga dia langsung melepaskan genggaman tangannya pada Adrian.


“Kalau begitu aku duluan, Bi. Aku akan mengirim beberapa materi ke ponselmu,” pamit Adrian.


”Terima kasih, Dok.” Setelah Adrian pergi, Bianca langsung menoleh ke arah Selo, dia menatap Selo dengan tatapan marah dan kesal. Namun, sepersekian detika, Bianca menormalkan ekspresinya.


“Kenapa kau kemari?" tanya Bianca.


“Aku ingin menjemputmu.Tadii Mayra mendadak tidak bisa pergi karena kucingnya melahirkan," jawab Sello.


‘Oh Tuhan, kenapa Mayra selalu mempunyai problem dengan kucingnya.’ Bianca membatin.


“Ayo, Bi. Aku akan mengantarkanmu pulang," jawab Sello. Binca sungguh tidak ada tenaga untuk berdebat dengan lelaki ini, hingga pada akhirnya Bianca mengangguk dan menerima ajakan Sello.

__ADS_1


“Bi, sebelum pulang, ada tempat yang ingin kau kunjungi?” tanya Sello setelah mobil melaju.


Bianca tampak berpikir. “Tidak ada, aku ingin segera pulang," jawab Bianca dengan suara datar, terkesan males menjawab ucapan Selli.


“Oh baiklah."


Saat di pertengahan jalan, tiba-tiba hujan turun dengan sangat deras membuat Sello mengemudikan mobilnya dengan kecepatan pelan.


“Sello, bisa kalau kita berhenti saja dulu aku takut,” ucap Bianca ketika hujan semakin deras. Bahkan Jalan hampir tidak terlihat hingga Sello menggangguk, lelaki itu pun meminggirkan mobilnya.


Suasana di mobil semakin dingin, hingga memeluk tubuhnya dan itu membuat Sello menoleh. Sello membuka switernya kemudian memberikannya pada Bianca.


“Pakailah ini, Bi," ucap Sello.


“Tdiak usah, pakai saja. Kau juga pasti merasa dingin," ucap Bianca.


Sello langsung membuka sabuk pengaman, kemudian dia juga membuka sabuk pengaman milik Bianca. Lalu memasukkan sweater itu ke kepala Bianca.


Jantung selalu berdetak dua kali lebih cepat ketika dia melihat wajah Bianca dari dekat dan tanpa sadar Sello semakin mendekatkan wajahnya, dan memajukan bibirnya serta hampir mencium bibir Bianca, membuat mata Bianca membulat.


Menyadari Bianca sedang melihat ke arahnya, Sello menggigit bibirnya.


“Ma-maafkan aku, Bi. Aku hanya ...”


“Sudah jangan berbicara lagi!" omel Bianca dia memutuskan untuk tidak memperpanjang masalah, dia lebih memilih menyandarkan tubuhnya ke belakang. Lalu memejamkan matanya karena tidak ingin berbicara dengan Sello. Sedangkan Selo pun sama, dia lebih memilih untuk menatap ke depan.


15 menit kemudian, tidak ada pergerakan dari Bianca, hingga Sello langsung menoleh ke arah wanita itu dan terdengar nafas Bianca sudah teratur, pertanda wanita itu tertidur membuat Selo menghela nafas.


Sello menggerakkan tangannya, lelaki itu merapikan rambut Bianca lalu membawanya ke belakang telinga, hingga kini wajah Bianca terlihat jelas. “Bi, seandainya aku tidak bodoh, kita pasti akan tetap bersama dan kita bisa membesarkan anak kita yang telah tiada. “Aku berjanji akan menebus semuanya.” Bulir bening langsung terjatuh dari pelupuk mata Sello saat mengingat kebodohannya di masa lalu.


‘Satu-satunya cara untuk kau menebus kesalahanmu adalah tidak menghampiriku lagi.’ batin Bianca, faktanya dia tidak tertidur dia hanya berpura-pura tertidur dan dia mendengar apa yang diucapkan oleh Sello, tapi dia enggan untuk membuka mata dan lebih memilih untuk terus berpura-pura terlelap.


Hujan mulai reda, suasana jalan mulai kondusif. Hingga Sello menyalahkan dan menjalankan kembali mobilnya dan setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, mobil yang dikendarai oleh Selo sampai di pekarangan rumah.


“Bianca!" panggil Sello, Bianca membuka mata dia berpura-pura melihat ke sekelilingnya seolah dia orang yang baru terbangun dari tidurnya.

__ADS_1


“Ah, sudah sampai rupanya," lirih Bianca.


“Terima kasih Sello mengantarkanku pulang," ucap Bianca lagi. Saat dia akan turun, Sello menarik tangan Bianca, hingga Bianca mempaskan tangan lelaki itu.


“Kau tidak mengajakku masuk?" tanya Sello.


Sungguh, rasanya Bianca ingin sekali mengamuk pada lelaki ini, kenapa sampai sekarang Sello tidak menyadari bahwa ibunya masih membencinya.


“Kau sudah siap bertemu dengan Mommyku?” tanya Bianca, membuat Selo tersadar. Walaupun hubungan mereka sudah membaik. Tapi selama ini Maria tidak pernah menatapnya dengan hangat, dan sekarang jika dia masuk, bisa bisa Maria semakin membencinya.


“ Oh baiklah, aku akan langsung pulang." Bianca langusung turun dari mobil, lalu berjalan masuk tanpa menoleh lagi ke arah belakang. Sedangkan Selo langsung menyalakan dan menjalankan mobilnya untuk keluar dari area rumah.


“Bi, kau pulang dengan siapa?" tanya Maria ketika Bianca masuk ke dalam rumah.


“Aku dijemput Sello, mom.”


Tiba-tiba, Maria menjatuhkan gelas yang sedang dia pegang membuat Bianca terkejut. “Mom!" panggil Bianca


.


“Bianca, bukankah Mommy sudau bilang untuk ....”


“Aku tidak tahu m, dia menjemputku sepertinya maira yang mengatakannya," jawab Bianca dengan cepat.


“ Ini terakhir kalinya Mommy dengar kau dijemput olehnya, kau mengerti," ucap Maria.


“Hmm, aku mengerti. Ya sudah kalau begitu aku ingin istirahat di kamar.” Bianca langsung berbalik karena dia malas mendengar celotehan sang ibu.


“Sayang, kau Kenapa?” tanya Lyodra yang tiba-tiba datang dari arah belakang, dia terkejut ketika mendengar pecahan piring.


“Dad, apa kau tahu putrimu baru saja diantarkan oleh Selo.”


“Bianca maksudmu?”


“Memangnya siapa lagi putrimu,” ucap Maria. “Tunggu, apa kau tidak marah Bianca diantarkan oleh lelaki itu?” tanya Maria ketika melihat ekspresi Lydora yang tampak santai.

__ADS_1


Hingga ....


__ADS_2