
Dua jam berlalu, akhirnya Selo selesai dengan acara ibadahnya. Lelaki itu memutuskan untuk langsung membereskan peralatan ibadah yang barusan dia pakai, setelah itu keluar dari kamar dan berniat untuk berenang.
Dari tadi, Selo merasa gelisah mengingat kedekatan Adrian dan juga Bianca. Bahkan wanita itu terlihat sangat menyayangi anak Adrian.
Selo sudah berdoa, tapi tetap saja rasa gelisah itu ada. Haruskah dia berusaha lebih keras agar Bianca luluh padanya? Tapi, bagaimana jika wanita itu semakin menjauh?
Selo mengusap wajah kasar. Gelisah semakin menjadi-jadi, hingga dia memutuskan untuk langsung menceburkan dirinya di kolam renang.
***
Setengah jam kemudian.
Selo berenang ke tepian. Selama berenang, pikiran Selo tidak lepas dari Bianca dan juga Adrian. Bayangan keduanya akan bersama terus menghantui, hingga sekarang rasanya dia ingin mengamuk melampiaskan kekesalan. Namun, dia sadar tidak ada hak untuk melarang Bianca.
"Kau malam-malam berenang?" Tiba-Tiba terdengar suara Gabriel dari arah belakang, membuat Selo langsung menoleh. Lelaki itu pun langsung naik ke atas kemudian menghampiri sang ayah yang sudah duduk di kursi tepi kolam.
"Kau mencemaskan sesuatu?" tanya Gabriel ketika Selo menghampirinya.
Selo yang sedang memakai handuk, langsung mendudukkan dirinya di sebelah sang ayah. "Tadi aku melihat Bianca dekat dengan laki-laki lain, dan sepertinya dia sangat baik. Terlihat juga dia sangat menyukai Bianca."
"Jadi, kau risau hanya karena itu?" tanya Gabriel.
"Hmm, aku sangat gelisah. Roland bisa aku singkirkan, karena sebentar lagi dia akan dihukum, tapi bagaimana dengan Adrian? Aku tidak yakin aku bisa mengalahkannya, karena dia terlihat lelaki baik-baik."
Seketika Gabriel tertawa saat mendengar curahan hati Selo. "Itu, 'kan, akibat dari apa yang kau lakukan," ucapnya dengan nada meledek, membuat Selo menghela napas.
__ADS_1
"Ayolah, Dad. Aku serius."
"Sekarang Daddy ingin bertanya padamu, kenapa dari sekian banyak wanita di dunia ini juga berkeliaran di sisimu, kau ingin kembali pada Bianca? Padahal Daddy pikir kau bisa mendapatkan wanita lain," ucap Gabriel yang ingin mendengar jawaban putranya.
Selo menunduk, dia memainkan jari-jarinya. "Aku bisa saja melepas dan tidak mengejar lagi wanita itu, karena aku tahu aku hanya mempunyai kesempatan nol persen, aku juga bisa mencari wanita lain setelah kami berpisah. Tapi, aku mulai menyadari bahwa dari jutaan wanita yang ada di dunia ini, mungkin hanya Bianca yang terbaik. Dia tetap tersenyum ketika aku membuatnya terluka. Dia tetap merangkulku ketika aku sudah menyakitinya, dan aku sadar Bianca adalah wanita yang patut dicintai." Mata Sello membasah ketika mengungkit betapa baiknya Bianca.
Gabriel mengangguk-anggukan kepala. Dia bangga dengan putranya. "Lalu, apa setelah kau mendapatkan Bianca, kau akan berbuat kesalahan lagi?" tanya Gabriel.
Selo terkekeh. "Aku bukan laki-laki bodoh, dan ketika aku sudah mendapatkan Bianca, maka aku akan genggam erat dia dan aku akan menempel padanya sampai dia muak."
Tak lama, Gabriel berdecih. "Tunggu, kenapa kau seolah sudah mendapatkan Bianca?" tanyanya karena Selo terlihat berandai-andai.
"Bukankah Daddy yang bertanya? Ya sudah, aku masuk dulu," kata Selo. Dia pun langsung ke bangkit dari duduknya kemudian meninggalkan sang ayah.
Gabriel langsung mengotak-atik ponsel kemudian menelepon Lyodra. "Aku tidak yakin Bianca mau kembali lagi kepada Selo," ucap Gabriel."
"Entahlah, kita serahkan saja pada Tuhan."
Faktanya benar, memang Lyodra sudah merestui Selo jika dia ingin kembali dengan Bianca. Tentu saja itu bujukan dari Gabriel, terlebih lagi ada kesepakatan di antara mereka berdua. Lalu yang terpenting, Lyodra sudah mengetahui semuanya tentang sepak terjang Roland.
Awalnya, Lyodra memang sama seperti Maria. Dia tidak mengizinkan Bianca untuk kembali lagi pada Selo. Namun, karena ada kesepakatan dengan Gabriel dan juga melihat perkembangan Selo, dia pun mau membantu pendekatan antara putrinya dan mantan menantunya.
Awalnya, Lyodra juga tidak percaya dengan apa yang dikatakan Gabriel tentang Roland, karena selama ini pria itu begitu baik Bianca. Dia juga bisa melihat bahwa Roland selalu ada di samping putrinya, tapi ternyata itu semua hanya kamuflase.
Namun begitu, Lyodra tidak ingin membebankan apapun pada Bianca. Dia memang berniat membantu, tapi tetap saja semua keputusan ada di tangan putrinya.
__ADS_1
***
"Kau menelepon siapa?" tanya Maria saat masuk ke dalam kamar dan ternyata Lyodra baru saja menutup panggilan. Tadi dia sempat mendengar suara yang tak asing, karena kebetulan suaminya menelepon Gabriel dengan menyalakan speaker.
"Oh tadi? Itu Gabriel."
"Ada apa denganmu, kenapa kau menelpon Gabriel. Sepertinya ada yang tidak beres denganmu?" Tiba-Tiba Maria meradang membuat Lyodra langsung membulatkan mata.
"Memangnya aku kenapa, Sayang?" Lyodra berpura-pura tidak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Maria.
"Kau tidak merencanakan sesuatu dengan Gabriel, 'kan?"
"Sayang, kau lupa? Aku, 'kan, sedang membangun proyek lapangan bersama Gabriel. Beberapa anak perusahaanku juga, 'kan, di tangani oleh perusahaan Gabriel, lalu untuk apa aku repot-repot merencanakan sesuatu? Bagiku sekarang, aku ingin menuntaskan pekerjaan ini lalu pensiun." Lyodra menemukan jawaban yang tepat membuat Maria langsung terdiam, dia tidak berbicara lagi.
Lyodra maju ke arah istrinya, kemudian dia langsung memegang bahu Maria. "Katakan padaku, kenapa kau begitu risau, sementara Bianca saja sudah mengatakan padamu bahwa dia tidak akan terlena lagi dengan Selo?"
Maria mengangkat kepalanya. Mata wanita itu berkaca-kaca. "Aku takut Bianca akan kembali seperti dulu. Aku tidak mau dia bernasib buruk. Aku bisa mengerti betul bagaimana rasa sakitnya menjadi Bianca, karena aku juga pernah melihat bagaimana rasa sakitnya Stevia ketika dulu dikhianati oleh kakakku."
"Lalu, kau pikir, aku ingin membiarkan dia kembali terluka untuk kedua kalinya?" tanya Lyodra.
Maria menghapus sudut matanya yang berair.
"Sayang sudah kubilang, aku tidak tahu apapun dengan urusan mereka. Lagian sudah kubilang, mana mungkin aku mengatur perasaan seseorang. Aku menelepon Gabriel bukan membahas Selo atau pun Bianca, tapi aku membahas pekerjaan. Lagi pula, tolong, jangan terpaku pada kisah Stevia dan kakakmu. Mereka sudah bahagia, jangan jadikan mereka sebagai patokan kisah Bianca. Kau mengerti, 'kan maksudku?" tanya Lyodra, berusaha menenangkan sang istri, padahal dia sendiri merasa jantungnya akan melompat dari rongga dada.
Menikah dengan Maria selama bertahun-tahun membuat Lyodra mengerti betul sikap istrinya jika dia mencurigai sesuatu. Dia tidak akan pernah tinggal diam.
__ADS_1
Maria memang selalu terlihat percaya, tapi diam-diam dia selalu menyelidiki semuanya. Lalu sekarang, Lyodra ketakutan. Bagiamana jika istrinya tahu tentang kesepakatan dia dengan Gabriel?