Tatap Aku, Lelakiku!

Tatap Aku, Lelakiku!
Bahagia-tamat


__ADS_3

"Megumi, ayo tidur," jawab Tristan ketika Megumi tidak mau tidur. Sungguh, saat ini dia khawatir dengan kondisi Bella yang masih tidur dengan tangan terikat. Ini sudah satu jam berlalu, dan tidak bisa dibayangkan betapa pegalnya istrinya, sedangkan Megumi masih tidak mau tidur dan tidak mungkin dia mengajak Megumi untuk tidur di kamarnya, bisa bahaya jika Megumi ada di kamarnya.


"Aku belum mengantuk, Daddy," jawab Megumi, dia malah kembali bangkit dari berbaringnya, tapi dengan cepat Tristan mendorong kening Megumi hingga Megumi kembali tertidur, lalu setelah itu Tristan membawa Megumi ke dalam pelukannya kemudian mengelus punggung putri kecilnya agar Megumi tertidur, dia terus mengelus punggung Megumi karena Megumi benar-benar tidak bisa berhenti bergerak.


Setengah jam kemudian.


Napas Megumi sudah mulai melembut, hingga Tristan perlahan melepaskan pelukannya. Namun, saat Tristan akan bangkit, Megumi kembali menarik tangan sang ayah membuat Tristan menoleh, lelaki itu membulatkan matanya, ternyata Megumi belum tertidur.


"Megumi kenapa kau belum tertidur?" tanya Tristan dengan tubuh yang tiba-tiba melemas.


Megumi menggeleng. "Belum. Apa Daddy tidak lihat, bahwa mataku masih terbuka,"jawab Megumi membuat Tristan mengusap wajah kasar. Dia benar-benqr sudah kehabisan cara membuat bagaimana Megumi tertidur.


"Tunggu di sini, Daddy akan pergi ke kamar untuk memakai pakaian." Setelah mengatakan itu, Tristan dengan cepat berlari keluar dari kamar Megumi, kemudian dia pergi ke kamar dan ternyata saat di kamar, Bella sedang kesakitan karena tentu saja tangannya diikat.


"Maaf Sayang, maaf," kata Tristan dia langsung berlari ke arah ranjang.


"Dad kau ini lama sekali. Apa kau tahu tanganku pegal?" tanya Bella, dia menggerutu dan dengan cepat Tristan pun langsung melepaskan ikatan di tangan istrinya.


"Aku akan menidurkan Megumi dulu," jawab Tristan setelah melepaskan ikatannya dari tangan Bella.


Setelah melepaskan ikatan di tangan Bella, Tristan langsung berbalik kemudian pergi ke kamar Megumi karena dia takut Megumi mengikutinya.


Waktu menunjukkan pukul sebelas malam.


Akhirnya setelah berjuang beberapa saat, Megumi pun tertidur. Sekarang, hasrat Tristan kembali menggebu-gebu ketika mengingat permainan yang sempat tertunda dan dengan cepat, dia pun langsung keluar dari kamar putrinya dan masuk ke dalam kamarnya sendiri. Namun tak lama, fantasi yang menari-nari di otak Tristan buyar begitu saja ketika melihat istrinya tertidur. Dia berjalan ke arah ranjang.


Ketika sudah berbaring, Tristan menjadikan tangannya sebagai bantal kemudian dia menatap wajah Bella yang damai, wanita yang sangat dia cintai selama bertahun-tahun. Dia bersyukur saat itu dia tidak terjebak bersama Flora, dan dia juga bersyukur bela masih mau memaafkannya dan setelah kejadian di mana Bella memaafkannya dan mereka kembali bersama, cinta Tristan pada Bella seperti bertambah setiap hari. Dia selalu merindukan istrinya walaupun setiap hari mereka bertemu.


Dan enatap wajah Bella adalah hal yang paling Tristan sukai, apalagi ketika Bella sedang tertidur. Wajah Bella yang damai, membuat Tristan ikut merasa damai. Setelah beberapa saat berlalu, setelah puas menatap wajah istrinya, Tristan merebahkan kepalanya di bantal kemudian lelaki tampan itu memejamkan matanya, dia langsung terlelap.


Malam berganti pagi.


Bella sudah sibuk dengan kertas-kertas di tangannya, sedangkan Megumi di bantu Tristan untuk bersiap pergi ke sekolah. Inilah kehebatan Tristan, dia tidak pernah protes jika Bella sibuk dengan pekerjaannya dan selalu mengurus Megumi dengan tangannya sendiri, begitu pun dengan Bella. Jika Tristan tidak sempat, dia yang mengurus Megumi.


"Sayang, kau tidak akan mampir ke kantorku?" tanya Tristan ketika dia sudah merapikan pakaian Megumi. Dia langsung menoleh ke arah Bella.


"Oh, Dad, aku akan mampir nanti jika sudah ada waktu luang," kata Bella tanpa melihat ke arah Tristan karena dia sedang sibuk dengan kertas-kertas di tangannya. Dia benar-benar sibuk mempersiapkan semuanya.


"Ya sudah kalau begitu, aku pergi," ucap Tristan, dia membungkuk kemudian mencium kening istrinya lalu setelah itu Megumi juga menghampiri ibunya kemudian mencium pipi Bella. Kedua ayah dan anak itu pun keluar dari kamar.


Tristan mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Sesekali, dia menoleh ke arah Megumi yang tampak sibuk dengan tabnya, dan itu membuat Tristan menggeleng.


"Megumi,"panggil Tristan, tapi Megumi tidak mengindahkan panggilan sang ayah, gadis kecil itu malah sibuk melihat tontonan di tabnya.


"Megumi, mau Daddy sita tabmu?" tanya Tristan, ancaman itu sepertinya bagaikan sihir untuk Megumi hingga dengan cepat Megumi langsung mematikan tabnya kemudian dia menyimpan tabnya di bawah. Ini bukan sekali dua kali milik Megumi disita oleh Tristan, itu sebabnya ketika Tristan mengancam, Megumi langsung menyimpannya.


"Kenapa?" tanya Megumi, matanya langsung menatap sang ayah dengan manis. Sebab, Tristan menatapnya dengan serius.


"Ayo bernyanyi," kata Tristan, kedua pasang ayah dan anak itu menikmati perjalanan dengan menyanyikan lagu bersama hingga pada akhirnya, mobil yang dikendarai oleh Tristan pun sampai di sekolah Megumi.


Tristan turun dari mobil, kemudian lelaki tampan itu membantu Megumi untuk turun dan mereka pun masuk ke dalam sekolah, hingga pada akhirnya setelah Megumi masuk ke dalam kelas, Tristan pun berbalik kemudian dia langsung berjalan ke arah mobilnya.


Tristan menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang, dan setelah berada di persimpangan, Tristan menghentikan lagi mobilnya ketika melihat toko bunga. Dia pun turun dari mobil, berencana membeli bunga untuk Bella, mengingat istrinya akan datang ketika jam makan siang.


Tristan tersenyum ketika dia sudah mendapatkan bunga yang sangat indah. Dia pun langsung berjalan ke arah mobilnya, tapi saat dia akan membuka pintu dan masuk ke dalam mobil, Tristan menghentikan niatnya ketika melihat ke arah seberang, di mana dia melihat Theresia, kembarannya melamun di pinggir jalan. Banyak sekali hal yang terjadi antara kehidupan Theresia Tristan diberikan kebahagiaan. Tapi, berbeda dengan Thresia.


Tristan merogoh saku kemudian mengutak-atik ponselnya, lalu setelah itu dia menelpon Theresia yang sedang ada di seberang. Terlihat Theresia membuka tasnya untuk mengambil ponsel dan ketika tahu Theresia yang menelpon, Theresia kembali mematikan panggilan kemudian menyimpan kembali ponselnya. Dan itu membuat berdecak. Pada akhirnya, Tristan pun masuk ke dalam mobil dan tidak mempedulikan lagi kembarannya.


Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Tristan sampai di perusahaan. Dia pun langsung berjalan ke arah lift yang menghubungkan langsung ke ruangannya, dan ternyata saat masuk, ada Darren di sana, lelaki paru baya itu terlihat melamun.


"Tumben sekali kau sudah di kantorku?" tanya Tristan, dia melonggarkan dasinya kemudian melepaskan jasnya, lalu menghampiri Dareen yang sedang ada di sofa.


“Kau kenapa, Dad?" Tanya Tristan, setelah dia duduk di sofa.


Darren tidak menjawab, tatapan matanya lurus ke depan.


"Theresia baik-baik saja, tadi aku melihatnya di jalan," jawab Tristan karena dia tahu ayahnya sedang memikirkan adik kembarnya yang sudah tidak pulang selama satu bulan dan itu adalah karena permasalahan yang sedang dialami oleh wanita itu.


Sementara Darren serta Shelby memilih membiarkan Theresia tenang, karena dia tahu semakin Theresia dikejar, Theresia akan semakin menghindar.


"Itu bunga untuk siapa?" tanya Darren yang malah mengalihkan pembicaraan. Sebab jika membahas Theresia matanya pasti akan mengembun.


"Oh, ini untuk istriku," jawab Tristan dengan bangganya.


"Kau mau ke mana,Dad?" tanya Tristan ketika Darren bangkit dari duduknya padahal dia baru saja masuk ke dalam ruangan, api ayahnya sudah pulang.


“Pulang," jawab Dareen membuat Tristan menggeleng. Dan setelah Dareen pergi, lelaki itu pun memutuskan untuk berjalan ke arah meja kerjanya dan memulai pekerjaannya. Ketika Tristan akan membuka laptop, tiba-tiba Tristan menghentikan gerakannya ketika mendengar suara ponsel berbunyi hingga dia pun langsung melihatnya.


Dan ternyata, itu pesan dari teman Tristan yang mengabarkan bahwa sebentar lagi akan ada reuni sekolah yang akan dilaksanakan lusa.


Tristan menyimpan ponselnya, rasanya dia ingin sekali datang ke reuni tersebut, tapi selama ini Bella selalu melarangnya, tentu saja karena Bella takut apalagi di sana banyak sekali teman sekolah wanita Tristan yang terkadang selalu mencari kesempatan untuk mendekati Tristan, hingga Bella selalu melarang.


Sementara untuk mengajak Bella ke reuni tersebut, rasanya Tristan juga tidak bisa sebab jika Bella ikut, dia tidak akan bebas. Bebas bukan berarti melakukan hal yang buruk, melainkan hanya sebatas berbincang dengan teman-temannya karena jika ada Bella, tentu saja dia tidak bisa lepas mengobrol bersama teman-temannya yang lain.


Sudah tiga tahun ini Tristan tidak mendatangi reuni sekolahnya. Sepertinya, kali ini dia harus berbohong pada Bella agar Bella mengijinkannya pergi.


Waktu menunjukkan pukul delapan malam. Setelah menemani Megumi belajar,


Tristan masuk ke dalam kamar dan seperti biasa, Bella sedang sibuk dengan pekerjaannya. Dan ketika Bella sibuk dengan kegiatannya, waktu yang bagus untuk meminta izin. Sekarang, dia akan berpura-pura pergi urusan bisnis keluar kota, dan dia yakin Bella akan percaya karena sekarang istrinya sedang sibuk dalam mempersiapkan Fashion show


"Sayang," panggil Tristan.


Bella yang sedang memeriksa kertas yang berisi desain yang sudah dia gambar, langsung menoleh.


"Kenapa, hm?" tanya Bella, dia tersenyum kemudian menggeser tubuhnya agar Tristan duduk di sebelahnya.


"Sayang, lusa aku ada agenda keluar kota, hanya satu hari, ada pekerjaan yang harus aku tangani di sana," jawab Tristan dengan meyakinkan. Padahal sekarang jantung Tristan seperti akan melompat dari rongga dadanya.


Bella menoleh, dia menatap Tristan dengan bingung. "Tumben sekali," kata Bella karena selama ini, Tristan selalu mewakilkan pekerjaannya pada sekretaris ataupun pada kepercayaannya, dan tentu saja hal yang aneh ketika Tristan pergi sendiri.


"Harus aku yang menanganinya," balas Tristan lagi, kali ini Tristan terlihat sedikit gugup, apalagi tatapan Bella seperti sedang meneliti wajahnya.


Bella menyipitkan matanya ketika melihat Tristan tampak gugup. Dia tahu Tristan sedang berbohong, hingga pada akhirnya Bella pun mengangguk membuat Tristan menghela napas lega, Bella mengijinkannya.


Dua hari kemudian.


Akhirnya, acara reunian pun tiba, Tristan juga sudah siap untuk bertemu teman-temannya karena kebetulan acara reunian diselenggarakan di sebuah hotel. Tadi, dia sengaja pamit pada Bella saat siang hari agar dia punya waktu untuk bersiap. Rasanya, dia tak sabar untuk bertemu teman-temannya yang juga baru sampai di Rusia karena kebanyakan temannya pergi tinggal di luar negeri, dan setelah mendapat pesan bahwa acara sudah siap, Tristan keluar dari kamar dan ternyata beberapa temannya juga keluar dari kamar hotel yang berseberangan dengan kamar yang ditempatinya.


"Tristan," panggil seorang wanita membuat Tristan menoleh. Dia mengerutkan keningnya ketika melihat wanita yang tampak tidak asing, tapi dia samar-samar sedikit lupa dengan siapa yang memanggilnya.


"Aku Sarah," ucap Sarah.


"Oh Sarah," panggil Tristan ketika ingat bahwa Sarah teman sekelasnya dan tanpa diduga, Sarah maju kemudian dia langsung mencium pipi kiri dan pipi kanannya.


Bella mengepalkan tangannya ketika melihat apa yang dilakukan oleh suaminya. Tanpa Tristan sadari, sebenarnya Bella melacak keberadaannya dari mobil yang dipakai oleh Tristan, hingga Bella tahu Tristan di sini dan ketika dia berbelok, dia melihat seorang wanita sedang mencium pipi kiri dan pipi kanan Tristan.


Belum hilang rasa kecewa Bella karena Tristan berbohong, dia dibuat kecewa lagi dengan apa yang Tristan lakukan. Dia menghela napas kemudian mengembuskannya, dia harus tetap tenang, tidak boleh terpancing emosi. Wanita itu pun langsung berjalan ke arah suaminya.

__ADS_1


"Oh, kau tidak jadi pergi ke luar kota?" tanya Bella, dia sengaja mengeraskan suaminya.


Tiba-Tiba, Tristan langsung menoleh. Mata Tristan membulat saat melihat Bella ada di depannya.


Jangan ditanyakan betapa terkejutnya Tristan saat ini, yang pasti dia benar-benar terkejut. Wajah istrinya tampak tenang, tapi dia tahu dibalik ketenangan Bella, ada marah yang menggunung. Sungguh, sekarang Tristan bingung harus bagaimana.


"Sayang," panggil Tristan, wajahnya memucat ketika Bella ada di depannya. Jantung lelaki itu bergemuruh, rasa takut membayanginya apalagi tatapan Bella terlihat tenang


"Kau sedang sibuk?" tanya Bella lagi, dia tersenyum, tapi dari matanya menyimpan jelas kekecewaan. Trauma Bella bisa dibilang masih ada ketika Tristan dekat dengan Flora, dan sekarang ditambah lagi Tristan berbohong lalu dia melihat Tristan bersama wanita.


Dulu Bella pernah ikut reuni Tristan dan teman-temannya, dan banyak sekali wanita yang melihat ke arah suaminya dan itu sebabnya, setiap reuni, Bella selalu melarang Tristan dan ternyata suaminya nekat datang dan berbohong.


Mungkin jika Tristan tidak berbohong dan berbicara baik-baik, Bella akan mengizinkannya, tapi nyatanya Tristan malah mengambil jalan ini dan sialnya, Bella paling tidak suka dibohongi untuk hal kecil apapun, apalagi dia pernah punya trauma akibat Tristan bermain gila bersama wanita lain.


"Ti-tidak Sayang," jawab Tristan, dengan cepat dia langsung berjalan ke arah Bella lalu merangkul pundak istrinya.


"Sarah, perkenalkan ini istriku," ucap Tristan karena dia semakin panik ketika mengingat barusan Sara mencium pipi kiri dan pipi kanannya.


Bella mengelurkan tangannya kemudian diterima oleh Sarah, hingga mereka pun berjabat tangan.


"Ya sudah kalau begitu, aku akan turun ke bawah. Kami menunggumu di sana," ucap Sarah pada Tristan, dan setelah Sarah tidak ada, Tristan langsung menoleh ke arah Bella.


"Sayang, aku bisa menjelaskannya," ucap Tristan dengan panik, dia menatap Bella dengan tatapan memohon.


Bella terdiam, matanya mulai mengembun. Tanpa menjawab ucapan Tristan, Bella langsung berbalik meninggalkan lelaki itu membuat Tristan mengusap wajah kasar, hingga dia pun langsung mengikuti Bella.


Waktu menunjukkan pukul sembilan malam.


Sedari tadi setelah pulang dari hotel, Tristan terus berbicara pada istrinya, tapi Bella tidak mau mendengar. Wanita itu diam seribu bahasa hingga Tristan sedikit bingung untuk menjelaskan semuanya, sedangkan Bella sepertinya sudah terlalu kecewa pada Tristan. Dia butuh waktu untuk berpikir karena walaupun bagi sebagian orang kelakuan Tristan masih bisa dimaafkan karena hanya datang ke pesta reuni, tapi untuk Bella tidak. Bella merasa luka-lukanya kembali menerjang, teringat bagaimana dulu dekatnya Flora dan suaminya dan dia takut kejadian itu akan terulang.


Bella sedari tadi mengunci dirinya di kamar tamu. Dia tidak ingin diganggu oleh Tristan, dan Tristan pun tidak tahu bahwa Bella sudah mengunci pintu dari dalam, sebab tadi dia menemani Megumi dan tak lama, pintu terbuka, ternyata Tristan bisa membuka pintu menggunakan kunci cadangan.


Sementara Bella, sudah tidak bertenaga untuk mendengar ocehan suaminya, hingga dia langsung memejamkan matanya.


Tristan naik ke ranjang kemudian lelaki tampan itu langsung memeluk Bella dari di belakang.


"Sayang, sungguh aku minta maaf, aku tidak bermaksud membohongimu, aku hanya ing—"


"Diamlah. Aku mengantuk," balas Bella, hingga pada akhirnya Bella pun menjawab ucapan Tristan walaupun dengan jawaban yang sangat singkat. Sungguh, rasa takut langsung mendera Tristan, dia takut Bella meninggalkannya lagi sama seperti dulu saat Bella mengandung Megumi.


"Sayang, mohon ampuni aku," ucap Tristan, dia terus mengulangi kata-katanya yang sama sedangkan Bella sama sekali tidak menggubris. Nyatanya, sepertinya dia butuh waktu lagi.


Dua minggu kemudian.


Tidak terasa, ini sudah dua minggu berlalu semenjak kejadian itu, dan selama dua minggu ini pula Bella tidak banyak berbicara dengan Tristan. Dia akan bersikap seperti biasa pada Tristan jika di hadapan Megumi, selebihnya dia akan diam, bahkan kehadiran Tristan seperti tidak terlihat di mata wanita itu.


Selama dua minggu ini, Bella kembali terpuruk ketakutan demi ketakutan melandanya. Rasa sakit di masa lalu kembali muncul, bahkan karena traumanya Bella kerap bermimpi buruk di mana Tristan meninggalkannya dan pergi dengan wanita lain, dan tentu saja selama dua Minggu ini Tristan tidak berhenti untuk meyakinkan istrinya. Dia terus meminta maaf pada Bella, mengirimkan pesan, memberitahukan keberadaannya agar Bella tidak menyangka dia melakukan macam-macam, walaupun Bella tidak pernah menggubris pesannya.


Waktu menunjukkan pukul dua belas siang, jam istirahat pun tiba hingga Tristan langsung menyandarkan tubuhnya ke belakang. Lelaki tampan itu menerawang, ternyata diacuhkan oleh Bella rasanya lebih menyakitkan daripada apapun. Dia sama sekali tidak menganggap sikap Bella berlebihan, karena saat itu psikiater Bella mengatakan bahwa tekanan yang dia berikan pada Bella di masa lalu akibat kedekatan dengan Flora, sangat luar biasa. Sekarang, Tristan mengerti perasaan macam apa yang dirasakan oleh istrinya dan sekarang dia bingung, bagaimana caranya meyakinkan Bella dan bagaimana caranya membuktikan bahwa tidak ada yang terjadi di sana?


Kata maaf sudah dia keluarkan ratusan bahkan ribuan kali pada wanita itu, tapi hati Bella seolah tertutup dan tidak pernah mau menololeh ke arahnya.


Tak lama, ponselnya berdering, satu pesan masuk membuat Tristan langsung mengambil ponselnya. Mata Tristan membulat saat melihat siapa yang mengirimnya pesan, terpampang nama Bella di sana. Dia pun dengan antusias membuka pesan tersebut


Mata Tristan membulat ketika membaca pesan dari Bella yang bertuliskan, 'Aku ada beberapa pekerjaan di luar kota.' tulis Bella dalam pesannya.


ristan menjatuhkan ponsel yang dia pegang. Tunggu, Bella tidak boleh pergi.


Tristan dengan cepat membungkuk kemudian dia langsung mengambil ponselnya lalu setelah itu menelepon Bella, tapi ternyata ponsel Bella sudah tidak aktif, sepertinya wanita itu langsung mematikan ponselnya.


Tristan menjalankan mobilnya dengan kecepatan kencang. Rasanya, dia tidak sabar untuk sampai di rumah dan setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil Tristan pun sampai. Dia pun dengan cepat berlari untuk masuk ke dalam.


"Di mana istriku?" tanya Tristan pada pelayan yang melintas di depannya.


"Di mana istriku?" tanya Tristan dengan tidak sabar.


"nyonya tadi pergi, Tuan. Dan Nyonya juga membawa koper," jawab pelayan. Mendengar ucapan pelayan itu, seketika


Seluruh tubuh Tristan langsung melemas, dia merasa jiwanya terenggut dari raganya.


"Apa dia bawa koper?" tanya Tristan lagi, dia memastikan ucapan pelayan yang ada ketika pelayan itu mengangguk, Tristan memegang pinggiran dinding karena dia merasa tidak sanggup menopang tubuhnya. Dulu, dia pernah ditinggalkan selama berbulan-bulan ketika Bella mengandung Megumi dan itu begitu menyiksa untuknya, dan sekarang dia ditinggalkan lagi oleh wanita itu.


"Lalu, Megumi bersama siapa?" tanya Tristan dengan wajah yang memucat.


"Oh, Nona Megumi tadi dijemput oleh Nyonya Shelby," balas pelayan tersebut.


Tristan terpekik saat mendengar ucapan pelayan tersebut. Dia pun langsung mengutak-atik ponselnya kemudian menelepon sang ibu.


"Ya Tristan, ada apa?" tanya Shelby ketika mengangkat panggilan dari putranya.


"Mom, apa Mommy tahu Bella pergi ke mana?" tanya Tristan, berharap ibunya tau keberadaan Bella.


"Bukankah dia akan mengurus pekerjaannya di luar kota?" tanya Shelby lagi membuat Tristan mengusap wajah kasar.


Tubuh Tristan seketika melemas. Dia langsung mendudukkan dirinya di lantai.


"Tuan, Anda tidak apa-apa?" tanya pelayan pada Tristan hingga Tristan menggeleng.


"Tidak, aku tidak papa, aku masuk saja ke dalam," jawabnya.


Tristan menyandarkan tubuhnya ke belakang. Tatapannya menerawang, dia lupa bagaimana istrinya selama ini selalu menekankan bahwa dia tidak mau dibohongi dengan kebohongan sekecil apapun, tapi sekarang dia malah berbohong lagi pada istrinya.


Ada satu pesan masuk ke dalam ponsel, dan dengan cepat Tristan membukanya dan ternyata itu dari Bella.


'Aku tidak tahu kapan kembali, kerjaanku sangat banyak, jadi aku tidak tahu kapan kembali, aku titip Megumi. Aku akan pulang ketika semuanya selesai.' Tristan memandang pesan itu dengan mata yang membasah, sudah dipastikan jika seperti ini, apa yang dilakukan pasti melukai hati istrinya.


***


Bella masuk ke dalam kamar. Wanita itu baru saja sampai di villanya.


Ya, Bella memang tidak ada pekerjaan. Dia sengaja menenangkan dirinya. Awalnya dia berusaha untuk memaafkan Tristan, tapi seperti biasa, jika dia dekat dengan lelaki itu, akan sangat sulit melupakan apa yang terjadi, itu sebabnya Bella memilih untuk menyembuhkan mentalnya dengan cara pergi seorang diri, menikmati waktunya, bahkan Bella juga membatalkan Fashion show yang akan digelar satu minggu lagi, tentu saja karena Bella tidak fokus.


Dia juga harus membayarkan pinalti yang besar untuk beberapa pihak, tapi sepertinya Bella tidak peduli. Apa yang sekarang dia butuhkan adalah menyendiri, sebab sekarang Bella bukan hanya merasa nyeri, melainkan juga merasa insecure. Dia takut Tristan membohonginya dan dia takut setelah membohonginya, Tristan akan menduakannya lagi.


Sekarang, pikiran buruk selalu merasuki Bella, itu sebabnya dia mengambil keputusan ini, pergi sementara.


Setelah masuk ke dalam kamar, Bella langsung membuka tirai kemudian dia mendudukkan diri di sofa lalu setelah itu menoleh ke arah depan, menatap laut yang sangat teduh. Bella menyimpan kepalanya di sofa, tatapan matanya lurus ke depan, dia menerawang dengan pandangan yang kosong, padahal mungkin di sebagian orang apa yang dilakukan Tristan masih bisa dimaklumi, tapi tidak bagi Bella hingga dia memutuskan untuk memulihkan mentalnya terlebih dahulu.


Bahkan demi ini Bella harus melepaskan impiannya, padahal fashion show yang akan dia jalani satu minggu lagi adalah hal yang paling Bella tunggu-tunggu, tapi karena hal ini semuanya harus ditunda.


Dua minggu kemudian.


Tristan mengelus rambut Megumi yang masih belum terlelap. Dia menatap wajah Megumi dengan mata yang berkaca-kaca. Ini sudah dua minggu berlalu semenjak kepergian Bella, dan pada akhirnya Tristan memutuskan untuk memberikan waktu istrinya. Dia tak yakin Bella akan kembali setelah tenang. Setiap hari, Tristan terus berusaha menghubungi istrinya, tapi seperti biasa, ponsel Bella Bella tidak aktif.


Sekarang, Tristan pun juga sudah jarang pergi ke kantor karena dia harus mengurus Megumi. Anehnya, Megumi tidak bertanya kemana Bella tentu saja karena dia sering berkomunikasi dengan ibunya melalui nomor lain karena memang Bella mempunyai dua ponsel.


Setiap hari, Tristan melalui harinya dengan rasa takut, membayangkan bagaimana jika Bella berubah? Bagaimana jika Bella tidak seperti dulu lagi? Bagaimana jika Bella berhenti mencintainya?

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, napas Megumi sudah mulai teratur, pertanda putrinya terlelap hingga Tristan pun bangkit dari duduknya lalu setelah itu dia menarik selimut, menyelimuti tubuh Megumi kemudian berbalik lalu keluar dari kamar. Tak lupa, dia mematikan lampu.


Saat dia akan berjalan ke kamarnya, tiba-tiba tubuh Tristan mematung ketika melihat siapa di depannya, siapa lagi jika bukan Bella. Pada akhirnya, Bella memutuskan pulang setelah dua minggu pergi.


Tristan mengucek matanya karena tidak percaya jika Bella ada di depannya, begitupun dengan Bella yang sama sekali tidak bereaksi ketika melihat Tristan dan ketika sudah mengucek mata tapi Bella masih ada, Tristan yakin ini adalah nyata. Secepat kilat, Tristan langsung berjalan ke arah istrinya.


Kini, kedua pasangan suami istri itu saling menatap. Mata Tristan berkaca-kaca ketika melihat Bella di depannya dan kemudian dia menekuk kakinya, kemudian dia berlutut di hadapan Bella. Dia tidak perduli, dia akan terus berlutut sampai Bella mengatakan akan memaafkan kesalahannya.


Bella terpekik ketika melihat apa yang Tristan ucapkan. “Tristan, Jangan seperti ini," ucap Bella, yang berusaha melepaskan tangan Tristan dari kakinya. Namun, bukannya menjawab, Tristan malah menangis sesenggukan.


"Aku minta maaf, ampuni aku," kata Tristan sambil terisak, dia memeluk kaki Bella semakin erat.


"Aku bersumpah aku tidak akan membohongimu. Aku berjanji aku tidak akan pernah melakukan kesalahan seperti kemarin," ucap Tristan lagi yang masih berusaha meyakinkan Bella.


Hati Bella menghangat ketika melihat Tristan seperti ini. Benar, dia hanya butuh waktu untuk menyendiri, hingga sekarang kekesalan, rasa marah dan rasa kecewa pada Tristan sudah menguap begitu saja.


"Bangunlah, Tristan, jangan seperti ini," kata Bella lagi.


"Tidak, aku tidak akan bangun sebelum kau mengatakan kau memaafkanku," balas lelaki itu hingga Bella menghela napas.


"Aku memaafkanmu, jadi tolong cepat bangun," kata Tristan menatap ke arah Bella.


"Bangun tidak? Atau kau mau aku pergi lagi?" Ancam Bella karena Tristan tidak mau bergerak.


Tristan dengan cepat langsung bangkit dari berlututnya, kemudian lelaki tampan itu menatap ke arah Bella.


"Kau belum memaafkanku?" tanya Tristan karena wajah Bella masih datar. "Ayo peluk aku jika kau sudah memaafkanku," pinta Tristan, hingga Bella menggeleng. Namun, tak urung dia maju kemudian memeluk Tristan.


"Kau sudah memaafkanku?" tanyanya lagi membuat Bella ingin sekali tertawa, jelas-jelas dia sudah memeluk Tristan, dan sedetik kemudian Tristan membalas pelukan Bella dengan sangat erat hingga Bella tidak bisa bernapas, tapi dia tetap membiarkan Tristan memeluknya seperti ini. Beberapa saat berlalu, Tristan melepaskan pelukannya kemudian dia menangkup wajah istrinya lalu mencium seluruh wajah Bella, menyalurkan kerinduannya hingga Bella berteriak karena merasa geli dan setelah itu, Tristan langsung mengajak Bella pergi ke kamar.


***


Sekarang, Bella dan Tristan sudah berbaring dengan posisi Bella membelakangi Tristan dan Tristan memeluk Bella dari belakang. Sedari tadi, tidak ada yang berbicara, hanya terdengar isakan dari lelaki itu sambil memeluk Bella dengan erat, terbayang dua minggu ini dia melewati hari tanpa istrinya.


Sementara Bella, dia tersenyum ketika melihat reaksi Tristan seperti ini.


"Aku berjanji aku tidak akan lagi seperti kemarin," kata Tristan yang kembali mengulangi ucapannya karena Bella masih belum berbicara. Dia terus mengulangi pertanyaan yang sama.


Bella berdeham kemudian dia berbalik, hingga kini keduanya saling menatap Tristan.


"Kau tahu, 'kan, ak—"


"Iya, iya, aku tahu," jawab Tristan yang dengan cepat mendahului Bella. Entah kenapa, dia takut Bella berbicara dan mengatakan hal yang mengejutkan.


"Aku bahkan sampai membatalkan fashion show-ku karena ingin menenangkan diri. Tolong, jangan seperti kemarin. Aku paling tidak suka dibohongi," kata Bella lagi hingga Tristan mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Aku berjanji, aku tidak akan seperti kemarin, aku benar-benar akan selalu jujur padamu," kata Tristan raut wajahnya di penuhi dengan ketulusan.


Bella tersenyum kemudian mengelus pipi lelaki itu. Mungkin di masa lalu dia pernah ada di titik hancur di mana Tristan lebih memilih dengan Flora, tapi di masa sekarang, dia melihat betapa besar cinta Tristan padanya.


"Tristan, kau boleh melakukan aktivitas apapun, reuni dan lain-lain, aku tidak akan melarang, tapi tolong jujur. Jika kau mengatakan aku tidak boleh ikut, tidak masalah asal kau tahu waktu," ucap Bella.


"Tidak, aku tidak akan lagi mengikuti hal itu. Aku tidak akan lagi mengikuti reuni apapun," jawab Tristan dengan cepat. Kini, dia merasa trauma karena takut ditinggalkan oleh Bella. Bisa saja Bella menyuruhnya, tapi ternyata itu hanya jebakan dan pada akhirnya Bella akan pergi lagi dan Tristan lebih memilih untuk tidak ingin ikut acara apapun daripada kehilangan Bella lagi.


Satu minggu kemudian.


"Tristan, aku tidak salah lihat, kan?" tanya Bella ketika melihat ke depan, di mana panggung untuk pasien show Bella sudah siap. Karena Bella membatalkan pasien show untuk menenangkan diri, dan Tristan berinisiatif untuk memberikan kejutan untuk istrinya karena dia tahu ini adalah impian Bella.


Tristan menyiapkan dengan waktu yang cukup cepat, sebab dia benar-benar memusatkan pikirannya untuk menyukseskan acara tersebut. Dia juga mengkontak model-model yang sudah Bella booking, hingga akhirnya semuanya bisa berjalan lancar dan Bella tentu saja benar-benar tidak menyangka bahwa Tristan sudah menyiapkan ini semua, bahkan konsep yang diusung Tristan juga sama dengan konsep miliknya.


“Tidak, Sayang. Semua sudah aku kembalikan seperti dulu," jawab Tristan, dia merangkul pundak Bella.


Seketika, Bella berbalik kemudian memeluk suaminya. Lelaki itu juga membalas pelukan Bella.


Acara fashion show akan dilakukan besok, hingga sekarang Bella dan Tristan memutuskan untuk pulang terlebih dahulu. Apalagi Bella, harus menyiapkan beberapa hal lagi.


Keesokan harinya.


Pada akhirnya, apa yang ditunggu-tunggu pun tiba di mana saat ini fashion show akan segera berlangsung. Banyak sekali awak media yang meliput, terlebih lagi ini debut pertama Bella di kancah internasional. Semua keluarga turut hadir membuat Bella merasakan rasa senang yang luar biasa, dan pada akhirnya detik-detik acara yang menegangkan pun dimulai.


Semua model berlenggak-lenggok di cat-walk. Para tamu menatap kagum pada desain rancangan Bella dan itu membuat Bella semakin ingin menangis karena terharu dengan pencapaiannya, dan pada akhirnya acara fashion show selesai.


Tepuk tangan di area itu begitu menggema, membuat Bella menutup mulut karena dia tidak menyangka apresiasi yang dia dapat akan semeriah ini dan pada akhirnya, Bella pun bangkit dari duduknya kemudian dia berjalan ke arah panggung untuk memberikan sambutan bagi tamu-tamu.


"Terima kasih untuk semua tamu yang sudah hadir. Saya tidak menyangka akan mendapat apresiasi seperti ini dan saya ingin mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya pada suami saya, yang sudah banyak berjasa di hidup saya dan juga untuk keluarga suami saya, yang selalu mendampingi saya dan ...." Tiba-Tiba, Bella menghentikan ucapannya ketika lampu mulai padam membuat dia semakin panik. Baru saja dia akan berteriak, tiba-tiba lampu menyala, tapi hanya menyoroti ke area depan.


Mata Bella membulat saat melihat Tristan berjalan ke arahnya dengan membawa buket bunga.


'Tuhan, terima kasih kau anugerahkan aku suami seperti Tristan. Terima kasih kau memberikan aku keluarga suamiku yang menyayangiku. Terima kasih kau telah memberikan putri selucu dan semanis Megumi, dan terima kasih kau sudah memberikan kehidupan semanis ini padaku,' batin Bella.


Saat berjalan Tristan tersenyum. “Tuhan, terimakasih sudah memberikan aku istri seperti Bella, terimakasih sudah memberikan aku kehidupan yang seperti ini.’ batin Tristan, matanya mengembun ketika mengingat kisah cintanya dengan Bella dan setelah sampai di depan Bella, Tristan menekuk kakinya. Lelaki itu berlutut di hadapan Bella.


"Istriku, terima kasih selama ini sudah mau sabar di dekatku, menerima kekuranganku dan juga mau terus mendampingiku. Terima kasih sudah menjadi istri dan ibu yang hebat untuk aku dan Megumi," jawab Tristan hingga bulir bening langsung terjatuh dari pelupuk mata Bella dan semua pun bersorak atas apa yang Tristan lakukan, begitu pun dengan Bella. Dia langsung menerima bunga dari lelaki itu.


Bella langsung menerima buket Bunga yang ada di tangan Tristan, kemudian Tristan pun bangkit dari duduknya dan sedetik kemudian Bella langsung berhambur memeluk suaminya, dan tak lama Bella melepaskan pelukan dari Tristan ketika Megumi naik ke atas panggung dan rupanya Megumi berjalan sambil membawa setangkai bunga untuk Bella.


Bella menekuk kakinya menyetarakan diri dengan Megumi, dia tersenyum saat melihat Megumi yang begitu manis. Kemudian, Bella mengambil bunga yang berada di tangan putrinya. “Terima kasih sayang,” ucap Bella, Megumi maju kemudian dia mengecup pipi Bella.


“Selamat Mommy," jawab Megumi, tepuk tangan kembali menggema ketika Bella memeluk putrinya dan akhirnya acara fashion show pun selesai. Semua tamu, tallent dan lain-lain sudah pulang, sedangkan Bella dan Tristan mengajak semua keluarganya untuk makan malam bersama.


Saat melihat keluarga suaminya yang berbincang-bincang dan di tengah rasa senang yang melandanya, Bella merasa sedih ketika mengingat Ayah dan ibunya yang sudah tiada. Dia juga tidak tau bagaimana kabar Molly dan ibu tirinya, karena semenjak menemukan ayahnya, Bella tidak ingin tau lagi tentang mereka.


Tristan yang sedang berada di samping Bella menggenggam tangan istrinya. “Ayah dan ibu pasti bangga padamu, sayang," jawab Trista. hingga bulir bening langsung terjatuh dari pelupuk mata Bella. Namun dengan cepat dia menghapus air matanya, kemudian mengangguk..Lalu setelah itu melanjutkan acara makannya.


***


Tristan menyalakan semua lilin yang ada sudah terjejer rapih di lantai, dia ingin berdansa dengan Bella merayakan keberhasilan istrinya dan juga melampiaskan rasa rindu. Hari ini Tristan sengaja mengajak Bella berlibur ke villa, sedangkan Megumi bersama keluarganya dia ingin menghabiskan waktu bersama istrinya tanpa diganggu oleh siapapun termasuk putrinya.


Saat semua lilin sudah menyala, Tristan tersenyum ketika melihat semuanya tampak indah. Dia langsung mematikan lampu hingga suasana semakin romantis.


Bella mematut diri di cermin. Saat ini dia sedang bersiap untuk memberikan kejutan pada Tristan dia juga memakai gaun tidur yang sangat tipis. setelah memastikan tampilannya rapih dan dia merasa sudah sempurna, Bella mengoleskan parfum ke beberapa bagian tubuhnya. Lalu setelah itu dia pun keluar dari kamar mandi.


Sat keluar dari kamar mandi, dia tersenyum ketika melihat suasana yang tampak indah dia berjalan kemudian Tristan menoleh. Tristan langsung mengulurkan tangannya pada Bella, hingga Bella melewati lilin yang sedang menyala. Lalu setelah itu Tristan menekan remote hingga musik mulai terdengar,. Setelah itu mereka pun berdansa dengan Tristan yang memeluk pinggang Bella dan Bella mengalungkan tangannya pada leher suaminya.


Tidak ada yang berbicara, tatapan keduanya mengisyaratkan cinta yang begitu menggebu-gebu. hingga tak lama Bella berjinjit mencium bibir Tristan.


“ Aku mencintaimu, sangat-sangat mencintaimu,” jawab Bella, membuat Tristan terkekeh.


“Kau pikir aku tidak mencintaimu,” balas Tristan.


“Hmm, Kau pasti sangat mencintaiku," jawab Bella lagi..Bella melepaskan tangannya dari leher Tristan, kemudian wanita itu langsung menarik tali gaun tidurnya, hingga tubuh Bella terpampang di depannya Tristan.


Bella menyeringai kemudian dia melepaskan tangannya dari pinggang Bella. Lalu setelah itu dia membopong tubuh istrinya, kemudian membawa Bella ke ranjang, dan membaringkan tubuh istrinya di sana..


“Mau bermain seperti biasa?” tanya Tristan.


“Of course.” dengan cepat, Tristan membuka pakaiannya kemudian dia kembali turun lalu membawa alat-alat yang biasa dia gunakan bersama Bella dan mereka pun memulai apa yang seharusnya mereka mulai. Dan akhirnya kisah mereka selesai.

__ADS_1


__ADS_2