
Mata selfie membulat Mia membuka maskernya kemudian dia melihat ke arah lantai di mana warna keramik memudar hingga selfie kembali melihat ke arah Mia. “Jangan disentuh!” teriak Angel saat Shelby akan memastikan cairan yang ada di lantai.
Seketika Mia di landa kepanikan ketika tanpa sengaja dia menurukan maskernya, dia melihat ke sekelilingnya, orang-orang sudah berkerumun dan itu semakin menambah kepanikan wanita itu.
Secepat kilat, Mia pun langsung berbalik kemudian wanita itu berlari keluar dari galeri dan tepat ketika Mia keluar beberapa petugas keamanan datang. Lalu setelah itu, mereka mengamankan area yang tadi ditumpahi oleh air keras.
Shelby masih terdiam mematung ketika menyadari bahwa air ada di lantai adalah air keras, tidak perlu bertanya lagi Shelby yakin air itu akan disiramkan oleh Mia ke wajahnya, dan seketika Shelby langsung melihat ke arah Angela yang juga sedang menatapnya. Jika tidak ada Angela, mungkin saja mukanya akan hancur karena air keras tersebut.
Seketika Angela maju ke arah Shelby. “Kau pasti merasa hutang Budi padaku," kata Angela. Seperti biasa, raut wajahnya terlihat mengejek. Baru saja Shelby ingin berterima kasih pada adiknya. tiba-tiba dia mengurungkan niatnya kala melihat ekspresi Angela. Sepertinya adiknya ini semakin diladeni semakin akan menantang, hingga pada akhirnya Shelby lebih memilih berbalik.
Dan ketika Shelby berbalik Angela menghela nafas lega.
Shelby masuk ke ruang istirahat, dia mendudukkan dirinya sejenak di sofa, rasanya jiwa Shelby masih melayang akibat barusan. Dia benar-benar merasa merinding, membayangkan tentang apa yang terjadi jika air keras itu mengenai wajahnya.
****
Mia masuk ke dalam mobil, wanita itu langsung menjalankan mobilnya dengan kecepatan kencang. Rasa takut membayanginya. Bagaimana jika ada orang yang mempermasalahkan ini, atau tidak bagaimana jika Shelby melaporkannya. Tak lama ia terpikirkan sesuatu, dia pun langsung meminggirkan mobilnya kemudian mengambil ponsel dan mengutak-atik ponselnya lalu menelepon Rush.
“Rush kau di mana?" tanya Mia.
“Aku di apartemen, Kenapa?" tanya Rush.
“Aku gagal melemparkan air keras itu pada Shelby.”
“Apa!” Rush berteriak saat mendengar ucapan Mia. padahal melempar air keras pada Shelby adalah rencana yang sudah disusun rapi, bahkan Rush memata-matai aktivitas Shelby hingga dia bisa tau bahwa Shelby akan menjadi pengawal di galeri Mario. Dan sekarang Mia malah gagal untuk melemparkan air itu.
Mia sedikit terkejut saat mendengar teriakan Rush. “Rush!” panggil Mia. Rush tersadar, hingga dia berusaha menahan emosinya.
“ Oh baiklah tidak apa-apa, kita susun saja rencana nanti," jawab Rush membuat Mia menghela nafas. Dia pikir Rush, marah. Tapi ternyata tidak, begitulah pikir Mia.
Sayangnya dia tidak menyadari bahwa Rush benar-benar murka, seandainya Rush tidak membutuhkan Mia, tentu saja dia tidak akan sesabar ini. Mia pun akhirnya langsung melanjutkan perjalanannya menuju pulang ke apartemen yang ditempati.
Rush mematikan panggilannya , dia hampir saja membanting ponselnya karena emosi. Rush menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.
”Jika aku tidak membutuhkanmu, sudah kutenggelamkan kau.”
Tak lama ponsel Rush berdering satu panggilan masuk dari seseorang hingga Rush langsung mengangkatnya.
***
Suasana ruangan meeting begitu hening. Darren fokus memperhatikan staf yang sedang menjelaskan, begitu pun dengan para petinggi perusahaan lain yang juga fokus pada layar. Tak lama, ponsel Darren berdering. Darren mengangkat tangannya, kemudian staf yang sedang menjelaskan langsung menghentikan presentasinya karena Darren tahu jika ponselnya berdering dalam keadaan meeting, itu pasti adalah hal yang urgent. Lalu benar saja terpampang yang meneleponnya adalah anak buah yang selama ini menjaga Shelby.
"Ada apa?" tanya Darren.
Anak buah itu pun mengatakan semuanya tentang apa yang terjadi di galeri.
"Apa?!" Darren menggebrak meja saat mendengar apa yang dikatakan oleh anak buahnya di seberang sana, tentu saja dia emosi karena keamanan yang dia tugaskan di galeri lolos membiarkan Mia masuk.
"Baik aku ke sana sekarang." Darren mematikan panggilannya kemudian lelaki tampan itu langsung melihat pada para staf dan petinggi perusahaan di perusahaannya.
"Meeting ditunda." Setelah mengatakan itu, Darren pun langsung berjalan ke arah pintu kemudian keluar dari ruangan meeting itu.
Darren menjalankan mobilnya dengan kecepatan penuh. Rasanya, Darren tidak sabar untuk segera sampai di galeri. Beberapa kali dia menelepon Shelby memastikan kondisi wanita itu, tapi Shelby tidak mengangkatnya walaupun dia tahu tidak terjadi apa-apa dengan istrinya, tapi tetap saja Darren merasa khawatir.
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Darren sampai di galeri dan dengan cepat, turun kemudian dia sedikit berlari untuk masuk. Sepertinya, suasana galeri sudah mulai kondusif. Beberapa tamu sudah berdatangan, beberapa tamu juga ada yang menyapa Darren, tapi Darren hanya membalasnya sekilas kemudian berjalan mencari istrinya.
Namun beberapa kali mencari, Darren tidak kunjung menemui Shelby hingga dia langsung menelepon anak buahnya, ternyata Shelby sedang berada di lantai paling atas hingga dengan cepat Darren pun langsung berjalan ke arah lift.
"Dia ada di dalam?" tanya Darren pada anaknya buahnya.
"Ya Tuan," uc
Darren langsung masuk ke dalam dan ternyata, Shelby sedang melamun.
Shelby yang sedang melamun, langsung menoleh ketika mendengar pintu terbuka. Secepat kilat Shelby bangkit dari duduknya kemudian dia langsung menabrak tubuh Darren dan memeluknya begitu erat, menyalurkan rasa takut yang luar biasa hebat. Kejadian barusan benar-benar membuat Shelby terpukul, membayangkannya saja sudah buatnya merinding apa lagi terjadi.
Tubuh Shelby bergetar di pelukan Darren, sedangkan Darren langsung memeluk Shelby dengan erat lalu mengelus punggung istrinya.
"Tidak apa-apa, ada aku di sini," kata Darren.
"Aku takut," jawab Shelby. Dia terus mengulangi kata-katanya selama beberapa kali. Darren pada akhirnya mengajak Shelby untuk duduk dan setelah duduk, Shelby tetap memeluk pinggang Darren. Shelby memeluknya begitu erat.
Tubuh Shelby sepertinya sedikit tersentak dengan apa yang terjadi hingga sekarang dia tidak bereaksi apapun, tapi dia tetap memeluk Darren dengan erat. Shelby merasa tidak aman karena apa yang dilakukan Mia barusan benar-benar luar biasa sangat menakutkan.
__ADS_1
Setengah jam kemudian.
Darren melepaskan pelukannya, hingga Shelby tersadar. Darren mengubah posisinya menjadi duduk hingga kini dia menatap ke arah Shelby.
"Kau tidak apa-apa, 'kan? Tidak ada yang terluka atau tidak ada yang terkena apapun?" tanya Darren.
"Kau tahu?" tanya Shelby.
"Aku tahu, maafkan anak buahku yang tidak menjagamu," kata Darren.
Bukannya membalas Shelby, malah kembali memeluk Darren.
"Tidak apa-apa, tidak apa-apa. Kau aman dan anak-anak aman.”
Tiba-Tiba, dia teringat anak-anak hingga dengan cepat Darren pun merogoh saku, kemudian mengambil ponsel lalu menelepon ponsel anak buahnya. Ternyata, anak buahnya mengatakan bahwa Theresia dan Tristan masih ada dalam jangkauan mereka.
"Ya sudah, kita pulang saja. Tudak usah lanjutkan ini, aku akan meminta Mario yang mengatur semuanya," kata Darren hingga Shelby mengangguk. Dia tidak ada mood lagi untuk melanjutkan galeri ini.
"Ml Daddy kenapa Mommy tidak mau keluar dari kamar?" tanya Theresia ketika mereka akan makan malam. Sedari tadi sore setelah pulang, Shelby tidak mau keluar dari kamar, sepertinya rasa takut masih membayangi wanita itu hingga pada akhirnya Shelby memilih untuk beristirahat.
"Mommy sedang tidak enak badan," jawab Darren. Dia pun langsung menarik kursi kemudian mendudukkan diri di sana disusul Theresia dan juga Tristan, dan setelah itu Darren langsung menyimpan makanan ke dalam piring, lalu setelah itu dia menyuapi Theresia terlebih dahulu karena memang setiap makan Theresia yang ingin disuapi olehnya
. Sementara Tristan, tentu saja anak itu sudah mandiri. Tak lama, mereka menoleh ke belakang mendengar suara derap langkah dan ternyata Shelby yang datang rupanya. Wanita itu merasa lapar, hingga dia memutuskan untuk makan malam.
"Mommy, are okay?" tanya Tristan.
"Hm oke," balas Shelby
"Kau baik-baik saja?" tanya Darren.
"Aku baik-baik saja." Darren mengambil piring kemudian dia menyerahkannya ke depan Shelby, lalu setelah itu Shelby pun mulai menyuapkan makanan ke dalam piringnya sendiri. Suasana makanan malam begitu hening, hingga pada akhirnya acara makan pun selesai. Darren masuk ke dalam kamar kedua anaknya. Tristan sedang bermain game, sedangkan Theresia sedang membersihkan miniatur koleksinya.
Darren mendudukkan diri di sebelah Theresia kemudian dia langsung mengelus rambut putrinya, hingga Theresia menoleh.
"Daddy, bantu aku," kata Theresia hingga Darren mengambil tisu basah kemudian membantu Theresia. Saat Darren fokus, Theresia menoleh. Dia menatap Darren.
Darren yang ditatap, langsung melihat ke arah putrinya.
"Kenapa? Ada yang salah?" tanya Darren.
"Mimpi apa?" tanyanya lagi.
"Aku mimpi kau dililit ular putih dan kau meninggalkan kami."
Darren mematung saat mendengar itu. Sejenak, dia terdiam tapi tak lama dia tersenyum kemudian menggeleng.
"Itu hanya mimpi, jangan dipikirkan," kata Darren lagi, akhirnya Darren keluar dari kamar setelah membantu Theresia. Lelaki itu pun langsung berjalan ke arah kamarnya.
Saat masuk ke dalam kamar, ternyata Shelby sedang melamun, bahkan wanita itu tidak sadar ketika Dareen masuk ke dalam kamar. Dareen ko membuka kaosnya hingga kini dia bertelanjang dada. Lalu setelah itu, dia berjalan ke arah ranjang dan setelah itu dia mengelus rambut Shelby hingga Shelby tersadar.
“Kau masih memikirkan tentang tadi?” tanya Dareen, Shelby mengangguk, hingga Dareen langsung naik ke ranjang, dan tanpa di duga Shelby langsung berabaring dengan berbtantalkan pada Daren.
Deren langsung mengelus rambut istrinya. “Tidak tidak usah khawatir, tidak akan ada yang terjadi aku jamin itu,” jawab Dareen. Walaupun dia sendiri tidak yakin.
“Aku tidak mengkhawatirkan diriku, aku mengkhawatirkan Thresia dan Tristan, balas Shelby.
“Tidak apa-apa, mereka aman," jawabnya. Shelby bangkit dari berbaringnya kemudian dia bersila menghadap ke arah Dareen.
“Kenapa hmm?” tanya Dareen. “Ingin bercinta?” tebak Dareen membuat Shelby mengerucutkan bibirnya.
“Bukan begitu maksudku.”
Dareen menarik tangan Shelby kemudian mengecupnya. “Shelby, aku ini suamimu. Kenapa kau tidak bisa menggantungkan hidupmu padaku?” tanya Dareen, dia merasa Shelby terlalu mandiri, bahkan semenjak Shelby berbelanja tas, wanita itu malah menyimpan kartu kreditnya di dompet Dareen.
“Dareen, aku tidak mau berhenti bekerja. Mempunyai galeri sendiri adalah keinginanku. Aku ingin menjelajah, memasang lukisan yang bagus," balas Shelby.
Seketika Dareen tertawa. “Jika kau suka seni, Kenapa kau dulu mengambil jurusan arsitektur?” tanya Dareen.
Shelby menunduk matanya langsung berkaca-kaca. “Dulu, aku tidak punya biaya untuk masuk ke jurusan seni. Beasiswa tidak mengcover untuk masuk ke jurusan itu Dan pada akhirnya aku harus masuk ke jurusan arsitektur. Tapi itu pun tidak selesai, karena saat itu aku mengandung dan aku tidak menamatkan kuliahku."
Dareen menggigit bibirnya saat mendengar itu, tadinya dia hanya menggoda Shelby. Tapi ternyata jawaban Shelby begitu menyayat hati, karena dulu setelah hamil Tristan dan Theresia, Shelby berhenti kuliah Padahal mereka baru saja masuk.
Setelah melahirkan, wanita itu fokus mencari uang karena dia harus menghidupi Theresia bahkan Shelby juga pernah menjadi pelayan restoran hanya untuk membeli susu putrinya dan juga membayar pengasuh Thresia.
__ADS_1
Karena saat itu, Shelby sudah melihat gerak-gerik Dareen yang tidak menyayangi Thresia, dan dia juga tidak menggunakan kartu kredit yang diberikan oleh kedua mertuanya dan sekarang sepertinya Shelby sudah terbiasa untuk mandiri dan mengandalkan dirinya sendiri.
Mungkin, Shelby bukan wanita karir yang hebat dia bukan juga wanita yang bergaji besar, tapi bagi Shelby mempunyai pekerjaan itu adalah suatu keharusan.
Dareen maju kemudian lelaki tampan itu langsung mendekat dan setelah itu dia membawa Shelby ke dalam pelukannya.
”Maafkan aku, Maafkan Aku. Aku tidak bermaksud mengungkit itu," kata Dareen dan tiba-tiba Shelby menangis sesegukan.
“Dareen, Kenapa Kau jahat sekali. Kau tahu saat kau menggelaar pesta ulang tahun pertama Tristan di kapal Pesiar, Thresia mengalami demam tinggi dan kejang di rumah sakit, sedangkan aku harus banting tulang untuk biaya rumah sakit. Bahkan aku juga hampir tidak bisa membayar pengasuh Theresia. Saat kau makan enak, aku harus memikirkan bagaimana caranya aku bertahan membayar rumah sakit Thresia. Kau selalu menghadiahkan barang mewah untuk Tristan, sedangkanu aku hanya bisa membelikan kue yang murah untuk Thresia. Saat kau memberikan pendidikan yang baik untuk Tristan. Thresia hanya berharap mendapatkan tempat pensil seperti teman-temannya. Saat kau ....” Ucapan aShelby terhenti karena suaranya tenggelam dengan tangisan, sedangkan Dareen terus mengelus punggung istrinya
jangan ditanya bagaimana hati Dareen saat ini, yang pasti dia pun begitu pedih mendengar itu dari Shelby, ternyata dia di masa lalu sejahat itu, dan seperti biasa walaupun sudah berdamai dengan masa lalu. Walaupun dia sudah memaafkan Dareen, rasa sakit itu tetap ada di diri Shelby hingga sekarang dia mengeluarkan keluh kesahnya.
dua jam kemudian
Pada akhirnya Setelah mengeluatkan semua keluh kesahnya, Shelby tertidur, beban yang ditanggung Shelby sepertinya hilang setelah mengeluarkan apa yang dia rasa di masa lalu penyesalan Dareen semakin bertambah ketika mendengar uraian demi urain hal yang menyakitkan yang dialami oleh istrinya dan putrinya.
Setelah yakin Shelby sudah terlelap, Dareen langsung bangkit dari berbaringnya, kemudian dia keluar dari kamar. Lalu setelah itu dia berjalan ke arah kamar Theresia dan Tristan. Rupanya, Theresia sudah tertidur.
Darren mendudukkan diri di sebelah putrinya, kemudian dia merapikan rambut Theresia yang menutupi pipi, lelaki itu menatap Theresia dengan lekat kemudian tersenyum hingga tak lama bulir bening langsung terjatuh dari pelupuk matanya.
‘Theresia, maaf Daddy tidak bisa mengembalikan semua, tapi Daddy janji, Daddy akan terus mendampingimu.’ Dareen membatin, kemudian Dia memutuskan untuk berbaring di sebelah Theresia lalu memeluk putrinya.
***
Malam berganti pagi Shelby terbangun dari tidurnya, dia tidak melihat Dareen di sampingnya. Sejenak, Shelby kembali memejamkan mata berusaha untuk mengumpulkan nyawanya dan tak lama dia kembali membuka matanya saat mengingat sesuatu, bahwa semalam dia menceritakan semuanya pada Dareen.
Seketika Shelby didera rasa bersalah, tidak seharusnya dia mengatakan yang sudah berlalu pada suaminya. Dengan cepat, Shelby bangkit dari berbaringnya, kemudian dia turun dari ranjang lalu setelah itu berjalan ke arah kamar mandi untuk cuci waja.
Setelah selesai, Shelby langsung berjalan ke arah luar, terdengar suara gaduh dari arah dapur hingga hingga Shelby langsung berjalan ke arah dapur dan terlihat Dareen sedang membuat sarapan.
“Ekhemm!” Shelby berdeham membuat Dareen yang sedang membuat sandwich langsung menoleh.
Dareen tersenyum. ”Ah, Kau sudah bangun," ucap Dareen. Shelby terpaku saat melihat mata Dareen yang sepertinya habis menangis dalam waktu yang lama.
“Da-Dareen, apa kau habis menangis?” tanya Shelby.
Dareen terkekeh. “Tidak aku kelilipan," jawab Dareen tentu saja dia tidak ingin mengatakan bahwa semalaman Dareen menangis. Apalagi lelaki itu sepertinya tidak bisa tertidur dan sepanjang malam dia menghabiskan waktunya untuk menatap Theresia.
Shelby masuk ke area dapur kemudian tanpa diduga wanita itu memeluk Dareen dari belakang.
“ Maafkan aku. Apa aku menyakitimu?” tanya Shelby. Dareen tertawa kecil lalu dia melepaskan pelukan Shelby.
“Kenapa kau mengatakan seperti itu. Aku tidak apa-apa, aku hanya tidak bisa tidur semalam dan juga barusan aku kelilipan," kata Dareen.
“Jika kalian akan terus berbicara kapan sarapanku siap?” tiba-tiba Tristan berbicara hingga Dareen dan selbi tersadar.
“Maafkan Daddy. Daddy buat sekarang,” kata Dareen kebetulan hari ini koki tidak datang ke apartemen Dareen jadi dia membuat sarapan yang simpel.
****
Angel Keluar dari mobil, dia melihat ke sekelilingnya dan langsung masuk ke dalam cafe. Lalu setelah itu, dia berjalan ke arah meja yang sedang ditempati oleh Dareen . Rupanya, tadi setelah mengantarkan anak-anak ke sekolah Dareen mengajak Angel untuk bertemu di kafe
“Untuk apa kau menemuiku?” tanya Angel, dia menarik kursi kemudian mendudukkan diri di sebrang Daren. Tatapan Angel pada Dareen tidak seperti kemarin. Jika kemarin di depan Shelby dia menatap Dareen dengan hangat, sekarang begitu berbeda.
“Pertama Aku ingin mengucapkan terima kasih karena kau sudah menyelamatkan Shelby beberapa kali dan juga ....”
“Siapa yang menyelamatkannya,” potong Shelby.
“Terimakasih saat Shelby dikejar oleh mobil asing Kau rela menabrakkan mobilmu sendiri agar Shelby lolos dan terima kasih juga karena kemarin kau menyelamatkan Shelby dari mantanku,” kata Dareen.
Angel mengibaskan rambutnya, wajahnya memerah ketika Dareen mengatakan itu. “Sudah kubilang, aku ....”
“Aku tahu sebenarnya tujuanmu membuat Shelby kesal bukan karena kau membencinya, tapi karena kau ingin lebih dekat dengannya," kata Dareen lagi yang memotong ucapan Angel. Ya, sejatinya saat pertama kali bertemu, Angel merasakan ingin dekat dengan Shelby. Tapi saat itu Shelby mengacuhkannya dan pada akhirnya Angela selalu mencari gara-gara dengan kakaknya.
“Kenapa kau bisa mengatakan seperti itu?” kata Angel yang berusaha mengelak.
“Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih.” Dareen tak mengubris ucapan Angel dan lebih memilih untuk langsung menyampaikan rasa terimakasihnya.
.“Apa ini?” tanya Angel ketika Dareen menyerahkan sebuah kartu nama pada Angel.
“Ini nomer direktur brand yang sedang kau incar untuk bergabung di kompanimu, aku sudah menggunakan koneksiku agar kau bisa bekerja sama dengan brand itu dan ini juga bentuk rasa terima kasih karena telah menyelamatkan Shelby.” Dareen pun bangkit dari duduknya.
“Jika kau ingin dekat dengan Shelby, jangan gunakan cara menyebalkan, minta maaf saja dan datang secara perlahan dia pasti akan menerimamu.”
__ADS_1
Angel ....