
Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Sedari tadi masuk ke dalam mobil, Mayra memeluk pinggang Tommy dan Tommy merangkul pundak Mayra. Tentu saja Tommy ingin dipeluk.
Sesekali, Tommy mencium ujung kepala calon istrinya. Tidak bisa dibayangkan lagi betapa bahagianya Tommy saat ini, yang pasti rasanya ingin berteriak sekencang-kencangnya.
Akhirnya, setelah penantiannya bertahun-tahun, dia mendapatkan Mayra dan Mayra akan menjadi istrinya. Kehidupan Tommy kini sempurna, tidak ada lagi yang dia cari.
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang ditumpangi oleh Tommy dan Mayra sampai di kediaman mereka. Lalu dengan pelan, Tommy turun dari mobil kemudian membantu Mayra untuk turun, lalu setelah itu mereka pun berjalan ke dalam.
"Kau ingin istirahat?" tanya Tommy ketika sudah masuk.
"Aku ingin berenang," jawab Mayra.
"Berenang?" Tommy menatap Mayra dengan bingung.
Mayra mengangguk. "Aku ingin berenang, karena perutku sedikit tegang.”
"Ya sudah ayo kita berenang," ucap Tommy, "sebentar, aku akan menyiapkan semuanya dan membawa pakaianmu." Tommy pun berbalik, kemudian naik ke atas untuk menyiapkan pakaian renang Mayra.
Mayra menatap punggung Tommy yang menjauh, Wanita itu tersenyum getir. Jika diingat, walaupun lima bulan Adrian bersikap baik, tapi Adrian tidak pernah melakukan hal semacam ini padahal apa yang dilakukan Tommy sangat sederhana, tapi Adrian tidak mampu melakukan untuknya dan sekarang benar-benar merasakan bagaimana menjadi ratu sesungguhnya.
Sepuluh menit kemudian, terdengar suara derap langkah hingga Mayra yang sedang duduk di ruang tamu langsung menoleh dan Tommy datang membawa beberapa pakaian untuk Mayra renang. Sudah lama sekali Mayra tidak meregangkan ototnya, dan dia rasa berenang adalah hal yang bisa Mayra lakukan untuk membuat tubuhnya rileks, apalagi cuaca cukup mendukung.
"Ini," kata Tommy, "berganti baju di kamar tamu saja."
Mayra mengangguk, Mayra bangkit dari duduknya kemudian wanita itu langsung berjalan ke arah kamar tamu, sedangkan Tommy langsung pergi ke area belakang. Dia memastikan suhu air di kolam renang tersebut hangat.
Setelah memastikan semuanya, Tommy pun langsung bergegas masuk dan ketika dia masuk, ternyata Mayra sudah memakai pakaian renang. Mata Tommy membulat saat melihat tubuh Mayra. Di mata Tommy yang jelas-jelas lelaki dewasa dan normal Mayra begitu seksi bahkan tanpa sadar ada salah satu bagian tubuh Tommy yang menegang. Namun, dengan cepat dia langsung melonggarkan celananya kemudian berjalan ke arah Mayra.
"Ayo, semuanya sudah siap," kata Tommy. Dia langsung mengulurkan tangannya pada Mayra dan mereka pun berjalan ke arah kolam renang. Mereka pun mulai berenang.
Tommy selalu mengekor di belakang tubuh Mayra, karena takut Mayra mengalami keram, hingga setengah jam kemudian Mayra merasa sudah sedikit lelah dan pada akhirnya, dia memutuskan untuk ke tepi. Dia langsung naik kemudian duduk di sisi dengan kaki yang menjuntai ke bawah, sedangkan setelah Mayra naik, kini Tommy yang berenang.
Lima belas menit kemudian, Tommy pun berenang ke arah Mayra hingga kini dia sudah memeluk kaki Mayra.
"Kau sudah lelah?" tanya Tommy.
"Aku lelah, perutku juga sudah tidak keram lagi," kata Mayra.
Tommy mencium perut Mayra. "Anak Daddy pintar sekali," jawab Tommy.
Lagi-Lagi, hati Mayra terasa tersayat. Selama dia hamil, Adrian jarang mengelus perutnya bahkan tidak pernah berbicara seperti ini dengan anak yang dia kandung, tapi sekarang malah Tommy yang melakukannya.
"Jangan pikirkan apapun lagi, Sayang," ucap Tommy yang mengerti pikiran Mayra, hingga Mayra tersenyum.
"Ayo naik," kata Mayra.
Tommy pun melepaskan pelukannya dari kaki Mayra. Setelah itu dia naik dan mengulurkan tangannya.
"Aku akan mengeringkan tubuhku di kamar mandi," ucap Mayra.
"Kau mau di kamar mandi ini atau di kamar mandi dalam?" tanya Tommy.
Mayra menggigit bibirnya membuat Tommy memejamkan matanya, karena Mayra benar-benar terlihat seksi dan sedetik kemudian, Tommy sudah tidak bisa menahan diri lelaki itu pun langsung menangkup Matra dan mencium bibir wanita yang dia cintai.
Kali ini, Mayra membalas ciuman ciuman yang tadinya pelan menjadi ciuman yang menuntut hingga perlahan Tommy mendudukkan dirinya di kursi yang ada di tepi kolam renang dan hingga kini posisi Mayra duduk di atas pangkuan Tommy. ciuman yang tadinya pelan menjadi ciuman yang menuntut tubuh keduanya sama-sama panas. Tak lama, Tommy melepaskan tautannya ketika dia merasa sudah tidak bisa mengendalikan diri lagi.
Tommy menempelkan keningnya pada kening Mayra. "Aku tidak bisa menahan diri lagi," ucap Tommy dengan napas yang memburu.
"Lakukan, aku juga ingin melakukannya.” Otak Mayra sudah hampir meledak karena permasalahnnya dia rasa bercinta bisa meleburkan sedikit rasa sakitnya.
__ADS_1
Mereka pun memadu kasih di kursi yang ada di tepi kolam renang dengan posisi Mayra yang ada di atas Tommy mereka tidak perlu mengkhawatirkan apapun, karena pelayan ada di paviliun belakang dan tidak akan ada yang masuk ke rumah utama jika belum jam mereka membereskan rumah hingga mereka tidak perlu mengkhawatirkan apapun, percintaan mereka memang sangat pelan karena Tommy berhati-hati.
Karena walau bagaimanapun, Mayra sedang mengandung.
Namun, tetap saja percintaan itu begitu panas dan untuk Mayra, Bisa dikatakan bercinta dengan Tommy sangat berbeda dengan Adrian, di mana Adrian begitu kaku tapi dengan Tommy berbeda. Dia benar-benar merasakan menjadi ratu ketika sedang bercinta hingga pada akhirnya keduanya mencapai puncak bersama-sama dan diakhiri dengan Mayra yang ambruk di tubuh Tommy.
Napas keduanya masih terengah-engah, karena mereka benar-benar bercinta begitu hebat walaupun dengan gerakan yang pelan. Jangan ditanyakan betapa bahagianya Tommy. Dia sudah mendapatkan semuanya tentang Mayra, begitu pun dengan Mayra yang juga bahagia karena untuk pertama kalinya dia merasa puas dengan urusan seperti ini.
Sepuluh menit kemudian, Mayra menegakkan tubuhnya karena dia sudah bisa mengatur napasnya dan ketika dia melihat ke arah Tommy, Tommy tersenyum membuat Mayra menunduk.
"Maafkan aku," ucap Mayra.
"Kenapa kau minta maaf?" tanya Tommy sambil mengelus pipi Mayra.
"Apa kau akan meninggalkanku karena sudah mendapatkan tubuhku?" tanya Mayra. Seketika, Tommy tertawa.
"Omong kosong macam apa itu. Mana mungkin aku meninggalkanmu," jawab Tommy
"Aku sangat takut setelah kau menyentuhku, kau ...." Mayra menghentikan ucapannya kala Tommy mengecup bibirnya sekilas.
"Sudah kubilang, jangan ada yang ditakutkan. Kini, kau milikku tubuh kita sudah menyatu dan tidak ada alasan untuk berpisah lagi," kata Tommy hingga Mayra pun langsung memeluk Tommy. Dia memeluk Tommy dengan erat, ternyata Tommy benar-benar paket lengkap dan paket sempurna.
"Ayo kita bersihkan diri," kata Tommy.
Mayra mengangguk. Dia bangkit dari pangkuan Tommy dan melepaskan penyatuan mereka.
"Bagaimana jika kita berendam di bath-up?" ajak Mayra hingga Tommy mengangguk dan sekarang, Maura dan Tommy sudah berendam di bath-up dengan posisi Tommy yang duduk di belakang tubuh Mayra, hingga sekarang tangan Tommy sudah menjelajahi ke sana kemari
"Oh ya, apa jenis kelamin anak kita?" tanya Tommy.
"Perempuan," jawab Mayra.
"Aku tidak ingin tidur terpisah lagi, ayo tidur bersama-sama," kata Mayra.
"Of course, Baby. Dan setelah anak kita lahir, ayo kita melakukan pemberkatan," jawab Tommy. Perlahan, tangan Tommy menjelajah ke arah tubuh Mayra hingga Mayra kembali menyandarkan tubuhnya ke dada Tommy dan mereka pun kembali berciuman hingga pada akhirnya adegan itu kembali terulang. Mungkin mereka salah melakukan ini sebelum menikah tapi percayalah Mayra melakukan ini untuk melebur rasa sakitnya, hingga pada akhirnya mereka pun selesai dengan acara. Lalu setelah itu, mereka keluar dari kamar mandi.
Waktu menunjukkan pukul delapan malam.
Mayra keluar dari kamar. Wajah wanita itu tampak berseri-seri. Setidaknya apa yang dilakukan bersama sore mampu membuat mood-nya membaik, hingga sekarang dia menghampiri Tommy yang sedang memasak.
"Oh Sayang, kau mengagetkanku," kata Tommy hingga Mayra terkekeh.
"Bukankah ada koki, kenapa kau harus memasakkanku? Terus, kau juga sudah menjagaku selama di rumah sakit," ucap Mayra.
Mayra menempelkan kepalanya ke punggung Tommy. "Kau tidak akan pernah memasak makanan buatan pelayan," kata Tommy, "aku tidak mau anakku kekurangan nutrisi di dalam sana."
Memang menurut Mayra, masakan koki kurang enak dan beruntung, Tommy bisa memasak.
Setengah jam kemudian, akhirnya masak pun selesai. Tommy membawa makanan ke meja makan disusul oleh Mayra. Mereka pun makan malam dengan penuh keceriaan. Sekarang, Mayra benar-benar bertekad untul dekat dengan Tommy, itu sebabnya dia tidak ragu untuk menceritakan apapun.
Setelah makan malam selesai, akhirnya akhirnya mereka pun bangkit dari duduknya dan berniat pergi ke kamar. Sebelum pergi ke kamar, Tommy sudah membuatkan susu untuk Mayra.
Waktu menunjukkan pukul dua malam.
Tommy melihat ke arah Mayra yang tertidur di sebelahnya. Dia mengelus rambut Mayra lalu kembali fokus pada laptopnya, karena memang dia sedang mengerjakan pekerjaannya. Saat dia fokus bekerja, tiba-tiba Tommy terpikirkan sesuatu. Dia pun langsung meraih ponsel Mayra yang berada di sebelah tubuh istrinya, lalu mengutak-atiknya.
Tommy tersenyum saat melihat wallpaper ponsel Mayra yang merupakan foto mereka berdua yang ambil setelah mereka mandi bersama, kemudian dia mulai menjelajahi ponsel wanita itu. Senyum tak henti-hentinya menghiasi bibir Tommy, sebab di ponsel Mayra benar-benar sudah tidak ada jejak Adrian, bahkan tidak ada satu pun foto lelaki itu. Hanya tersisa foto Alice dan setelah itu, Tommy menyimpan ponsel Mayra di tempatnya kemudian dia mengutak-atik ponselnya lalu mencari nomor Adrian.
"Aku sangat bersyukur ada di titik ini dan aku juga ingin berterima kasih padamu karena kau telah melakukan hal bodoh dan hal gila, hingga akhirnya Mayra menjadi milikku. Bukan hanya Mayra saja yang menjadi milikku, anak kalian pun menjadi milikku," tulis Tommy dalam pesannya. Dia juga mengirimkan foto Mayra yang sedang tertidur di sebelahnya. Setelah itu, dia langsung menyimpan ponselnya. Setelah mengirim pesan pada Adrian, dia langsung menyimpan ponselnya ke bawah kemudian melanjutkan pekerjaannya.
__ADS_1
***
Tangan Adrian gemetar saat menerima pesan dari Tommy, di mana Tommy mengirimkan sebuah foto Mayra sedang tertidur di sebelah Tommy dan juga bukan hanya foto, Tommy pun mengirimkan pesan yang sangat membuat Adrian hancur.
"Argh!" Tiba-Tiba, Adrian berteriak lalu membanting ponselnya, kemudian tubuh lelaki itu jatuh ke lantai dan sedetik kemudian bahu Adrian bergetar. Lelaki itu menangis tergugu.
Ini sudah tiga minggu Mayra pergi dari hidupnya, dan selama tiga minggu ini pula hidup Adrian bagai di neraka. Setelah pulang dari rumah sakit, Alice tidak mau kembali ke rumah. Dia lebih memilih untuk tinggal bersama kedua orang tua Adrian, dan setiap hari Adrian melaluinya dengan merana. Bagaimana tidak, dia kehilangan Alice dan juga kehilangan Mayra.
Lalu yang terpenting, cinta di hati Adrian mulai tumbuh, karena dia selalu teringat kenangannya dengan Mayra dan sekarang ketika cintanya tumbuh, dia harus menerima bahwa Mayra sudah dimiliki orang lain, dan yang paling membuat Adrian hancur, dia juga kehilangan anaknya. Awalnya, memang dia tidak terlalu menginginkan anak yang ada di dalam kandungan Mayra, bahkan saat belum terpergok pun dia sama sekali tidak peduli dan hanya berpura-pura memperhatikan Mayra tentang kandungan.
Namun saat Sayra mengatakan bahwa Mayra akan melarangnya bertemu dengan anak mereka, Adrian baru tersadar bahwa Mayra dan anaknya begitu berharga. Namun kini, semuanya sia-sia, semuanya sudah berakhir. Sudah tidak ada kesempatan untuk Adrian kembali. Entah kapan Alice bisa memaafkannya, yang pasti Adrian hidup dalam kesengsaraan karena ulahnya.
***
Waktu berlalu begitu cepat. Tidak terasa hari ini adalah detik-detik yang menegangkan yang ditunggu Mayra dan juga Tommy, di mana saat ini Mayra akan melahirkan dengan proses normal, dan sekarang dia menggenggam tangan Tommy dengan erat, karena rasa sakit di perutnya semakin menjadi-jadi.
"Aku tidak kuat, aku ingin mati saja. Aku tidak mau merasakan sakit lagi." Mayra berbicara dengan berlinang air mata. Rasa sakit yang dia rasakan benar-benar luar biasa, bahkan mungkin rasa sakit melahirkan mengalahkan rasa sakit hatinya pada Adrian.
"Sayangku, apa yang kau katakan? Ayo jambak saja rambutku seperti tadi, atau kau bisa menyobek bajuku," jawab Tommy karena sedari tadi Mayra terus berteriak, terkadang menjembak rambut Tommy, bahkan pakaian Tommy pun sudah dua kali di sobek oleh Mayra.
Akhirnya, setelah melewati proses yang sangat mendebarkan, akhirnya terdengar suara bayi hingga Tommy langsung terpaku ketika anaknya diangkat.
"Itu anak kita," ucap Tommy. Dia menggenggam tangan Mayra kemudian mencium seluruh wajah istrinya. Rasa sakit yang Mayra rasakan karena melahirkan, terbayar sudah saat melihat putrinya dan juga saat melihat reaksi Tommy yang di luar dugaan, bahkan Tommy menangis.
"Tuhan, terima kasih. Kini, hidupku sempurna," ucap Mayra. Selama beberapa bulan hidup bersama Tommy dan memutuskan untuk membuka hati untuk pria itu, Mayra benar-benar merasakan rasa bahagia. Awalnya, dia masih teringat Adrian tapi lama kelamaan hanya dalam hitungan bulan, nama Adrian tersingkir begitu saja berganti dengan nama Tommy. Kasih sayang berlimpah Mayra dengan cepat bisa memasukkan nama lelaki itu, padahal Mayra adalah tipe orang yang sangat sulit untuk jatuh cinta.
Tommy tersenyum ketika masuk ke dalam ruang rawat Mayra. Dia baru saja menengok anaknya yang sedang berada di ruangan, hingga Mayra yang baru saja terbangun dari tidurnya langsung menoleh. Jantung Mayra berdetak dua kali lebih cepat ketika melihat Tommy berjalan ke arahnya, lelaki itu menatapnya dengan tatapan tulus. Tommy mendudukkan diri di sebelah Mayra, kemudian mengusap lembut rambut wanita itu.
"Apa ada yang kau inginkan, Sayang? Apa ada yang terasa sakit lagi?" tanya Tommy.
Mayra menggeleng. "Tidak, aku tidak ingin apa-apa. Rasa sakit itu sudah sedikit berkurang," jawab Mayra, padahal jelas-jelas dia masih merasa sakit, tapi dia tidak ingin membuat Tommy khawatir.
Tommy mendudukan diri di kursi, kemudian lelaki tampan itu langsung menarik lembut tangan Mayra dan mengecupnya. "Sayang, katakan, kau ingin hadiah apa? Aku akan memberikan apapun yang kau mau, karena kau telah melahirkan putriku," jawab Tommy. Mungkin, di mata orang lain ucapan Tommy hanya sebatas bualan karena dia ingin mendapatkan hati Mayra, tapi percayalah Tommy benar-benar tulus, apalagi barusan ketika dia benar-benar menatap putri yang dilahirkan oleh Mayra, Tommy seperti jatuh cinta untuk yang kedua kalinya.
Mendengar itu, mata Mayra berkaca-kaca. 'Terima kasih, Daddy, saat itu kau menyuruh Tommy untuk tinggal denganku,' batin Mayra.
"Katakan Sayang, kau ingin apa? Sesulit apapun, aku akan mengabulkannya," ucap Tommy.
Mayra menggeleng. "Cukup kau di sampingku. Aku tidak ingin apapun," jawab Mayra lagi.
"Of course. Tidak perlu diperintahkan, aku akan bersamamu dan anak-anak kita," ucapnya.
Dua minggu kemudian.
"Salsa sudah tidur, berhenti menggendongnya," protes Mayra pada Tommy. Sepertinya dia mulai cemburu pada putrinya, sebab ketika putri mereka datang ke ruang rawat, Tommy akan langsung menggendong bayi kecil tersebut yang sudah mereka berikan nama Salsa. Sepertinya, Tommy benar-benar jatuh hati pada bayi kecil itu, hingga rasanya dia tidak mau mengalihkan tatapannya pada putri yang sudah dianggap sebagai putrinya sendiri.
Tommy terkekeh, kemudian dia menyimpan Salsa di box, lalu setelah itu dia berjalan ke arah Mayra. "Kau cemburu, hm?" tanya Tommy yang mendudukan diri di sebelah kekasihnya.
"Aku cemburu. Aku, 'kan, lebih banyak butuh perhatianmu," jawab Mayra membuat Tommy terkekeh. Tommy merangkul pundak Mayra dan tanpa diduga Mayra langsung ngecut bibir Tommy. Baru saja Mayra akan menjauhkan wajahnya, Tommy menarik tengkuk Mayra hingga mereka pun memperdalam ciumannya
Namun tak lama, Tommy langsung menjauhkan wajahnya ketika teringat sesuatu. "Ah, aku lupa kau masih belum bisa disentuh," jawab Tommy membuat Mayra terkekeh.
"Sebentar, aku akan membereskan semuanya. Jangan bergerak," ucap Tommy karena memang Mayra selalu mengeluh perutnya terasa ngilu.
Tommy pun bangkit dari duduknya kemudian membereskan semua barang-barang yang dipakai di rumah sakit, karena nanti sore Mayra diperbolehkan pulang, sedangkan keluarga Tommy dan keluarga Gabriel sudah kembali lagi ke Rusia. Mereka datang ketika Mayra melahirkan.
Waktu menunjukkan pukul lima sore.
Tommy sengaja menggendong putrinya dan satu tangannya lagi, dia gunakan untuk menggenggam tangan Mayra dan mereka pun keluar dari ruang rawat yang selama dua minggu ini ditempati oleh wanita cantik itu.
__ADS_1
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh sopir sampai di rumah. Lalu dengan pelan, Mayra pun turun disusul oleh Tommy yang menggendong putri mereka. Namun tak lama, keduanya menghentikan langkahnya saat melihat siapa yang berada di depan keduanya, siapa lagi jika bukan Adrian.