Tatap Aku, Lelakiku!

Tatap Aku, Lelakiku!
Cinta Mayra


__ADS_3

Tapi sayangnya, Selo tidak bisa membuka mata hingga dia hanya bisa mengeluarkan tangisnya. Lima belas menit kemudian, Bianca sudah bisa menguasai dirinya. Wanita itu menegakkan tubuhnya kemudian dia langsung menghapus air matanya, lalu menatap ke arah Selo.


Tak lama, Bianca terpaku saat melihat sudut mata Selo yang membasah, lalu dengan cepat Bianca pun langsung bangkit dari duduknya, kemudian mendekat ke arah wajah Selo dan memperhatikan wajah suaminya.


Ternyata, dugaannya benar, Selo menangis. Secepat kilat Bianca langsung berbalik. Wanita itu berlari untuk memanggil dokter dan memeriksa kondisi Selo.


Sepuluh menit kemudian, dokter dan Bianca masuk ke dalam ruang rawat Selo, hingga dokter pun langsung membungkuk kemudian memeriksa mata Selo, dan juga memeriksa seluruh keadaan lelaki itu.


"Bagaimana keadaan Selo?" tanya Bianca.


Jantung Bianca seperti melompat dari rongga dadanya saat mendengar ucapan dokter. Wajah dokter yang tadinya berseri-seri karena menyangka ada kemajuan dari Selo, berubah sendu karena ternyata Selo belum merespon apapun. Itu hanya reaksi alami dari alam bawah sadarnya.


"Bagaimana Dok, apa Selo ada kemajuan?" tanya Bianca.


Dokter menatap Bianca kemudian menggeleng. "Tidak, Nona Bianca. Tuan Selo masih belum sadar. Itu hanya reaksi alam bawah sadarnya," ucap dokter hingga Bianca pun mengangguk dengan lesu dan pada akhirnya, dokter berbalik kemudian keluar dari ruangan rawat lelaki itu.


Saat dokter pergi, Bianca mendekat ke arah telinga Selo kemudian dia berbisik. "Selo, jika kau membuka matamu, setelah keluar dari rumah sakit, ayo kita menikah. Ayo kita hidup bersama-sama melupakan semua yang terjadi. Ayo kita mempunyai anak yang banyak, dan juga membesarkan mereka bersama-sama. Aku yakin mereka akan bangga padamu karena kau adalah Ayah yang hebat," ucap Bianca, dan kali ini bulir bening langsung terjatuh dari pelupuk mata Selo hingga Bianca kembali menghapus air matanya. Sepertinya, Bianca harus mulai terus berbicara pada Selo agar Selo terpancing dan bangun dari komanya.


***


Malam berganti pagi. Amelia masuk ke dalam ruangan, kemudian dia menghampiri Bianca yang tertidur sambil menggenggam tangan Selo. Wanita paruh baya itu mengelus rambut Bianca, hingga Bianca tersadar kemudian dia menegakkan kepalanya.


"Oh Bibi," ucap Bianca.


"Kau pasti lelah. Istirahatlah di rumah, biar nanti malam Maira yang akan menemani Selo di sini," ucap Amelia.


Bianca cepat menggeleng. "Tidak Bibi, aku tidak apa-apa," jawab Bianca. Sejatinya semua saling menguatkan agar mereka kuat untuk menunggu Selo sadar dari komanya.


***


Bianca menyandarkan tubuhnya ke belakang. Wanita itu sekarang sedang berada di mobil. Dia baru saja keluar dari rumah sakit, dan seperti biasa, sopir sudah menunggunya di luar rumah sakit. Semenjak Bianca trauma membawa mobil seorang diri, wanita itu pun selalu minta antar jemput oleh sopir.


Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh sopir sampai di rumah. Bianca pun dengan segera turun kemudian berjalan masuk ke dalam, dan ketika masuk, ternyata kedua orang tuanya sedang sarapan.


"Bianca," panggil Maria.


Bianca menghampiri ruang makan, kemudian dia menarik kursi lalu setelah itu mendudukkan dirinya di kursi, dan bergabung bersama kedua orang tuanya.


Maria dengan cepat menyimpan roti di piring. Wajah putrinya terlihat sangat lelah.


"Bagaimana, apakah sudah ada perubahan dari Selo, Bi?" tanya Maria dengan malu-malu.

__ADS_1


Tiga bulan ini Maria belum berani melihat Selo. Dia juga belum berani untuk menemui Gabriel dan Amelia, karena dia begitu malu pada keluarga Gabriel.


Bianca mengunyah roti kemudian wanita menjawab, "Belum, Mom, Selo masih seperti biasa."


Bianca terlihat lesu, bahkan kini matanya berkaca-kaca. Setiap ada yang menanyakan keadaan Selo, rasanya Bianca lemah. Wanita itu ingin menangis sekencang-kencangnya.


"Ya sudah kalau begitu. Setelah itu kau istirahat. Nanti malam Daddy akan mengantarmu ke rumah sakit," ucap Lyodra yang menimpa, hingga Bianca mengangguk.


Acara sarapan pun selesai, Bianca berbalik kemudian berjalan masuk ke dalam kamar. Setelah itu, Bianca langsung membanting tubuhnya di ranjang hingga kini posisi Bianca telungkup. Wanita itu kemudian menangis sejadi-jadinya.


Selalu seperti ini. Setiap pagi setelah selesai dia keluar dari rumah sakit, Bianca akan langsung menangis sampai dia merasakan plong.


Sementara di sisi lain, Gabriel duduk di singgasananya. Lelaki itu berhadapan langsung dengan ruang penyiksaan, di mana sedang ada Roland. Tiga bulan ini, Roland menjadi bulan-bulanan Gabriel.


Setelah Gabriel menyiram air keras, Roland tidak dilarikan ke rumah sakit. Anak buah Gabriel membawa Roland ke markas, kemudian menyimpan Roland di ruang siksaan hingga ketika Roland tidak sadarkan diri, dia langsung menerima hal yang menyakitkan dan pada akhirnya sekarang tampilan Roland begitu menyedihkan.


Roland hanya diberi makan dua hari sekali, setelah itu dia akan kembali mengalami penyiksaan, dan yang paling naas adalah Roland tidak bisa melihat. Tentu saja akibat air keras yang disiramkan oleh Gabriel.


Jangan ditanyakan betapa mengkhawatirkannya Roland saat ini. Tubuh Roland begitu kurus, wajahnya hancur, seluruh area badan menghitam dan pada akhirnya Roland mencapai titik lelahnya, hingga sekarang Roland begitu pasrah dengan takdirnya menjadi bulan-bulanan Gabriel.


Beberapa kali Roland mencoba bunuh diri dengan cara meminum racun serangga, tapi itu digagalkan oleh anak buah Gabriel. Mereka tidak akan membiarkan Roland mati semudah itu, karena saat nanti Roland sudah tidak berdaya, Roland akan langsung diserahkan ke kepolisian Amerika dan Roland akan mengalami penyiksaan kedua kalinya.


"Bagaimana, apa yang akan Anda lakukan tentang petugas kepolisian itu?" tanya anak buahnya.


Ternyata, kepala kepolisian yang dulu menangani kasus Roland, dan yang melarang membocorkan berita kabur Roland ke publik adalah orang yang sudah disuap oleh Daniel. Sebelumnya, polisi itu diberikan uang agar berita kaburnya Roland tidak tersebar ke publik, dengan dalih takut publik murka


Gabriel tidak percaya pada kepolisian, padahal sebenarnya tidak. Dia mengatakan itu karena memang sudah disuap dengan uang yang sangat banyak oleh Daniel. Ayah Roland dan Gabriel belum mengetahui itu.


Dua bulan lalu ketika dia menyuruh anak buahnya untuk mengikuti polisi tersebut, dan ternyata polisi itu bertemu dengan Daniel. Saat mengetahui itu, Gabriel kembali mengamuk dia bahkan menemui kepala inspektur secara langsung, meminta polisi itu untuk dipecat dan pada akhirnya polisi itu sekarang ditahan oleh Gabriel di ruang yang lain. Dia akan memberikan hukuman yang berbeda untuk lelaki itu, karena polisi itu atau yang sekarang menjadi mantan polisi itu, memberikan peran penting tentang apa yang terjadi pada Selo.


Seandainya saat itu dia tidak memerintahkan hal seperti itu, sudah dipastikan Selo dan Bianca tidak akan terluka.


"Aku akan menemuinya nanti," ucap Gabriel, "sementara ini jangan lakukan apapun."


Setidaknya hukuman Gabriel pada lelaki itu tidak separah Roland. Dia masih berpikir untuk memberikan hukuman yang lebih ringan dari Roland. Anak buah Gabriel mengangguk, kemudian lelaki itu langsung berbalik kemudian keluar dari ruangan tersebut.


Gabriel pun langsung menyaksikan Roland yang sedang kejang di lantai. Tentu saja itu karena aliran listrik yang menyengat tubuh Roland begitu kencang. Roland benar-benar berubah dari lelaki yang gagah dan tampan, sekarang menjelma menjadi manusia yang sangat menyedihkan.


Gabriel bangkit dari duduknya kemudian lelaki itu langsung keluar. "Biarkan dia istirahat, lanjutkan nanti ketika malam," ucap Gabriel hingga anak buahnya pun mengangguk.


Gabriel pun langsung kembali melanjutkan langkahnya untuk keluar. Dia berencana untuk pergi ke rumah sakit, menemui Selo dan menunggunya di sana.

__ADS_1


"Bianca, Bianca," panggil Maria. Dia berusaha membuka kamar Bianca tapi Bianca menguncinya.


Bianca terbangun dari tidurnya saat mendengar ucapan sang ibu, dan dia pun langsung turun dari ranjang kemudian berjalan ke arah pintu.


"Bi, ada Maira di bawah," kata Maria.


Oh, Bianca lupa bahwa kemarin Maira mengajaknya menikmati secangkir kopi di kafe, karena Maira tahu Bianca cukup tertekan akhir-akhir ini.


"Sebentar aku akan bersiap," ucap Bianca dengan lemas berbalik kemudian berjalan ke arah kamar mandi. Lalu setelah itu, dia menyegarkan dirinya dan dua puluh menit kemudian, dia sudah siap dengan pakaian casual.


Akhirnya, Bianca pun keluar dari kamar. Wanita itu langsung turun ke bawah untuk menemui Maira.


"Oh, kau sudah siap?" tanya Maira ketika Bianca turun.


"Ayo kita pergi. Mom, Dad aku akan pergi. Seperti biasa aku akan langsung pulang ke rumah sakit," ucap Bianca yang pamit pada kedua orang tuanya hingga Maria dan Lyodra pun mengangguk.


"Kabari kami jika kau sudah berada di rumah sakit agar kami tidak khawatir," kata Lyodra. Bianca pun mencium tangan kedua orang tuanya, kemudian mereka pun langsung keluar dari rumah.


***


"Bi, sudahlah. Jangan terus melamun," kata Maira ketika berada di mobil karena sedari tadi masuk mobil, Bianca terus melamun.


Bianca terkekeh. "Lalu aku harus apa? Tidak mungkin, 'kan, aku harus menari?" jawabnya membuat Maira berdecak.


Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Maira sampai di sebuah kafe, hingga Maira dan Bianca pun turun dan mereka pun masuk ke dalam.


Ketika masuk ke dalam, langkah Bianca terhenti ketika melihat ada Dokter Adrian di sana. Lalu dia menoleh ke arah Maira yang tampak berseri-seri.


"Maira, jangan bilang kau juga mengajak Dokter Adrian kemari," ucap Bianca.


"Tidak, aku tidak mengajaknya. Mungkin kita hanya bertemu saja tanpa sengaja di sini," ucap Maira. Tentu saja dia berbohong, dia terlalu malu mengajak Adrian keluar hingga dia menggunakan nama Bianca.


Tiga bulan ini Maira terus mendekati Adrian, apalagi Adrian bekerja di rumah sakit milik keluarganya, dan selama tiga bulan ini Maira benar-benar memepet lelaki itu.


Maira tidak pernah tertarik pada lelaki mana pun, tapi berbeda dengan Adrian. Kharisma Adrian ternyata mampu meluluhkan hati Maira.


"Halo Dokter Adrian," ucap Maira ketika mereka sampai di meja yang ditempati oleh Adrian.


Adrian mengangguk. "Halo," sspanya.


Tatapan matanya tidak langsung menatap ke arah Maira, melainkan ke arah Bianca. Selama tiga bulan ini, Bianca terlihat jelas menjaga jarak darinya, apalagi Bianca sudah tidak bekerja lagi menjadi dokter. Itu sebabnya dia langsung antusias ketika Maira mengajaknya bertemu dan mengatakan akan membawa Bianca.

__ADS_1


__ADS_2