Tatap Aku, Lelakiku!

Tatap Aku, Lelakiku!
Aku ingin sembuh


__ADS_3

"Bi," panggil Selo ketika Bianca memalingkan tatapannya ke arah lain.


"Aku belum siap," ucap Bianca. Tubuhnya gemetar saat Selo akan menyentuhnya. Dia seperti dejavu, di mana saat itu Selo hanya menyentuhnya sebentar, kemudian membelakanginya. Lalu setelah keesokan harinya, Selo pergi meninggalkannya tanpa kabar.


Selo menggulingkan tubuhnya ke samping. Dia mengerti dengan apa yang dirasakan oleh Bianca, lalu setelah itu Selo mengubah posisinya menjadi menyamping menghadap istrinya.


"Ya sudah, ayo kita tidur," ajak Selo.


Pada akhirnya, Selo mengajak Bianca untuk tidur. Dia harus super sabar menghadapi istrinya.


Bianca mengangguk.


"Maafkan aku, Selo," kata Bianca.


"Tidak masalah," jawab Selo, dan pada akhirnya Bianca memejamkan matanya.


Saar terdengar suara napas Bianca yang halus pertanda Bianca sudah tertidur, Selo bangkit dari berbaringnya kemudian lelaki itu mendudukkan diri di ranjang dengan kaki yang menjuntai ke bawah. dia tidak marah karena Bianca menolaknya, hanya saja dia merasakan apa yang saat itu Bianca rasakan. Ternyata, semua berbalik padanya.


Saat Selo duduk, Bianca membuka matanya. Dia menatap punggung Selo yang sedang membelakanginya.


'Selo entah kenapa begitu susah untuk melupakan semuanya. Aku sungguh takut, Selo. Aku takut.' Bianca membatin seraya menatap punggung Selo, dan tak lama dia terpaku saat melihat bahu Selo bergetar, bahkan lelaki itu terlihat menghapus air matanya.


Ketika Selo akan bangkit, Bianca langsing memejamkan matanya.


***


Satu bulan kemudian.


Ini sudah satu bulan berlalu pernikahan Selo dan Bianca. Selama satu bulan ini pula, tidak ada yang banyak terjadi di antara mereka. Sampai saat ini, Bianca belum mau disentuh oleh Selo. Selo juga tidak pernah meminta haknya.


Sikap Bianca jangan ditanyakan. Wanita itu lebih banyak diam ketika sedang bersama Selo, sedangkan Selo masih terus berusaha untuk memenangkan hati Bianca, walaupun Bianca sama sekali tidak merespon yang Selo lakukan.


Bianca seolah membangun pembatas nyata dengannya. Seperti saat ini, Bianca terus terdiam tanpa mau menoleh ke arah Selo yang sedang menyetir. Tidak ada raut antusias di dalam diri wanita itu ketika Selo mengajaknya makan malam di luar.

__ADS_1


Bagi Selo ini memang pemandangan yang biasa. Dia sudah biasa diacuhkan. Walaupun Bianca terlihat bersikap biasa saja padanya, tapi tetap saja dia merasakan perbedaannya.


"Bi," panggil Selo.


Bianca yang sedang melamun, menoleh.


"Setelah makan malam, bagaimana kita berjalan-jalan di taman?" ajak Selo yang masih berusaha untuk mendekati Bianca.


"Terserahmu saja," jawabnya.


Padahal Selo sudah tahu Bianca akan membalas ini, tapi entah kenapa dia berharap Bianca menolaknya dan mengajaknya ke tempat lain.


Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Selo sampai di restoran. Saat Selo akan membuka pintu untuk Bianca, Bianca sudah terlebih dahulu turun membuat Selo menghela napas. Dia pun langsung menyusul istrinya.


Saat masuk ke dalam restoran, Selo langsung memilih meja. Baru saja dia akan menarik kursi untuk Bianca, Bianca malah duduk di kursi yang lain hingga lagi-lagi Selo hanya mampu menghela napas, tapi dia hanya menyamarkan dengan senyuman.


"Kau ingin pesan apa, Bi?" tanya Selo ketika akan memanggil pelayan.


"Samakan saja dengan pesananmu," ucap Bianca tanpa semangat hingga Selo mengangguk. Setelah itu, Selo langsung mengangkat tangannya, kemudian memanggil pelayan.


Tidak ada yang berbicara, keduanya sama-sama diam hingga pada akhirnya Selo menoleh pada Bianca. Dia menatap Bianca dengan lekat. Terlihat jelas Bianca seperti orang yang tertekan.


"Bi," panggil Selo.


Bianca mengangkat kepalanya.


"Kau ingin bekerja lagi?" tanya Selo. Bianca menghela napas kemudian mengembuskannya.


"Jika kau mengijinkan, aku ingin kembali menjadi dokter," kata Bianca.


Selo mengganggukan kepalanya. "Aku mengijinkan, asal jangan terlalu memorsir tenagamu," kata Selo lagi hingga Bianca mengangguk, dan setelah itu keduanya sama-sama diam.


Akhirnya, pesanan mereka pun sampai. Bianca makan dengan hening, begitu pun Selo. Sesekali Selo mencuri-curi pandang ke arah istrinya. Ini seperti dejavu. Dulu, saat mereka belum menikah, Bianca pernah mengajaknya makan malam namun dia selalu ogah-ogahan, tapi karena dipaksa oleh sang ayah dia pun menemui Bianca. Lalu, reaksi Bianca saat ini adalah reaksi saat dulu dia dipaksa makan dengan Bianca.

__ADS_1


Acara makan malam pun selesai. Selo dan Bianca keluar dari restoran.


***


Sekarang di sinilah mereka berada, di depan taman. Banyak sekali orang yang berlalu-lalang untuk sekadar mengobrol, ataupun menikmati pemandangan.


"Ayo kita masuk," ucap Selo.


Bianca mengangguk. Baru saja Selo akan menggenggam tangan Bianca, tapi Bianca berpura-pura memeluk tubuhnya sendiri karena tangannya tidak ingin digenggam oleh suaminya, lagi-lagi membuat Selo menghela napas.


Keduanya pun duduk di kursi, kemudian Selo langsung menarik kepala Bianca agar bersandar di bahunya. Beberapa kali Bianca menegakkan kepalanya, tapi tentu saja Selo dengan cepat menyimpan lagi kepala Bianca di bahunya, hingga kini kedua insan itu sama-sama terdiam. Tidak ada yang berbicara, Selo sibuk dengan pikirannya sendiri, begitu pun dengan Bianca.


***


Dua tahun kemudian.


Detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam, hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan. Tidak terasa, ini sudah dua tahun berlalu, dan sudah dua tahun pula umur pernikahan Selo dan Bianca. Tidak banyak yang terjadi di kehidupan rumah tangga mereka. Sudah dua tahun ini Selo berjuang, dan sudah dua tahun ini Bianca juga belum bisa membuka hatinya.


Selama dua tahun ini, Bianca tetap bersikap sama. Tidak ada perubahan dalam diri wanita itu, begitu pun dengan Selo. Dia tetap berusaha untuk mengembalikan kepercayaan Bianca. Namun sepertinya, itu begitu sulit. Tentu Selo tidak menyerah, walaupun terkadang dia ingin berbicara pada Bianca, meminta Bianca berubah. Namun dia tahu, tidak mudah di posisi Bianca dan yang hanya Selo bisa lakukan adalah bersabar, bersabar dan bersabar.


"Selo," panggil Bianca ketika mereka sedang sarapan.


"Iya Bi?" jawabnya.


"Bolehkah aku nanti bertemu temanku?" tanya Bianca. Walaupun hubungan mereka masih kaku, tapi jika ada apa-apa Bianca selalu bertanya kepada Selo. Dia tidak pernah pergi tanpa izin suaminya.


"Pergilah. Apa kau mau aku temani?" tanya Selo lagi hingga Bianca menggeleng.


"Tidak, aku pergi sendiri saja," jawab Bianca. Dia ingin menemui Celine yang tak lain temannya, yang juga psikiater yang dulu menanganinya. Jujur, Bianca lelah dengan perasaan yang seperti ini. Adakalanya dia ingin berdamai dengan masa lalu, tapi ketika dia ingin mulai berubah, dia selalu teringat kenangan lamanya hingga rasanya dia harus menemui Celine.


"Oh baiklah. Kabari aku jika kau ingin dijemput," ucap Selo hingga Bianca mengangguk.


Acara makan pun selesai. Bianca langsung mengulurkan tangannya pada Selo untuk mencium tangan suaminya. Namun, baru saja Selo akan membungkuk untuk mencium kening, seperti biasanya Bianca kembali menghindar.

__ADS_1


Selalu seperti ini, bahkan setelah dua tahun berlalu mereka baru satu kali melakukan hubungan badan. Itu pun Selo memaksa, dan besoknya Bianca tidak mau berbicara padanya. Beruntung, Selo berhasil membujuk istrinya, dan sampai sekarang mereka belum melakukan hubungan suami istri lagi.


__ADS_2