
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Tommy sampai di kediaman Celine.
"Kau ingin mampir dulu?" tanya Celine pada Tommy, hingga Tommy menggeleng.
"Tidak," jawab Tommy.
Celine pun mengembalikan ponsel Tommy, lalu melepaskan seatbelt. Baru saja dia akan mencium pipi Tommy, Tommy menghindar. Seperti biasa, wanita itu langsung turun dari mobil kemudian masuk ke dalam rumah membuat Tommy menghela napas lega.
Tommy menyandarkan tubuhnya ke belakang. Jujur saja, dia saat ini ingin sekali kembali ke rumah sakit. Dia ingin melihat Mayra, hingga pada akhirnya setelah menimbang-nimbang Tommy pun memutuskan untuk kembali lagi ke rumah sakit dan melihat kondisi Mayra. Setidaknya, dia bisa tenang jika sudah mengetahui kondisi wanita itu.
Sekarang, di sinilah Tommy berada, di rumah sakit. Lelaki itu pun langsung turun dari mobil, kemudian berjalan masuk ke dalam lalu menuju lantai atas, dan ternyata sedang ada Gabriel dan Selo di sana.
"Paman Gabriel, Selo," sapa Tommy hingga Gabriel dan Selo menoleh. Mata Gabriel membulat saat melihat Tommy. Bukankah setengah jam yang lalu Tommy baru saja pulang dari rumah sakit, lalu kenapa sekarang Tommy kembali lagi?
"Apa ada yang tertinggal?" tanya Gabriel menatap Tommy dengan aneh.
"Aku ingin ...." Tommy menghentikan sejenak ucapannya, mana mungkin dia mengatakan terang-terangan bahwa dia ingin menjenguk Mayra.
"Masuklah," kata Gabriel yang mengerti tatapan Tommy membuat Selo menoleh. Tadi, sang ayah melarangnya untuk masuk dengan alasan Mayra beristirahat, tapi sekarang?
"Kalau begitu, aku permisi." Tommy langsung berjalan kemudian membuka pintu ruang rawat Mayra, lalu setelah itu dia masuk ke dalam dan ternyata Mayra sudah terbangun.
Mayra yang mendengar suara pintu, langsung menoleh. Dia pikir itu adalah ayahnya, tapi ternyata bukan, itu adalah Tommy. Seketika, rasa malu kembali mendera Mayra saat melihat lelaki itu. Dia teringat Tommy rela meninggalkan semuanya demi dirinya, tapi dia malah memilih Adrian, lelaki yang sangat-sangat brengsekk.
"Mayra," panggil Tommy. Dia tersenyum ke arah Mayra, hingga Mayra mengedipkan matanya pertanda membalas sapaan Tommy.
Tommy mendudukkan dirinya di samping berangkar, kemudian dia menatap Mayra yang juga sedang menatap ke arahnya, hingga tatapan mereka saling mengunci. "Kau baik-baik saja? Apa kandunganmu sedang ada masalah?" tanya Tommy yang langsung bertanya.
Mendengar pertanyaan hal sederhana itu, entah kenapa Mayra ingin sekali menangis, padahal pertanyaan Tommy hanya pertanyaan yang selalu ditanyakan oleh banyak orang, tapi entah kenapa ketika Tommy bertanya padanya, rasanya berbeda.
"Aku baik-baik saja," lirih Mayra. Wanita cantik itu sesekali menunduk, karena tidak tidak mampu menatap wajah tampan Tommy.
"Syukurlah, aku mengkhawatirkanmu," katanya.
Tiba-Tiba, tubuh Mayra mematung. Dia yang menunduk, langsung menatap Tommy. Dia tanpa sadar bertanya, "Kau mengkhawatirkanku?" Mayra tanpa sadar bertanya.
"Aku takut terjadi sesuatu denganmu," kata Tommy lagi hingga Mayra menganggukkan kepalanya. Karena melihat Mayra yang sepertinya tidak nyaman dengan kehadirannya Tommy pun bangkit dari duduknya.
"Kalau begitu istirahtlah Mayra, Semoga kau cepat sembuh," kata Tommy setelah bangkit, "oh ya, bolehkah aku menemanimu atau menjengukmu besok?" tanya Tommy lagi, berharap Mayra memperbolehkannya.
"Aku akan pergi ke luar negeri, Tommy," jawab Mayra yang kali ini memberanikan diri menatap Tommy.
"Apa?!" Tommy terpekik saat mendengar ucapan Mayra. "Luar negeri? Kenapa? Apa kau pergi dengan anak dan suamimu?" tanya Tommy lagi hingga Mayra menggeleng.
"Tidak, aku akan pergi sendiri," jawab Mayra dengan suara pelan.
Seketika jantung Tommy berdetak dua kali lebih cepat saat menyadari sesuatu. Apakah mungkin hubungan Mayra dengan Adrian tidak baik-baik saja?
"Mayra, apa hubunganmu dan ...." Belum sempat melanjutkan ucapannya, Mayra sudah terlebih dahulu mengangguk.
Tubuh Tommy diam mematung saat melihat anggukan Mayra yang secara jelas mengiyakan ucapannya, bahwa hubungan mereka sedang retak. Bolehkah Tommy berharap kali ini Mayra benar-benar berpisah dengan Adrian agar dia bisa maju?
"Kau akan pergi ke luar negeri seorang diri?" tanya Tommy memastikan, hingga Mayra mengangguk.
Tommy mengangguk-anggukkan kepalanya. "Ya sudah kalau begitu, sampai jumpa, Mayra," jawab Tommy hingga Mayra pun mengangguk. Lelaki itu pun berbalik, kemudian keluar dari ruang rawat Mayra. Lalu setelah itu Tommy pun langsung menghampiri Gabriel.
"Paman Gabriel," panggil Tommy.
"Bisa kita bicara berdua?" tanya Tommy lagi dan setelah itu, dia langsung melihat ke arah Selo.
"Apa? Kenapa kau melihatku? Kau ingin mengusirku?" tanya Selo seperti biasa, lelaki itu tampak terlihat konyol membuat Gabriel menggeleng.
"Ayo kita bicara di atas, di ruangan Paman," kata Gabriel hingga Tommy pun mengangguk, dan m dan ketika mereka pun berjalan untuk ke ruangan Gabriel.
"Bisa-bisanya mereka tidak mengajakku. Keterlaluan sekali." Selo menggerutu karena tidak diajak berbicara. Dia pun langsung bangkit dari duduknya kemudian berjalan ke arah ruang rawat Mayra.
"Kau kenapa? Apa yang Adrian lakukan?" tanya Selo hingga Mayra mengangguk. Lelaki itu mendudukkan dirinya di kursi sebelah brankar, lalu setelah itu dia menggenggam tangan Mayra.
"Maafkan Kakak, Mayra. Sepertinya ini karena kelakuan Kakak di masa lalu, hingga karmanya mengenaimu," ucap Sello.
Mayra menggeleng kemudian dia menghapus air matanya. "Tidak, tidak ada sangkut pautnya denganmu," jawab Mayra yang tidak ingin membuat Selo merasa bersalah.
"Ya kau benar, Ini memang tidak ada hubungannya dengan kakak," jawab Sello. Seperti biasa, dia selalu menyebalkan membuat Mayra langsung melepaskan genggaman tangannya dari Selo.
"Pergi sana, kau membuatku pusing," usir Mayra pada sang kakak membuat Selo berdecak.
__ADS_1
***
Gabriel dan Tommy masuk ke dalam ruangan Gabriel. "Silakan duduk," ucap Gabriel yang mempersilakan Tommy untuk duduk, hingga kini kedua pria itu sudah duduk saling berhadapan.
"Kenapa kau ingin berbicara dengan Paman?" tanya Gabriel.
"Paman, apa Mayra dan Adrian akan bercerai?" tanya Tommy.
Gabriel mengangguk, dan sepertinya Gabriel mengerti arah pembicaraan Tommy. "Kau masih tertarik pada Mayra? Bukankah kau sudah bertunangan? Lalu kenapa kau masih mengurus tentangnya?" tanyanya bertubi-tubi.
"Aku masih mencintai Mayra paman," ucap Tommy. Raut wajahnya begitu serius menatap Gabriel, hingga Gabriel mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Kau sudah bertunangan, Tommy. Tolong jangan menyakiti wanita lain hanya karena rasa cintamu pada Mayra," ucap Gabriel.
"Paman aku tahu ini terkesan egois. Aku sudah mencintai Mayra selama bertahun-tahun, bahkan ketika ada Mayra menikah, aku pergi ke luar negeri untuk melupakannya, tapi tidak bisa. Aku menerima pertunangan ini karena aku ingin melupakan Mayra. Tapi sudah lima tahun berlalu, aku masih belum bisa melupakan Mayra. Aku tidak ingin mengalah lagi pada apapun," kata Tommy.
Gabriel menghela napas kemudian mengembuskannya.
"Paman, tolong berikan aku kesempatan. Aku akan menyelesaikan urusanku terlebih dahulu sebelum mengejar Mayra," katanya.
"Semua tergantung ayahmu. Jika ayahmu mengijinkan, maka Paman tidak akan melarang," kata Gabriel.
Tommy mengembangkan senyumnya saat mendengar jawaban Gabriel. Sekarang, dia tinggal berbicara pada sang ayah. Dia ingin membatalkan pertunangannya dengan Celine. Sudah cukup dia mengalah, sudah cukup dia berpura-pura baik pada Celine. Dia tidak ingin menunda apapun lagi.
"Baik Paman Gabriel, terima kasih. Aku akan berbicara dengan ayahku dulu," ucap Tommy hingga Gabriel pun mengangguk. Lelaki itu pun bangkit dari duduknya kemudian keluar dari ruangan Gabriel, lalu setelah itu Tommy pun langsung berjalan dengan cepat untuk meninggalkan rumah sakit. Rasanya, dia tidak sabar untuk segera memberitahukan pada sang ayah bahwa dia ingin mundur dari pertunangan ini dan mengejar Mayra.
Tommy mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh. Perasaan lelaki itu begitu menggebu-gebu. Walaupun Mayra sedang mengandung anak Adrian, tapi dia tidak peduli. Dia rasa dia bisa menyayangi anak yang ada di dalam kandungan Mayra.
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Tommy sampai di kediamannya. Lelaki itu pun bergegas turun kemudian berlari ke arah dalam.
"Daddy, Daddy," panggil Tommy. Dia langsung memanggil sang ayah karena dia ingin secepatnya menyampaikan niat itu.
"Tommy," panggil Ayes hingga Tommy menoleh.
"Mommy, di mana Daddy?" tanya Tommy.
"Daddy ada di dalam ruang kerjanya. Ada apa?" tanyanya.
"Tidak, tidak apa-apa." Tommy pun berbalik, kemudian lelaki itu dengan cepat berlari ke arah ruang kerja ayahnya.
Glen yang sedang berada di depan laptop, mengerutkan keningnya hingga lelaki itu pun memberikan sahutan untuk putranya, dan sedetik kemudian pintu terbuka. Tommy masuk ke dalam ruang kerja sang ayah.
"Ada apa? Kenapa kau seperti orang terburu-buru?" tanya Tommy.
"Apa ini tentang Mayra?" tebak Glen.
"Paman Gabriel sudah memberitahukannya pada Daddy?" tanya Tommy.
"Ayo duduk, kita bicara," ucap Glen lagi.
Kini, sepasang ayah dan anak itu sudah duduk berhadap-hadapan.
"Tommy, kau ini sudah bertunangan dengan Celine," ujar Glen.
"Daddy, kau tahu bukan, selama ini aku selalu mematuhi apapun yang kau katakan. Aku bahkan mengikutimu. Aku tidak pernah membantah apapun yang kau katakan. Jadi tolong, Dad, kali ini biarkan aku mengejar kebahagiaanku," kata Tommy.
"Lalu, apa kau bisa menerima Mayra yang sudah menikah dengan orang lain? Dalam artian kata, kau bisa menerima anak dalam kandungannya?" tanya Glen.
"Bisa. Aku mencintai ibunya dan aku akan berusaha mencintai anaknya," ucap Tommy.
"Baiklah, kalau begitu kau harus berbicara dengan Celine, karena ini melibatkan Celine juga. Daddy pasrahkan semuanya padamu," kata Glen hingga pada akhirnya Tommy pun mengangguk.
Tommy bangkit dari duduknya kemudian lelaki tampan itu langsung keluar dari ruang kerja sang ayah, lalu berjalan ke arah kamarnya. Dia berencana untuk menelepon Celine.
Tommy masuk ke dalam kamar, lelaki itu langsung berjalan ke arah ranjang kemudian dia membuka laci, lalu setelah itu mengambil foto Mayra, foto yang selama ini dia simpan.
"Mayra, akhirnya Tuhan begitu baik padaku. Dulu aku pernah melepaskanmu untuk Adrian, tapi sekarang tidak. Aku tidak peduli jika kau menolakku, yang pasti aku akan selalu tetap ada disampingmu. Tidak peduli jika nantinya aku harus melawan Adrian sekali pun," lirih Tommy. Setelah itu Tommy merogoh saku kemudian mengambil ponsel, lalu mengotak-atik ponselnya dan memanggil nomor Celine.
"Iya, Tommy?" jawab Celine ketika dia mengangkat panggilannya.
"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu," katanya. Celine tampak terdiam di seberang sana.
"Celine," panggil Tommy lagi ketika Celine tidak menjawab.
"Apa yang ingin kau bicarakan, Tommy?" tanya Celine.
__ADS_1
"Aku tidak mau membatalkan pertunangan ini, pertunangan ini harus tetap berlangsung. Aku tidak mau mendengar apapun." Celine dengan cepat menutup panggilannya, membuat Tommy menghela napas. Sudah dipastikan jalannya akan sulit, karena dia harus menyudahi hubungannya dengan Celine secara baik-baik. Dia juga harus menghadapi orang tua Celine.
Tommy membanting tubuhnya di ranjang kemudian dia menatap ke arah langit-langit. Rasanya, dia begitu melayang. Berapa pun waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkan Mayra, Tommy tidak peduli, yang pasti dia akan berjuang sampai titik darah penghabisan untuk mendapatkan wanita itu, wanita yang sudah dia cintai selama bertahun-tahun.
***
Adrian turun dari mobil. Lelaki itu baru saja pulang dari rumah temannya. Sedari tadi, dia berusaha untuk mengalihkan pikirannya agar tidak memikirkan masalah yang sedang terjadi, agar dia bisa memikirkan langkah apa yang dia ambil. Lelaki itu benar-benar harus berjuang lagi untuk mendapatkan hati Mayra.
Begini saja Alice sudah sangat membencinya, lalu bagaimana jika Mayra meninggalkannya? Sudah dipastikan Alice tidak akan mau melihatnya.
Adrian masuk ke dalam rumah. Tiba-Tiba, rasa sesak langsung mendera lelaki itu kala dia melihat rumah yang begitu sepi. Biasanya Mayra akan menunggunya di ruang tamu jika dia pergi, tapi sekarang? Adrian menggeleng pelan, kemudian dia pun langsung berjalan untuk ke arah lift.
"Alice," panggil Adrian ketika dia sudah berada di depan kamar Alice. Menurut pelayan, Alice tidak mau makan sedari tadi siang, bahkan makanan yang dikirimkan oleh pelayan tetap ada di depan pintu karena Alice tidak mengambilnya.
"Alice," panggil Adrian lagi. Namun, tidak ada sahutan dari dalam. Seketika, Adrian khawatir. Lelaki itu memutuskan untuk mengambil kunci cadangan lalu membuka pintu.
"Alice!" Adrian berteriak ketika Alice terkapar di lantai, sepertinya Alice tak sadarkan diri. Alice terlalu terkejut dengan apa yang terjadi. Dia begitu syok karena tiba-tiba Mayra pergi dan dia ketakutan seorang diri, dia takut Mayra meninggalkannya hingga pada akhirnya kondisi Alice drop. Karena dia tidak keluar kamar, tidak ada yang tahu kondisinya termasuk Adrian. Tadi siang ketika dia akan mengambil makanan, Alice langsung tak sadarkan diri.
"Alice," panggil Adrian. Wajah Adrian sudah memucat saat melihat wajah Alice yang sudah memutih. Keringat dingin langsung membasahi seluruh tubuh Adrian.
"Alice, Alice." Adrian menepuk nepuk pipi Alice, berharap Alice sadar. Secepat kilat Adrian pun langsung membopong tubuh Alice dan berlari membawa Alice keluar, berniat membawa Alice ke rumah sakit.
Adrian mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh. Lelaki itu tak sabar untuk membawa Alice ke rumah sakit. Bayang-Bayang Alice mengalami sesuatu hal buruk menerjang otak Adrian, hingga lelaki itu begitu ketakutan.
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Adrian sampai di rumah sakit. Adrian dengan cepat turun dari mobil dan membopong tubuh Alice.
***
Alice sudah ditangani, dan ternyata Alice mengalami dehidrasi ringan. Adrian menarik kursi kemudian menggenggam tangan Alice, melihat wajah Alice lekat-lekat.
"Maafkan Daddy, Alice. Maafkan Daddy," ucap Adrian. Kini dia tidak bisa membayangkan bagaimana murkanya Alice padanya, jika sampai Mayra pergi selamanya dari hidup mereka.
Adrian terus menatap wajah sang putri, dan tiba-tiba dia juga teringat semua kenangan dari mulai dia menikahi Mayra sampai detik kemarin.
"Mayra," lirihnya. Dia memanggil nama Mayra dengan suara yang pelan, teringat bagaimana Mayra menjadikan Alice sebagai ratu, menjadikan dirinya sebagai raja tanpa pernah mengeluh tentang apapun.
"Mayra," panggil Adrian lagi.
Satu jam kemudian, Alice mengerjap. Gadis remaja itu membuka matanya, lalu gadis remaja itu meringis ketika tenggorokannya terasa kering. Dia melihat ke sekitarnya, hingga tak lama tatapannya berhenti ketika melihat sang ayah sedang tertidur sambil menggenggam tangannya. Alice baru menyadari bahwa dia di rumah sakit.
Melihat ayahnya, tiba-tiba rasa marah, rasa kecewa Alice semakin menjadi-jadi hingga pada akhirnya dia langsung menghempaskan tangan Adrian dengan keras, membuat Adrian terbangun dari tidurnya. Adrian tersentak, lelaki itu mengangkat kepalanya kemudian menegakkan tubuhnya, lalu setelah itu dia menoleh ke arah Alice.
"Alice," panggil Adrian.
Alice tidak menjawab. Dia malah memalingkan tatapannya ke arah lain karena enggan melihat sang ayah.
"Alice," panggil Adrian lagi.
"Pergi, aku tidak mau melihat Daddy," kata Alice.
Jantung Adrian terasa terbelah ketika mendengar perkataan Alice. Akhirnya, kata-kata itu keluar dari mulutnya, kata-kata yang paling Adrian ditakuti. Padahal kemarin-kemarin dia begitu percaya diri bahwa Alice tidak akan seperti ini, tapi lihatlah akibat dari kesombongannya, yang dia takutkan terjadi.
"Alice," panggil Adrian lagi.
"Pergi kubilang!" Alice sedikit meninggikan suaranya. Dia terlalu emosi pada sang ayah.
"Daddy sudah tahu Daddy salah. Daddy minta maaf," katanya.
"Maaf Daddy tidak akan bisa mengembalikan Mommy Mayra," kata Alice. Dia langsung membalikkan tubuhnya, hingga kini meringkuk dengan posisi berbaring. Sesekali dia meringis karena dia merasakan nyeri di tangannya yang sedang dipasangi infusan.
"Alice, jangan bergerak, infus—"
"Tutup mulutmu, Daddy! Aku tidak mau mendengar suara Daddy. Pergi sana!" Lagi-Lagi, Alice mengusir Adrian.
Rasa sesak Alice semakin menjadi-jadi. Sedari Mayra pergi, Alice tidak pernah tertidur. Saat malam, dia selalu membayangkan bagaimana jika Mayra pergi, bagaimana jika tidak ada lagi Mayra di rumahnya. Dia begitu menyayangi ibu sambungnya lebih dari apapun, dan dia mengutuk ayahnya. Jika ayahnya jujur, tentu saja sang ibu tidak akan seperti ini.
Baru kemarin dia menikmati hangatnya keluarga ketika Adrian memutuskan untuk tidak pergi lagi ke Korea selama berbulan-bulan, lalu ketika Adrian berubah, Alice merasa tenang karena dia berpikir sang ibu tidak akan meninggalkannya lagi karena sang ayah sudah berubah. Namun lihatlah, ternyata sekarang semuanya berbalik.
Adrian bangkit dari duduknya, kemudian mengelus rambut Alice. "Daddy berjanji Daddy akan membawa kembali Mommy Mayra," katanya.
Mendengar itu, tangis Alice luruh. Saat Mayra pergi, dia bisa melihat wajah ibu sambungnya yang hancur. Mustahil jika Mayra mau kembali lagi pada sang ayah, hingga pada akhirnya Alice tidak menjawab lagi. Dia terlalu lelah untuk menjawab pernyataan Adrian.
Alice menggigit selimut kemudian dia menangis sesenggukan, sedangkan Adrian hanya mampu menatap punggung sang putri yang gemetar, kemudian mendudukkan dirinya di kursi.
'Mayra, aku berjanji. Jika kau memberikan aku kesempatan, aku tidak akan menyia-nyiakannya lagi. Aku akan berusaha membuka hatiku, aku akan berusaha untuk menjadi apa yang kau mau,' batin Adrian. Sekarang menyesal pun tidak ada guna.
__ADS_1